Sweet Flavour

Sweet Flavour
Terlambat sekolah


__ADS_3

pukul 15.00 WIB Dinda baru sampai di rumahnya, Ia tak berencana untuk pulang ke rumah hari ini, Ia hanya ingin mengambil baju ganti dan barang-barang yang ia butuhkan.


"mau kemana kamu?" tanya Ruslan yang tiba-tiba muncul ketika Dinda tengah memasukkan barangnya ke dalam tas


"nginep di rumah temen" Singkat Dinda


"kemarin kamu juga tidur di rumah teman kamu?, di rumah Alya kan"


"hhmm" Dinda bergumam kecil.


Ruslan hanya terdiam melihat Dinda yang sibuk mengemas barang miliknya dan memasukkannya ke dalam tas. Ruslan sebenarnya merasa bersalah atas perlakuannya waktu itu yang memarahi Dinda tanpa tahu perasaan Dinda yang sebenarnya.


" Dinda ini buat kamu" Ruslan menyodorkan kartu ATM miliknya.


" ga usah, minta uang aja"


" yaudah nih" Ruslan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan menyodorkan nya ke Dinda


"thanks" Dinda langsung berlalu pergi meninggalkan Ruslan


di rumah Alya..


Dinda dan Alya masih terpaku di depan laptop, melanjutkan marathon Drakor, tiba saat kissing scene membuat Dinda dan Alya tak henti-henti nya berteriak histeris sambil mengulang scene tersebut beberapa kali. dasar anak muda


ketika waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB Drakor yang mereka tonton sudah selesai, mata Dinda dan Alya kini sudah merasa sangat ngantuk, mereka memutuskan untuk tidur saat itu juga


matahari sudah bersinar terang, cahanya sampai menyusup ke kamar Alya, membangunkan 2 anak muda itu, perlahan Dinda mengerjakan Matanya beberapa kali, ia terheran mengapa hari sudah begitu terang, padahal perasaan baru saja ia memejamkan mata.


"Alya, bangun" Dinda menggoyang kan tubuh Alya pelan


"hhmm apasih Din, masih subuh ini" Alya menutup tubuhnya dengan selimut.


"masa sih, kok udah ada matahari tuh"


Alya lantas menyingkap selimutnya, berlari menuju korden dan membuka jendela, Alya langsung terperanjat, dilihatnya jam dinding yang berada tepat diatas kasur nya, Alya tercengang.


" astaga udah jam 7 Din" pekiknya


sontak Dinda melihat jam di hp nya, Dinda terkesiap, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil handuk lalu berlari ke kamar mandi, begitu pula Alya

__ADS_1


" mati kita Al" ujar Dinda setelah mereka sampai di gerbang sekolah, sudah tidak ada siswa yang berkeliaran lagi, tentu saja sudah sepi, sudah pukul 08.00.


"aduh gimana ni? mana gerbang sekolahnya di tutup lagi" ujar Alya cemas


"aduh gimana yaa?" Dinda dan Alya terlihat berpikir sangat keras


"aha, gue punya ide Al" -Dinda-


"apa tuh?" Alya bertanya penasaran


Dinda lantas menepikan motor nya terlebih dahulu, lalu...


" Lo naik Al ke pundak gue!!" pinta Dinda


" hah, yang bener lu Din?" Alya terlihat tak percaya dengan ide Dinda


" udah cepetan,ntar keburu ketahuan" pinta Dinda lagi


Alya akhirnya menurut saja ide yang sedikit tak masuk akal Dinda, Alya naik ke pundak Dinda untuk memanjat pagar gerbang sekolah mereka, pagar itu memang tidak terlalu tinggi, apalagi Alya jago dalam hal memanjat. akan saat akan terjun dari atas gerbang, Alya mengalami sesuatu.


sreekk


" Lo gimana sih Din? sahabat nya kena musibah malah diketawain" Alya memasang muka cemberut


" ya maap, hahaha" Dinda masih meneruskan tawanya


"sshhutt diam ntar ketahuan"


Dinda sontak menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan tangan


"ya udah bukain deh pagar nya" pinta Dinda


"iya bentar". Alya lantas memutar kunci pagar dan membukakan pagar agar Dinda bisa masuk.


Dinda dan Alya melangkah menuju musholla, rupanya para siswa sedang melaksanakan shoalt Dhuha' berjamaah di musholla. Dinda dan Alya bergega menuju musholla sebelum ada yang mengetahui keterlambatan mereka.


" woy kalian!!" teriak seseorang dari jauh, seketika Dinda dan Alya menoleh, mencari asal suara. dahi mereka mengernyit ketika tahu siapa yang memanggil mereka.


" kak Mahen?" Dinda dan Alya membeku di tempat, melihat Mahen mengampiri mereka dengan tatapan dingin.

__ADS_1


" kalian terlambat?" tanyanya tapa basa basi dan tentu nya tanpa ekspresi juga


" iyaa kak hehe" jawab Dinda dan Alya bersamaan


"kakak gak sholat?" tanya Alya


" gue Kristen" -Mahen-


" oh gitu ya kak hehe" -Dinda-


" karena kalian terlambat, ayo ikut saya ke ruang BK" tegasnya, lalu membalikkan badan, Dinda dan Alya sudah kehabisan akal, lagi pula tidak gampang untuk mengelabuhi ketua OSIS mereka ini, Dinda dan Alya hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Mahen ke ruang BK.


di ruang BK Dinda dan Alya di sidang oleh Bu Yuni, nasib sial sedang menghampiri mereka hari ini, sudah terlambat datang, disidang pula.


" baiklah, karena kalian berdua terlambat dan tidak mengerjakan sholat Dhuha' kalian berdua ibu hukum hormat di tiang bendera dan menyanyikan lagu Wajib Nasional Indonesia Raya" ibu Yuni memberikan hukuman kepada Dinda dan Alya.


" baik bu". Dinda dan Alya lantas keluar ruang BK dan langsung menuju ke lapangan untuk menjalani hukuman.


ketika sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat, dari kejauhan Dinda dan Alya melihat Arlan sedang berdiri di depan musholla dan sedang memasang ekspresi seakan mengejek mereka.


Dinda dan Alya berusaha tak memperdulikan Arlan , walaupun dalam hati ingin sekali rasanya menghampiri Arlan dan memukul kepalanya dengan kursi biar tau rasa.


15 menit kemudian Dinda dan baru selesai menjalani hukuman dari Bu Yuni, lumayan pegal rasanya tangan sehabis hormat kepada tiang bendera, tapi tak apa, itu belum seberapa dengan jasa-jasa para pahlawan terdahulu yang mengorbankan jiwa dan raga agar dapat mengibarkan bendera pusaka itu.


usai menjalani hukuman, Dinda dan Alya langsung menuju ke ruang Aula untuk pembagian kelas mereka masing-masing.


ternyata kelas Dinda dan Alya terpisah, ini merupakan pertama kalinya Dinda terpisah dengan Alya, sebelumnya mereka tidak pernah pisah kelas. Dinda ditempatkan di kelas X-1 IPA sedangkan Alya berada di X-4 IPA, kelas Alya berada persis di samping kelas XI-1 IPS. Dinda sedih karena tidak bisa belajar bersama dengan Alya, tapi tak apa semoga tahun berikutnya mereka di tempatkan di kelas yang sama lagi.


jam pelajaran pertama di kelas Dinda adalah matematika wajib, pak Andi masuk untuk memberi materi, betapa terkagum-kagum nya para siswi di dalam kelas Dinda ketika melihat pak Andi, wajah pak Andi sangat tampan, tinggi tubuhnya sekitar 168 cm, tidak terlalu tinggi untuk ukuran tinggi badan pria, tapi itu tidak mengurangi pesona pak Andi.


para siswi dalam kelas Dinda terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar bersama pak Andi, apalagi ketika sesi tanya jawab, mereka saling rebutan untuk menjawab maupun menanyakan soal, bahkan soal diluar materi pun mereka tanyakan. seperti sekarang ini salah satu teman Dinda menanyakan suatu hal yang cukup privasi.


" bapak sudah punya pacar?" tanya Rini, teman Dinda yang mempunyai pipi chubby, wajahnya sangat baby face, membuat ia terlihat seperti Barbie.


" belum nak" jawab pak Andi santai


" ada pertanyaan lagi?, jika tidak ada mari kita lanjut materi" jelas pak Andi


suasana kelas X-1 IPA masih riuh dengan antusias para siswa dan siswi yang sangat menikmati pembelajaran mereka, sangat berbeda dengan apa yang di rasakan oleh Dinda, Ia merasa tak bersemangat karena tidak ada Alya di dalam kelasnya, baginya Alya adalah sumber penyemangat baginya, di kelas lain, hal yang serupa juga di rasakan oleh Alya, dimana ia sangat merasa kesepian tanpa sosok Dinda di kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2