
Sudah beberapa bulan ini Nara menjalani hari tanpa keberadaan Axcel disisinya. Nara banyak mengahibskan waktunya untuk belajar karna memang beberapa bulan ini adalah masa-masa terakhir disekolah bahkan ia juga sudah menghadapi ujian akhir.
Hari ini Nara disibukkan dengan perpiasan acara kelulusan besok. Ya, besok adalah hari kelulusan Nara. Sekarang Nara sudah lepas dari seragam putih abu nya, dan besok adalah hari terakhir ia menggunakan seragam itu. Nara sangat senang, karena ini merupakan hari yang ia nanti-nanti. Tapi Nara juga sedih karena ia harus berpisah dari teman-temannya.
Ting
Sebuah pesan masuk di ponsel Nara, ia lalu melihatnya. Senyum terbit di wajah canti Nara. Bagaimana tidak, orang yang mengirimnya pesan adalah orang yang sudah sangat ia rindukan beberapa bulan ini, siapa lagi kalau bukan Axcel sang pujaan hati. Nara lalu membuka dan membacanya. Namun senyum yang dari tadi terbit di wajahnya hilang sirna begitu saja saat melihat pesan masuk tersebut.
"Sayang, maaf. Besok kakak belum bisa pulang. Kakak nggak bisa menghadiri acara kelulusan kamu, maaf ya. Tugas kakak benar-benar tidak bisa ditinggalkan, kakak juga sedang membuka usaha baru disini jadi belum bisa kakak tinggalkan. Sekali lagi kakak minta maaf sayang." Begitulah kira-kira isi pesan yang dikirim Axcel pada Nara.
Nara tidak membalas pesan dari Axcel Nara benar-benar merasa kecewa. Ia sangat ingin Axcel hadir, karena sebenarnya Nara sudah sangat merindukan Axcel. Tapi kalau sudah begini apalah daya, Nara tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.
"Ra kenapa tu muka kenapa di tekuk gitu si, jelek banget tau nggak." ucap Hana sahabat Nara
"Aku tuh kesel banget sama kak Axcel, masa dia nggak bisa pulang coba. Padahal aku pengen dia hadir, aku juga udah rindu banget ini." jawab Nara pada Hana
"Alasannya kak Axcel nggak pulang kenapa?" tanya Sindi
"Kak Axcel ada ujian akhir semester besok jadi dia belum bisa pulang, dia juga lagi buka cabang baru buat usahanya disana." jawab Nara dengan cemberut
"Ya ampun Ra. Ya iyalah nggak bisa ditinggal, kalau di tinggal yang nggak lulus dong kak Axcel nya. Emang kamu kak Axcel makin lama disananya karena nggak lulus? ucap Hana
"Ya enggak lah siapa juga yang mau kak Axcel lama disana dan nggak lulus. Aku tuh pengen kak Axcel cepet selesai disananya dan kembali lagi sama aku disini nemenin aku kayak dulu." jawab Nara dengan lesu
"Makanya, udah nggak usah sedih lagi besok adalah hari terakhir kita disini, senyum dong." ucap Sindi
"Iya -iya." jawab Nara
"Oh ya kalian kulaih dimana nanti?" tanya Nara pada kedua sahabatnya
"Kalau aku sih pastinya ikut kamu Ra." jawab Hana
Nara mengangguk, lalu bertanya pada Sindi
"Kalau kamu?"
"Aku disuruh kuliah di Bogor sama orang tua aku Ra. Kita bakal pisah." ucap Sindi dengan wajah sedih
"Nggak papa kalaupun kita terpisah kita tetap sahabat." ucap Nara dengan bijak sambil memeluk Sindi. Hana pun ikut memeluk mereka.
"Makasih kalian." ucap Sindi dengan terharu
Setelah acara peluk pelukan selesai mereka pulang kerumah masing-masing.
__ADS_1
Saat ini Nara sudah pulang kerumahnya, namun belum smapai ia masuk suara ponselnya menghentikan langkahnya.
"Adnan? tumben ia telepon jam segini, udah lama juga ga ia tidak hubungin aku."
"Hallo Nan, apa kabar? kamu kok lama banget sih nggak ngehubungin aku." cecar Nara pada Adnan
"Hallo Ra aku baik, sorry Ra aku sibuk akhir-akhir ini." jawab Adnan
"Oke nggak papa. ada apa tumben telepon aku jam segini?" tanya Nara lagi
"Ra aku ada di Bandung, aku udah pulang karena udah lulus. Aku mau ketemu bisa?" ucap Adnan
"Bisa banget dong, kapan dan dimana?" jawab Nara
"Sekarang Ra, di kafetaria biasa ya." ucap Adnan
"Oke aku berangkat sekarang." jawab Nara
Lalu Nara keluar rumah lagi,ia memesan taksi online. Sampai di luar gerbang rumah Nara menunggu taksi yang ia pesan. Tidak lama kedian taksi yang ia pesan telah sampai, Nara membuka pintu mobil dan masuk. Didalam mobil Nara terlihat merenung, ia memikirkan apa yang akan Adnan sampaikan, karena ia merasa ada hal yang penting yang ingi Adnan sampaikan padanya.
Sesampainya ditempat tujuan Nara lalu memberikan uang oada sopir taksi dan turun dari mobil. ia lalu masuk kedalam kafetaria tempat ia dan Adnan janjian bertemu. Disana sudah Adnan yang menunggunya.
"Ra disini." panggil Adnan pada Nara sambil melambaikan tangannya
"Nan apa kabar?" tanya Nara pada sahabat sekaligus adik dari kekasihnya itu
"Aku baik, kamu?" tanya Adnan balik
" Aku yaa seperti yang kamu lihat. Hidup beberapa bulan tanpa kakak kamu rasanya berat banget tau nggak, aku sampe kehilangan berat badan aku." jawab Nara
"Iya sih kamu jadi lebih kurus sekarang." ucap Adnan smabil melihat Nara. Melihat Nara saat ini rasanya Adnan tidak tega untuk mengatakan maksudnya pada Nara.
"Nan ada apa, apa ada hal penting? biasanya kamu kalau pulang juga langsung kerumah aku atau ngajak kumpul bareng temen-temen lain. Kok sekarang beda, ada apa Nan? Apa ada masalah?" tanya Nara penasaran
"Mmmhh sebenarnya..." ucap Adnan ragu
"Sebenarnya apa Nan, bicara yang jelas." ucap Nara
"Ra sebelumnya aku minta maaf harus mengatakan ini. Ini masalah kak Axcel." ucap Adnan dengan hati-hati
Deg!! Jantung Nara serasa berhenti berdetak. Hal-hal negatif mulai muncul di pikirannya. Ia berfikir Axcel menghianatinya,makannya Axcel tidak mau menemuinya. Bahkan otaknya sampai berpikir kalau Axcel menghamili anak orang. Nara lalu menggelengkan kepalanya sendiri mencoba mengusir pikiran negatif itu jauh-jauh
"Ra jangan mikir yang aneh-aneh. Kak Axcel nggak ngehianatin kamu kok." ucap Adnan yang seolah tau isi dalam otak Nara
__ADS_1
Nara lalu menoleh pada Adnan, lalu ia memberanikan diri untuk bertanya meski hati sudah sangat tidak karuan.
"Ada apa dengan kak Axcel Nan?" tanya Nara dengan suar yang pelan dan tercekat di tenggorokan nya
"Ra maaf tapi aku benar-benar harus mengatakan ini. Kak Axcel dijodohkan sama papa dengan anak sahabat papa Ra, karena perjanjian papa dengan almarhum sahabatnya itu." ucap Adnan sambil melihat Nara, ia merasa sangat tidak tega kepada Nara. Tapi ia juga harus mengatakan ini. Ya, Adnan tidak sengaj mendengar percakapan kedua orang tuanyan tadi
Duarrr!!!
Bagai disambar petir disiang bolong. Tubuh Nara melemas seketika. Jantungnya berhenti berdetak. Bahkan hatinya hancur berkeping keping.
"Apa ini alasan kak Axcel tidak mau menemui aku?" tanya Nara pada Adnan dengan gemetar dan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Nggak Ra, kak Axcel belum tau tentang hal ini. Dia nggak bisa datang besok karena dia benar-benar ada ujian besok. Papa juga niatnya akan memberi tau kak Axcel seminggu lagi setelah kak Axcel selesai ujian nya." jawa Adnan
Nara hanya terdiam, air matanya sudah mengalir deras dipipinya, ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Semuanya telah hancur, dunianya seakan runtuh.
" Ra kalian punya waktu satu minggu untuk membatalkan perjodohan bodoh ini. Aku tau cinta kalian itu sangat besar dan kuat Ra. Bicarakan hal ini dengan kak Axcel. pertahankan hubungan kalian Ra. Aku benar-benar tidak rela kalau kalian sampai berpisah." ucap Adnan pada Nara
Nara tersenyum ketir di sela tangisnya.
"Bagaimana bisa aku mempertahankan sebuah hubungan, kalau pada akhirnya aku hanya menjaga jodoh orang Nan." jawab Nara pada Adnan
"Tapi Ra, aku yakin kak Axcel pasti punya jalan keluarnya, ini ujian untuk hubungan kalian Ra." ucap Adnan dengan yakin
"Apa, apa jalan keluarnya Nan? Kamu bahkan tau kalau papa kamu itu tidak bisa di tolak. Apalagi ini sebuah perjanjian dengan almarhum sahabatnya." ucap Nara prustasi
"Apapun itu kamu harus tetap membicarakan hal ini dengan kak Axcel Ra." ucap Adnan
" Iya, aku pulang duluan ya Adnan". ucap Nara pada Adnan
"Aku antar ya." ucap Adnan
" Nggak perlu Nan, aku mau sendiri." tolak Nara
"Tapi Ra" selah Adnan
"Please Nan biarkan aku sendiri dulu saat ini." ucap Nara dengan tatapan memohon pada Adnan
Adnan mengalah , ia menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati" ucap Adnan pada Nara
Tanpa berniat menjawab perkataan Adnan Nar melenggang pergi begitu saja, Adnan hanya bisa menatap kepergian Nara sampai Nara benar-benar menhilang dari pandangan nya.
__ADS_1