Sweet Flavour

Sweet Flavour
ketua kelas baru


__ADS_3

tett tett tett


bel berbunyi sebanyak 2 kali tanda istirahat pertama, pak Andi menutup materi hari ini dan berjalan meninggalkan kelas Dinda dan diikuti oleh seisi kelas yang juga berhamburan keluar dari kelas.


Dinda dan Alya sudah saling bertukar chat Whassap agar mereka bertemu nanti di kantin, Dinda berjalan duluan karena Alya bilang bahwa ia ingin pergi ke toilet sebentar.


Dinda berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah, kali ini ia tidak sedang menuju ke kantin "bu-suk" tapi ia melangkah menuju kantin sebelah, tempat menjual berbagai macam makanan ringan.


di kantin itu ternyata sudah ramai dengan murid-murid yang lain dari semua kelas. Dinda mengambil beberapa Snack dan membeli 1 kantung es teh manis, lalu ia duduk di meja paling pojok. membuatnya terlihat seperti orang kesepian.


"hei, napa Lo?" tanya Arlan dari arah depan tiba-tiba


"astagfirullah, bikin kaget aja lo" Dinda mengelus dada nya


"abis lo gue liat sendirian aja, keliatan kayak ga semangat hidup"-Arlan-


" iya emang gitu kak" -Dinda-


" emang si Alya mana?, biasanya nempel terus kayak lem" -Arlan-


" ada tuh" Dinda menunjuk Alya menggunakan mulutnya, Arlan juga ikut menengok ke arah Alya berada, Alya terlihat seperti kebingungan karena mencari keberadaan Dinda di tengah kerumunan para siswa. Alya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tampak olehnya di sudut ruangan Dinda sedang melambai ke arah nya, ia juga melihat seorang lelaki duduk tepat berhadapan dengan Dinda, Alya segera menghampiri Dinda.


" hhmm,, sudah gue duga pasti kak Arlan, hai kak" sapa Alya pertama sewaktu baru sampai di meja mereka.


" iyaa, tadi gue liat Dinda sendiri, jadi gue temenin, Lo kemana aja?" tanya Arlan


" abis dari toilet" -Alya-


" kok lama banget Al?" tanya Dinda


"gue habis jahit ini" Alya menunjuk ke arah roknya.


sontak Dinda menutup mulutnya menahan tawa yang sewaktu-waktu bisa terlepas kapan pun.


" ngomongin apa sii?" tanya Arlan penasaran


" shuutt ga boleh tau" ucap Dinda dan Alya bersama


" yaudah" Arlan memutar bola matanya malas

__ADS_1


mereka akhirnya makan bersama di sudut kantin. di tengah keasyikan Alya melahap makanan, ia menangkap bola mata Arlan sering kali memandang ke arah Alya, terkadang Arlan terus terfokus melihat ke arah Dinda, sedangkan Dinda tak menyadari hal itu, karena Dinda asyik makan sambil bermain handphone.


Alya POV...


sebelum sampai ke kantin, aku sudah coba mengirim chat lewat wa ke Dinda, tapi tak ku dapati balasan sama sekali dari dia, tumben pikirku dia lama sekali membalas wa dari ku, biasanya fast respon.


" mungkin lagi ga ada paket" pikirku, mencoba berpikir positif. aku terus melangkahkan kaki menuju kantin, aku sudah membeli bakso ikan di warung bu-suk yang ku ikat ke dalam plastik, karena aku lebih suka makanan berat daripada makanan ringan.


sampai di kantin, aku mencoba mencari dimana Dinda berada, mataku menilik, menyapu setiap sudut kantin yang tentu saja sudah ramai dengan para siswa.


ku dapati Dinda sedang duduk dengan Arlan di sudut kantin, aku juga melihat mereka seperti sedang bertukar nomor telepon Whatssapp, tidak tahu mengapa hatiku seperti terasa perih melihat nya, mungkin hanya perasaan ku yang salah.


Dinda kini tengah melambaikan tangan ke arahku, dia akhirnya menyadari kedatanganku yang mungkin tidak mereka inginkan. aku berusaha menahan perasaan ku, entah apa yang ku rasa, seperti muak, apa? aku muak? dengan sahabatku sendiri?, tidak mungkin, ini cuman perasaan ku saja.


aku menghampiri mereka, kurasa suasana sedikit berubah ketika aku datang, Arlan sedikit menjadi diam, terlebih ketika Dinda mengalihkan fokusnya kepadaku, Arlan tampak tak suka. aku berpura-pura tidak tahu saja.


aku segera duduk tepat di samping Alya, berhadapan dengan Arlan, Arlan terlihat fokus dengan makanannya, sesekali ia ikut nimbrung percakapan konyol antara aku dan Dinda.


ketika kami asyik menikmati makanan, aku melihat bibir Arlan sesekali mengembang, sambil menatap Dinda, terkadang dia terlihat salting, kadang matanya terfokus ke Dinda, tetapi Dinda tidak menyadari hal itu. hanya aku, aku yang menyaksikan semuanya, entah mengapa hatiku kembali terasa amat perih. aku berpikir mengapa pandangannya pada Alya berbeda sekali dengan pandangannya padaku, aku cepat-cepat menghabiskan makanku lalu berniat mengajak Dinda pergi.


Alya POV End...


" ehemm, Din ke perpus Kuy" ajak Alya.


"skuyy" Alya langsung meraih tangan Dinda.


" misi kak" Alya berlalu membawa Dinda dan meninggaln Arlan begitu saja.


Arlan terus menatap punggung Dinda yang terus ditarik Alya keluar dari kantin, hingga bayangan Dinda sudah tidak terlihat lagi, barulah Arlan mengalihkan fokusnya ke makanan.


Alya terus menggenggam tangan Dinda erat, Dinda sedikit merasa heran dengan perlakuan Alya, tidak seperti biasanya Alya seperti itu, apa ada yang terjadi dengan? pertanyaan Dinda berputar di dalam kepalanya.


Perpustakaan sekolah berada diantarakelas X-4 IPS dan X-1 IPA, tepat di sebelah kelas Dinda, tetapi jaraknya sekitar 50 m dari kelas Dinda, butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai kesana, jika jaraknya dari kelas Dinda.


Ketika tepat sampai di depan kelas Dinda, bel tanda masuk kelas berbunyi, Alya terlihat tampak sedikit kecewa. perlahan para siswa memasuki kelas masing-masing.


" yah udah bel, ga jadi deh" Alya tampak terlihat lesu.


" gapapa Al, nanti kan ada istirahat kedua" ujar Dinda sambil mengedipkan mata kanannya.

__ADS_1


" ya udah bye" Alya memberikan waving hand kepada Dinda lalu berbalik arah menuju kelasnya.


ketika sampai di depan kelasnya Alya melihat Arlan berjalan masuk kedalam kelas yang berada tepat di samping kelasnya, yaitu kelas XI-1 IPS, Alya kini tahu ternyata kelas Arlan berada di sebelas kelas nya. tak tahu mengapa itu membuatnya sangat bahagia.


Dinda kini tengah berada di dalam kelasnya lagi, masih sama seperti biasa, Dinda masih merasa kesepian di tengah ramainya kelas.


" perkenalkan anak-anak, nama ibu Nur Aini, kalian bisa panggil ibu Aini saja, ibu disini sebagai guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas kalian" Bu Aini memperkenalkan diri singkat.


Bu Aini berperawakan tinggi, tubuhnya sangat kurus, seperti orang yang baru sembuh dari sakit, umurnya sekitar 40 tahun, tetapi wajahnya masih terlihat fresh dan juga dari raut wajahnya, Dinda bisa melihat bahwa Bu Aini sangat lemah kesehatannya. meskipun begitu ia terlihat sangat bersemangat mengajari Dinda dan kawan-kawannya.


" anak-anak hari ini ibu belum memberikan materi, agenda kita hari ini adala penyusunan organisasi kelas, susunan organisasi, baik dari ketua, wakil, sekretaris hingga bendahara kita lakukan dengan voting ya" Bu Aini menjelaskan.


"karena kalian belum saling kenal, ibu minta dengan sukarela 4 orang bisa maju ke depan kelas mencalonkan diri untuk menjadi kandidatnya" pinta Bu Aini.


hening, Dinda dan kawan-kawan saling berpandangan satu sama lain.


" ayo cepat, waktu adalah emas" seru Bu Aini.


" baiklah, karena kalian belum saling kenal, ibu akan menunjuk secara random kandidatnya."


Bu Aini menunjuk ke arah seorang remaja laki-laki yang duduk di bangku sudut kiri paling belakang, ia terlihat sedikit kaget, tapi ia hanya pasrah, ia lalu berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke depan kelas.


selanjutnya Bu Aini menunjuk satu orang lagi teman laki-laki Dinda dan 2 orang perempuan.


sekarang sudah terdapat 4 kandidat, dengan 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang sudah berdiri di depan kelas.


Bu Aini meminta tolong pada Dinda untuk mencatat hasil voting teman-temannya di papan tulis. Ia menulis nama David, Doni, Selvi dan Muli.


Voting dilaksanakan dengan tertib, demi kenyamanan bersama tiap siswa diberikan secarik kertas untuk menuliskan nama kandidat yang mereka pilih sesuai hati nurani mereka.


pemilihan susunan organisasi telah usai, hasil voting sudah dihitung oleh Dinda. suara terbanyak jatuh pada David dengan total 12 suara, sedangkan Doni mendapat 10 suara, Selvi 5 suara dan Muli 3 suara. hasil pemungutan suara sudah termasuk Dinda di dalamnya.


" para kandidat disilahkan duduk kembali ke tempat masing-masing, dan juga terima kasih untuk Dinda karena sudah membantu" ucap Bu Aini.


" baiklah anak-anak, dari hasil voting kita sudah dapat menentukan, kandidat dengan skor paling banyak akan menjadi ketua kelas, yaitu David, ibu ucapkan selamat kepada David." Bu Aini dan seluruh siswa kelas memberikan tepuk tangan.


" lalu disusul oleh Doni sebagai wakilnya, lalu Selvi sebagai sekretaris dan yang terakhir Muli sebagai bendahara kelas" Dinda dan teman-teman memberikan tepuk tangan lagi.


"ya iyalah David dipilih, ganteng gitu" ujar Nisa yang merupakan teman sebangku Dinda.

__ADS_1


menurut Dinda, David memang tampan, tatapan matanya tajam, sikapnya seakan menunjukkan bahwa dia pria yang berwibawa, tak heran jika setengah isi kelas memilihnya, Dinda pun memilih David. tapi kata pepatah "jangan terburu-buru menilai orang berdasarkan sampulnya saja".


apa benar David tidak seperti yang Dinda pikirkan?


__ADS_2