
Dikota Bt,tiga orang pria tampan memakai pakaian gunung,mereka tidak sedang pendakian,mereka justru sedang bekerja.naik mobil offroad menuju perbukitan,mereka adalah Ibra, Reyhan dan Bian.Ya,Ibra dan Reyhan sudah ketemuan dengan bapak Bian,mereka melihat lahan kosong yang bahkan masih hutan belantara.Lahan itu ada diatas perbukitan, memang sangat luas, karena daerah ini belum begitu padat penduduk seperti di kota besar.
setelah agak lama berkeliling menindai perbukitan itu,mereka rehat dibawah pohon.
"berapa luas hutan ini pak bian"tanya ibra
"bukit ini luasnya hampir 50 hektar pak tapi sama lerengnya,gimana apa bapak berminat,kami berharap setelah ini jadi perkebunan, semoga tercipta lapangan kerja untuk penduduk disini"kata pak bian
"saya menyukai lahan ini, tapi saya tidak berani ambil resiko pak"kata Ibra dengan tampangnya yang keliatan agak berat untuk membelinya.
"kenapa pak Ibra,resiko bagaimana maksudnya? "tanya pak bian
"begini pak, saya kuatirnya bukan lapangan kerja yang tercipta tapi bencana alam yang terjadi, ini daerah dataran tinggi,sepintar-pintarnya manusia berusaha membuat keseimbangan saat dia membangun, tetap saja tidak akan sama dengan keseimbangan pahatan Allah yang maha tahu segala sesuatu"jelas Ibra.
"jika bapak punya lahan lain yang di daerah dataran rendah, namun bukan didekat bukit,saya insya Allah mau"tambah Ibra lagi
"jadi pak Ibra gak berminat dengan lahan ini pak? "tanya pak Bian
"maafkan saya pak, tapi saya takut membahayakan kalian hanya karena keegoisan saya,buat apa untung banyak tapi menyakiti orang"jawab ibra
"baiklah kalo begitu pak Ibra, saya tidak bisa memaksa"kata pak Bian yang terlihat agak kecewa.
"saya harap bapak tidak menjual tanah itu ke pengusaha lain pak, saya insya Allah mampu membayarnya,saya hanya memikirkan warga di daerah sini,tapi kalo ada lahan lain yang lebih baik kenapa tidak.Jika ada yang mau membeli untuk di tebang hutannya lalu dijadikan usaha,katakan kepada saya"kata ibra
"baiklah pak Ibra, saya mengerti maksud bapak, saya akan mencarikan lahan yang sesuai dengan keinginan bapak, terimakasih sudah peduli dengan kami, saya tidak menyangka masih ada orang seperti bapak".jawab pak Bian
"jangan berlebihan pak Bian, saya tidak sebaik itu, saya hanya tidak mau saja daerah ini seperti kota-kota besar lainnya, bangunan mencakar langit, tapi bencana mengitarinya."jelas Ibra dengan penuh kerendahan hati.
"baiklah,mari pak Ibra kita kembali ini udah hampir sore"kata pak Bian
"baiklah mari"jawab Ibra.
Akhirnya merekapun kembali ke kantor pemda, tempat mereka memarkirkan kendaraan mereka. mereka tidak membawa kendaraan pribadi saat ke perbukitan itu, tapi naik
mobil offroad yang memang disediakan pemda setempat.
setelah nyampe pemda, Ibra dan Reyhan pun langsung izin ke mushola dulu,baru setelah selesai sholat mereka pamit,mereka ingat kalo mereka harus cepat membawa Zizah dan anaknya.
"Rey,kita langsung kerumah sakit ya! "pinta Ibra
"siap bro" jawab Rey
merekapun berangkat ke rumah sakit.
20 menit kemudian, mereka sampai,dan langsung menuju ruang rawat Zizah.
"Assalamu'alaikum "ucap Ibra dan Rey berbarengan.
"wa'alaikumus salam"jawab pak Kasto,bu Ratna dan A2 berbarengan juga.
"masuk nak"jawab bu Ratna
"emang gak pa pa kalo rame-rame di dalam bu?"tanya Ibra
untungnya diruang itu hanya ada azizah yang dirawat, yang dua lainnya kosong.
"ibu sama bapak aja yang keluar dulu nak"jawab bu Ratna
ia ingin memberikan kesempatan pada menantu dan anaknya, walaupun anaknya belum juga sadar.
"baiklah bu,terimakasih"jawab Ibra
"Ib, saya keluar ya"kata Rey
"kamu gak mau ikut kedalem?"tanya ibra
"gak ah, siapa tau ada yang mau sayang-sayangan,hihi"jawab Rey cengengesan.
"Oh iya, saya lupa, kamu masih punya utang penjelasan ama saya ib,masalah pernikahan kemarin"kata Rey lagi
"iya nanti sampe kota J baru saya jelasin"jawab Ibra sambil nyelonong masuk ke ruang rawat zizah.
"om"panggil A2 berbarengan sambil mengulurkan tangan mau salim
"iya jagoan,gimana hari ini? "jawab Ibra mengulurkan tangannya juga sembari ngelus kepala A2 secara gantian
"Alhamdulillah om, seperti yang om liat"jawab Aska
"mulai sekarang panggil om dengan abi aja ya"kata Ibra
"tapi om... "belum selesai ucapan A2,ibra udah memotongnya.
"om udah menikahi bunda kalian, jadi tidak ada salahnya kalo kalian panggil om abi"jelas ibra
"baiklah om, eh abi"kata A2 gugup tapi gak mau banyak membantah.
__ADS_1
gak lama terdengar panggilan dari luar
"Aska..,Afsa...ayo ikut nenek "panggil bu Ratna
"iya nek"jawab A2 berbarengan.lalu mereka menatap ibra,seolah minta persetujuan,dan Ibra menganggukan kepalanya seolah memahami apa yang ada dibenak A2.
setelah A2 keluar, tinggallah Ibra sendiri yang menemani Azizah, ia mengelus kepala Zizah yang tertutup kerudung.
"cepatlah sadar Zah, agar saya bisa bawa kamu segera dari desa T itu"ucapnya
dia pandang wajah azizah yang seperti orang tertidur pulas.
"saya tidak tau apa keputusan saya menikahi kamu ini benar Zah, tapi setidaknya saya punya niat baik untuk bertanggung jawab menolongmu sebagai sesama makhluk Allah dan sebagai sesama muslim" batinnya
Ia terus menatap azizah tapi pikirannya kemana-mana.
dan saat Ia masih seperti itu, Azizah justru tersadar dari tidurnya yang hampir dua hari itu.
"saya dimana? "tanya Zizah,matanya masih terlihat menyesuaikan dengan pencahayaan diruangan itu.
"Astaghfirullah,ka..kamu sudah sadar"jawab Ibra kaget dan tiba-tiba merasa gugup saat tatapan matanya bertemu dengn tatapan Azizah yang masih agak sayu.
"ka... kamu siapa? "Zizah gak kalah kaget saat ia sudah sadar sepenuhnya."ini dimana? "tanyanya lagi
"saya Ibra, kamu dirumah sakit"jawab Ibra yang sudah bisa menguasai diri dari kegugupannya tadi.
"kenapa hanya kita berdua disini ? ini tidak benar, saya tidak mengenalmu,ini bisa menimbulkan fitnah"ucap Azizah panik, ia sudah benar-benar trauma dengan yang namanya Fitnah.
"Tenanglah Zah, ini tidak akan jadi fitnah, saya akan jelaskan semuanya ke kamu" jelas ibra
"bagaimana gak jadi fitnah,kita berdua bukan muhrim berada dalam satu ruangan,maaf tuan, kamu yang keluar atau saya yang keluar"kata Azizah ngotot sambil berusaha turun dari ranjang rumah sakit dan berusaha menahan nyeri yang masih sangat terasa di sekujur tubuhnya.ia hanya berpikir,dia gak kenal, bagaimana bisa orang asing jadi muhrim, itu mustahil kecuali hubungan pernikahan, sedangkan dia belum menikah dengan pria itu.
melihat Azizah mau turun, Ibra langsung menahannya.
"tenanglah dulu, saya akan jelaskan semuanya, saya mohon Zizah,saya juga tau hukum agama kita insya Allah"kata Ibra berusaha menahan Azizah.
mendengar permohonan Ibra Azizah berusaha tenang,dan menarik lengannya dari tangan Ibra.
"Astaghfirulla,,,aaghh,,,,maaf tolong jangan sentuh saya,ini sakit sekali,baiklah saya akan mendengarkan" kata Zizah, berusaha menuruti permintaan Ibra dengan meringis, dan kelihatan sekali kegugupan dan kekuatirannya.dia terus melihat keluar, dia benar-benar trauma.
"maaf saya lupa"kata Ibra sambil melepas tangannya dari lengan Zizah. lalu Ibra menarik kursi yang disediakan rumah sakit, ia duduk menghadap Zizah,namun tetap ada jarak, ia tau Azizah ketakutan.
"Zizah,kita sudah suami istri, ini buku nikahnya"jelas Ibra sambil ngeluarin 2 buku nikah dari sling bag nya.
"bagaimana bisa tuan? saya bahkan tidak ingat apapun, yang saya ingat terakhir,saat saya di cambuk di tiang pancang."jawab Zizah
"saat kamu tidak sadar,warga meminta kamu segera pergi dari desa T, jika tidak kamu akan dihukum cambuk sampai mati.saya minta waktu 2 hari sama mereka untuk menyelesaikan pekerjaan saya di daerah sini, saya janji akan membawamu dan A2. dan karena kita bukan muhrim, saya putuskan melamar kamu ke bapak, agar leluasa membawa dan mengurus kamu apabila dalam 2 hari kamu tidak sadar."jelas Ibra panjang lebar. "tapi syukurlah kamu sudah sadar, maaf kalo saya mengambil keputusan tanpa melibatkan kamu, saya tidak kepikiran cara lain".kata Ibra lagi.
mendengar penjelasan Ibra, Zizah jadi kaget, tapi juga merasa bersalah.
"maafkan saya tuan, demi menolong saya,tuan harus mengorbankan status tuan untuk seorang janda seperti saya"ucap Zizah.
"jika nanti sampai dikota tuan bisa ceraikan saya, dan tuan bisa menikahi wanita yang lebih baik dan lebih pantas daripada saya,saya akan cari pekerjaan,apapun itu yang penting halal"tambah Zizah lagi,dengan raut wajah yang penuh kesedihan dan rasa bersalah.
"kamu ngomong apa Zaaah, saya menikahi kamu ikhlas lillahita'ala, dan tidak untuk main-main,oh ya satu lagi, jangan panggil saya tuan, tapi panggil saya abi, karena kita udah punya anak dua yaitu Aska dan Afsa,saya bangga punya 2 jagoan itu,walaupun bukan darah daging saya,walaupun saya belum begitu mengenal dan memahami kalian."ujar ibra.
mendengar ucapan Ibra, Zizah tidak mampu membendung air matanya, ia tersentuh pada ketulusan Ibra,padahal belum mengenalnya.
"jazakallah Khairon katsir hiks... "ucap Zizah,
"sudah jangan menangis,mari kita belajar saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing,belajar untuk mencintai karena Allah,mudah-mudahan rumah tangga kita diberkahi Allah"ujar Ibra, sambil berdiri dan memberanikan diri menghapus air mata Azizah dengan jarinya.
Zizah kaget, tapi dia tidak menolak dengan perlakuan Ibra.
"aamiin"ucap zizah
karena begitu fokus menjelaskan, Ibra sampai lupa manggil dokter untuk memeriksa azizah yang udah sadar.
akhirnya Ibra memencet bel untuk panggilan dokter.
tidak lama,seorang dokter cewekpun sampai,dia adalah dokter Nia,dan langsung memeriksa Zizah.
"Syukurlah keadaannya udah stabil, hanya saja untuk memar ditubuhnya ini, perlu waktu agak lama untuk penyembuhan"ujar dokter
"Lalu apa saya udah bisa membawa istri saya pulang dok? "tanya ibra
"bisa tapi dia harus terus minum obat, karena memar di tubuhnya ini lumayan sakit, lihatlah biru di kakinya ini !ujar dokter sambil membuka daster panjang Zizah.
dengan cepat Zizah menahan tangan dokternya.
"maaf dok, saya malu"ucap Zizah pelan tapi masih kedengaran ama dokter dan Ibra.
"malu sama siapa Zah, saya cewek,saya dari kemarin udah meriksa kamu, bahkan seluruh badan,kecuali bagian sensitif kamu,untuk diolesi obat memar, dan ini suami kamu sendiri,masa malu sama suami sendiri, hehehe, ujar dokter sambil terkekeh.dokter gak tau kalo mereka pengantin baru.
Ibrapun ikut senyum,dengan ucapan dokter.
__ADS_1
"lihatlah ini pak! "pinta dokter kepada ibra
"iya dok"jawab Ibra sambil jalan mendekat ke arah kaki azizah,dan azizah terus menahan dasternya,dia malu karena walaupun Ibra suaminya, ia bahkan belum mengenalnya.
"Ini bengkak pak,disini obat yang bagus sangat jarang, tapi kalo dikota besar mungkin bisa dengan mudah mendapatkan obat yang bagus"ujar dokter
"coba kita liat yang dipunggung dan di perut zah"pinta dokter pada Azizah.
"ta tapi tapi dok..."ucap azizah gugup dan malu
"udah Ga pa pa Zah, jangan malu, tiduranlah !"pinta dokternya.
mau gak mau Zizah berbaring,sambil menahan malu dan gugupnya.Zizah sebenarnya pakai celana sot pendek.ibu Ratnalah yang selalu menggantiin baju zizah selama ia tidak sadar,dan bu Ratna selalu memakaikan sot pada zizah, tapi karena memar ditubuh zizah, bu ratna memakaikan sot yang agak pendek dan longgar.
saat Zizah udah berbaring,dokter Nia mau mengangkat daster Zizah.tapi dengan cepat pula Zizah kembali menahan dasternya,dokter kembali terkekeh.
Azizah bangun lagi dan menarik selimut yang dosediakan rumah sakit.baru ia membaringkan lagi tubuhnya.
Ibra senyum melihat Zizah yang begitu takut dan malu.
"tidur miring aja Zah ! bisa gak agar saya bisa langsung liat yang dipunggung sekaligus diperut."pinta dokter
"tapi lengan saya yang sebelah kiri ini begitu sakit dok"kata Zizah
"kalo begitu coba kesebelah kanan"pinta dokter lagi
"baik dok"kata Zizah patuh, dan Alhamdulillah lengan yang sebelah kanan tidak begitu sakit.
dokter mengangkat baju azizah sampe ke atas, azizah kembali menahan bajunya.
"Zaaah Hehe, masa sama suami sendiri malu"ujar dokter sambil terkekeh."zaaa Zah, ada ada aja,ayo lepas itu tangan kamu, saya harus nunjukin kesuami kamu ini bagian yang harus sering dia oles salep nanti! pinta dokter.
Akhirnya Azizah terpaksa pasrah.
"mari sini pak ! "kata dokter
tanpa menjawab, Ibra pun mendekat,posisinya menghadap kepunggung Azizah.
"lihatlah ini pak,nah yang didekat pundak sebelah kiri ini masih sangat biru, mungkin ini juga yang membuat Zizah masih sakit kalo miring kekiri."jelas dokter. "masih banyak sekali yang biru dipunggungnya ini kalo yang diperut ini sudah tidak begitu biru,usahakan obatnya tetap diminum, dan obat luarnya juga jangan dilupakan ya zah"tambah si dokter.
"iya dok,"jawab zizah
akhirnya dokter selesai memeriksa, tapi dia lupa membantu Zizah menurunkan bajunya.
"ya sudah itu aja, untuk keadaannya Alhamdulillah Zizah insya Allah baik, tapi apa ada keluhan Zah, selain nyeri memar ini? "tanya dokter.
"Alhamdulillah nggak dok."jawab zizah
"syukurlah kalo begitu"kata dokter.sambil menjauh dari Azizah,dan Ibra mengikutinya.
"maaf dok,nanti tolong dokter tulis resep obat yang bagus, nanti biar saya cari dikota J. sementara di perjalanan biar obat yang ada dari sini dulu aja."kata ibra
"baiklah nanti saya akan tuliskan resep yang disini dan resep yang bagusnya, tapi nanti kalo sudah dapat yang bagus, yang dari sini jangan diminum lagi ya"ujar dokter
"iya dok,insya Allah"jawab ibra
"baiklah kalo begitu saya permisi ya,nanti soal kepulangan silakan urus kebagian administrasi,saya akan konfirmasi kesana."ujar dokter lagi
"baik dok terima kasih"jawab ibra
dokterpun keluar,dan Ibra kembali mendekat ke Azizah, tapi dia kaget saat melihat Zizah, yang berusaha menahan sakit,bahkan sampai menangis tanpa suara,saat mencoba menurunkan bajunya.
"Ya Allah Zaaah, sini biar abi bantu"ucap ibra
Zizah kaget dia berusaha menutup tubuh bagian atasnya dengan selimut. Ibra sangat iba melihatnya.
"sini Zah,gak usah malu, saya suami kamu.Biar abi bantu ya. "kata Ibra lembut
Zizah tidak menjawab, hanya mengangguk sambil menghapus air matanya, ia tadi berharap bisa menurunkan baju saat Ibra dan dokter tidak melihat, tapi apalah daya,lengan kirinya sangat sakit.
Ibra pun membantu menurunkan bajunya dengan pelan,posisinya ada di depan azizah, jadi saat membenarkan bajunya zizah yang bagian punggung, Ibra terlihat seperti sedang menggelung tubuh Zizah.Zizah bisa mencium aroma khas tubuh Ibra yang menyegarkan, meski begitu iya tidak berani menatap.
"aaghh ... "Zizah teriak kesakitan,ia menengadah dan memejamkan matanya, tangan kanannya memegang lengan kiri bagian depannya, saat Ibra gak sengaja menyentuh lengan kirinya.
"Astaghfirullah,maaf Zah,abi gak sengaja, maaf ya...!"spontan Ibra menangkup kedua pipinya Zizah sambil memandang wajahnya Zizah yang meringis.
merasa pipinya dipegang Zizah membuka matanya, seketika pandangan mereka bertemu.
"masya Allah ternyata kamu sangat manis Zah, meskipun kamu sudah punya anak dua". batin ibra
"Ya Allah, benarkah dia suamiku? rasanya tidak percaya ada orang asing yang begitu peduli padaku,kenapa aku merasa takut,kami bagaikan bumi dan langit, saya sangat tidak pantas untuknya,atau mungkin ada udang di balik batu" batin Zizah
"Astaghfirullahal adziiim"ucap Zizah iya beristighfar atas pikiran negatifnya,tapi sekaligus menyadarkan mereka berdua yang saling tatap namun sibuk dengan pikiran masing-masing.
bersambung......
__ADS_1