Tak Bisa Memilikimu

Tak Bisa Memilikimu
Ku Titip Sekeping Doa Dilangit


__ADS_3

Kau dan aku mengetuk di pintuNya


tatkala malam hening


helai demi helai. permohonan dilayangkan


dalam khusyuk kepingan


bait-bait doa dipanjatkan kehadirat Tuhan


Maka biarkan pintamu dan pintaku


yang terbungkus suci rapalan doa


sua di Angkasa dan saling bergamit mesra


hingga terdampar pada satu masa


di lembah bernama bahagia.


Kau dan aku mengetuk di pintuNya


tatkala malam hening


helai demi helai.permohonan dilayangkan


dalam khusyuk kepingan


bait-bait doa dipanjatkan kehadirat Tuhan


Maka biarkan pintamu dan pintaku


yang terbungkus suci rapalan doa


sua di Angkasa dan saling bergamit mesra


hingga terdampar pada satu masa


di lembah bernama bahagia.


Serpihan pinta diterbangkan


di bentang Cakrawala pengharapan


dua insan yang berjauhan


tak pernah saling bertatapan


apalagi jemari bersentuhan


Cukuplah kau dan aku saling berpelukan


kau memelukku dalam doamu


dan akupun mendekapmu dalam doaku


hingga kelak Tuhan menampung

__ADS_1


derasnya pinta dan mempertemukan


Jalanmu dan jalanku sehingga


kitapun dapat melangkah beriringan


berjalan bersisian dan bernaung


di bawah atap yang sama dengan


kening tersungkur seraya sujud syukur


Bukankah akan lebih membahagiakan


mari tengadahkan tangan


saling mengetuk bersamaan


mungkin barangkali setiap ketukkan


akan semakin mendekatkan kau dan aku.


Pada serangkain tetes air yang jatuh kebumi. Jatuh sejatuh-jatuhnya, perasaan kita juga. Pada langit-langit doa, doa kita juga. Pada sendu bilik rasa, rasa kita juga. dan pada bait-bait, juang yang sedang dijuangkan.


Pada hujan yang datang membawa berkahnya, jangan pernah henti melangitkan segala pinta. Allah Maha Mendengar, dan doa-doa yang dilangitkan kelak akan menjadi saksi bahwasannya perasaan kita pernah sesendu itu dalam meminta. Selemah itu dalam memohon Dan seperlu itu dalam mengupayakan.


Pada hujan yang jatuh, ada banyak kebaikan. Tidak hanya untukku, tapi untukmu juga, untuk seluruh makhluk tentunya.


Maka jadilah pendoa yang paling manis ketika turunnya hujan ya. Jadilah penenun doa yang paling riuh doanya dikalangan penduduk langit.


Pada hujan, pada setiap tetes airnya yang jatuh. Jika kau lebih peka sedikit saja, kau akan mendapati perasaanmu luruh bersamanya.


Sebab hanya inilah bisaku, menenun rindu dan menguntai doa. karena memang sebaik-baik mencintai adalah dengan mendoakan selalu. Seperti saat ini, pada hujan yang jatuh. Doa-doaku pun luruh..


“Allah, berilah kebaikan pada setiap pintaku”


Di altar sembahyang


asap kelabu tipis meliuk menari


di antara nyala stanggi disulut api


menyeruak silir aroma harum mewangi


Di antara kedua tapak


lengan saling terkatup khusyuk


melangitkan rapalan doa-doa suci


kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Pagi menyeduh perlintasan


doa-doa dilangit harapan insan


harapan senantiasa hidup berdenyut

__ADS_1


di nadi-nadi waktu yang pasti beringsut.


Seiring nyala bara di ujung dupa


serta helai demi helai kelopak bunga


luruh dan terserak di ruas tubuh bentala


kepingan doa pun riuh penuhi beranda pagi


Di langit pagi, siang, petang dan


malam menggantung doa dinaikan


melewati susunan anak tangga sekerat


harapan milik insan penghuni mayapada


Pagi bening sebening bulir embun


tersemat lekat di sela-sela nurani


tersaji di serambi pagi teduhkan hati


enyahkan seiris syakwa sangka dalam diri


Dalam riuh perlintasan doa


silir bayu berhembus perlahan


resapkan sepotong kedamaian


di antara sebatang dupa terbakar.


Untukmu yang tidak menyadari adanya aku namun selalu saja kusebut namanya berkali kali di setiap aku mengadu kepada Tuhan, semoga doa yang tanpa jeda selalu kulangitkan di setiap malam, akan mendapatkan jawaban yang tepat sesuai dengan takdir yang telah Tuhan tentukan.


Mungkin saja tibanya waktu itu bukanlah saat ini, melainkan suatu saat nanti, mungkin saja juga bukan kamu yang Tuhan takdirkan untuk aku miliki, melainkan orang lain yang menurut Tuhan lebih tepat dan lebih baik lagi untuk bersanding denganku nanti.


Tetap saja manusia egois adalah aku. Tidak tau diri terang terangan meminta kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan mengisi hatimu yang saat ini masih teramat kosong dan rapi.


Tidak sadar diri jikalau diri sendiri masih banyak yang perlu diperbaiki namun memaksa Tuhan untuk menyandingkanku denganmu manusia yang kebaikannya saat ini masih belum bisa kusamai.


Takdir memang sudah digariskan, dan aku menyadari bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan. Skenario Tuhan pun terkadang memang selalu membuat hambanya terheran heran. Kebaikan tidak selalu Tuhan perlihatkan dalam wujud kebaikan.


Tidak jarang kebaikan terbungkus oleh suatu hal yang dirasa tidak menyenangkan. Sesuatu yang diingini terkadang bisa didapatkan setelah melewati berkali kali kejadian yang menyesakkan hati, pun sesuatu yang tidak pernah ingin dimiliki justru dengan sendirinya datang menghampiri.


Untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan terkadang jalannya memang terjal, butuh perjuangan yang seringkali mengorbankan banyak hal.


Meski saat ini kamu adalah sebuah ketidakpastian dan hanya sebatas angan, akan tetapi kamulah yang selalu aku semogakan. Menyelipkan namamu dalam setiap harapan baik yang aku panjatkan adalah cara paling sederhana yang aku lakukan untuk merayu-Nya yang maha membolak balikkan hati dan perasaan.


Ketika satu per satu doa-doa yang dilangitkan mulai mendapatkan jawaban, ada satu doa yang selalu saya tekankan permintaan kepada Tuhan, “Beri saya ketenangan hati berwujud seperti halnya teman hidup yang Engkau ridhoi. Saya tidak ingin hidup sendiri.” Doa tersebut saya ulang-ulang, agar Tuhan tahu, saya tidak main-main dalam memintanya. Meminta ampunan pula telah melewati batas berharap pada ciptaan-Nya yang menyebabkan luka menganga. Lagi pula, akhir-akhir ini sering hujan, salah satu waktu yang tepat untuk doa saya diijabah. Namun, keheningan ini tiba-tiba dikagetkan dengan suara ibu, “Nanti, kalau sudah pada berumah tangga, pasti bakal kangen masakan ibu.” Ah, ibu. Seakan tahu segala yang anaknya rasakan meski tak pernah anak ceritakan. Atau ketika saya ingin bermanja-manja dengan ibu, beliau selalu bilang, “Ah, jangan seperti anak umur dua tahun!” Tuhan, saya tidak bisa mendeskripsikan doa yang ingin saya rapalkan ulang.


Saat ini aku hanya mampu memantaskan diri. Berharap aku bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku pun tidak ingin meninggikan ekspektasi, karena sebenar benarnya perjuangan untuk memiliki adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada sang Illahi. Agar kelak ketika aku dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, aku tidak akan pernah merasa dikecewakan oleh siapapunAku akan berlapang hati untuk menerima takdir terbaik yang telah Tuhan beri.


Meski sekalipun pada akhirnya aku tidak Tuhan takdirkan untuk dipersandingkan denganmu, maka tidak akan pernah ada yang namanya kesiasiaan atas pemantasan diri yang telah aku jalani, karena jika bukan kamu, aku percaya Tuhan akan menyandingkanku dengan dia orang yang lebih baik lagi.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2