Takdir Cinta Kematian

Takdir Cinta Kematian
Bab 12 ( Peringatan ke-2 )


__ADS_3


...***...


Dipagi hari yang cerah setelah Angga mengantar anaknya yang bernama Lingga diambil dari kata Lia dan Angga. Di depan TV yang sedang menayangkan acara berita, betapa terkejutnya Angga melihat bahwa ada sebuah Pesawat yang terjatuh menewaskan 80% penumpangnya, yang paling membuat Angga terkejut adalah nama-nama korban jiwa tragedi pesawat tersebut terdapat nama Linda Mulyana, ia adalah mantan istri Angga.


"Apa kutukan itu belum hilang, karena orang yang aku cintai belum mati beberapa tahun lalu jadi Lia masih aman, namun ... sekarang Linda sudah mati apakah Lia akan kena kutukannya juga?" gumam Angga.


"Serius amat Sayang nontonnya ... berita kecelakaan pesawat, apa ada seseorang yang kamu kenal disana?" tanya Lia penasaran.


"Iyah, Mantan istriku tewas dikecelakaan itu dan aku mau berbicara sesuatu padamu Lia ...." Gelisah.



"Mantan istri ..., apa ini ada hubungannya dengan mantan istri kamu Angga?" Balik bertanya. Angga hanya mengangguk.


"Boleh bicara sebentar ...."


"Tentu saja, aku sekarang istrimu, apa yang kamu omongin akan saya terima dengan baik."


"Jadi begini, sebenarnya aku belum mencintaimu sepenuhnya, bukan sepenuhnya tapi emang aku tidak mencintaimu ... " ujar Angga mengalihkan pandangannya.


"Ya, aku tau itu, selama ini sikap kamu ke aku sedikit berbeda dari pasangan lainnya." Kecewa dengan apa yang sedang terjadi.


"Dan meninggalnya mantan istriku, bukan kecelakaan biasa, ini ada kaitannya denganku," sambung Angga. Lia menatap serius penjelasan Angga.


"Kaitannya denganmu?" tanya Lia.


"Sebenarnya hanya beberapa orang yang tau tentang ini, kalau saya sudah dikutuk."


Seketika Lia tertawa sambil menepuk pundakku, "Apa kamu sedang bercanda Angga?" tanya Lia menahan tawa.


"Aku tidak becanda jadi begini ceritanya ——,"


Dibawah suara rintikan hujan diluar sana Angga menjelaskan tentang kutukannya dan kematian orang yang ia cintai.


"Ap— apa kamu percaya dengan apa yang aku katakan?" tanya Angga ragu-ragu.

__ADS_1


"Aku percaya kok dan apa kamu tau sebenarnya aku juga punya kutukan juga."


"Kutukan?!" Terkejut mendengar kata Lia.


"Sebenarnya kutukanku itu —— ." Namun suara geluduk menghentikan pembicaraan mereka, Liapun tersadar kalau dia sedang menjemur pakaian diluar.


"Aku akan ceritakan lain kali, aku harus mengangkat jemuran terlebih dahulu." Beranjak pergi ke teras belakang.


"Biar aku bantu juga." Mengejar Lia.


Mereka menghentikan pembicaraannya demi jemuran yang sudah setengah kehujanan.


"Jam berapa sekarang Lia?" tanya Angga terburu-buru.


"Jam 10 pagi, lupa jemput Lingga ya ...." Mengejek Angga.


"Hehehe, maaf lain kali aku tidak lupa lagi."


"Pakai Jas ujan, diluar lagi hujan dan hati-hati ya ... dijalannya." Memakaikan jas hujan ke tubuh Angga.


Setelah Angga pergi Lia kembali ke dapur memasak makanan untuk nanti, "Kira-kira hari ini mau makan apa ya ... Semur jengkol, tumis kangkung atau ayam balado. Hem ... Kenapa bingung tinggal bikin semuanya aja, semua bahan udh ada tinggal masak," gumam Lia ceria.


Beberapa saat setelah itu, "Sudah matang nih ... " gumam Lia.



Ding... Dong...


Angga dan Lingga sampai dirumah, Wangi masakan Lia sampai tercium dari luar.


"Wah ..., Mamah masak ya, aku mau makan masakan Mamah," ujar Lingga menerobos masuk dan langsung kemeja makan.


"Lingga, ganti baju dulu terus cuci tangan ya ... " ujar Lia menasehati Lingga.


"Ganti baju dulu sana, jangan bikin Mamah marah," sambung Angga.


"Siap, Pah."

__ADS_1


"Lain kali kalau lagi sendiri dirumah dikunci ya pintunya," bisik Angga ditelinga Lia.


"Baik ..., nanti akan aku kunci."


"Menarilah dan terus tertawa bahwa dunia tak seindah surga bersyukurlah pada yang kuasa cinta kita didunia— " Suara nada dering telepon Angga.


"Sayang, teleponmu berbunyi," teriak Lia.


Anggapun mengangkat telponnya, suara seseorang yang menelponnya sedikit familiar ditelinga Angga.


"Hallo pak, ini saya Rendi apa Bapak punya waktu luang?" tanya Rendi dalam telpon.


"Rendi ya ..., sekarang luang kok, kamu datang saja kesini alamatnya jalan Soekarno Hatta —— " balas Angga memberikan alamat rumahnya.


"Siapa yang menelpon, sayang?" tanya Lia dari dapur.


"Rendi rekan kerja di kantorku dulu."


"Apa dia akan kesini?"


"Iyah, aku sudah menyuruhnya kesini."


""Yasudah, aku sudah menyiapkan banyak makanan juga." Meletakkan sup kemeja makan.


"Terimakasih."


^^^Bersambung...^^^


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


...Bantu Vote and likenya ya... dan jangan...


...lupa Klik tombol Favorit agar tidak...


...ketinggalan Bab-bab berikutnya ><...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


__ADS_2