Takdir Cinta Pertama

Takdir Cinta Pertama
Akhir dari Segalanya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang air mata Nara tidak berhenti mengalir. Nara juga terus membayangkan bagaimana nasib hubungannya dengan Axcel. Nara terus berpikir apakah dia akan sanggup hidup tanpa Axcel sedangkan sekarang saja baru beberapa bulan tanpa Axcel dia sudah hampir kelabakan. Bagaimana nanti jika ia benar-benar berpisah dengan Axcel. Apalagi jika harus melihat Axcel hidup dengan wanita lain, apa yang akan terjadi dengan hidupnya nanti.


Tidak, Nara tidak ingin kehilangan Axcel. Axcel segalanya bagi Nara. Tapai apa, apa yang harus Nara lakukan untuk mempertahankan Axcel tetap disisinya. Pikiran Nara benar-benar buntu. Bahkan rasanya Nara sudah tak punya semangat hidup lagi.


Ketika sampai di rumah dengan langkah gontai Nara masuk kedalam kamarnya. ia langsung terduduk lemas dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.


"Kenapa tuhan, kenapa harus aku yang mengalami semua ini?" keluh Nara dengan sangat pilu.


"Kenapa kau tega kepada ku, kenapaa?" Nara terus menangis.


Tok Tok Tok..


terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Nara.


"Ra.. sayang kamu kenapa?" Tanya Mama Nara dari luar kamar Nara.


Nara lalu membuka pintu, Mama Nara sangat syok melihat putri nya yang sembab dan berantakan.


"Sayang kamu kenapa hemmm?" tanya Mama Nara khawatir.


"Ma... Kenapa tuhan tidak adil pada Nara mah." ucap Nara sambil sesenggukan dengan air mata yang mengalir deras Nara lalu memeluk Mama nya.


"Sayang nggak boleh bicara seperti itu nak. Tuhan itu maha adil sayang." ucap Mama Nara sambil mengusap punggung Nara.


"Tapi kenapa, kenapa tuhan tidak mengizinkan Nara bersatu dengan ka Axcel mah, Mama tau, kak Axcel mau di jodohin mah. Nara harus gimana mah. Nara nggak bisa tanpa kak Axcel." ucap Nara dengan sangat pilu.


"Kenapa harus di jodohkan, bukannya orang tua Axcel tau hubungan kalian?" tanya Mama Nara dan di jawab dengan anggukan oleh Nara yang sedang dalam pelukan ibu nya.


"Dengerin mamah sayang. Sekuat apapun kamu menahan, sekeras apapun kamu berjuang, jika tidak di takdirkan maka tidak akan pernah bersama. Jika memang Axcel bukan jodoh kamu ya kamu terima Ra. Tapi jika dia jodoh kamu meskipun kalian terpisah dengan sebuah pernikahan sekalipun, pada akhirnya kalian tetap akan bersama. Percaya sama mamah." ucap Mama Nara memberi wejangan pada Nara.


"Tapi mah, Nara nggak bisa bayangin gimana nanti kalau Nara benar-benar harus berpisah dengan kak Axcel mah." ucap nara dengan tangisan yang terdengar mengiris hati.


"Nara... Sayang dengerin mama nak, tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Tuhan berikan ujian ini pada kamu karena tuhan tau kamu kuat. Kalau pun kamu tidak berjodoh dengan Axcel tuhan pasti ganti dengan yang lebih baik. Tapi kalau memang kalian berjodoh ini mungkin ujian untuk kekuatan cinta kalian." ucap Mama Nara lagi.


"Terus sekarang Nara harus gimana mah?" tanya Nara dengan terisak.

__ADS_1


"Kamu bicarakan hal ini baik-baik sama Axcel, cari jalan keluarnya berdua. Kalau pun pada akhirnya kalian harus terpisah kamu harus berlapang dada menerimanya sayang, yaah" ucap Mama Nara sambil mengusap rambut Nara dengan lembut.


" Iya mah" jawab Nara singkat.


"Yaudah sekarang kamu istirahat gih, kamu kelihatan lelah banget." ucap Mama Nara dan di jawab anggukan oleh Nara.


Nara lalu masuk kedalam kamar mandi, ia mencuci muka dan berdiri di depan cermin. Bayangan demi bayangan kenangannya bersama dengan Axcel terlintas di pikiran Nara. Nara kembali menitikan air matanya.


"Maaf kak, tapi aku harus melakukan ini. Aku tidak ingin sakit lebih dalam lagi, apalagi jika harus melihat kakak menikah dengan orang lain. Lebih baik aku akhiri saja sekarang. Dengan begitu, kakak juga bisa melupakan aku. Maaf kak, maafkan aku" ucap Nara yang masih bercermin dan menangis didepan cermin.


Nara lalu keluar kamar mandi, kebetulan sekali ponselnya berbunyi dan itu karena Axcel menghubunginya. Sekarang keputusan Nara sudah bulat di ia akan mengakhiri hubungannya dengan Axcel tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Axcel. Karena ia berpikir percuma saja membicarakan nya dengan Axcel, karen pada akhirnya semua tetap akan berakhir dengan Axcel yang menikahi perempuan pilihan orang tuanya.


Dengan berat hati Nara mengangkat telepon dari Axcel.


"Hallo sayang" ucap Axcel.


Nara tidak menjawab, baru mendengar suara Axcel saja sudah membuatnya kalut. Sekuat tenaga Nara menahan isak tangisnya.


"Sayang, kamu dengar kakak kan?" tanya Axcel disebrang sana karena Nara tidak juga bersuara.


"Sayang" ucap Axcel lagi.


"Kamu kenapa sayang, kamu sakit?" tanya Axcel khawatir.


"Tidak kak, hanya sedikit tidak enak badan saja" ucap Nara pada Axcel.


"Kamu sakit apa sayang, udah minum obat, atau perlu kedokter biar Adnan yang antar kamu..." ucap Axcel terpotong oleh Nara.


" Aku nggak papa kak ngga usah khawatir" ucap Nara singkat.


"Sayang kamu sebenarnya kenapa, kok nada bicara kamu beda?" tanya Axcel karena tidak biasanya Nara seperti sekarang ini.


"Kak aku mau bicara tapi kakak jangan potong perkataan aku ya" ucap Nara dengan suara sedikit bergetar.


"Sayang kamu kenapa hemmm.. Jangan buat kakak khawatir."

__ADS_1


Nara tidak menjawab, karena sekarang air mata nya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Mendengar kekhawatiran Axcel padanya membuat Nara tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Tapi keputusan Nara sudah sangat bulat.


Nara mengambil mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya.


"Raa... jawab kakak" ucap Axcel disebrang sana.


Lama hening, lau Nara menjawab


" Aku mau kita akhiri hubungan ini kak" ucap Nara dengan suara yang bergetar.


"Apa! kamu jangan bercanda Ra. Sampai kapan pun kakak tidak akan pernah mengakhiri hubungan kita. Tidak akan pernah" ucap Axcel dengan suara yang sedikit meninggi.


" Kaak, please... aku serius kak" ucap Nara dengan terisak.


"Ngga Ra kamu bercanda kan, hah? Oke, kakak minta maaf karena kakak nggak bisa hadir besok di acara kelulusan kamu. Tapi nggak harus berpisah juga Ra" ucap Axcel dengan nafas yang sesak. Dadanya terasa terhimpit batu besar saat Nara mengatakan ingin berpisah darinya.


"Tapi kita harus berpisah kak, percuma kita bersama kalau akhirnya kita tak akan bisa sama-sama" ucap Nara sambil menangis.


"Nggak. Sampai kapan pun kamu milik kakak. nggak akan ada yang bisa milikin kamu selain kakak. Kamu ngga bisa mengakhiri hubungan ini secara sepihak Ra. Kakak nggak akan pernah terima selamanya nggak akan pernah." ucap Axcel denagn nada suara yang tinggi.


"Terserah. Tapi aku mau kita tetap berpisah kak." ucap Nara keuekeuh.


"Ra. Sekarang jelaskan sama kakak apa alasan kamu mau mengakhiri semuanya, jelaskan Ra. Bukannya kamu juga cinta sama kakak, kamu bahkan sudah berjanji untuk nunggu kakak pulang Ra, tapi kenapa sekarang seperti ini..." ucap Axcel tidak terima Nara memutuskan hubungan mereka.


"Percuma kak, percuma aku bialang apa alasannya. Karena kalau pun kakak tau, itu tidak akan bisa merubah apapun. Keputusan ku sudah bulat kak . Aku ingin kita putus" jawab Nara.


"Ra please jangan kayak gini kakak mohon Ra. Kamu tau kan segimana cintanya kakak sama kamu Ra. Kakak mohon Ra tolong jangan akhiri semuanya begitu saja. Kakak nggak bisa tanpa kamu Ra..." ucap Axcel dengan sangat prustasi.


" Maaf kak tapi aku harus melakukan ini, ini juga demi kebaikan kakak" ucap Nara dengan terisak.


" Kebaikan, kebaikan apa yang kamu maksud Ra. Kebahagiaan kakak itu cuma kamu Ra. Kakak mohon jangan seperti ini" pinta Axcel pada Nara dengan suara serak karena Axcel juga menangis.


"Maaf kak" ucap Nara lalu Nara mematikan teleponnya.


"Nggak Ra. Ra . Hallo Ra.. Nara.. Hallo.." ucap Axcel disebrang sana.

__ADS_1


Nara menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua kesedihan nya. Hubungan dengan Axcel harus kandas ditengah jalan. Sebenarnya Nara juga sama dengan Axcel Nara menderita Nara tidak sanggup berpisah dari Axcel. Tapi apa boleh buat, keputusan ini memang haru Nara ambil.


Axcel kembali menguhubungi Nara tapi Nara tolak. Sekarang bahkan Nara memblokir nomor Axcel dari ponselnya.


__ADS_2