Takdir Cinta Pertama

Takdir Cinta Pertama
kehidupan yang berbeda


__ADS_3

Setelah melewati hari-hari yang begitu berat bagi Nara. Saat ini Nara mencoba bangkit dari keterpurukannya, Nara mencoba menerima apa yang saat ini menjadi takdir nya. Nara sedang menyusun dan menyiapkan apa saja yang akan ia bawa hari ini kekampus, dia lalu berlari kearah cermin menatap pantulan dirinya di cermin dan memastikan kembali penampilan nya, setelah di rasa cukup lalu ia menyambar tas ransel kesayangan nya yang selalu ia bawa kekampus. Dia lalu turun kebawah untuk sarapan bersama keluarganya.


"Pagi Ma, pagi Pa" Nara menyapa kedua orang tuanya lalu Nara mengecup pipi dari masing-masing orang tuanya itu, hal itu memang hal yang biasa Nara lalukan setiap pagi.


"Pagi sayang" jawab Mama Anita kepada anaknya itu.


"Semangat banget kamu kayaknya" ucap Papa Bagas.


"Harus dong Pa, aku harus semangat. Sudah banyak waktu yang terbuang Pa, sekarang aku mencoba bangkit dan menerima apa yang menjadi takdir ku" ucap Nara lalu dia tersenyum pada kedua orangtuanya.


Hati Mama Anita rasanya terenyuh mendengar penuturan anaknya. Ia lalu mengulas senyum pada Nara dan menghampiri Nara, lalu mengusap punggung Nara.


"Mama nggak nyangka ternyata anak Mama sudah dewasa sekarang" Mama Anita tak bisa menahan air matanya, dia langsung menghapusnya.


"Mama... Nara sayang banget sama Mama, makasih Ma, Mama selalu ada di saat Nara terpuruk beberapa bulan kemarin" ucap Nara lalu memeluk Mamanya.


"Sudah-sudah, masih pagi juga. Sudah jangan sedih-sedihan dulu. Ayo sarapan tar kesiangan lagi" Papa Bagas mengingatkan ibu dan anak yang masih berpelukan itu.


"Iihh Papa ganggu momen dehh.. " ucap Nara dengan Nada manjanya.


Mereka akhirnya melanjutkan sarapan yang sempat tertunda karena drama pagi hari antara anak dan ibu.


Di tempat lain di apartemen milik Axcel. Dia sedang mondar-mandir mencari berkas yang akan ia bawa untuk meeting dengan klien nya yang dari luar negri. Ya, beberapa bulan terakhir usaha Axcel memang mengalami kenaikan drastis. Ini semua adalah hasil kerja keras Axcel selama ini, Axcel melampiaskan kegalauan nya itu pada bekerja bahkan Axcel hampir lupa waktu. Dia menjelma menjadi sosok pria gila kerja, bahkan sekarang Axcel sudah memiliki brand sendiri untuk produk nya dan dia juga mempunyai kantor sendiri sekarang, lalu rumah produksinya yang dulu kini sudah menjadi pabrik pengolahan produk. Luar biasa memang, kecerdasan Axcel dalam mengembangkan bisnis nya tidak main-main.

__ADS_1


" Haisss... Dimana aku taruh berkas itu. Kenapa bisa aku jadi pelupa gini " Axcel kebingungan mencari berkas yang akan ia jadikan bahan meeting bersama klien nya itu.


Drrttt drrrttt drrttt....


"Siapa lagi yang telpon pagi-pagi gini, hallo. Ngapain loe telpon gue pagi-pagi gini, nggak tau apa loe gue lagi cari berkas penting hah. " Axcel kesal pada Indra yang mengganggunya di pagi hari.


"Heh masih pagi juga, loe udah sewot aja. Seloww men. Gue telpon loe karena gue mau bilang kalau berkas buat meeting hari ini ada di gue, gue tau sekarang loe pasti kelimpungan nyariin tuh berkas" Indra menebak di sebrang sana.


" Sialan loe, jadi loe yang sembunyiin tuh berkas" ucap Axcel.


"Eh kampret. Kemaren siapa yang suruh gue bawa pulang nih berkas hah? Sekarang loe nuduh gue sembunyiin. Loe pikun apa gimana sih Xcel. Perasaan loe belum tua-tua amat. Baru juga 28 usia loe" Indra tak terima di bilang menyembunyikan berkas penting itu oleh Axcel.


"Udah lah, kebanyakan ngomong loe, sekarang juga gue tunggu loe di apartemen gue. Kita langsung berangkat ketempat meeting, nggak kekantor dulu" Axcel menyudahi perdebatannya dengan Indra.


"Sekali kagi loe panggil gue bos. Gue tendang loe dari kantor gue" Axcel selalu marah jika sahabatnya memanggil dia dengan sebutan bos.


"Yaaa Xcel loe mah gitu. Kan emang bener loe bos gue, apalagi sebentar lagi kayaknya loe bakal jadi seorang CEO" ucap Indra.


"Loe tau gue nggak suka di panggil seperti itu. Apalagi loe sahabat gue, mau loe gue peutusin persahabatan kita, hah?" Ucap Axcel pada Indra.


"Ya jangan dong. Udah, gue kesitu sekarang nggak akan ada abisnya debat ama loe" Indra mengalah dan menyudahi perdebatan mereka.


"Ya udah buruan kampret.." jawab Axcel.

__ADS_1


"Oke" lalu Indra mengakhiri perbincaangan mereka dan segera pergi ke apartemen Axcel.


Tidak lama kemudian handphone Axcel berbunyi kembali, dan kali ini sang Mama lah yang menelponnya.


"Hallo Ma, ada apa?" Tanya Axcel to the point.


"Kamu nggak lupa kan kalau minggu depan adalah hari pertunangan kamu sama Difa" jawab sang Mama.


"Ma, emang harus banget ya Ma. Axcel kira kalian sudah melupakan hal itu. Jawaban Axcel tetap sama Ma, Axcel nggak mau. Biarin Axcel mulihin dulu hati Axcel Ma, walaupun tidak bersama Nara setidaknya dengan pilihan Axcel sendiri" ucap Axcel, lagi-lagi dia menolak perjodohan itu.


"Tapi sampai kapan nak. Ini udah hampir setengah tahun dan kamu masih gini-gini aja. Kalau kamu nggak bisa lupain Nara, kamu nggak harus lupain dia nak. Tapi tolong terima permintaan Papa kamu ini Xcel. Awalnya Mama juga tidak setuju, tapi Papa sama Mama udah tua, kita pengen meilhat kamu menikah, umur kamu juga sudah semakin bertambah. Mau sampai kapan nak? Ujar Mama Anin.


"Terserah kalian, apapun yang akan kalian lakukan, maka lakukanlah. Jika kemauan Mama sama Papa Axcel menikah. Baiklah Axcel akan menikahi wanita pilihan Papa, tapi Axcel minta apapun yang terjadi pada rumah tangga Axcel kedepannya Mama sama Papa tidak boleh ikut campur" Axcel akhirnya menyerah dan mengalah.


"Oke, tapi kamu harus belajar menerima dia nak" jawab sang Mama.


"Hmmm" lalu Axcel mematikan teleponnya.


Di sebrang sana, Mama Anin menghela nafas panjang. Dia juga sebenarnya tidak ingin memaksakan kehendak suaminya terhadap anaknya. Tapi mau bagaimana lagi. Mama Anin hanya berharap Axcel mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya kelak. Dia juga berdoa agar Nara menjadi menantunya. Meski tidak dengan Axcel, tapi masih ada Adnan. Dan Mama Anin bisa melihat bahwa Adnan sebenarnya memendam perasaan untuk Nara selama ini.


Ya, memang sebenarnya Adnan menyayangi Nara. Tapi dia lebih bahagia ketika melihat Nara bahagia bersama kakak nya. Tidak ada niatan di hati Adnan untuk merebut Nara dari Axcel, karena dengan melihat kedua orang dia sayangi bahagia saja itu sudah cukup membuat nya bahagia, meski cinta nya tak terbalas.


Tapi keadaan sekarang, takdir seolah memberi kesempatan kepada Adnan untuk bisa bersama Nara, dengan di jodohkan nya Axcel seolah menjadi sebuah jalan untuk Adnan bisa menggapai hati Nara. Tapi bagi Adnan kebahagiaan Nara adalah yang paling utama, dia tidak akan memaksakan kehendaknya pada Nara.

__ADS_1


Yang bisa dia lakukan sekarang adalah tetap menjaga Nara dan berharap Nara bisa membuka hatinya kembali untuk seseorang. Dan ia berharap dia bisa masuk untuk mengisi menyembuhkan hati Nara yang hancur dan terluka.


__ADS_2