Sweet Flavour

Sweet Flavour
Tidak adil


__ADS_3

Kring kring kring


Bunyi alarm terdengar mendenging di telinga Dinda, ia berusaha meraih jam alarm yang berbentuk minion miliknya di atas nakas yang berada tepat di samping tempat tidurnya untuk mematikannya.


waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi Dinda ingin menunaikan sholat subuh, tapi tubuhnya serasa tidak berkeinginan untuk bangkit dari tempat tidurnya yang empuk itu, alhasil ia hanya bangun untuk buang air kecil lalu setelahnya ia kembali membuang diri ke kasur empuknya yang bermotif minion juga, mungkin sekarang setan tengah tertawa licik karena merasa menang telah menghasut Dinda untuk tidak sholat subuh.


“percuma sholat shubuh, toh keadaan tidak langsung membaik jika aku sholat” Dinda membatin sendiri.


Matahari malu-malu muncul dari ufuk timur, Dinda masih belum bangun dari tidurnya. samar-samar terdengar lagi bunyi dari atas nakas samping tempat tidurnya, kali ini bukan suara dari alarm minion nya tapi suara nada dering handphone nya. dengan malas dinda mengambil benda pipih yang berbentuk kotak tersebut. dahinya mengernyit heran lantaran ada lebih dari 20 kali panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenali sama sekali. Alhasil dinda menelpon balik nomor itu.


“Dinda sayang kamu baru bangun?” sapa suara di seberang sana.


“hhmm”


“cepat bangun sayang! Ini udah jam berapa?, ntar kamu telat loh berangkat sekolah”,,


“ga usah sok akrab, anda hanya orang asing yang masuk ke dalam kehidupan ayah saya”,


“hahaha,tapi ayahmu lebih mencintaiku dibanding dirimu, gadis malang”.


Tutt tutt tuutt


Telepon diputus sepihak oleh Dinda. dia tidak habis pikir dengan istri ayahnya itu, masih pagi dia sudah memulai perang, dan darimana juga dia bisa dapat nomor telepon Dinda, karena dinda merasa tidak pernah memberikan nomornya ke wanita sialan itu.


Dinda melirik alarm nya, bola matanya membesar seketika, ia langsung terperanjat dari tempat tidurnya, waktu telah menunjukkan pukul 06.30, Dinda berlari kecil ke kamar mandi yang kebetulan berada di dalam kamar tidurnya. ia mandi secepat yang ia bisa. 5 menit berlalu, ia sudah keluar dari dalam kamar mandi nya, lalu ia bergegas mengenakan seragam sekolahnya, lalu mengalungkan name tag miliknya ke leher, ia mematuk diri sejenak di depan cermin, mengoleskan lipbalm di bibir mungil nya.


setelah semua dirasa rapi, ia bergegas keluar kamar.Dinda berlari kecil menuruni anak tangga, di pertengahan tangga, langkahnya terhenti sejenak, sepertinya dinda melupakan sesuatu.


“astaga, tas gue” sambil menepuk jidatnya dinda mengutuk dirinya mengapa dirinya bisa kelupaan membawa tas,sebenarnya tidak apa jika tidak membawa tas, karena hari ini ia masih menjalani MOS hari kedua, tapi masalahnya kunci motor dan handphone nya juga tertinggal di dalam kamarnya.akhirnya dengan sangat terpaksa ia memutar balik badannya menuju kamar lagi.


sesampainya dikamar, dinda segera mengambil tas lalu memasukkan handphone dan kunci motor ke dalam tasnya. Dinda bergegas menuju garasi tempat sepeda motor kesayangannya berada, menghidupkan motornya lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar ia cepat sampai sekolah.


Di tengah perjalanan menuju sekolah ia mendengar sesuatu berbunyi dibalik punggungnya, sontak ia menepi lalu memeriksa asal suara tersebut, ternyata ada panggilan masuk dari handphone nya. Disana sudah tertera nama sahabatnya, Alya.


“halo al”


“bisa jemput gue gak?,


“ motor lo kemana emang?


“di bengkel din...


“buset dah nyusahin aja lu”


“emang gue pernah ga nyusahin?”


“oh iya bener juga. hahaha, yaudah tunggu aja di rumah lo sebentar lagi gue nyampe nih”

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan dari Alya dinda langsung menutup percakapan dengan lagsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dinda memang orang yang suka mematikan telepon duluan, dia tidak senang jika orang lain mematikan sambungan terlebih dahulu, dia lebih senang mendahului. Begitu pun ketika chattingan dengan orang lain, harus Dinda yang ngeread chat orang lain. Kebiasaan yang unik.


10 menit kemudian Dinda sudah sampai di rumah Alya, kebetulan rumah Alya searah dengan jalan menuju sekolah mereka berdua. melihat Dinda sudah datang Alya segera menaiki sepeda motor Dinda.


Pukul 7.15 Dinda dan Alya baru sampai di gerbang sekolah mereka.


“huffhh...masih ada waktu 5 menit lagi nih sebelum kita kumpul di aula”. –Dinda-


“ iya, untung lo jago bawa motor, jadinya kita ga telat, 5 menit ini berharga banget tau”. –Alya-


“oh tentu”.. (sambil membusungkan dada)


“belagu lu, cakep kali lu”.


Dinda dan Alya berjalan santai memasuki sekolah, mereka sekarang berjalan menuju aula sambil masih melanjutkan obrolan mereka yang konyol. Di aula ternyata sudah terkumpul teman-teman mos mereka yang lain. Anggota osis juga sudah bersiap untuk memulai serangkaian kegiatan hari ini.


Tepat pukul 7.30 kegiatan mos hari kedua dimulai, agenda pertama yaitu penyampaian materi yang disampaikan oleh waka kesiswaan SMA Pelita Harapan, 1 jam berlalu, sesi penyampaian materi sudah berakhir. Selanjutnya pengenalan lingkungan sekolah, seluruh siswa tahun ajaran baru di persilahkan untuk mengelilingi lingkungan sekolah yang nantinya akan dipandu oleh kakak-kakak panitia pelaksana. Mereka dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 50 orang dan masing-masing kelompok dipandu 5 orang anggota osis. Dinda dan Alya satu kelompok lagi.


Mereka berjalan beriringan mengelilingi lingkungan sekolah yang sangat luas itu. Mulai dari perpustakaan yang isinya lengkap, berbagai macam laboratorium, mulai dari laboratorium komputer sampai laboratorium IPA. Lalu ada musholla, lapangan yang sangat luas, dan juga kantin yang paling legend yaitu kantin “bu-suk” serta fasilitas sekolah lainnya. Awalnya semuanya berjalan lancar, sampai salah satu teman regu Dinda yang mengeluh kecapean ke salah satu anggota osis yang menjadi pemandu mereka.


“woy, istirahat sebentar dong, capek nih” seru teman dinda itu.


“iyaa bentar lagi kita istirahat ok”..balas kakak osis wanita dengan lembut.


“ga bisa, harus sekarang”,,


“ nama kamu siapa de?” tanya ka Ayu ramah.


“nih liat sendiri”,, ketusnya sambil menunjukkan name tag miliknya.


“oh nama kamu margarhetta, nama kakak Dwi Ayu Utami, panggil aja ayu” kak ayu memperkenalkan dirinya dengan nada yang sangat lembut.


“ah bodoamat, gue pengen istirahat sekarang.TITIK!!!.


Kak ayu hanya bisa mengelus dada. Perlahan ia berjalan menjauh, Ia terlihat mengeluarkan hp miliknya dan seperti menelpon seseorang. Selang 5 menit kemudian kak ayu baru selesai mematikan panggilan teleponnya. Firasat Dinda sudah mulai tidak enak, seakan-akan dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Firasat Dinda terbukti benar, dari kejauhan ia melihat seseorang dengan tubuh gemuk dan bermuka sangar sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan raut muka yang terlihat geram, yup, dia orang yang sama dengan orang yang mengguyur Dinda dengan air kemarin. Langkahnya yang besar membuat dia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai dan menghampiri kelompok Dinda. Seperti saat ini dia sudah berada di tengah-tengah kerumunan.


“sape lo artis?”tanya nya sarkas


“apanih? Lo ga tau siapa gue?” reta membalas tak mau kalah


“idiiihh, ga usah sok”


“ini pasti cewe tadi yang cepuin gue”


“jaga mulut lo yang bau busuk itu”. Arlan lantas mencubit reta sedikit saja, tidak terlalu keras hanya seperti digigit semut gajah.


“ aww,, sakit anjing”.

__ADS_1


Reta menangis sejadi-jadinya hingga membuat kegaduhan dan tentu saja agenda hari itu jadi kacau balau, karen reta tidak berhenti menangis, sampai akhirnya ibu yuni selaku waka kesiswaan ikut turun tangan dan membawa Arlan dan Reta ke ruang BK.


Di dalam ruang BK....


“Arlan kamu tau ayahnya reta ini siapa? Tanya bu Yuni kepada Arlan.


“Gak tau bu” jawab Arlan pasrah


“ayahnya reta ini adalah salah satu donatur utama di sekolah kita, beliau sangat berjasa bagi sekolah ini, jadi ibu harap kamu mau minta maaf ke reta” jelas bu yuni panjang lebar


“ga bisa gitu dong bu, ibu tau kan kalau dia yang salah, kenapa harus saya yang minta maaf? Ibu ini gimana sih, ibu kan


“minta maaf atau beasiswa kamu saya cabut”


Jlebb..


Arlan langsung terdiam lemas dan tertunduk lesu mendengar ancaman yang keluar dari mulut bu Yuni dengann entengnya. Tanpa bu Yuni tahu betapa susahnya Arlan untuk mendapatkan beasiswa itu dan mempertahankannya. Hanya karena ayah reta donatur di sekolahnya, reta anaknya yang sangat ntidak sopan harus dihormati selayaknya ayahnya.


Reta hanya tersenyum puas, tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat benci mengapa guru sangat tidak adil pada murid.


“gue minta maaf” ucap Arlan sambil menyodorkan tangan kanan


“cihh, ga perlu gue udah puas liat lo menderita, haha” ejek reta sambil tertawa kecil.


“sabar Arlan sabarrrr” Arlan megelus dadanya berulang kali.


“baik Arlan, ibu akan berikan hukuman buat kamu, setiap pagi selama seminggu kamu harus datang lebih awal dan bertugas membukakan gerbang sekolah buat teman-temanmu”.


Arlan kaget mendengar hukuman yang diberikan oleh bu yuni, tapi dia hanya bisa pasrah dan mengiyakan.


Reta sedikit kaget, tapi ia berusaha menyembunyikan rasa kaget nya itu dengan hanya memainkan jari-jari tangannya. Hatinya sedikit terusik dengan hukuman yang diberikan kepada Arlan, padahal semua kejadian tadi tidak murni kesalahan Arlan, reta juga salah, tapi yang ia lihat guru tidak sedikit pun menyalahkannya. Bahkan bu Yuni terlihat agak takut pada dirinya, mungkin karena ayahnya makanya bu Yuni segan terhadap reta, tetapi reta tidak mengharapkan di perlakukan spesial seperti ini, ia berbeda dengan ayahnya.


.


.


.


.


hallo semuanya..


salam hangat dari author sweet flavour🥰


semoga kalian menikmati ya...


author juga mohon saran dan kritik dari readers sekalian yaaa...

__ADS_1


__ADS_2