Tak Bisa Memilikimu

Tak Bisa Memilikimu
Hari Terakhir Di Negeri YX


__ADS_3

Paginya, kita beres-beres untuk pulang, tak lupa pula dengan janjiku dengan bi Sulastri untuk ke rumahnya, maka selesai beres-beres aku ke sana dengan sepupuku lagi.


Sesampai kami disana, aku dibuat kaget, kenapa tidak? Sudah banyak sekali menu-menu makanan yang tersedia di sana, di tata sedemikian cantiknya.


"Akhirnya kamu datang juga Nak." Sambut bi Sulastri dengan gembira melihat kedatanganku.


"Ayo duduk-duduk."


"Aduh, bi, kenapa repot-repot begini."


"Udahlah, kak Mawar, dimakan saja toh, Amma membuatnya dengan penuh cinta untuk calon menantunya."


"Iya kan Amma?"


PLAK!


"Jangan menggoda kak Mawar, liat mukanya sudah memerah macam tomat, hehe."


Sialan! Apa mukaku merah macam tomat? Ahhh.. malu sekali aku!


"Kenapa hanya diliat saja ayo dimakan."


Kita pun sarapan bersama-sama, selesai sarapan aku meminta izin untuk pulang kepada Bibi, karena sudah waktunya kami kembali ke rumah, aku hanya izin dengan ibu dua hari satu malam.


"Jadi kalian akan balik pagi ini."


"Iya bi."


"Oh iya, ini sedikit oleh-oleh buat kalian."


"Eh..."

__ADS_1


"Udah terima aja."


"Makasih bi."


"Sama-sama kalian hati-hati ya."


"Pasti bi, mari bi."


Sebelum pergi aku bersalaman dengan Bibi begitu pun sepupuku. Bibi menciumku dan dia berbisik jika dia menginginkanku sebagai menantunya kelak.


Aku dan sepupuku kembali pulang dengan diatar oleh Damik dan sahabatnya. Entah kenapa cuaca hati itu mendung, tapi tidak ada tanda-tanda datangnya hujan, dan semoga saja tidak hujan.


Di pertengahan jalan hujan turun dengan lembatnya, alhasil kita singgah untuk berteduh. Kita berteduh hampir tiga jam lamanya baru hujan reda, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.


Beberapa jam kemudian akhirnya kami sampai di kediamanku, mereka tidak lantas ku suruh pulang, tapi aku menyiapkan camilan untuk mereka dan susu hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Selepas itu mereka izin untuk balik.


"Kak Mawar kita balik dulu ya, sampai ketemu di lain waktu."


"Siap, calon kak ipar."


Mukaku saat itu tiba-tiba memerah macam tomat, sepupuku menyinggung bahuku dan tertawa jaim begitu pun dengan Damik dan sahabatnya.


*****


Malam harinya, aku tidak bisa terlelap, pikiranku tertuju pada Wahyu, Wahyu, dan Wahyu, hingga lamunanku dibuyarkan oleh deringan ponselku, ada satu pesan WhatApps masuk, dari Damik.


Kak, tak usah khawatir, aku akan berjuang untuk kakak dan abangku bersama, kakak tenang saja ya ^_^


Iya Dam, makasih ya. Balasku dengan singkat.


Ngomong-ngomong kenapa kakak belum tidur?

__ADS_1


Ah iya, nggak papa sih, lagi pengen aja tidur telat Dam.


Kakak mau dengerin aku nyanyi ngak? Kalau mau aku telpon ya.


Hmmm... gimana ya... bolehlah.


Dam pun menelepon ku dan aku mengangkat panggilannya.


Kak besarin volumenya biar kedengaran.


Iya Dam.


Dam pun mulai bernyanyi, suaranya merdu sekali, alunan gitarnya indah pun, membuatku terbawa keangkasa lepas hingga terlelap dalam tidurku.


Kak, apa kakak sudah tidur ya?


Tak ada jawaban.


Hmm.. good night Kak Mawar.


Dam lalu menutup teleponnya setelah memastikanku tertidur.


****


Di tempat Damik.


Selesai menutup teleponnya tadi Damik, menatap langit-langit dan menyanyi kembali sembari memainkan gitarnya, ada perasaan yang berbeda terhadap dirinya kepada Mawar, entah apa itu, perasaan yang susah dijelaskan, dia pun bingung akan dirinya sendiri.


"Apa aku mencintainya? nggak mungkin, mungkin ini hanya perasaan hangat yang biasanya saja."


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2