Takdir Cinta Kematian

Takdir Cinta Kematian
Bab 16 ( Kehilangan #2 )


__ADS_3


"Hubungan kamu sama tuan Angga?" tanya Anni sambil menyetir mobil.


"Fokus aja sama jalanan," bales Lia cuek.


"Sial ..., wanita ****** kau pikir sekarang sudah menang," gumam Anni dengan pikiran picik.


Diperjalanan mereka hanya terdiam sampai disebuah jembatan gantung Anni menghentikan mobilnya, "Kenapa kita berhenti disini?" tanya Lia.


"Turunlah ada sesuatu yang mau aku tunjukkan ke kamu," ujar Anni keluar dari mobil, mendekti pinggiran jembatan.


"Sesuatu apa?" tanya Lia mengikuti Anni medekati pinggir jembatan.


"Apakau tau saat kita kuliah bareng, kita sering bermain dipinggir kali sambil memainkan air, sampai suatu ketika kau merebut semua hal yang aku punya," ucap Anni bercerita.


"Itu hanya masa lalu dan lagi pula, aku tidak mendekati Reno, Reno sendiri yang menggodaku," balas Lia.


"Mana ada! Kau yang menggoda Renoku!" bentak Anni.


"Jadi kamu masih mencintainya sampai sekrang ya."


"Tentu saja aku masih sangat mencintai Reno!"

__ADS_1


"Lupakanlah Reno bukan pria yang baik buat kamu," ujar Lia beranjak pergi, namun baru selangkah Lia didorong kepinggir jembatan dan terjatuh.


"Andai kamu tau Anni ..., aku akan korbankan apapun untuk persahabatan kita , tapi kau mengorbankan persahabatan kita hanya untuk seorang pria," gumam Liaterjatuh kesungai.


"Ahahahha! aku berhasil membalaskan dendamku, kali ini kau pasti mati Alia." Meninggalkan jembatan.


Sementara itu dikediaman Wihardja, "Dimana Lia?!" teriak Angga.


"Maaf Tuan, sudh dari siang Nyoya pergi dengan temannya."


"Sial sudah jam segini Lia belum pulang, Rendi lacak Handphone Lia cari kebedaanya sekarang!"


"Baik Tuan Angga."


"Kita berangkat sekarang ketempat Lia, bawa beberapa pengawal untuk mengikuti kita."


"Siap Tuan Angga."


"Kali ini apalagi yang terjadi padamu Lia," gumam Angga khawatir.


Setelah beberapda saat kemudian diarus sungai yang sangat deras Angga membuat jaring manusia membentang menahan arus.


Setelah beberapa menunggu titik yang menandai Handphone Lia mendekati mereka, "Semua siap-siap, dalam hitungan ketiga kalian menyelam temukan Nyonya Wihardja!" Teriak pemimpin pasukan.

__ADS_1


Dalam arus yag deras, tubuh Lia menyentuh tim penyelamat dan langsung ditarik kepermukaan dan langsung dibawa kerumah sakit.


"Maaf Tuan Angga, ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ujar Rendi.


"Ada apa Rendi, langsung bicara saja."


"Mungkin ini kutukan tuan, tadi pagi aku baru sadar kalau sikap Tuan berbeda seperti sedang jatuh cinta."


"Yah ..., aku juga sadar akan hal itu makanya aku emosi dan langsung pergi, biar rasa cinta ini tidak berlanjut dan melarang Lia untuk pergi," ucap Angga dengan nada suara hampa, rasa khawati akan kehilanga lagi, berasa hati mulai berdebar-debar menusuk-nusuk.


"Bagaimana Dok, keadaan istri saya?" tanya Angga.


"Istri Anda berhasil selamat ..., namun anak yang sedang ada dikandungannya tidak berhasil kami selamatkan," balas Dokter yng keluar dari ruang operasi.


"Anak ..., Istri saya hamil?" tanya Angga meraih tubuh Dokter tersebut.


"Iyah Istri Anda dan sekarang sudah berusi 3 mingguan," balas Dokter menepuk pundak Angga.


"Kenapa bisa begini, dilain sisi aku bahagia karena Lia selamat tapi aku juga sangat sedih anak kedua kami telah mninggal sebelum ia dilahirkan," gumam Angga tersungkur dipinggir tembok.


"Paman apa yang terjadi dengan bibi?" tanya Aufa yang baru tiba dirumah sakit.


^^^Bersambung ...^^^

__ADS_1


__ADS_2