Surat Terakhir Untuk Kheira

Surat Terakhir Untuk Kheira
BUKAN UNTUKNYA (Flashback)


__ADS_3

(Gayatri POV)


"Tri, Tri, gawat,,, kamu dipanggil pak Adi di sekolah"


Lirihnya nafas terengah-engah menemui dirinya yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah.


"Hah pak Adi? Guru killer kita dulu?"


Pekik Gayatri matanya terbelalak ke arah Katrina, sahabatnya.


"Iya.... Bener Tri guru killer kita yang pernah jewer aku"


Katrina menampakkan wajah ketakutannya.


"Ada apa ya pak Adi manggil aku Rin?"


Tanya Gayatri dirundungi rasa penasaran.


"Ndak ngerti aku, cuma disuruh sampaikan ke kamu. Kamu di tunggu di halaman sekolah sama pak Adi"


Katrina mengangkat kedua bahunya.


"Yaudah aku pamit dulu yaaa"


Sambung Katrina pergi meninggalkannya.


Alysa terburu-buru menjemur pakaiannya dan langsung bergegas menemui pak Adi, guru SMA nya dulu.


"Aneh, tumben-tumbenan pak Adi ngajak ketemu"


Gumam nya dalam hati diselimuti rasa kebingungan.


Bola matanya mencari-cari lelaki itu ke seluruh sudut sekolah.


Matanya seketika tertuju pada seorang lelaki berbalut kemeja hitam, sedang duduk sendiri di dudukan bangku taman.


"Nah itu dia"


Ungkapnya dalam hati melangkahkan kaki menuju seseorang yang tak asing baginya itu.


"Apa benar bapak memanggil saya?"


Gayatri menghela nafas saat berhadapan dengan guru killer nya itu.


"Iya saya memanggilmu, saya mau berbicara sesuatu"


Pekik Adi dengan nada serius membuat jantung Gayatri semakin tak karuan.


"Boleh pak, ada apa ya pak?"


Gayatri menunduk tak berani menatap guru killer nya.


"Boleh kamu duduk di sebelah saya?"


Pinta Adi membuatnya terkejut mendengar ucapan gurunya itu.


"Baik pak"


Sahutnya pelan.


"Duduklah"


Ucap Adi mempersilahkan Gayatri menduduki kursi kosong disampingnya.


"Sebenarnya... "


Adi menghentikan pembicaraannya dan mulai mengatur nafasnya.


"Sebenarnya apa pak?"


Tanya Gayatri pelan.


"Sebenarnya saya mencintai kamu"


Ucap Adi gugup membuat Gayatri seolah berada dalam mimpi.


"Jika kamu berkenan, aku ingin melamarmu. Apakah kamu mau?"


Adi mengeluarkan kotak kecil merah dari sakunya, yang berisikan cincin putih. Gayatri tampak terdiam membisu menundukkan kepalanya, tak ada satupun jawaban yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


"Maaf pak..."


Ungkap Gayatri tertunduk menoleh kearah lain.


"Maksudnya?"


Tanya Adi mengernyitkan dahi.


"Maaf saya belum bisa menerima lamaran bapak"


Perjelas nya dengan nada lirih disertai perasaan bersalah.


"Kenapa Tri? Coba jelaskan"


Pinta lelaki itu memastikan perempuan di depannya yang masih tertunduk.


"Saya hanya menganggap pak Adi sebagai kakak saya sendiri, meski umur kita memang tidak terlalu jauh. Namun, sayangnya saya sudah memiliki seseorang yang saya cintai pak"


Ungkapnya memberanikan diri menatap ke arah bola mata yang dipenuhi rasa kekecewaan.


"Siapa Tri?"


Tanya lelaki itu membuat Gayatri semakin tertunduk dan membisu.


Gayatri terlihat bingung menjawab pertanyaan tersebut, dirinya seakan tak mau menyakiti perasaan siapapun, terutama Adi.


Namun, disisi lain ia juga tak bisa terus-menerus menutupinya, karena ia tahu bahwa kebohongan jauh lebih menyakitkan dibandingkan sebuah kejujuran yang pahit.


"Mas Indra, teman sejawatmu sahabatmu"


Lirihnya pelan merunduk tak mampu menatap kedua bola mata lelaki dihadapannya yang akan membuat dirinya semakin digelayuti perasaan bersalah.


Gayatri mengerti perasaan lelaki itu pasti hancur-sehancur hancurnya sesaat mendengar jawaban darinya. Karena seorang gadis yang dicintainya lebih memilih orang lain, yaitu sahabatnya sendiri.


Sebuah kejujuran lebih berharga dibandingkan sebuah kebohongan yang terus-menerus ditutupi.


~Cahaya Novelia


"Baiklah, kalau kamu mencintainya aku ikhlas menerima semua jawabanmu. Karena kebahagiaan mu adalah perjuangan dari rasa cintaku, sampai kapanpun aku akan mencintaimu dengan tulus"


Lirih Adi dengan senyum ketegarannya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Gayatri sendirian di pekarangan taman.


☀☀☀


Lelaki tulus yang rela menunggu wanita yang ia cintai hingga mampu membukakan pintu hati untuknya.


Dimata Gayatri, sosok Adi merupakan lelaki yang tulus dan seambisius lelaki lain, yang hanya menginginkan sebuah cinta karena hasrat semata.


Adi lebih memilih memperjuangankan wanita yang ia cinta dengan ketulusan dan rasa hormat.


Cinta memang sulit, tak bisa dipaksa dan tak bisa memaksa. Biarkanlah ia tumbuh dengan sendirinya.


~Cahaya Novelia


☀☀☀


Malam itu, kekasih hatinya datang menemuinya. Dengan sigap Gayatri memeluk tubuh lelaki dihadapannya. Perlahan lelaki itu melepaskan pelukan Gayatri.


"Tri, ini..."


Ucapnya memberi sepucuk surat pernikahan padanya.


"Apa ini mas?"


Tanya nya bingung membulatkan mata kearah lelaki di depannya.


"Baca saja"


Pintanya singkat membuat Gayatri sigap membuka plastik bening yang membungkus surat undangan itu, matanya terbelalak sesaat melihat nama kekasihnya tertulis dalam undangan yang digenggamnya.


"Maksudnya apa ini mas?"


Pekik Gayatri meninggikan nada suara nya dibaluti wajah kekesalan.


"Aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku"


Lirih Indra pelan menatap bola mata Gayatri.


"Tolong kamu mengerti ini"

__ADS_1


Sambungnya membuat Gayatri mengalihkan pandangannya sesaat.


"Baik, jika itu yang terbaik buat kamu aku ikhlas mas"


Lirih Gayatri menyimpan rasa sesak di dadanya.


"Besok aku akan menikah"


Gumam Indra menggenggam kedua bahu Gayatri membuat Gayatri terdiam berusaha menyeka air mata nya yang mengalir tiba-tiba.


"Aku pamit"


Sambung Indra menyeka air mata gadis dihadapannya kemudian memeluknya.


"Aku pamit ya Tri"


Bisik Indra perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Gayatri. Gayatri hanya menggangguk pelan berusaha menghiraukan rasa pedihnya.


Memang strata lelaki itu jauh lebih tinggi daripadanya, yang bukan apa-apa. Hanya seorang anak penjual makanan kecil di kantin sekolah.


Gayatri merasa tahu diri dan berusaha tegar menerima pahitnya kenyataan.


"Sebuah pinta untuk "Melupa" Tidaklah sulit, namun menerapkannya itulah hal yang rumit"


~Cahaya Novelia


Indra melangkahkan kakinya kearah motor kuno yang terparkir di depan rumah Gayatri kemudian menaikinya sembari mengucapkan sebuah kata yang membuat tangisan Gayatri semakin pecah.


"Tri, aku mencintaimu..."


Teriak Indra dari kejauhan.


"Aku Pamit..."


Sambungnya melambaikan satu tangannya kearah Gayatri.


Gayatri hanya terseyum getir kearahnya dan membalas lambaian tangan ke arah lelaki itu.


Bunyi mesin motor itu terdengar sangat nyaring dan bising di telinganya. Namun, perlahan suara mesin itu hilang saat Indra pergi dari sisi nya.


☀☀☀


Malam harinya, Gayatri mendapat kabar dari teman-teman desanya.


"Tok tok tok"


Ketukan yang berasal dari pintu putih rumah Gayatri. Dengan sigap ia membukakan pintu rumahnya.


"Ada apa mas Doni? Mas Adi?"


Tanya Gayatri penasaran melihat dua orang lelaki mantan gurunya itu menyambangi dirinya dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa mas?"


Ulangnya pelan.


"In... Indra me....men.."


Ucap Doni gugup tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Mas Indra kenapa mas?"


Gayatri menerka firasat yang tak baik dari hatinya.


"Indra sudah pergi meninggalkan kita semua"


Ungkap Adi lirih membuat Gayatri mematung seketika air matanya jatuh begitu saja.


"Motornya menabrak truk bermuatan besar karena perjalanannya tertutup hujan lebat"


Perjelas Doni membuat tubuh Gayatri semakin lemas dan terasa sesak.


BRUKKK


Gayatri jatuh tak sadarkan diri.


Adi dan Doni membopong Gayatri masuk ke dalam rumah minimalis milik Mbok Sarah. Mbok Sarah dengan wajah penuh kekhawatiran melihat anaknya sedang tak sadarkan diri.


Malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan, bagaimana tidak? Seseorang yang diharapkanmu, seseorang yang dicintaimu, dan seseorang yang diimpikan menjadi pasangan hidupmu kemudian pamit untuk pergi dan meninggalkanmu. UNTUK SELAMANYA.

__ADS_1


__ADS_2