Takdirku Menjadi Orang Ketiga

Takdirku Menjadi Orang Ketiga
Persawahan yang menyenangkan.


__ADS_3

Di pagi hari kak Adam belum juga bangun, aku memandanginya yang kelihatan kelelahan entah beban apa yang kak Adam pikul sampai dia pergi ke bar.


"Aku nyiapin sarapan dulu ah"


Aku lansung ke belakang untuk menyiapkan sarapan.


"Aduh, kepalaku sakit banget" sambil perlahan membuka mata.


Aku ada dimana ini, perasaan aku ingat terakhir kali aku di bar.


"Kak Adam udah bangun ternyata, ini kak sarapan dulu maaf kalo seadanya"


"Kok bisa aku di kosan kamu?"


Ternyata kak Adam tidak ingat kejadian tadi malam, ya sudahlah tidak usah aku bahas soal dia mencium bibirku lalu tertidur pulas.


Akupun menceritakan pada kak Adam kejadian tadi malam kecuali kejadian ciuman itu.


"Jadi gitu, maaf ya udah ngerepotin kamu"


"Ngak papa kak, lain kali kalo kak Adam punya masalah cerita sama aku aja,aku siap jadi pendengar yang baik untuk kakak hehe"


"Iya makasih ya udah Care sama kakak"


"Iya kak sama-sama, yuk dimakan dulu kak sarapannya"


"Kamu pintar masak rupanya"


"Hehe aku udah terbiasa masak sendiri kak, tapi ngak jago-jago amat sih"


"kamu ada acara lain ngak hari ini?"


"Ngak adasih kak, emang kenapa?"


"Kita jalan yuk, ketempat yang damai buat nenangin fikiran"


Aku jadi penasaran kak Adam ingin mengajak aku kemana.


"Ya udah kakak keluar dulu ya, aku mau siap-siap soalnya belum mandi"


"Ngak usah mandi kan kamu udah cantik"


"Hehe, tetep aja harus mandi tau kak"


"Ya udah ganti aja baju kamu aku di sini aja"dengan senyum nakalnya.


"Ih ngak mau"


Aku langsung memegang tangan kak Adam dan menariknya keluar.


"Tunggu di luar ya mesum"aku sambil tertawa.


"Eh udah berani ya kamu, awas aja"


Akupun bersiap-siap dengan berdandan yang rapih dan memakai celana pendek jeans dan kaos oblong polos, aku lagi malas juga berdandan feminim hari ini.


"Ayok kak jalan kita hehe"


"Aku ngak salah lihat kan"


Dia imut banget pake celana pendek gitu.


"Kak Adam kenapa aku salah kostum ya kak"


"Ngak kok, yuk berangkat"


Kamipun pergi menaiki motor kak Adam yang sudah diantar karyawan bar tadi pagi.


"Kamu pegangan yang erat ya"

__ADS_1


Aku hanya memegang jaket kak Adam, tapi dia sangat ngebut, sehingga aku tidak bisa jika tidak memeluknya.


"Pelan-pelan kak"berteriak.


"Haha apa lebih kenceng"


"ih takut tau"


Aku sampai tidak berani membuka mata sambil memeluk kak Adam.


Imut banget dia kalo lagi ketakutan gitu .


Satu jam kemudian akhirnya kami sampai di tempat tujuan.


"Inilah tempatnya"sambil tersenyum kepadaku.


"Kita mau nanam padi ya kak?"


Aku kebingungan, aku kira kak Adam mengajak aku ke gunung atau kebun teh untuk menenangkan fikiran ternyata ke sawah tapi tak apalah yang penting sama dia.


"Hahaha, nanam padi! Iya boleh-boleh aja kalo kamu mau bantu mang Ujang nanam padi"


"Ha kok malah ketawasih, lagian mang Ujang siapa kak?"


"Itu anak buah Papah aku dia yang ngurus sawah di sini tapi aku udah nggap keluarga"


"Jadi semua lahan sawah di sini punya kakak dong"


"Iya punya papah bukan punya kakak"sambil mengucek kepala ku.


"Ya udah kita ke situ yuk"


"Ayok kak"


Kamipun melihat ada ibu-ibu yang sedang menanam padi dan menghampiriNya.


"Eh mas Adam, bawa siapa itu pacarnya ya cantik banget"


"Iya buk calon istri haha"


Apaansih kak Adam aku jadi malu tau di bilang calon istri lagi emangnya dia ngak pernah bawa sarah kesini.


"Iya-iya emang pinter mas Adam cari calon istri ya, sini neng cantik belajar nanam padi sini"


"Iya buk, kak Adam ngak ikut?"


"Aku mau cari mang Ujang bentar, kamu main aja dulu sama ibu-ibu sambil nanam padi"


"Iya kak"


Akupun mencoba menanam bibit padi dengan ibu-ibu di sawah kak Adam ternyata menyenangkan juga walaupun kaki jadi penuh lumpur tapi tak apa.


"Ah..... uler buk" aku berteriak.


"Dimana neng"


"Itu itu buk" aku menunjuk ke arah ular.


"Haha... Ini bukan ular, cantik"


"Terus apaan dong buk"


"Ini belut namanya sejenis ikan tapi memang bentuknya kayak ular"


"Gitu ya buk, maaf ya buk aku ngak tau"


"Iya neng cantik ngak papa mamanya juga orang kota wajar kalo ngak tahu"


Aku jadi tidak enak telah mengagetkan ibu-ibu yang sedang bekerja tapi aku memang tidak tau kalo itu bukan ular.

__ADS_1


"Ada apa ini kok barusan mamang dengar ada yang teriak?"


"Eh engak mang Ujang, ini si Eneng ngiranya kalo belut ini ular jadi teriak"


"Hahaha ada-ada aja kamu"


"Akukan memang ngak tau kak"


"Iya-iya yang anak kota pasti ngak tau belut"


Kak Adam mengejekku sambil tertawa.


"Yaudah sekarang kita makan bareng yuk ibu-ibu, mamang udah bawa lauk sama nasi yang banyak untuk hari ini karena tau Mas Adam mau main ke sawah.


"Ayok-ayok makan dulu, ayok neng"


"Iya mang"


"Kamu mau makan apa tetep nanam padi sendirian?"


"ih dari tadi bikin orang emosi mulu ya, rasain nih kak"


Aku mengambi lumpur dan mengoleskannya ke muka kak Adam.


"Hahaha Wek, rasain " aku langsung berlari.


"Awas ya kamu Citra scholastika"


Kamipun bermain kejar-kejaran sambil bermain lumpur, rasanya menyenangkan bisa melihat kak Adam tidak sedih lagi.


"Aduh senengnya jadi muda ya ibu-ibu"


"Iya mang, tapi masa yang kita udah lewat"


"ha-ha-ha iya juga ya sekarang mah udah bukan masanya kita lagi ya"


"udah sini makan dulu mas Adam, neng Citra"


"ya udah yuk kita bersih-bersih dulu di pancuran air"


kamipun membersihkan badan dahulu di pancuran mata air dari gunung yang mengalir ke sawah kak Adam.


"Yee makan di pingir sawah"


"bahagia banget kayaknya yang bisa makan dipinggir sawah"


"iya dong kak soalnya kan jarang hehee"


"ya udah kita samperin mamang sama ibu-ibu di sana biar bisa cepet makannya.


"sini neng duduk sini"


"iya Bu makasih"


"wah enak-enak banget lauknya"


"iya dong kan untuk tamu spesial lauknya juga harus spesial iyakan mas Adam"


tiba-tiba kak Adam tersedak.


"eh iya dong mang harus"


"ciee-ciee mas Adam" goda ibu-ibu.


kami makan bersama dengan makanan yang terasa sangat nikmat sambil melihat pemandangan persawahan yang hijau dan juga damai membuat aku ingin berlama-lama di sini.


Hari ini rasanya aku sangat bahagia karena bisa bersama kak Adam pergi ke sawah sambil menanam padi dan bermain lumpur juga kenal dengan ibu-ibu dan mang Ujang yang begitu ramah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2