
Saat ini Nara benar-benar merasa hancur. Keputusan yang ia pilih serasa malah menjadi bumerang bagi hidupnya. Nara benar-benar tidak bisa melupakan Axcel. Waktu tiga tahun bersama Axcel bukanlah waktu yang sebentar bagi Nara. Apalagi Nara yang baru pertama kali mengenal cinta harus menelan pil pahit dari kutukan cinta pertama yang memang sangat jarang ada yang berakhir dengan bahagia. Hanya orang-orang yang beruntunglah yang bisa berakhir behagia dengan cinta pertamanya di dunia ini. Apakah Nara tersmasuk orang itu? Jawabannya tidak menurut Nara. Karena sekarang saja cintanya bahkan sudah harus berakhir.
Di tempat lalin tepatnya di rumah keluarga Axcel, Adnan adik Axcel datang menghampiri Mama dan Papanya yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Mah, Pah, aku ingin kuliah disini. Aku nggak mau kuliah di Bogor Mah" Adnan mengutarakan keinginannya untuk kuliah di Bandung di tempatnya.
"Nggak bisa Nan, kau harus tetap kuliah di Bogor. Kalau kau kuliah disini siapa yang akan menjaga nenek mu disana" jawaban tegas itu di berikan oleh Papanya.
"Pah selama ini aku selalu nurutin kemauan Papa. Sekarang sekali saja Papa turutin kemauan aku Pah" ucap Adnan pada Papanya itu.
"Adnan apa alasan kamu ingin kuliah disini hah? Tanya Papa Adnan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Aku ingin menjaga Nara" ucap Adnan.
"Hanya karna itu, kamu bahkan tidak mau menjaga nemek mu hanya karena Nara?" Tanya Papa Adnan dengan nada bisa yang tinggi.
"Pah sudah biarkan Adnan kuliah disini. Dia berhak memilih pah" ucap Mama Adnan menengahi.
"Tapi mah alasannya tidak masuk akal" ucap Papa Adnan lagi.
"Pah Adnan ingin menjaga Nara juga karena Papa" ucap Adnan.
" Apa maksudmu nak?" Tanya Mama Adnan dengan suara yang lembut.
" Ya aku ingin menjaga Nara karena aku tau Nara akan benar-benar hancur setelah berpisah dengan kak Axcel. Papa yang memisahkan mereka berdua. Papa padahal tau bagaimana cintanya kak Axcel sama Nara, begitupun sebaliknya. Tapi papa dengan tega malah menjodohkan kak Axcel dengan orang lain. Papa pikir hidup mereka berdua akan baik-baik saja setelah mereka berdua berpisah?" Ucap Adnan paniang lebar pada orang tuanya.
"Adnan jadi kamu sudah tau mengenai perjodohan kakak mu ini?" Tanya Mama Adnan.
"Sudah, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama sama Papa waktu itu. Jadi aku mohon tolong biarkan aku kuliah disini dan menjaga Nara. Karena aku tau hidup Nara tidak akan baik-baik saja setelah ini" ucap Adnan pada kedua orangtuanya.
"Apa Nara juga sudah mengetahui hal ini?" Tanya Mama Adnan lagi.
"Ya mah, Nara sudah tau" jawab Adnan.
"Ya sudah nak, kamu boleh kuliah disini. Dan tolong jaga Nara, Mama sangat menyayangi Nara, dia pasti hancur sekarang" pinta Mama pada Adnan.
"Mah kenapa Mama malah menyetujui nya, lalu bagaimana dengan ibu Mah?" Tanya Papa.
__ADS_1
"Pah biarkan saja Adnan kuliah disini. Adnan benar pah hidup mereka berdua tidak akan baik-baik saja setelah ini. Axcel laki-laki dan sudah dewasa dia pasti bisa menyikapi walau akan sedikit ada perubahan signifikan pada hidup Axcel. Tapi Nara, dia bahkan masih terlalu muda untuk menerima kenyataan pahit ini. Dan lagi Mama benar-benar merasa bersalah pada Nara Pa, kita yang sudah memisahkan mereka berdua. Jadi Mama mohon pada Papa biarkan Adnan kuliah disini" ucap Mama Adnan.
"Ya sudah kamu boleh kuliah disini, Mama kamu benar. Sebenarnya bukan maksud Papa untuk membuat hidup mereka berdua hancur. Tapi mau bagaimana lagi Papa sudah terlanjur janji" ucap Papa Adnan yang akhirnya mengalah dan menyetujui keinginan Adnan.
Kembali ke Nara.
Dua minggu sudah dia lewati dengan sangat berat. Bahkan dalam dua minggu ini berat badan Nara berkurang karena Nara yang tidak mau makan. Hari ini Nara datang ke kampus untuk melakukan pendaftaran ulang. Dia kuliah di universitas Padjadjaran Bandung mengambil jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Nara berjalan sambil menunduk karena fokus pada novel yang ia baca di handphone nya, tanpa mengetahui jika di depannya juga ada orang yang sedang terburu-buru jalan berlawanan dengan nya.
Bruukk.
Nara bertabrakan dengan Adnan, ya orang itu adalah Adnan.
"Nara"
"Adnan" ucap Nara dan Adnan berbarengan.
"Kamu kuliah disini juga Nan?" Tanya Nara pada Adnan.
"Iya aku kuliah disini" jawab Adnan.
"Kok nggak cerita dari awal sih kalau kuliah disini juga" ucap Nara.
"Iiihh ya enggak lah, aku seneng banget tau.. Tapi sayang teman kita yang lain nggak disini juga." Ucap Nara dengan raut wajah yang sedih.
"Kata siapa, Tino kuliah disini juga kok. Dia sama kayak aku, ngambil jurusan sastra Inggris" ucap Adnan.
"Wahh, kamu serius? " Tanya Nara dengan antusias.
"Iya, dan bukannya Hana juga disini ya, satu jurusan sama kamu?" Adnan menjawab dan balik tanya.
"Iya Hana juga disini" jawab Nara.
"Ra kamu kok makin kurus aja, dan wajah kamu juga tidak secarah biasanya, terakhir ketemu bahkan kamu tidak sekurus sekarang. Apa yang terjadi Ra?" Tanya Adnan khawatir.
Sebelum menjawab Nara melangkah dan duduk di kursi yang ada di lorong kampus tersebut.
"Hubungan aku dan Kak Axcel sudah berakhir Nan" ucap Nara dengan sangat pilu bahkan air matanya sudah menetes.
__ADS_1
"Ra jadi kalian memilih berpisah?" Tanya Adnan.
"Lebih tepatnya aku yang mengakhiri hubungan ku dengan kak Axcel Nan" ucap Nara dengan tatapan kosong dan air mata yang menaglir deras di pipinya.
Adnan lalu menarik bahu Nara untuk menhadapnya.
"Aku tau ini berat buat kamu, tapi aku yakin kamu kuat Ra" ucap Adnan lalu dia menghapus air mata Nara.
Nara menyandar kan kepalanya pada bahu Adnan.
"Tidak Nan aku tidak sekuat itu. Aku bahkanerasa kalau dunia ku telah berakhir" Nara mencurahkan isi hati nya pada Adnan dengan tangis pilu membuat Adnan ikut sedih.
"Kamu pasti bisa Nara, aku akan selalu ada di samping kamu, kamu tenang saja kamu tidak sendiri melewati semua ini" Adnan menenangkan Nara sambil mengusap punggung Nara.
"Makasih Nan, kamu sudah ada di samping aku saat aku seperti ini" ucap Nara.
"Aku sahabatmu Ra. Sudah seharusnya aku ada buat kamu" jawab Adnan.
Drrttt drrrttt...
Handphone Adnan berbunyi, lalu dia mengangkat nya.
"Hallo mah, ya ampun iya Adnan lupa. Adnan kesana sekarang ya mah. Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang" ucap Adnan pada orang yang sedang menlponnya di sebrang sana.
"Nan, siapa yang sakit?" Tanya Nara yang juga ikut khawatir.
" Kak Axcel Ra. Dia di temukan pingsan di apartemen nya, dan sekarang aku harus ke Jakarta nyusulin Mama sama Papa kesana. Aku lupa tadi aku buru-buru karena ini" jawab Adnan.
"Kak Axcel kenapa?" Wajah khawatir Nara sudah tidak bisa di sembunyikan lagi, apalagi ini yang masuk rumah sakit adalah orang yang ia cintai.
"Ntahlah, aku belum tau pasti. Apa kamu mau ikut kesana?" Tanya Adnan pada Nara.
"Aku belum siap Nan, aku belum siap untuk bertemu kak Axcel lagi" ucap Nara dengan tatapan mata yang masih kosong dan menatap lurus kedepan.
"Ya sudah aku mengerti Ra, walaupun sebenarnya kehadiran kamu akan sangat dinantikan kak Axcel. Kalau begitu aku pergi ya, kamu lanjut aja, mau daftar ulangkan?" Ucap Adnan dan bertanya pada Nara.
Nara hanya mengangguk.
__ADS_1
"Aku pergi Ra" Adnan meninggalkan Nara yang masih duduk termenung dengan tatapan mata yang kosong.
"Maaf kak, saat kakak seperti ini pun aku tak bisa menemui kakak, maaf jika aku egois. Aku hanya sedang membentengi hatiku kak. Akan semakin berat untuk aku melupakan kamu jika hari ini aku menemui mu kak. Maaf" ucap Nara dalam hati. Lalu Nara melangkah pergi melanjutkan tujuan awalnya datang kekampus.