Takdir Cinta Pertama

Takdir Cinta Pertama
Cerita Cinta


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Hubungan Nara dan Axcel semakin dekat saja. Bahkan Nara sekarang sudah tak sungkan untuk menunjukkan sikap manjanya pada Axcel. Bukannya merasa risih Axcel justru merasa senang. Axcel ingin Nara bergantung padanya, agar ia tidak kehilangan Nara.


Hari ini Axcel mengajak Nara pergi kesebuah taman yang sering mereka kunjungi untuk menghabiskan waktu bersama. Nara dan Axcel saat ini berada di atas rumah pohon yang tersedia di sana, mereka duduk berdua menikmati indahnya suasana.


"Kak. Nggak nyangka ya hubungan kita akan sampai sejauh ini. Bahkan kita sudah bersama selama hampir tiga tahun." Ucap Nara pada Axcel


"Iya kamu benar Ra. Rasanya baru kemarin kakak ungkapin perasaan kakak ke kamu. Eeh taunya udah mau tiga tahun aja." Ujar Axcel


"Ra. Bisa nggak kamu berjanji pada kakak, kalau kamu nggak akan ninggalin kakak, jangan pernah lupain kakak." Pinta Axcel


"Kok kakak ngomong gitu kayak yang mau pergi jauh aja tau nggak." Ucap Nara merasa heran.


"Mungkin ini sedikit terdengar berlebihan. Tapi kakak benar-benar tidak bisa kehilangn kamu Ra. Ra please janji sama kakak kalaum kamu nggak akan pergi dari kakak." Pinta Axcel dengan menggenggam tangan Nara.


"Iya iya. Lagian aku nggak kemana-mana kok. Aku janji aku akan selalu mencintai kakak. Nggak akan pernah ninggalin kakak." Ucap Nara dengan yakin


"Walaupun kita harus terpisah?" Tanya Axcel


"Maksud kakak apa?" Nara balik tanya pada Axcel


"Bukannya barusan kakak bilang aku nggak boleh ninggalin kakak? Kok sekarang malah kakak yang mau ninggalin aku sih." Ujar Nara dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan air mata.


"Ra.. sebenarnya..." Jawab Axcel terhenti karna Nara lebih dulu memotong pembicaraan Axcel.


"Kakak jahat. Kakak mau ninggalin aku kan? Iya kan?" Tanya Nara pada Axcel sambil menangis, air mata yang tadi ia tahan kini sudah tak dapat terbendung lagi.


"Baby, hai. Jangan nangis gini dong. Maafin kakak. Bukan maksud kakak mau ninggalin kamu sayang." Ucap Axcel lembut sambil mengusap air mata Nara.


"Lalu apa hmmm? Kakak mau pergi kemana sih? Kakk tega mau ninggalin aku?" Tanya Nara dengan air mata yang semakin deras.


Dengan segera Axcel meraih tubuh Nara. Axcel mendekap tubuh Nara dengan sangat erat seoalah tidak ingin ada yang memisahkan mereka. Setelah Nara lebih tenang Axcel mulai mengatakan yang sebenarnya pada Nara.


"Sayang sebenarnya kakak harus melanjutkan pendidikan kakak ke Jakarta." Ucap Axcel pada Nara sambil mengusap punggung Nara yang masih ada dalam dekapannya.


"Maaf, maaf karena kakak baru bilang saat ini. Sebenarnya hal ini sudah dari dua minggu yang lalu. Tapi kakak bingung harus bagaimana mengatakan nya sama kamu. Kakak takut kamu akan marah dan nangis seperti sekarang ini." Ucap Axcel lagi


Nara melepaskan diri dari dekapan Axcel. Ia lalu menatap Axcel dengan tatapan sendu. Nara berpikir bahwa ia tidak boleh egios dengan menahan Axcel untuk pergi melanjutkan pendidikan nya.


"Kapan berangkat nya?" Tanya Nara pada Axcel dengan berat hati dan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Satu minggu lagi." Jawab Axcel dengan tidak tega.


"Kok cepet banget sih kak. Kenapa mendadak gini? " Tanya Nara yang tidak rela Axcel akan pergi dalam waktu dekat ini.


"Sekali lagi kakak minta maaf sayang." Ucap Axcel dengan lembut dan kembali menggenggam tangan Nara.


"Hmmm baiklah. Tapi dalam satu minggu ini kita harus menghabiskan waktu bersama. Titik nggak pake koma."


"Oke tuan putri. Tapi bentar, ini maksudnya kamu ngizinin kqkak pergi Ra?" Tanya Axcel


"Mau nggak mau aku harus iziinin kakak pergi. Walau berat, tapi aku nggak bisa egios dengan menahan kakak untuk pergi." Jawab Nara dengan raut wajah terlihat sangat sedih.


"Ra..." Axcel merasa tak enak hati


"Nggak papa kak. Aku akan baik-baik aja kok." Jawab Nara dengan menyembunyikan rasa pedih di hatinya.


"Tapi kakak yang akan ngga baik-baik aja Ra." Ucap Axcel dengan lesu.


"Kakak nggak boleh gitu. Ini cita-cita kakak. Kakak harus gapai itu. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada kak." Ucap Nara dwngan tegar dan dewasa.


Axcel merasa sangat kagum terhadap kekasihnya itu. Nara bisa berpikir sedewasa itu. Padahal tadinya Axcel berniat membatalkan keberangkatannya jika memang Nara tidak mengizinkan. Tapi yang ada Nara justru mendukungnya.


"Ra, padahal tadinya kakak akan batalin keberangkatan kakak jika kamu nggak setuju." Ucap Axcel


"Jangan kak. Kesempatan itu tidak datang dua kali. Jangan sampai kaka menyesal nantinya. Aku nggak papa kok, aku qkan selalu nunggu kakak disini." Jawab Nara meyakinkan Axcel. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sangat tidak rela Axcel pergi.

__ADS_1


Mendengar penuturan Nara Axcel senang sekaligus bangga, ia lalu menggemgam tangan Nara dan berkata


"Kakak janji kakak akan segera kembali. Tunggu kakak sayang. Kakak akan kembali lagi sama kamu. Kita akan sama-sama lagi." Axcel lalu mengecu tangan Nara dengan lembut dan tersenyum pada Nara.


"Iya kak, qku pasti akan selalu nunggu kakak pulang. Baik-baiklah disana, jaga kesehatan kakak, dan ingat, jangan sampe macem-macem sama perempuan lain" ucap Nara tegas dengan menunjukkan jari telunjuk kepada Axcel da menatapnya dengan tatapan mata yang tajam. Axcel yang melihat hal itu bukan takut malah tersenyum, Nara terlihat sangat menggemaskan dimata Axcel. Dan hal itu malah membuat Nara merasa heran.


"Kakak kok malah senyum sih. Aku serius loh ini." Ucap Nara dengan wajah serius


"Maaf, maaf sayang. Habisnya kamu tuh luci tau nggak. Rasanya kakak jadi benar-benar nggak rela deh ninggalin kamu. Kakak benar-benar takut kalau ada yang ngambil kamu dari kakak. Apalagi kakak bakal jauh dari kamu, kakak nggak akan bisa mantau kamu dari jarak dekat nanti" ucap Axcel dengan wajah yang tak kalah serius dan tatapan yang sendu.


Melihat hal itu, Nara lalu menggemgam tangan Axcel.


"Kak, kalau boleh jujur justru aku yang sangat takut kehilangan kakak. Kakak tau , aku sudah terbiasa dengan kehadiran kakak di sisi aku. Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya jika kakak jauh dari aku. Bahkan kakak juga tau sendiri kalau aku sekarang sangat bergantung pada kakak." Dengan terunduk Nara mulai menitikan air mata lagi.


"Sayang..." Ucap Axcel sambil mengangkat wajah Nara dan menghapus air matanya.


"Jangan nangis lagi, hati kakak sakit liat kamu seperti ini sayang." Ucap Axcel


"Entahlah kak, tapi aku merasa perpisahan ini akan sangat berat, dan aku merasa aku akan kehilangan kakak" dengan wajah sendu Nara menjawab.


"Nggak akan Ra. Kamu nggak akan pernah kehilangan kakak. Kakak janji ini hanya perpisahan sementara" ucap Axcel meyakinkan Nara.


"Iya kak" jawab Nara dengan memaksakan senyumnya.


Setelah membahas keberangkatan Axcel, mereka menghabiskan waktu di atas rumah pohon dengan duduk berdua menikmati indahnya suasana. Nara menyandar kan kepalanya pada bahu Axcel, dan Axcel dengan setia mengusap punggung Nara.


Sesuai janjinya pada Nara, Axcel akan mengahbiskan waktu satu minggu ini dengan Nara. Seperti hari ini Axcel mengajak Nara kesebuah pameran atau pasar malam. Dengan antusias Nara berjalan mendahului Axcil sambil berlari-lari kecil dengan mata yang berbinar. Axcel hanya menggelengkan kepala merasa lucu melihat tingkah Nara.


Axcel lalu menghampiri Nara. Melihat Axcel menghampirinya Nara tersenyum dan berbalik kepada Axcel, dengan sedikit berlari menghampiri Axcel Nara memeluk Axcel.


"Makasih ya kak, kakak udah ajak aku ke sini. Aku seneng banget tau nggak. Dari dulu aku ingin ke tempat ini. Tapi baru kesampaian sekarang. Makasih" ucap Nara sambil tersenyum dan memeluk Axcel sekali lagi.


"Kamu bahagia banget ya Ra kakak ajak kesini?" Tanya Axcel.


"Iya, bahagiaaa banget" jawab Nara lalu Nara kembali memeluk Axcel.


Nara dan Axcel mengelilingi tempat tersebut, mencoba berbagai wahana yang ada disana.


" Kak, Nara boleh minta sesuatu nggak?" Tanya Nara dengan ragu.


"Tentu bolehlah. Kamu mau apa hemm?" Jawab Axcel lalu bertanya lagi.


"Aku mau permen kapas, boleh?" ucap Nara pada Axcel dengan mengatupkan tangannya dan mata yang berbinar.


Dimata Axcel Nara terlihat sangat menggemaskan, sampai Axcel mencubit pipi Nara.


"Gemesin banget sih kamu.. pacar siapa sihh hemm.." ucap Axcel pada Nara.


"Iiisshh kakak kebiasaan deh. Gimana boleh nggak?" Nara bertanya lagi.


" Iyaa, tentu boleh, tapi jangan banyak-banyak ya" ucap Axcel pada Nara.


"Iya kak, makasih" ucap Nara sambil memeluk Axcel.


Lagi-lagi Nara membuat Axcel sport jantung.


Setelah selesai menaiki wahana dan jalan-jalan, kini Nara dan Axcel duduk di sebuah bangku di taman yang ada di tempat tersebut.


"Ra, kakak boleh minjem tangan kamu nggak?" Tanya Axcel pada Nara.


"Mau ngapain sama tangan aku kak?" Nara balik tanya.


"Udah siniin aja tangnnya." Jawab Axcel


Nara lalu memberikan tangan nya, ia menatap Axcel dengan penuh tanya.


Axcel lalu menyeatkan sebuah cincin yang indah di tangan Nara.

__ADS_1


"Cincin?" Ucap Nara heran.


"Iya, cincin yang indah untuk perempuan yang cantik." Jawab Axcel, lalu Axcel mencium tangan Nara dengan lembut.


"Cincin ini sengaja kakak pakaikan ke kamu untuk mengikat kamu, supaya nggak yang ngambil kamu dari kakak. Nanti setelah urusan kakak selesai kakak akan meresmikan hubungan kita dan melamar kamu" ucap Axcel dengan tulus.


Nara sangat terharu dengan yang Axcel lakukan. Air matanya lolos begitu saja. Lalu ia buru-buru mengusapnya, tapi air mata itu kembali jatuh.


"Hai kok malah nangis sih?" Tanya Axcel


"Jangan nangis dong. Kamu kan tau kakak nggak suka liat air mata kamu jatuh" ucap Axcel sambil mengusap air mata Nara.


"Maaf, tapi aku benar-benar terharu kak. Makasih" ucap Nara lalu memeluk Axcel.


"Iya sama-sama sayang" ucap Axcel sambil mengecup kening Nara.


Nara memejamkan matanya menikmati kecupan yang di berikan Axcel.


"Udah malem kita pulang yuk." Ajak Axcel pada Nara.


"Iya kak." Jawab Nara.


Akhirnya mereka berdua pulang dengan menaiki moto sport milik Axcel.


Sesampainya nya di rumah Nara, ia bertanya pada Axcel


" Kak, besok berangkat jam berapa? Aku bolehkan anterin kaka? Tanya Nara.


" Nggak perlu, besok kakak berangkatnya naik motor ini Ra. Dan lagi besok sebelum berangkat kakak mampir dulu kesini, sekalian pamitan sama orang tua kamu" jawab Axcel.


Ya memang kedua orang tua Nara sudah mengetahui hubungan mereka, dan orang tua Nara merestuinya.


"Ya udah kalau gitu aku masuk ya" ucap Mara pada Axcel.


" Iya langsung tidur. Jangan bergadang" jawab Axcel.


"Dahh kak" Nara melambaikan tangan nya.


Axcel tersenyum dan melambaikan tangan pada Nara lalu ia pun pergi.


Sesampainya didalam rumah senyum Nara terus mengembang tanpa henti, Nara juga terus menatap cincin yang tersemat di jari manisnya, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada yang menatapnya sambil tersenyum.


"Cieee.. cieee.. ada yang udah di lamar nih. Kapan di resmikan nya?" Tanya mamah Nara.


"Ya ampun mah. Mamah ngagetin tau nggak" ucap Nara sambil mengusap dada nya.


"Kamu ini, nggak sadar ya kalau mamah dari tadi ada disini hemm?" Tanya mamah Nara sambil menjitak kening Nara.


"Haiss... Mamah sakit tau" rengek Nara.


"Dasar gitu aja bilang sakit, serius Ra, mamah tanya kapan Axcel mau meresmikan hubungan kalian?" Tanya mamah Nara lagi.


"Nanti mah, sekarang kak Axcel harus menyelesaikan pendidikan nya dulu ke Jakarta, besok pagi berangkatnya" jawab Nara.


"Jadi kamu sama Axcel bakal menjalani hubungan jarak dong Ra?" Tanya mamah Nara.


"Iya mah," jawab Nara singkat


"Mamah cuma mau bilang, hubungan jarak jauh itu berat Ra. Banyak ujiannya. Jarang ada yang berhasil" ucap mamah Nara.


"Mamah kok ngomong gitu sih mah. Jangan nakut-nakutin Nara dong mah, ini aja Nara susah banget loh mau ngelepas kak Axcel pergi" ucap Nara dengan wajah sedih.


"Mamah bukan mau nakut-nakutin kamu sayang, tapi ini kenyataannya. Udah sekarang mending kamu masuk kamar bersih-bersih dan istirahat, gih cepetan" suruh mamah Nara.


"Iya mah" jawab Nara ia melenggang pergi dengan langkah gontai.


Mamah Nara hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya itu.

__ADS_1


Didalam kamar Nara meningat perkataan mamah nya tadi. Memang benar Nara merasa bahwa perpisahanya dengan Axcel akan menjadi perpisahan yang sangat panjang. Entah karena sebuah firasat atau karena Nara yang berlebihan , karena selama tiga tahun ini dia tidak pernah jauh dari Axcel.


__ADS_2