Surat Terakhir Untuk Kheira

Surat Terakhir Untuk Kheira
CUCU KEDUA


__ADS_3

(NEK AMINAH POV)


Ia keluar mengenakan baju adatnya, balutan kebaya Jawa berwarna hijau lumut dihiasi dengan sematan bros emas dan selendang dengan penambahan kain coklat sebagai rok nya.


"Eh Cah ayu Cah bagus, ono opo toh nduk?"


Sapa nya pada Kheira dan Aidan tersenyum. Cah ayu merupakan sebuah panggilan di kota Jawa. Panggilan ini dibuat seakan memuji seorang perempuan/anak perempuan. Sedangkan cah bagus itu buat laki-laki.


"Ono opo ribut-ribut?"


Tanya nya memakai ciri khas bahasa Jawa halusnya.


"Iya nek, tadi mereka mau ambil mangga nenek terus aku lempar mereka deh pake batu biar kapok"


Perjelas Kheira menekuk wajahnya


"Tapi Nandira malah disalahin nek"


Sambung Kheira mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kalian mau ngambil mangga nenek cah bagus?"


Tanya Aminah lembut kepada dua anak lelaki tersebut.


"Maaf yo nek, sebenernya kami melakukan ini agar kami bisa menjual mangga nenek. Dan nanti uangnya akan kami gunakan ntuk membeli obat si mbok, karena obat di mbok sudah habis, nek"


Perjelas salah satunya dengan rasa bersalah.


Ia tak tega mendengar perkataan ucapan anak itu, mengingat kan dirinya dengan cucunya di kota.


"Iya nek, sebenarnya kami juga gak mau ngelakuin ini. Cuma kami gak tau lagi harus gimana dan hanya ini jalan satu-satunya. Terlebih kami pun belum makan dari dua hari yang lalu, nek"


Sambung salah satunya menundukkan wajahnya.


Hatinya terkoyak saat mendengar alasan kedua anak itu, kejadian itu mengingatkannya dengan masa kelamnya dulu.


Ia merasa terharu melihat kedua bocah yang masih kecil rela berjuang demi menyelamatkan nyawa ibu nya dan tanpa memikirkan konsekuensi yang akan diterima, yang terpenting nyawa ibu mereka tertolong.


"Baiklah, nenek Terima alasan kalian. Tapi untuk lain kali jangan diulangi lagi ya"


Menasehati keduanya lembut.


"Baik nek, sekali lagi kami minta maaf ya nek"


Ucap keduanya merunduk menjulurkan tangan kanan mereka sebagai permohonan maaf.


Nek Aminah pun membalas uluran tangannya, lalu keduanya mencium tangan nek aminah.


"Ayo de, minta maaf"


Bisik Aidan pelan terhadap adiknya.


"Ga baik tau musuhan, DOSA"


Tambah Aidan berbisik di telinga Kheira bak malaikat pencatat amal baik.


"Oke Oke aku mau minta maaf"


Bisik Kheira menganggukkan kepalanya.


"Teman-teman maafin aku ya, udah ngelempar batu ke kalian pake ketapel"


Ucap Nandira dengan senyuman paksa dibibirnya.

__ADS_1


"Jangan terpaksa gitu dong senyumnya, harus ikhlas"


Gumam Aidan membisiki telinga Kheira bagai Malaikat Rakib yang memonitor nya.


"Iya maafin aku ya temen-temen"


Kheira mengulurkan tangannya ke arah dua lelaki itu.


"Iya gak apa-apa, kami juga minta maaf yaaa"


Jawab keduanya bergantian membalas uluran tangan Kheira.


"Yudah kalau gitu kalian semua makan sek di rumah nenek yo... kebetulan hari ini nenek masak opor"


Sahut Nek Aminah setelahnya.


Sebelum mereka pulang ke rumah mereka, nek Amniah membekali dua bocah itu sekarung beras dan lauk pauk serta amplop berisikan uang bantuan darinya.


"Maaf yo le, nenek cuma bisa bantu ini saja"


Ucapnya tersenyum lembut.


"Matur suwun yo nek, iki wes lebih dari cukup... Semoga kebaikan nenek dibalas oleh Gusti Allah yo nek, akhirnya ada manusia berhati malaikat yang mau membantu kami"


Jawab mereka dengan penuh senyum keharuan.


"aamiin"


Jawabnya mengamini.


"Tapi jangan diulangi lagi ya kasian tau nek Aminah"


Sahut Kheira kepada kedua bocah itu.


Ucap mereka bersamaan.


"Kami pamit dulu ya nek"


Ucap mereka bergantian mencium tangan nek Aminah untuk pamit pulang.


Matahari sudah mulai menjauh seakan ingin bertukar tahta dengan sang senja.


"Iya hati-hati ya cucu-cucu nenek"


Tersenyum ramah.


☀☀☀


(AUTHOR POV)


Ia salah satu warga tertua di desa ini, kesabaran dan kebaikannya sudah tak asing lagi bagi penduduk desa. Rasa empati dan kedermawanan nya sudah sangat terkenal di desa ini.


Namun, tiap kali tangan kanannya beramal tangan kiri nya membungkam sekan menutup rapat-rapat. Hanya saja satu demi satu warga di desa ini tau, karena mereka sering dibantu olehnya. Dari mulut ke mulut seringkali bertebar menceritakan kebaikan nek Aminah yang selalu menjadikannya topik pembicaraan hangat di desa.


Nek Aminah tak kekurangan harta sedikitpun, kebunnya di mana-mana dan sawahnya pun terbentang luas di kawasan Yogyakarta.


Tak ada yang tak mengenal dirinya, terlebih karena kebaikannya. Namun sayang, ia kehilangan anaknya. Anak yang ia cintai, Putra sulungnya.


Ia kehilangan putranya ketika putranya pamit merantau ke kota Jakarta beberapa tahun silam, yang sekarang sudah menjadi pengusaha sukses di kota urban. Namun, anaknya lebih memilih mengedepankan pekerjaan dan calon istrinya disana.


Terpaan demi terpaan derita menimpa nek Aminah, ia merasa sangat terpukul terlebih ketika harus mendampingi sang suami tercinta menghembuskan nafas terakhirnya.


Namanya kakek Rahman, suami tercinta nek Aminah. Namun, sayang maut memisahkan cerita cinta mereka. Kakek Rahman pergi lebih dulu meninggalkan Nek Aminah sendiri genap diusia 50 tahun pernikahannya. Sebelum itu, kakek Rahman jatuh sakit karena merasa kehilangan Putra tunggalnya. Namun, Penyakit dan pikiran semakin lama semakin menggerogoti tubuhnya. Membuat ia merasa tak sanggup menerima kenyataan pahit tentang sebuah kehilangan.

__ADS_1


"janganlah menyia-nyiakan kasih tulus dari seseorang yang mencintaimu demi seseorang baru dihidupmu"


~Cahaya Novelia


Ia selalu menceritakan tentang dirinya kepada cucu keduanya, Kheira dan Aidan. Ia seringkali mengajak keduanya bermain di rumahnya seusai mereka pulang mengaji. Untuk melepas rasa kesepian di rumah gedongnya itu.


Rumah mewah dengan bangunan jati nan megah berbalut warna ukiran kayu, memunculkan unsur estetik tersendiri bagi yang melihatnya.


Ia sudah menganggap Kheira dan Aidan, seperti cucu nya. Selalu menyuguhkan makanan tiap kali mereka bermain dirumahnya. Ia sangat senang melihat perilaku Aidan dan Kheira yang selalu perduli dengan nya, selalu menanyakan kabarnya, kesehatannya, dan membuatnya tersenyum kembali, dari luka lama yang menyelimuti dirinya.


Satu tahun yang lalu ia mendapat informasi dari mulut ke mulut bahwa anak sulungnya di kota urban itu telah memiliki seorang putra yang seumuran dengan Kheira.


Semenjak kepergian anaknya ke kota perantauan dan menjadi seorang pengusaha besar, putra sulungnya sudah tak pernah mengambarinya lagi bahkan sampai detik ini.


Benar kata pepatah :


Ibaratkan Air susu dibalas dengan air tuba.


Memang mungkin ini akibat dari kesalahannya yang tak merestui hubungan anaknya dengan wanita kota pilihan anaknya lalu mengusir putra nya karena ia merasa sakit hati akibat putra nya lebih memilih wanita tersebut dibanding orangtuanya.


Ia mengerti bahwa sesuatu yang telah terjadi takkan bisa dirubah lagi, Bagaimanapun caranya.


☀☀☀


(Kheira POV)


"Dooor"


Aidan menepuk kedua bahu Kheira membuat Kheira terkejut dari lamunannya.


"Ih kak Aidan mah"


Kheira memekik kesal kakanya.


"Lagian ngelamun, ayam pak Maman mati karena bengong tau"


Ledek Aidan tertawa.


"Pasti keinget kejadian kemaren sore ya?"


Ucap Aidan.


"Hehehe udah ah jangan diinget-inget hussst"


Mengedipkan matanya memberi kode terhadap Aidan sambil menatap was-was kearah ayah dan ibu.


"Hayo ngerahasiain apa dari ibu dan ayah?"


Sahut ibu membuat jantung Kheira berdegup kencang.


"Bun,pulaaan yuk dede antuk"


Lirih Anindira, adik kecil nya itu membuat Kheira menghela nafas lega.


Tanpa aba-aba, Kheira mencium dan memeluk tubuh mungil adiknya lalu menggendongnya.


"Makasih ya semuanya, momen ini ga akan pernah Kheira lupain sampai kapanpun"


Ucapnya berterimakasih dengan senyuman lebar yang menghiasi bibir cantik Kheira.


Moment dibawah senja yang diakhiri dengan gemerlap bintang dan cahaya rembulan dari kejauhan langit-langit malam. Yang membuatnya tak akan pernah lupa apa arti dari BAHAGIA.


"Kenanglah sebuah hal yang pernah membuatmu bahagia, namun hapuslah bila kenangan itu hanya membuatmu terluka"

__ADS_1


~Cahaya Novelia


__ADS_2