Tak Bisa Memilikimu

Tak Bisa Memilikimu
Chapter 25


__ADS_3

Tak pernah terpikirkan sebelumnya semua ini akan terjadi begitu saja, ya, seusai lamaran aku akan langsung melaksanakan pernikahan dengan laki-laki pilihanku, Mr. Ars namanya, dia baik seperti laki-laki pada umumnya, namun yang membuatku jatuh hati padanya sampai aku tak meragukan niatnya untuk menikahiku adalah tanggung jawabnya sebagai laki-laki, tak ada yang namanya omong kosong seperti laki-laki kebanyakan diluar sana, dia sungguh sangat aku cintai, bagaimana tidak, dia selalu ada untukku, dia selalu menjadi tempat keluh kesahku, dia selalu menjadikanku ratu setiap kali aku ada di sampingnya. Aku sungguh bahagia.


Banyak persiapan yang harus kupersiapkan, terutama untuk diriku pribadi dan khususnya itu adalah kesehatan, aku manusia biasa yang rentan terkena sakit, tiga minggu menjelang hari pernikahan itu rasanya lumayan, lumayan degdegan. Aku yang biasanya cuek dengan kebersihan kamar,, bukan hanya itu, ada pula buku-buku dari SMP sampai akhirnya selesai sekolah masih menumpuk dilemari buku, buku-buku sekolah. Kini kamarku harus kubersihkan, sedikit berat hati kulepas semua, dengan sangat pelan-pelan tanpa ada yang rusak satupun, kusatukan semua itu dalam satu kardus yang lumayan besar beserta buku-buku pelajaran terkait jurusanku.


**


Dua Hari menjelang hari pernikahan


Semua saudara-saudaraku sibuk ini itu, kalau bukan mereka siapa lagi yang akan mempersiapkan semuanya, maklumlah aku adalah anak Sulung. Di rumah tak ada yang bisa kuandalkan selain ayah ibu. tak mungkin kusuruh ayah untuk melakukan pekerjaan perempuan, sementara adik perempuanku satu-satunya tidak terlalu bisa diandalkan dan dia masih sekolah. Terkadang aku berpikir, terkadang aku sering melamun sendiri, inikah rasanya menikah?.


Banyak masukan yang kudapat dari sanak saudara, terutama mereka yang benar-benar perduli padaku, jaman sekarangkan yang namanya saudara itu seperti orang lain, sementara orang lain seperti saudara sendiri, tapi beruntungnya kau memiliki mereka, karena mereka tidak seperti itu. Aku adalah tipe perempuan yang cengeng, dinasehati saja bisa mengeluarkan air mata, emm ... Bisa dibilang lebay juga si. Hehe.


Mr. Ars, dia menemuiku untuk mempertanyakan surat undangan yang nantinya akan disebarkan seminggu menjelang pernikahan nanti.


''Sayang, kamu mau cetak undangan dimana?'' tanyanya


''Dimana ya? Kalau menurut kamu dimana?'' aku balik bertanya


''Kita cari sama-sama aja yuk nanti sore'' ajaknya


''Yaudah deh, kamu mau kopi?'' tawariku


''Boleh, jangan pake gula ya, nanti kemanisan karena kamu yang buat, hehe'' ucapnya gombal


''Huuuu ...'' seruku


Jangan percaya akan gombalannya itu, dia memang lebih senang kopi pahit, katanya lebih sehat, mau berapa kali ngopipun tidak akan jadi masalah, katanya.

__ADS_1


Kata orang calon penganti itu harus dipingit dan tidak boleh bertemu pasangannya sampai hari pernikahan tiba, tapi aku abaikan ucapan itu, kujalani dengan biasa-biasa saja, yang namanya kebutuhan dan harus mempertemukan si perempuan dan laki-laki maka apa boleh buat, aku dan Mr.Ars masih sering bertemu. Surat undangan kami suruh desain temannya dan mencetaknya tinggal kami yang lipat dan sebarkan, hasilnya lumayan bagus, yang penting isi undanganya tidak boleh salah.


**


2 hari menjelang hari pernikahan, apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan lain menjelang hari pernikahannya? Tentu saja degdegan, bimbang dan tidak sabar menunggu satu hari itu habis, poin yang ketiga memang aku rasakan, tapi tidak untuk poin pertama dan ke dua, hatiku tenang, hatiku mantap, hatiku siap dan ikhlas.


Hari ini aku berniat untuk menyebarkan surat undanganku bersama Calon Imamku.


Jam 9 pagi Calon suamiku itu tiba di rumahku dengan motor metiknya, dia begitu simpel dengan tas berukuran sedang yang dibawanya.


Aku dan Calon Suamiku pun bergegas jalan menyebarkan surat undangan bersama-sama. Dijalan kita sama-sama sharing tentang persiapan pernikahan kita masing-masing, banyak kelucuan yang kita ceritakan, bla bla bla.


Betapa capeknya hari ini, selesainya menyebar semua surat undangan, aku dan Mr. Ars. berencana untuk menemui salah satu kerabat yang rumahnya jauh dari Lokasi Rumah kami, Nenek Hatijah namanya. Beruntung nene Hatijah masih ada di rumahnya, karena satu jam lagi dia akan menunggu anaknya dari ngelaut.


''dua hari menjelang hari pernikahan, Mrs. Ars datang legi ke rumah bermaksud untuk menghadiri surat undangan dari KUA. Banyak sekali komentar-komentar yang tak enak ditujukan pada kita berdua, katanya kita terlalu sering bertemu, hmmm ... Namanya juga kebutuhan. Dasar manusia!.


''Yank, kamu udah ngapain aja?'' tanyanya


''Ngapain aja apa maksud kamu?'' tanyaku lagi


''Kan kalau mau nikah itu suka luluran inilah, itulah segala rupa'' ucapnya.


Akupun tertawa


''Hahaha, soal itu kamu gak usah tau ah, kepo deh'' jawabku


''Ihhh kok gitu si? akukan mau tau'' ucapnya sedikit kesal

__ADS_1


''Iya sayank, aku luluran kok, hehehe'' ujarku


''Minta dong, heheh'' pintanya


''Beli dong! Hahaha'' seruku.


Aku dan Mr. Ars pun pulang, hari ini adalah hari terakhirku bertemu dengannya sampai hari pernikahan tiba.


**


Merdunya Suara Mengaji mulai berirama di setiap sudut rumah beserta tenda yang berwarna putih berpadu dengan warna Maron. Aku mulai dirias, wangi melati khas pengantin mulai tercium, aku sedikit kesal karena tidak diperbolehkan bercermin, makanya hari ini aku sedikit tidak PD, namun kuhilangkan rasa itu demi kelancaran acara sakral ini.


Pengantin pria sudah datang, suara pelatasan yang sengaja disiapkan mulai meletup-letup dikupingku.


Duarrr!


Duarrr!


Duarrr!


Ahhh sudahlah, pasti kalian sudah bisa melanjutkan cerita ini, ini adalah catatanku yang ingin kuceritakan.


Menikah itu adalah sebuah kenikmatan yang nyata, menikah itu adalah langkah pertama menuju masa depan, menikah itu adalah awal dimana kita akan memiliki keturuan. Bagi kamu yang belum menikah, cepetan menikah gih ...! Hehe


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2