
hari ini Dinda pulang ke rumahnya, tak tahu mengapa Dinda tidak terbiasa meninggalkan rumah dalam tempo yang lama, Ia akan merasakan rindu untuk kembali ke rumah itu.
kini Dinda tengah berada di balkon di rumahnya, menikmati senja, menerawang bulan, menitik rindu yang tiada pernah bisa dibendung olehnya, rindu pada seseorang yang sudah menjadi bintang, yang tak akan pernah bisa kembali. tanpa terasa kini air mata Dinda telah jatuh membasahi pipinya.
" Bunda, Dinda kangen" Dinda menengadahkan kepala ke langit, berharap ada yang mengerti perasaanya.
" Bunda istirahat yang tenang ya di sana, Dinda disini baik-baik aja kok" Dinda memeluk tubuhnya, dan menyeka air mata untuk menyudahi tangisan dan kesedihan hari ini.
twing
ponsel Dinda berbunyi beberapa kali tanda chat WhatsApp masuk. Dinda merogoh saku celananya, melihat siapa di sana yang mengirimi nya pesan. dilihatnya tidak ada nama yang tertera dari pengirim chat, berarti itu nomor orang yang tidak dikenal oleh Dinda.
save back Arlan
Dinda langsung menambahkan nomor Arlan ke daftar kontak di ponsel nya.
Done..
balas Dinda singkat.
lu ngapain disitu? mau bunuh diri?
Dinda terperanjat, seketika ia menengok ke bawah dan mengedarkan pandangan ke bawah sana, dilihatnya seseorang tengah mendongakkan kepalanya ke atas. Dinda menilik, memastikan bahwa orang itu memang manusia bukan siluman, Dinda melambaikan tangan ke bawah, lantas dibalas pula oleh orang dibawah, ia terlihat sedang mengutak-atik ponselnya lalu..
turun Din
pintanya di telepon.
Dinda segera mematikan ponsel lalu turun ke bawah untuk menghampiri Arlan.
" Hai kak" sapa Dinda
" Ehh hai" balas Arlan
" hmm masuk kak" Dinda dan Arlan berjalan beriringan memasuki rumah Dinda.
" duduk sini kak, gue ambilin minum dulu" Dinda mempersilahkan Arlan duduk di sofa miliknya
" oh ya mau minum apa?" tanya Dinda lagi.
__ADS_1
" ga usah repot-repot, jus jeruk ada?" Arlan memainkan dua alisnya."
"hhmm, katanya ga usah repot-repot, tapi pesen jus jeruk" Dinda bergumam sendiri.
selang beberapa menit kemudian, Dinda kembali lagi dengan membawa satu gelas jus jeruk dan 1 gelas air putih beserta beberapa macam cemilan di atas nampan.
"silahkan dinikmati tuan" ujar Dinda seraya memindahkan jus jeruk dan cemilan dari nampan ke atas meja.
" makasih babu" Arlan segera menenggak jus jeruknya hingga tersisa setengah gelas, rupanya dia sangat haus atau dia memang suka jus jeruk.
Dinda duduk di sebelah Arlan, mereka menikmati cemilan sambil menonton sinetron Indosiar. mereka sangat menikmati sinetron yang mereka tonton, sesekali terdengar umpatan dan cacian keluar dari mulut mereka berdua, akibat kekesalan terhadap sinetron yang mereka tonton.
matahari sudah tenggelam sepenuhnya, kini diganti oleh bulan purnama yang bulat seutuhnya, menerangi setiap inci bumi di dunia.
Arlan berpamitan pulang dengan Dinda, karena dirasa sudah sangat malam dan berhubung juga acara sinetron mereka sudah habis dan digantikan dengan acara dangdut.
" hati-hati kak, pelan-pelan ya bawa motor nya" ucap Dinda di balik pintu rumahnya.
" oke" Arlan menghidupkan motor nya
" btw tau alamat rumah gue dari siapa?" Dinda setengah berteriak karena Arlan sudah mulai melajukan kendaraannya. Arlan sebenarnya mendengar teriakan Dinda tapi ia enggan memberi tahu Dinda, ia malas menghentikan motornya, biar saja Dinda penasaran, biar dia cari tahu sendiri.
sebelumnya..
ia melihat Dinda sempat berhenti di sebuah rumah, rupanya rumah itu milik Alya, Dinda masuk ke rumah Alya, tak lama kemudian Dinda keluar lagi sambil membawa tas yang lumayan besar. Dinda kembali melajukan kendaraannya.
Arlan terus mengikuti Dinda sampai tiba di sebuah rumah yang lumayan besar, Dinda terlihat memasukkan sepeda motor ke garasi rumahnya.
Arlan memutar balik kendaraannya, ia pulang ke rumah terlebih dahulu, Ia berniat pulang untuk mandi dan membersihkan diri, lalu ia kembali lagi mengunjungi rumah Dinda.
sekarang sudah pukul 17.00, sudah sangat sore, tapi tak mengurangi sedikit pun niat Arlan untuk berkunjung ke rumah Dinda.
sesampai di taman rumah Dinda, Arlan melihat Dinda di balkon sedang menikmati senja sambil memeluk diri sendiri.
" Ternyata Dinda anak senja, mana pake peluk diri sendiri lagi, ketahuan banget kalo jones" gumam Arlan mengejek.
Arlan langsung menghubungi Dinda, memberi tahukan bahwa ia tengah berada di taman rumah nya.
End...
Di atas motor, Arlan senyum-senyum sendiri, Arlan menahan detak jantungnya yang berdegup kencang, Arlan merasa bunga-bunga tengah bermekaran di dalam dadanya sana.
__ADS_1
Arlan membelokkan motornya menuju ke arah cafe, ia menghubungi beberapa temannya untuk diajak nongkrong bersama di cafe.
pukul 01.00 Arlan dan teman-temannya membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing. Arlan merasa sangat mengantuk, ia mengerjapkan matanya beberapa kali supaya terjaga.
Arlan terus mengucek matanya, tanpa ia sadari dari arah depan melaju kendaraan besar dengan kecepatan tinggi menghantam sepeda motor milik Arlan. tubuh Arlan terhempas jauh dan terseret di aspal jalanan, sepeda motor nya hancur, seluruh tubuhnya mengeluarkan darah. samar-samar ia melihat orang-orang mendekat mengerumuni dirinya, kepala Arlan terasa sangat berat, darah megalir deras dari kepala Arlan, ia terhuyung lalu akhirnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
Arlan membuka mata perlahan, ia memandang langit-langit ruangan yang serba putih itu, bau obat menyebar di seluruh ruangan, di hidungnya terpasang alat bantu pernapasan dan juga kaki kanan nya terbalut perban, Ia melihat seseorang tengah tertidur sofa, terlihat sekali letih dari wajahnya.
tenggorokan Arlan terasa sangat cekat, Ia berusaha meraih gelas air minum yang berada di samping nakas, belum lagi tangan Arlan menggapai gelas, sebuah tangan sudah lebih dulu mengambilnya, meminumkannya ke Arlan.
" kamu kok gak kasih tau mama kalo sudah bangun?" mama terlihat sedikit kesal.
" hehe maaf ma" Arlan tersenyum kecil.
" aduh, ahh" Arlan memegang kepala nya yang dibalut dengan perban, rasa nyeri di kepala nya sangat menyengat, membuat Arlan hampir-hampir pingsan lagi.
" Arlan jangan terlalu banyak bergerak dulu" -mama-
" iyaa ma, udah berapa hari Arlan dirawat?" tanya Arlan
"kamu udah 3 hari koma nak, ini kamu baru bangun, mama senang banget" mama mengusap punggung tangan Arlan.
" papa dan Yuri mana ma?" Arlan menanyakan keberadaan Papanya dan adik bungsunya.
" kami datang" papa dan Yuri muncul dari balik pintu.
Yuri lantas memeluk kakaknya, Ia terlihat sangat bersedih dengan musibah yang menimpa Kakaknya itu.
" kak, ini Yuri bawakan makanan kesukaan kakak" Yuri menyodorkan rantang yang berisi nasi goreng kesukaan Arlan.
" makasih Yuri" Arlan mencium kening Yuri
" sini Yuri suapin yaa" Yuri lantas mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng ke mulut Arlan, tangannya yang mungil terlihat gemetar saat menyuapi makanan dan melihat luka-luka di wajah Arlan.
__ADS_1
Yuri menundukkan mukanya, Ia terlihat seperti mengusap-ngusap wajahnya, sepertinya Ia menangis. Arlan mengangkat wajah Yuri, lalu memberikan senyuman terbaiknya, Yuri terharu, Ia langsung memeluk erat tubuh Arlan.