
"Dindaaa, bangun din!! astaga lo udah tidur dari awal materi sampe akhir" Alya yang merupakan sahabat Dinda menggoyang-goyang pelan tubuh Dinda, yang tentu saja akan sia-sia
" hhmm iyaa bawel" balas Dinda akan tetapi setelahnya Ia kembali menundukkan kepala nya berniat untuk melanjutkan tidur siangnya itu
"Din cepetan bangun!!, cuci muka dulu sana biar seger" pinta Alya sedikit kesal.
" iyaa" balas Dinda sekenanya.
selanjutnya tidak terdengar lagi suara Dinda, ya, dia sudah tertidur lagi, Alya hanya menggeleng kepala melihat tingkah sahabat nya itu.
"hati-hati ntar kena azab loh" bisik Alya sangat pelan nyaris tak terdengar oleh siapa pun selain Alya sendiri, tentu saja Dinda tidak mendengarnya, karena ia sudah jauh menggapai mimpinya.
Dinda dan Alya adalah siswi baru di SMA Negeri Pelita Harapan Samarinda, SMA terfavorit yang terletak di Samarinda, Kalimantan Timur, sekolah yang didominasi oleh siswa siswi berprestasi di bidangnya masing masing, juga didominasi oleh murid yang dibantu oleh orang dalam.
Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah sekaligus hari pertama MOS mereka. murid murid baru di sekolah tersebut dikumpulkan di dalam aula sekolah yang sangat luas.
" BERDIRI!! " bentak seseorang, suara kasar itu terdengar sangat keras hingga membangunkan Dinda dari tidur panjang nya, memutus mimpi indahnya.
Dinda sangat terkejut mendapati dirinya sudah basah kuyup, ketika dia mendongak ke atas dia kembali terkejut, kali ini terkejut bercampur ketakutan, bagaimana tidak, seorang lelaki bertubuh gemuk dan bermuka sangar sedang menatap ke arah nya dengan memegang gayung kosong yang tentunya isinya telah digunakan untuk menyirami dirinya.
"Saya bilang BERDIRI!, anda bisa dengar??" serunya dengan nada oktaf yang masih sama seperti tadi.
dengan segera Dinda berdiri, perasaan Dinda bercampur aduk saat itu. malu, takut, sedih bercampur jadi satu, Dinda hampir menangis menahan malu nya karena pada saat itu semua pasang mata melihat ke arahnya. Sekarang Dinda menjadi pusat perhatian.
" Kenapa tidur?" tanya nya kasar
__ADS_1
" ngantuk kak" Jawab Dinda ketakutan.
" semua orang dalam ruangan ini juga ngantuk, tapi ga ada yang berani tidur kayak kamu" ia memarahi Dinda sambil tangannya menunjuk- nunjuk Dinda
"Ini hukuman buat kamu, karena sudah berani tidur pada saat MOS berlangsung" katanya melanjutkan.
"i.. i.. iyaa kak",, jawab Dinda terbata- bata sambil menunduk, suaranya terdengar kian parau, kali ini air mata Dinda telah mengalir dengan derasnya membasahi pipinya. Dinda sudah tahu bahwa lelaki yang membentaknya itu pasti adalah anggota OSIS di sekolah barunya itu.
"Ingat jangan diulangi lagi!" tegas lelaki itu, kali ini suaranya terdengar tidak terlalu kasar namun masih terdengar menyakitkan bagi Dinda. Dinda berusaha untuk mengiyakan nya, namun dinda sudah tidak sanggup berkata kata lagi dikarenakan sesenggukan, akhirnya ia hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan senior nya itu.
"Duduk!" perintah lelaki itu lagi.
Dinda menurut saja dan langsung duduk sambil terus menunduk. mukanya merah padam lantaran menahan rasa malu dan sedih nya.
melihat Dinda yang masih menangis sesenggukan, mendorong Alya untuk segera memeluk erat sahabatnya itu, tak apa baju nya ikut kena basah, setidaknya Alya bisa melindungi tubuh Dinda dari tatapan puluhan pasang mata yang sekarang sedang mengarah pada mereka berdua. tanpa ragu, Alya terus memeluk erat Dinda, Alya tahu betul bagaimana perasaan sahabat yang telah ia kenal sejak tiga tahun yang lalu itu, Alya sangat mengenal Dinda, tanpa terasa air mata Alya juga perlahan membasahi pipinya, hal itu juga yang selalu Alya lakukan untuk menguatkan Dinda dan selalu menemani Dinda, memeluk nya erat, berbagi rasa sedih, lalu menangis bersama.
senior mereka yang sedang menyampaikan materi tadi, menyudahi tugasnya tersebut, karena bel telah berbunyi 2 kali, tanda waktu istirahat.
" baiklah adik-adik, sekarang waktu nya istirahat, silahkan berkumpul kembali setengah jam kemudian" jelas nya
" baik kak" jawab para peserta MOS serentak, hingga membuat bunyi yang menggema di dalam ruangan tertutup tersebut.
" oke, selama waktu istirahat kalian punya waktu untuk makan, berkenalan dengan teman baru, dan bisa juga mengeringkan badan" ucap nya sambil melirik datar kearah Dinda dan Alya.
suasana kembali hening, samar-samar terdengar bisikan nakal dan tatapan sinis dari segala arah. kakak OSIS tadi lantas berlalu tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
di dalam sebuah ruangan, 20 orang remaja memakai jas merah maroon sedang berdiskusi tentang agenda MOS, tidak salah lagi mereka adalah anggota OSIS di sekolah itu, organisasi yang paling populer sekaligus cukup dibenci di kalangan para siswa, terutama siswa nakal di sekolah mereka.
" jadi, setelah penyampaian materi tadi, agenda acara kita besok pengenalan karakter siswa ya" jelas Mahen yang merupakan ketua osis. teman-temannya hanya mengangguk.
" oh iya lan, kenapa tadi Lo nyiram anak baru itu pake air?, mana se-gayung lagi, kan gue suruh tegur atau marahin aja tanya Mahen pada Arlan
" gapapa, biar dia jera" jawab Arlan.
" tapi agak keterlaluan kelakuan Lo tadi" tegurnya
"iya lan, lu agak keterlaluan tadi" timpal Ayu, sektretaris OSIS.
" Arlan hanya terdiam menunduk sambil mencoret-coret kertas HVS di hadapan nya, Setelah itu suasana kembali hening, mereka kembali sibuk membahas masalah MOS yang akan dilaksanakan selama 3 hari ke depan.
waktu istirahat digunakan Dinda dan Alya untuk mengeringkan badan mereka, Alya berinisiatif Mengajak Dinda untuk berjemur di halaman sekolah, yang tidak jauh dari aula.
kini mereka tengah berada di halaman sekolah, mereka duduk di bangku panjang berwarna coklat yang telah disediakan oleh sekolah, cuaca hari itu lumayan cerah, sehingga dapat memungkinkan mempercepat proses pengeringan baju mereka.
Alya mengipas-ngipas kerah baju nya, syukurnya hanya baju depannya saja yang terkena basah karena memeluk Dinda sewaktu di aula tadi. melihat Dinda masih bersusah payah mengeringkan bajunya, Alya segera membantunya mengeringkan baju menggunakan kipas dari kardus bekas yang mereka dapat di tempat sampah sekolah mereka.
melihat perlakuan Alya yang begitu tulus padanya membuat Dinda terenyuh seketika dan kembali membuatnya meneteskan air mata, Alya kembali memeluk erat Dinda sambil mengusap lembut punggung Dinda, sesekali ia menepuk pelan pundak Dinda, sebagai syarat perintah agar Dinda dapat menguatkan diri.
" makasih selalu ada Al, Lo terbaik" ucapnya disela tangis yang tak kunjung berhenti. Alya hanya mengangguk pelan, sembari melepaskan pelukan agar Dinda tidak berlarut dalam kesedihan.
tepat pukul 11.20 bel sekolah berbunyi lagi, tanda agar semua peserta OSIS masuk ke ruang aula kembali, baju Dinda dan Alya sudah agak mengering, mereka berlari kecil agar sampai ke ruang aula.
__ADS_1