
waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dinda baru saja memarkir sepeda motor nya di garasi rumah miliknya, ia melihat ada dua buah mobil terparkir juga di garasi rumahnya.
" tumben mereka pulang" gumam Dinda. Setelah mengunci stang motornya, Ia segera masuk ke dalam rumahnya, menaruh sepatu di rak sepatu yang berada di belakang pintu rumahnya. ia berjalan menuju ruang tamu, di dapatnya seorang lelaki paruh baya sedang duduk disana.
Dinda tidak menghiraukannya dan berusaha untuk tidak menganggapnya ada, Dinda berlari kecil untuk segera menaiki tangga rumahnya, baru saja Dinda menaiki anak tangga ketiga, sebuah suara yang amat sangat ia kenali namun sangat ia benci tersebut tiba tiba menegurnya.
" Kok gak salam sih kamu? " tanya ruslan-ayah dinda.
" udah dalam hati " balas Dinda tanpa berbalik arah.
Dinda tak sanggup menatap wajah ayah nya tersebut, ia berlalu pergi meninggalkan ayahnya yang masih terpaku di depan tv, rupanya Ruslan juga tidak terlalu mementingkan kehadiran Dinda.
Tak lama setelahnya, seorang perempuan datang menghampiri nya lalu duduk bersama nya, wanita itu 10 tahun lebih muda dari Ruslan, yang tak lain merupakan istri ruslan, istrinya itu langsung menanyakan keberadaan Dinda, karena sedari tadi ia sibuk memasak makanan di dapur bersama bi ijah.
" Sayang, mana Dinda?, dia baru aja pulang kan, tadi aku dengar suara motor diparkir",ruslan masih terdiam. karena tidak terdengar jawaban apa pun dari suaminya, amel bermaksud bertanya lagi.
"sayang kamu denger gak aku ngomong apa?,
"Eh, iya, kamu tadi nanya apa? ruslan yang baru saja menyadari kehadiran istrinya tersebut berusaha mengingat apa yang ditanyakan istri tercinta nya tersebut.
"Kamu gak dengerin aku? Dinda mana? kamu ngelamun ya sayang? Amel melayangkan beberapa pertanyaan sekaligus yang membuat alis ruslan naik sebelah, Ruslan menjawab pertanyaan amel dengan segera, agar amel tidak melayangkan lebih banyak pertanyaan kepada dirinya,
"Mmm,, Dinda ada kok di kamarnya, barusan aku ngobrol sama dia sebelum dia ke kamar" bohong nya, padahal dia sama sekali tidak mengobrol dengan Dinda.
" Oh di dalam kamar ya, aku kesana yah, pengen ketemu sama Dinda"
"Ya",,,.
Ruslan masih terduduk di sofa, pikirannya melanglang buana, ia tak habis pikir kenapa putrinya yang sangat ia sayangi tersebut sangat membenci dirinya setelah pernikahannya yang kedua dengan istrinya sekarang, ia benar benar terbebani dengan perubahan drastis sikap anaknya tersebut, sebelumnya ia mengenal dinda sebagai anak yang baik, sopan dan sangat penurut kepadanya, tapi sekarang ia sudah tak mengenali Dinda nya itu, sekarang Dinda sudah berubah 360 derajat dan itu sangat menyiksa batin Ruslan.
di kamar dinda...
"kenapa ayah sama istrinya itu harus pulang? kenapa mereka gak tinggal di jakarta selamanya, aku lebih tersakiti dengan keberadaan mereka di dalam rumah ini" dinda terus saja bertanya- tanya dengan dirinya sendiri.
tok tok tok...
"Dinda? "
ia sangat membenci suara itu, suara seseorang yang sangat licik.
"Dinda buka pintunya sayang" pintanya.
Dinda hampir muntah mendengar panggilan yang baru saja dilontarkan amel.
" akting yang sangat sempurna" dinda membatin.
"Bentar" sahut Dinda malas, dengan sangat terpaksa ia membukakan pintu kamarnya, belum lagi ia mempersilahkan Amel masuk, wanita itu telah terlebih dahulu masuk ke kamar dinda tanpa ijin Dinda.
"kamu tuh ya lama banget sih bukain pintu aja" Amel langsung memarahi dinda
" mau ngapain? mau sok cari perhatian sama bokap gue" tanya Dinda sarkas
"HAHAHA, bukankah kamu telah mengetahuiku, Dinda Ayudia Zanitha" Amel tertawa licik.
__ADS_1
"heh, suara ketawa lo kayak kuntilanak, bisa bisa lo ngerusak gendang telinga gue, Dinda menutup kedua telinganya.
"Dindaaa, Dinda keadaan mu sekarang sangat prihatin, ayahmu sudah tidak perduli dengan mu" amel tersenyum licik.
"Gue gak butuh perhatian kalian, gue bisa hidup sendiri, pergi lo, pergiiii" Dinda mendorong-dorong Amel untuk segera keluar dari kamar nya.
"Ayahmu akan mati di tanganku, Dinda" ucapnya dibalik pintu.
Dinda sangat kaget ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut istri ayahnya itu, tepatnya wanita yang sangat di cintai oleh ayahnya itu.
"Gue gak perduli" Dinda mengunci pintu kamarnya dengan kasar, Dinda masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Amel, ia tidak habis pikir kenapa wanita itu mau membunuh ayahnya.
Dinda duduk termenung di sudut kasurnya, masih terbayang kenangan setahun yang lalu ketika ia mengambil rapot kenaikan kelas bersama ibunya, kini malaikatnya itu telah tenang disana, tempat yang sangat jauh, yang tidak bisa Dinda gapai.
Flashback on...
" Bunda, Dinda deg-degan tau, aku juara umum lagi gak ya? katanya pada ibunya
"jangan gugup sayang, bunda yakin pasti kamu juara umum, bunda yakin 100%, Dinda anak bunda gak ada yang bisa kalahin"ucap Riska menyemangati anaknya, sambil membelai kepala Dinda lembut.
mereka sedang berada di dalam suatu ruangan yang besar, seluruh wali dan siswa/siswi smp kelas 8 berkumpul di ruangan itu, mereka sekarang tengah menunggu pengumuman juara umum untuk kelas 8.
"Dan juara umum untuk tahun ini jatuh kepada... Ananda Dinda Ayudia Zanitha,, kepada ananda yang telah disebut namanya silahkan maju ke depan untuk mengambil piala dan hadiah, dengan lantang MC mengumumkan pemenang nya.
Dinda dan bunda nya pun terkejut,
"Waahh, bunda aku juara umum lagi",,,
"Yeyyy, bunda sudah yakin pasti kamu juaranya, selamat ya sayang" bunda memberi ucapan selamat pada dinda yang diiringi tangis haru bunda karena bangga kepada putri nya tersebut.
Dinda dan bundanya kini telah berada di dalam mobil mereka, Dinda dan bunda sudah merencanakan untuk merayakan kemenangan Dinda dengan makan di restoran favorit mereka. Sudah 15 menit mobil melaju, dan mereka sudah sampai di sebuah restoran seafood.
"Dinda hari ini mau makan udang, kepiting sama cumi cumi ya bunda" dengan antusias dinda menyebutkan jenis seafood yang ingin dimakannya.
"Boleh, asalkan bayar sendiri yah" canda bunda.
"Iihh bunda ga asyik" Dinda memasang muka cemberut.
"Hehehe gak sayang, bunda bercanda, hari ini dinda boleh makan apa aja yang dinda mau" kata bunda seraya memeluk Dinda
"Horeee makasih bunda, Dinda sayang sama bunda" Dinda membalas memeluk erat bundanya.
"bunda juga sayang dinda"
Setelah selesai makan Riska dan Dinda tidak merencanakan untuk pergi ke tempat yang lain, jadi mereka langsung pulang, di tengah perjalanan pulang, Riska melihat seseorang menyebrang jalan, Riska ingin menghentikan mobilnya, akan tetapi sepertinya rem mobilnya blong,
"Bunda awas bun". Dinda sangat ketakutan karena mobil yang mereka tumpangi tidak bisa di rem.
"Iya, Dinda jangan panik ya, tetap di tempat" bunda berusaha menenangkan.
"bunda awass" pekik Dinda
Aaaaaaaaaaa.....
__ADS_1
Mobil mereka akhirnya belok ke jurang dan terhempas jauh ke bawah, membuat Riska kehilangan keseimbangan dan pada saat sampai di dasar jurang posisi mobil mereka terbalik, Riska berusaha mengeluarkan Dinda dari mobil dengan sekuat tenaga, setelah Dinda berhasil keluar mobil, Riska berusaha menyelamatkan dirinya sendiri akan tetapi Riska sudah kehabisan tenaga dan asap yang keluar dari mobil sudah memenuhi seluruh ruang mobil, Riska tidak dapat bertahan dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bundaaa, aku belum siap kehilangan bunda, bundaa bangunn" Dinda berteriak dari luar mobil, namun itu semua sia sia, Riska kini telah pergi meninggalkan Dinda.
Flashback Off
"Non Dinda bangun non, sudah waktunya makan malam" suara lembut bi Ijah membangunkan Dinda dari tidur nya yang lelap.
"Bi Ijah, ini udah jam berapa? " tanya Dinda.
"Sudah jam 8 non, non dinda sudah tertidur dari tadi sore" jelas Bi Ijah.
"Oh ya?, lama juga aku tidur"
"Iya non, non aja belum ganti baju,tadi tidur masih pake seragam sekolah"
" iya yah bi, aku lupa ganti baju tadi hehe" Dinda terkekeh.
"Ya sudah, non dinda ganti baju dulu baru makan, ni bajunya" Bi Ijah menyodorkan baju untuk Dinda yang sudah disiapkan nya khusus untuk Dinda
"Ga usah bi Ijah, nanti abis makan aja aku ganti baju, sekalian mandi"
"Ya sudah kalo gitu non, ayo kita ke bawah, tuan dan nyona sudah nungguin non di meja makan" pinta Bi Ijah dengan sopan.
"Baik bi"..
saat menuruni anak tangga tampak dari kejauhan ayah dan istrinya sedang menunggunya, ia melihat Amel tengah menyendok nasi ke dalam piring ayahnya.
"Pemandangan yang menjijikkan" umpat Dinda.
"Selamat malam Dindaa" sapa Amel ketika melihat Dinda yang baru saja datang untuk bergabung makan malam.
"Hhmm" balas Dinda.
"Kok masih pake baju sekolah Din? Amel bertanya lagi, pertanyaan yang membuat dinda sangat geram.
"apaan sih, ga usah sok perhatian gitu, gue jijik ga butuh" bentak dinda.
Tiba-tiba Ruslan memukul meja makan,
"Dinda, bisa gak kamu sopan sedikit, dia itu ibu kamu" wajah ruslan merah padam akibat menahan amarah.
"Dia bukan ibu gue, dia itu istri lo, ISTRI LO",, dinda menenan kata itu dan mengatakannya dengan keras.
Amarah Ruslan kini benar-benar susah memuncak, ia menyiramkan segelas air ke arah Dinda
"Ruslan, kamu apa-apaan, sudah cukup! Amel berusaha menghentikan Ruslan yang ingin melempar piring juga ke arah Dinda.
Dinda sangat syok dengan perlakuan kasar ayahnya tersebut, dengan keadaan basah kuyup seperti itu dinda berlari ke arah tangga, ia ingin segera menuju kamarnya, terdengar teriakan ayahnya yang sangat memekakkan telinganya. "Dasar anak kurang ajar" Ruslan tampak belum puas memarahi Dinda, Dinda hanya menangis, ia berlari kecil agar cepat sampai ke kamarnya, setelah sampai di depan pintu ia segera masuk ke dalam kamarnya, lalu ia mengunci pintu.
sekarang dinda sedang terisak di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, sesekali ia mengutuk istri ayahnya, karena menurut Dinda, wanita itu adalah pembawa sial dalam hidupnya.
"Dasar rubah betina" gerutu Dinda disela isakan tangisnya, hanya menangis yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkan semua masalah di hatinya.
__ADS_1
Percayalah! menangis dalam diam itu sungguh menyakitkan.