Sweet Flavour

Sweet Flavour
Dendam pribadi


__ADS_3

Arlan POV..


Arlan berjalan gontai menuju kelasnya yang terletak di lantai 2 gedung sekolah mereka.


"sial banget gue hari ini" batinnya


di dalam kelas hanya ada dirinya dan beberapa siswi yang sedang duduk bergerombol, mereka menyusun kursi membentuk lingkaran, Arlan sudah tahu pasti para siswi tersebut sedang bergosip ria, sesekali terdengar suara cengengesan mereka, rupanya gosip yang sedang diperbincangkan sedang hangat-hangatnya.


mereka tidak menyadari kedatangan Arlan.


Arlan juga tidak terlalu menggubris mereka, Arlan langsung duduk di bangku paling belakang pojok kanan, sebenarnya itu bukan tempat duduknya, dia hanya ingin duduk di belakang untuk sementara.


Arlan duduk termenung pikirannya jauh melayang, sampai sesuatu yang harusnya tak ia pikirkan, juga terpikirkan olehnya. orang-orang biasanya menyebutnya dengan overthinking.


Arlan tak habis fikir dengan dengan perlakuan Bu Yuni sewaktu di ruang BK tadi. kenapa bisa dia menghukum Arlan, sedangkan sumber permasalahannya adalah reta sendiri yang tidak mau di atur. kenapa juga gurunya harus mengancamnya dengan mencabut beasiswa Arlan hanya agar mau meminta maaf pada reta.


Ia merasa hukuman yang diberikan padanya terlalu berlebihan, secara selama ini Arlan adalah salah satu anggota OSIS yang bisa dibilang paling amanah terhadap tugasnya. ia selalu menjaga keamanan dan ketertiban sekolah, ya Arlan adalah anggota OSIS di bidang keamanan, diantara 5 anggota keamanan lainnya, ialah yang sangat mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. selain itu ia juga termasuk salah satu murid berprestasi. dulu ia bisa masuk sekolah ini juga karena prestasi yang gemilang. Arlan bukan termasuk orang yang mampu, hidupnya bisa dibilang menengah kebawah. sewaktu ia diterima di sekolah ini tahun kemarin dengan prestasi, membuat ia sangat merasa bersyukur.


jauh dalam hatinya, Arlan merasa sedih, sedikit malu juga, karena biasanya dia yang membawa orang-orang kedalam BK, hari ini dia yang dipanggil ke ruang BK, biasanya jika siswa sudah masuk ruangan itu, pasti akan di cap jelek, karena pada dasarnya siswa yang masuk ruang BK pasti siswa nakal atau berandalan. anggota osis mana yang tidak sedih setelah mengetahui dirinya telah masuk ruang yang paling dibenci seluruh siswa itu.


Arlan menyadari rupanya ada 2 orang siswi sedang berbisik-bisik di tempat para mereka bergosip ria, siswi yang satu membisikkan sesuatu ke telinga temannya sambil mata mereka melirik lirik ke arah Arlan.


Arlan yang menyadari hal itu langsung menatap sinis ke arah 2 orang siswi tadi yang merupakan teman sekelas Arlan juga, namanya Manda dan Dinda.


"ngomongin gue Lo?" tanya Arlan


"iyaa" jawab Manda dan Dinda hampir bersamaan.


"Lo masuk ruang BK ya lan?, aduuhh kasian banget deh lu"


"tau dari mana?"


"udah nyebar kok beritanya, yaampun pasti habis ini nasib bakal buruk, haha" mereka tertawa renyah seakan akan tak bersalah dan tak memperdulikan bagaimana perasaan Arlan.


Arlan hanya diam tak ingin membalas dua temannya itu, ia takutnya kata-kata yang keluar dari mulutnya dapat menyakiti hati kedua temannya itu.


"mending gue, daripada Lo berdua, baru juga kelas 11 udah main sugar Daddy aja, canda sugar Daddy!!!". Arlan hanya membatin dalam hati. Arlan mengetahui hal itu dari postingan status WhatsApp Manda yang memamerkan foto dirinya dan Dinda yang sedang berfoto dengan sugar Daddy ditengah mereka berdua, kok bisa mereka berbagi gitu ya, kenapa ga satu-satu pikirnya, mungkin karena Daddy mereka itu mampu membiayai mereka berdua.postingan Manda itu mungkin tidak sengaja Terpencet olehnya, terbukti selang beberapa menit kemudian Manda sudah menghapus postingannya itu, beruntungnya Arlan pakai WhatsApp GB jadinya tetap terlihat di hp Arlan meskipun sudah dihapus Manda.


Arlan kembali memikirkan tentang nasib dirinya yang mungkin akan buruk, seperti yang dikatakan Manda, prasangka buruk satu-persatu muncul di kepala Arlan, membuat kepalanya sedikit pusing, Arlan memukul kepalanya pelan, agar pusing di kepalanya hilang, tapi ia tetap merasakan pusing malah sekarang tambah pusing.


Arlan berniat keluar kelas, ia ingin mencari obat sakit kepala di UKS, lagipula suasana kelas agak sedikit panas ditambah siswi-siswi yang bergosip, jadi semakin memanas, Arlan berusaha mengingat wajah perempuan yang sudah menyebabkan dia seperti ini, rupanya Arlan menyimpan dendam padanya dan berniat membalasnya suatu saat nanti.


"awas aja lo perempuan sialan" umpatnya.


*Arlan POV End...


di ruang BK*...

__ADS_1


hanya ada reta dan Bu Yuni di dalam ruang BK.


"kamu gak papa reta?, ada yang luka?" tanya Bu Yuni dengan raut wajah khawatir yang terkesan dibuat-buat


"gak papa kok" balas reta singkat


"syukurlah, ya sudah kamu boleh kembali bergabung bersama teman yang lain untuk melaksanakan mos, dan ibu mohon maaf atas kejadian tidak mengenakkan tadi" Bu Yuni meminta maaf untuk yang ke sekian kalinya yang membuat reta sedikit kesal.


"gak papa Bu" jawab reta sedikit kesal


"saya pamit Bu" sambil menyalami Bu Yuni lalu reta langsung berpaling dari hadapan Bu Yuni dan meninggalkan Bu Yuni seorang diri di ruang BK.


"kok bulu kuduk saya merinding ya,apa ada makhluk halus disini? Bu Yuni memegang tengkuknya yang terasa sedikit menggigil, perlahan seperti ada angin yang menembus kulit Bu Yuni. dia mencari sumber hawa dingin tersebut, sewaktu dia menoleh sedikit ke belakang dia baru menyadari


"oh kipas angin toh"


di tengah lapangan...


seluruh siswa-siswi ajaran baru sudah berbaris dilapangan, di bawah terik Matahari yang terasa sangat menyengat dan membakar kulit.


"adik-adik karena tadi ada masalah yang tidak kita duga, membuat agenda hari ini dipercepat saja waktunya, jadi setelah bubar ini, kita bubar saja ya, agenda kita teruskan besok saja, semuanya mengerti?" seru salah satu anggota OSIS.


"mengerti kak" sorak para siswa serentak


" semuanya bubar jalan" serunya lantang.


semua murid berbalik kanan dan bubar dengan tertib.


sesampainya di kantin dua sahabat itu Sangat kagum dengan isi di dalamnya, mereka menjual makanan berat semua, sama sekali tidak ada makanan ringan.


melihat ekspresi Dinda dan Alya yang seperti itu, Bu suk yang merupakan pemilik kantin menghampiri mereka dan menanyakan makanan apa yang mereka ingin pesan.


" mau makan apa dek?" tanya nya dengan logat khas seperti orang Jawa


Dinda dan Alya sedikit kaget dengan kedatangan ibu kantin tersebut secara tiba-tiba tapi mereka berusaha menutupinya.


"anu, itu Bu disini ga ada jajanan ringan ya?" tanya Dinda yang sangat menyukai jajanan ringan daripada makanan berat.


"Yo ga ada, disini khusus jual makanan berat, kalo mau beli jajan ringan, ada di kantin sebelah, jaraknya 200 km dari sini" jelas Bu suk.


"jauh juga ya Bu, kalo gitu saya jus jeruk aja deh ada kan?"


"ada dong" balas Bu suk seraya mengangkat jempol tangannya


"kalo adek satunya pesen apa?" tanya Bu suk pada Alya.


" saya pesen bakso ya Bu sama es teh satu"

__ADS_1


sebut Alya lancar.


" oke, tunggu 5 menit ya"


"ssiip Bu" jawab Dinda dan Alya bersamaan.


tepat 5 menit kemudian pesanan mereka datang, aroma bakso menyeruak membuat cacing di perut Alya meronta-ronta sehingga mengeluarkan bunyi.


krurukk, krurukk


Dinda yang mendengar suara perut Alya hanya berusaha menahan tawa, sedangkan yang empunya perut hanya mengulum senyum.


"silahkan dinikmati" kata Bu suk ramah. sembari meletakkan semangkuk bakso yang masih mengeluarkan asap, es teh manis dan jus jeruk pesanan Dinda dan Alya di atas meja.


"makasih Bu" hanya Dinda yang mengucapkan terima kasih, sedangkan Alya sudah sibuk dengan semangkuk bakso nya. Dinda sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu, Alya bisa saja melupakan dunia dan seisinya ketika dia sedang makan.


"sama-sama dek" balas Bu suk ramah


Dinda teringat dengan sesuatu yang merupakan tujuan utama mereka berdua ke kantin ini, yaitu menanyakan kenapa nama kantin ini sangat unik.


" oh ya Bu, kok bisa nama kantin ini "bu-suk"? apa yang busuk? Dinda mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan kantin, semua ruangan terlihat sangat bersih dan wangi, ibu kantin sangat menjaga kebersihan kantin yang sangat luas itu, tapi Dinda masih heran kenapa bisa dinamakan kantin "Bu suk".


ibu penjaga kantin awalnya menanggapi pertanyaaan Dinda dengan senyuman manis, Dinda merupakan murid kesekian kali nya yang menanyakan pertanyaan yang sama.


" jadi nak nama ibu ini Sri Ningsih Sukmawati putri, nama kantin ini diambil dari nama ibu yaitu Sukmawati, tapi ibu sedikit mempersingkat nya menjadi kantin "Bu suk" agar terdengar unik dan mudah dikenal.


"oh gitu ya Bu" akhirnya Dinda mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"iyaa, ibu pamit dulu ya" Bu Sukma pun berjalan ke arah dapur kantin.


Dinda menengok ke arah Alya, rupanya mangkuk bakso nya sudah ludes, hanya tinggal sendok dan garpu yang tidak mungkin Alya lahap juga.


"udah selesai Al" tanya Dinda basa-basi


"udahh nih" balas Alya sambil menunjukkan mangkuk baksonya yang sudah tak tersisa apa pun.


" habis ini kita ke rumah Lo dulu ya, gue mau ngadem bentar" jelas Dinda


"lah rumah lu kan lebih adem"


" sekarang lagi panas" kalimat yang keluar dari mulut Dinda membuat Alya peka akan sesuatu


"orang tua Lo baru balik ya?" tebak Alya


"hhmm..sama istri nya" jawab Alya malas


"yaudah yok ke rumah gue aja, nginap juga gak papa" ajak Alya

__ADS_1


Dinda membentuk bibir tersenyum, Alya memang sangat paham keadaan Dinda dan selalu ada di saat Dinda membutuhkannya.


"gasss" Alya berdiri dari kursi kantin, mereka membayar makanan mereka dan langsung pulang ke rumah Alya.


__ADS_2