Tak Bisa Memilikimu

Tak Bisa Memilikimu
Chapter 16


__ADS_3

Aku Ingin Menyapamu (Lagi)


Ketika aku sedang asyik berselancar didunia maya (social media networking), aku tak sengaja melihat statusmu muncul diberanda Twitter-ku, ketika aku melihat notice di Instagram-ku ada namamu di daftar like posting-an ku, Ketika aku membuka Facebook ada tertera namamu sedang Online disana.


Seketika aku berfikir ingin rasanya ku menyapamu lagi sekedar melontarkan sapaan ‘hai’ melalui chat singkat, atau mengatakan bahwa aku (sangat) rindu kamu.


Namun, aku sadar jika kita bukan apa-apa, kita bukan siapa-siapa. Kamu dan aku adalah dua orang asing yang tak saling mengenal lagi. Sama seperti ketika kita belum saling mengenal sebelumnya.


Kita hanya dua orang asing yang memiliki dunia masing-masing.


Sekarang kenyataannya kita kembali menjadi dua orang asing sama seperti ketika kita belum kenal dulu, aku tak bisa apa-apa selain menerima, begini rasanya terluka.


Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya dalam hati. Kita telah lama saling tanpa kabar. Sudah hampir enam bulan berlalu tentu saja itu waktu yang lama, tapi aku yang jelas-jelas kamu sakiti, masih saja berharap dan ingin mengajakmu kembali bicara. Aku tak suka kau diamkan aku begini, enam bulan berlalu kau tak kunjung beri aku kejelasan mengapa dulu kau menghilang dan menjauhiku seakan aku adalah orang yang paling kau benci.


Aku (ingin) mengajakmu berbicara bukan berarti aku menginginkan kita merajut kisah seperti yang dulu, ataupun mengajakmu bersamaku lagi. Sungguh tidak?!! Aku hanya ingin kau dan aku, ya kita menjadi dua insan yang baik-baik saja tanpa harus saling diam begini. Walau sebenarnya aku juga menyimpan bimbang dihati jika seandainya ini terjadi, aku (akan) berharap kita memiliki kebersamaan seperti dulu dan akhirnya timbul butir-butir cinta lagi.


Diwaktu-waktu tertentu ada sesuatu yang menggebu-gebu dihati ingin sekali mengetahui perihal tentang kamu, lalu dengan cepat aku mencari alamat media sosialmu. Setelah puas aku stalking, bukan hanya lega setelah tahu kabarmu tapi hatiku juga terasa panas, sesak, dan terasa sakit.


Ternyata dirimu kini terlalu asyik dengan duniamu.


Ternyata dirimu sudah bersama dia yang kau sebut cinta. Terkadang aku menerawang jauh kesana, apakah dia yang kau sebut cinta sekarang akan kau perlakukan sama seperti kau perlakukanku dulu, mencintaiku sementara saja lalu pergi menghilang.


Walauku masih sering mendambamu dan ingin sekali menyapamu kembali. Namun semua itu kulakukan sebatas anganku saja. Aku mendambamu melalui anganku, aku menyapamu melalui anganku. Mungkin ini pertanda jika aku belum sepenuhnya lupa tentang kamu. Dirimu masih menjadi sosok yang memenuhi setiap sudut hati. Dirimu masih tetap menjadi pemilik rasa terindah yang tak benar-benar sedia memiliki.


Sadarlah duhai jiwa, jika sebenarnya didalam hati ingin menyapa lagi. Tak seharusnya terlalu lama terpuruk dalam begini. Jika dia pergi menghilang tanpa kejelasan, artinya dia tak berhak kembali lagi dengan seribu alasan. Apalagi kembali memenuhi memori otak dan pikiranmu.


Apa kabar kamu di sana Masih aku simpan cerita tentang kita Apa daya aku hanya manusia biasa Butuh teman cerita lewat nada Kini-pun telah tiba waktunya Aku kembali menyapa dengan karya Meski kita berada di kota yang berbeda Tapi aku tau perasaan kita pasti sama Maaf jika sudah lama aku meredup Aku ingin kau tau aku sedang menyusun hidup. Tapi tanpamu aku tak sanggup Ku ingin terus hidup dari udara yang ku hirup.


Sekali lagi


Izinkan aku menyapamu


Walau hanya beberapa kata

__ADS_1


Aku ingin menyapamu


Sebab aku tak tahu harus bagaimana


Saat kau seperti ingin menjauh pergi


Dan tak ingin bertemu lagi


Izinkan aku menyapamu


Apa kabarmu


Baik-baik sajakah engkau


Lama sekali tiada tanda hadirmu


Tak bisa lagi kudapatkan kabar baikmu


Ya, covid ini


Tapi jangan sampai


Hubungan kita pun jadi merenggangEra pandemi kini


Wajib menerapkan protokol kesehatan


Kita sama-sama paham hal ini


Tetapi apakah kita juga harus menjaga jarak komunikasi


Aku ingin menyapamu


Sederhana itu saja

__ADS_1


Biarlah, walau kau tak membalasnya


Tapi semoga kau sehat dan baik-baik saja


Sudah sering aku ingin menyapamu duluan melewati pesan singkatku, sudah berapa kali aku menghapus pesan yang telah aku tulis kepadamu hanya karena aku terlalu takut untuk menyapamu.


Ada banyak yang membuatku merasa takut menyapamu duluan, entah karena aku merasa tak dinggap atau karena aku terlau malu jika harus menyapamu duluan.


Bila perasaan rinduku memuncak, ingin rasanya aku menyapamu walau dengan kata-kata yang begitu singkat.


Jujur aku sedih karena aku selalu memikirkanmu dan selalu merindukanmu. Aku hanya bisa mencintaimu dengan diam dan entah sampai kapan perasaan ini ada untukmu.


Aku selalu berdoa jika kau memang bukan untukku maka semoga secepatnya Tuhan hapus perasaanku terhadapmu agar aku berhenti memikirkanmu dan berhenti tangan ini terasa gatal untuk mengetik pesan untukmu.


Sedih rasanya ketika hanya bisa merindukanmu dan mencintai secara diam-diam. Marah terhadap diri sendiri karena selalu merindukanmu dan tidak bisa berhenti memikirkanmu. Tangan ini rasanya begitu lincah ingin mengetik pesan dan ingin rasanya menyapamu.


Aku selalu berusah mencegah diriku saat aku mulai ingin mengeteik pesan terhadapmu karena setelah meberanikan diri untuk mengetik pesan kepadamu yang pasti aku akan menyesal jika akhirnya kau acuhkan aku.


Aku selalu meminta agar dibukakan hatimu untukku namun sejauh ini hatimu tak kunjung terbuka dan kamu pun tidak kunjung peka. Rasanya aku ingin menyerah pada perasaanku namun nyatanya semakin aku berusaha untuk menyerah dan pasrah aku semakin terluka.


Entah kenapa rasanya aku tidak akan pernah memiliki perasaan yang sama terhadapku dan tidak akan pernah memikirkanku apalagi merindukanku.


Semua itulah yang membuatku ragu akan perasaanku terhadapmu, ragu karena aku yakin bahwa mencintaiku adalah hal yang tidak akan mungkin bagimu


Sedih dan merasa sakit hati ketika perasaanku tidak kunjung terbalaskan. Aku yang aku doakan dan yang selalu aku tunggu tidak kunjung peka.


Hingga pada akhirnya aku benar-benar ingin menyerah pada perasaan ini, setelah aku berpikir bahwa mencintaiku adalah hal yang tidak mungkin bagimu, namun aku percaya jika Tuhan yang berkehendak maka tak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.


Aku masih percaya akan hal itu, meski perasaan ini membuatku sedih aku tidak boleh gegabah untuk mengungkapkannya terhadapmu. Lebih baik aku pasrahkan saja perasaanku terhadap Tuhanku, biar Tuhan yang membukakan hatimu jika kau memang untukku.


Aku sedih, aku kecewa dan aku terluka oleh perasaanku terhadapmu. Tapi aku selalu menahan diriku agar tidak mengungkapkan perasaanku terhadapmu.


Aku sadar hanya kepada Tuhan aku boleh berharap dan menyampaikan perasaanku terhadapmu. Karena ternyata mendoakanmu adalah cara yang paling benar dari mencintai dan berharap dicintai olehmu.

__ADS_1


****


Bersambung....


__ADS_2