Surat Terakhir Untuk Kheira

Surat Terakhir Untuk Kheira
KETAPEL ANDALAN


__ADS_3

Umur Kheira dan Aidan berjarak cukup jauh selisih 6 tahun. Dibalik keisengan Aidan, ia tetap selalu menjadi sesosok pahlawan untuk adik-adiknya. Seperti apa yang ia lakukan saat membantu Kheira, ketika mendapat serangan fajar dari teman-temannya seusianya.


☀☀☀


Sore lalu, seusai pulang TPA. Dari kejauhan, Mata Kheira terbelalak melihat dua orang anak laki-laki sedang berusaha memanjat pohon mangga.


Ia mengenal baik pemilik pohon mangga tersebut. Seorang wanita paruh baya, yang bernama "Nek Aminah".


Wanita tua yang sudah menganggapnya seperti cucu sendiri, setiap pulang mengaji Kheira dan Aidan selalu diajak bermain ke rumahnya dan disugukan beberapa makanan kecil. Karena itu, Kheira berusaha membalas kebaikan nek Aminah disaat seperti ini.


Kheira memang terkenal tomboy dan nakal, tapi kenakalan yang dilakukannya demi kebaikan dan masih dalam batas kewajaran.


Setiap hari, ia selalu membawa ketapel mainan yang disembunyikan dalam tas pink favoritnya. Tujuannya hanya untuk berjaga-jaga. Ketapel itu diletakkan di posisi paling bawah dari tumpukan buku-buku dan Iqra dalam tasnya. Agar Ayah dan ibu tak curiga dengan kelakuan putrinya itu.


"Wah momen yang pas"


Matanya menatap 2 batu kecil yang sudah tersedia di bawah kakinya. Jadi, ia tak perlu kesulitan lagi mencari-cari batu ketempat lain. ia langsung meluncurkan batu itu ke suspect pertama.


"Ciiiiiiiaaaaaat" Satu batu diluncurkan tepat mengenai ujung kepala salah satu lelaki yang sedang digendong untuk memanjat pohon.


"Siapa sih yang lempar batu ini?"


gerutu bocah tersebut menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Bocah itu terlihat kebingungan kebingungan bola matanya mencari-cari menatap ke sekelilingnya.


Kheira? ia berusaha menahan tawa dari tempat persembunyiannya di samping tembok rumah pak Maman, salah satu tetangga nya juga.


Batu yang kedua lebih besar dari batu sebelumnya, langsung diluncurkannya kearah sasaran


"Ciaaaaat".


Meluncur tepat mengenai tengkuk kepala bocah lelaki yang sedang menggendong temannya memanjat pohon.


Hampir saja mereka berhasil mendapatkan buah mangga itu.


Namun, sayang kegagalan menimpa mereka. Ketika bocah itu kehilangan kendali sesaat setelah Kheira melontarkan batu itu tepat mengenai tengkuknya.


GUBRAKK


Keduanya pun terjatuh.


"HAHAHA bukan mangga nya yang jatoh tapi malah kalian yang jatoh hahaha"


Ledeknya dalam hati seraya menahan tawa dan menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Untung aja pohon mangga nya gak tinggi. Coba aja kalau tinggi, mungkin mereka udah pingsan"


Sambungnya dalam hati tersenyum bangga atas kemenangannya.


"HAHAHAH"


Dari persembunyian Kheira sudah tak mampu menyembunyikan tawa nya lagi melihat kedua bocah tersebut menggaruk-garuk bokongnya yang kesakitan.


Mereka mendegar tawa nya lalu membelalakan bola matanya nya menuju ke arah Kheira mengumpat. Mereka bersiap bagun memberikan aba-aba untuk mengejar Kheira.


Tak ada rasa ketakutan sedikitpun dalam diri Kheira, ia malah berusaha meledek kedua lelaki itu dengan lebih keras lagi dari tempat persembunyiannya dan bersiap-siap melarikan diri.


"Makanya jangan suka ngelakuin hal yang ga bener... Rasain akibatnya wleee"


Menjulurkan lidah kearah keduanya mengayunkan kedua tangan ala kelinci di atas kepalanya.


"Ayo sini kejar aku"


Menggerakan jari telunjuk meminta untuk mengejarnya.


Untung saja setelah beberapa saat kemudian, Aidan datang menemuinya dan inilah sebuah kesempatan emas bagi Kheira untuk menjadikan kakaknya sebagai tameng peperangan.


(AIDAN POV)


Sore hari lalu, sepulang mengaji langkah demi langkahnya tersusun menyusuri jalan pulang ke rumah bersama adiknya, Kheira.


Namun, di tengah perjalanan rasa haus menghampiri kerongkongan nya, ia membagi arah pandangnya ke kanan dan kiri mencari-cari pedagang kaki lima di tengah perjalanan pulang.

__ADS_1


Adiknya yang super duper hiperaktif itu berusaha berjalan mendahului nya.


Ia tetap memfokuskan satu pandangan ke arah warung di dekatnya dan menghampirinya lalu membeli segelas air putih.


Ia menyeruputnya tanpa menyadari bahwa adiknya sudah berjalan jauh meninggalkannya.


"Gimana nak sudah hilang hausnya?"


Basa-basi bu Darni sang pemilik warung.


"Alhamdulillah sudah bu, haus hilang adik saya pun ilang bu"


Menghela nafasnya dalam-dalam, menampakkan wajah pasrah karena kelakuan adiknya itu.


"Yaudah gih cari adikmu, nanti kalau beneran ilang gimana? bisa habis kamu dimarahi ibumu"


Pekik bu Darni menasehatinya.


Belum selesai menyedot segelas air putih di tangannya, Aidan sudah berimajinasi tak jelas.


"Bagaimana jika yang diucapkan bu Dari itu terjadi? Pasti ibunya sangat marah"


Bayangan itu terus menggelayuti fikiran Aidan.


Sudah terlintas wajah amarah sang ibu di benak Aidan yang membuatnya gelisah. Ia buru-buru mengeluarkan lima ratus perak dari sakunya membayar minuman yang ia beli.


"Makasih bu"


Teriak Aidan meninggalkan bu Darni.


Ia mempercepat langkah kakinya berharap masih menemukan adiknya yang berjalan super duper cepat itu. Hari pun sudah semakin gelap, Ia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada adiknya nanti.


"Gini nih, kalo punya ade yang hiperaktif banget. Kakaknya lagi kehausan eh malah ditinggalin"


Monolog Aidan dengan raut wajah kesal.


Benar dugaannya, ditengah perjalanan pulang matanya terbelalak melihat Kheira sedang dikejar-kejar oleh dua anak laki-laki sepantarannya.


"Ga bisa diem banget sih Dora, ada aja kerjaannya ujung-ujungnya jadiin kakaknya tameng pasti"


"Itu anak mana ya? Mungkin dari kampung sebelah"


Fikir Aidan sesaat melihat dua bocah lelaki sedang mengejar adiknya.


Bagi Aidan, Adiknya memang super akal. Namun, Aidan mengerti kemungkinan besar adiknya melakukan kenakalan itu di saat-saat tertentu saja dan ia paham bahwa adiknya melakukan itu pasti ada sebab nya.


"Eh kenapa ini?"


Teriak Aidan menghentikan kejaran mereka.


"Tadi dia lemparin kami batu kak"


Ucap salah satu bocah lelaki itu menunjuk ke arah Kheira dengan nafas terengah-engah.


"Beneran de?"


Tanya Aidan memastikan matanya tertuju pada wajah sang adik.


"Gak kok kak, dia nya aja yang bandel nyolong mangga nek Aminah ga bilang-bilang"


Pertegas Kheira berusaha membela diri.


"Yeh, kalo bilang namanya bukan nyolong dong bambang"


Gumam Aidan menepuk jidatnya.


"hehehe iya juga ya"


Kheira tersenyum malu karena ucapannya.


"Gini-gini, emang sebenernya tadi kalian abis ngapain sih? Main polisi maling apa gimana? sampe kejar-kejaran gitu"


Aidan berusaha memecah keheningan dengan lawakannya.

__ADS_1


"hahaha lucu banget ka"


Ucap salah satu dari kedua bocah itu menahan tawanya.


"Iya, saya kan emang lucu. Baru tau anda" Jawab Aidan menampilkan pesona percaya dirinya dengan tanggan bertolak pinggang bak model majalah.


"Dikit lagi Hahaha"


Sambung salah satu bocah lelaki dengan tawa terbahak melihat gaya Aidan.


"Het bisa ae patung pancoran"


dengus Aidan kesal menyedekap kan kedua tangannya sambil memanyunkan bibir.


Kheira, sang adik menggelengkam kepala melihat kelakuan kakak sulungnya nya yang memalukan.


Aidan merasakan kepekaan dari rasa malu sang adik kemudian berusaha mengalihkan candaannya ke inti masalah lagi.


"Oke jadi gimana ceritanya? coba anda jelaskan"


Aidan bertanya penasaran bak reporter amatir.


"Iya jadi gini"


"Jadi gini... "


"Jadi...."


Ledek kedua bocah itu.


"Jadi gimana talang aer? Gua jitak botak lu"


Aidan memutarkan bola matanya mempraktekan jitakkannya kearah dua bocah tersebut.


"Iya, jadi tadi kita lagi mau ngambil mangga. Cuma dia malah ngelempar kita pake batu"


Mereka menunjuk ke arah Kheira.


"Sakit banget tau ka, saya dan teman saya sampe jatoh dari pohon mangga"


Sambung salah satu nya dengan wajah memelas memegang bokongnya.


"Tapi pohon nya gak kenapa-napa kan? hahaha"


Tanya Aidan terbahak meledek dua bocah tersebut.


"Udah ah ka ngelawak nya"


Dengus Kheira kesal menekuk wajahnya.


"Oke Oke Doraaaa cantik, jangan ditekuk gitu dong mukanya"


Aidan membujuk adiknya itu.


"Jadi, bener kamu ngelempar mereka pake batu?"


Tanya nya Aidan serius menginterogasi Kheira.


"Iyaaaa ka, tapi karena dia duluan yang mau ambil mangga nek Aminah, kan kasian nek Aminah udah tua mereka malah ngambilin mangganya"


Perjelasnya mendengus kesal.


"Oke kakak faham"


Ucap Aidan.


"Yaudah, sekarang kalian berdua harus saling minta maaf deh ya udah mau lebaran"


Ledek Aidan kepada adiknya dan dua bocah lelaki itu.


"Gak mau, masa aku gak salah harus minta maaf"


Jawab Kheira dengan keras kepala.

__ADS_1


Beberapa saat setelahnya, seseorang keluar dari rumah yang berada tepat di depan kami karena kebisingan suara kami.


__ADS_2