
Beberapa hari ini aku rasanya punya penyakit jantung, karena tiap kali melihat kak Adam dan mengingat aku mencium pipinya malam itu tanpa ragu membuat aku semakin di mabuk asmara rasanya, tapi kenapa kak Adam biasa saja ya apa dia telah biasa di cium oleh wanita yang mengaguminya, ah sudahlah terus berfikir seperti ini hanya akan membuat hatiku tidak tenang.
"Hari ini ada kuliah aku harus fokus aku nggak boleh mikirin kak Adam terus"
Aku berjalan menuju aula tapi ada sarah dan teman-temannya berada di sana, apa aku muter aja ya?.
"Heh kamu mau kemana?"
"Mau ke toilet kak iya"
"Kamu jangan takut gitu, kenapa kamu jual diri ya sama Adam"sambil menabrak ku.
Begitu menyakitkannya kata-kata yang sarah ucapkan kepadaku, aku hanya diam mendengar celotehannya itu, karena dia membawa banyak teman dan aku juga malas mencari masalah di kampus.
Aku lansung lari menuju kelas dengan perasaan tak menentu, sesampainya di kelas aku lansung menuju mejaku sambil menunduk menangis mengingat apa yang sarah ucapkan kepadaku.
"Loh kamu kenapa Citra?"
"Nisa"
Aku langsung memeluk Anisa sambil menangis.
"Kamu kenapa sayang, coba tenang dulu nanti kalo udah tenang baru cerita sama aku ya"
Setelah cukup tenang aku menceritakan pada Anisa semua yang di katakan oleh wanita kejam itu.
"Kok bisa kamu diem aja di tindas kayak gitu, apa aku samperin aja si Sarah sok penguasa kampus itu"
Anisa lansung mengusap air mataku sambil menyimpan emosi yang cukup membara karena mendengar cerita ku, aku jadi merasa beruntung bahwa aku memiliki sahabat yang ikut merasa apa yang aku rasakan.
"Ngak usah, aku ngak mau kita jadi kepancing mereka, makasih ya nis udah ngertiin aku"
"Iya citra sayang itulah gunanya sahabat"
Kamipun saling berpelukan.
"Eh dosen usah Dateng woi"
Aku melanjutkan kelas dengan perasaan cukup tenang karena Anisa sudah memenangkan aku, kalo ngak ada Nisa perasaan ku mungkin masih tidak enak karena omongan sarah.
Di tempat lain sarah menyusun rencana untuk menjebak Citra.
"Hei guys kalian ada ide ngak buat ngerjain si Citra itu?"
"Kalo akusih banyak banget ide, tinggal pilih aja yang mana"
"Beneran nih, yaudah bisikin sama aku sini"
"Gila banget memang temen aku yang satu ini, jadi kamu udah masukin gelang kamu di tasnya si citra itu pas aku ngomelin dia tadi, emang terbaik deh kamu Nadia"
"Ya udah sekarang kita labrak aja dia"
Akhirnya kelas hari ini selesai juga aku rasanya ingin langsung pulang dan rebahan di kasur.
"Eh kok si Sarah sama gengnya ke kelas kita cit"
"Ngak tau nis"
"Heh Citra dasar maling kamu"
"Hah maling, aku ngak pernah maling kak"
__ADS_1
Aku kebingungan karena mereka bilang kalo aku maling.
"Hei Citra kamu ngak usah sok polos deh kamukan yang ngambil gelang emas aku"
"Sumpah demi tuhan aku ngak pernah ngambil gelang kak Nadia"
"Iya, citra ngak mungkin kayak gitu"
"Kamu diem ngak usah ikut campur" sambil melotot kepada Anisa.
"Geledah aja tasnya nad"
Mereka lansung mengambil tasku dan meneluarkan semua isinya.
"ini apa?"
Aku tidak menyangka kenapa gelang Nadia itu berada dalam tasku.
"Aku bener-bener ngak tau kak"
"Kamu jangan ngelak lagi deh"sambil menjambak kepalaku.
"Jangan gitu dong ini namanya kekerasan"
"guys bawa si berisik ini keluar"
"Ngak jangan tarik aku, ngak akan aku biarin kalian nyakitin Citra"
"Yayaya.... terserah deh"
Mereka menyeret Anisa keluar dan mengunci pintu, sehingga hanya aku yang berada dalam ruang kelas, mereka terus menyuruhku mengaku sambil menyiksaku, aku tidak bisa berbuat banyak karena ketakutan di keroyok seperti itu.
"Huhu, udah kak aku beneran bukan maling" sambil menangis.
Beberapa saat kemudian.
"Buka pintunya"teriak kak Adam.
"Eh Sarah itu kayaknya suara Adam deh, gimana nih?"
"Udah kalian tenang aja serahin sama aku"
"Kalian mau buka pintunya atau aku dobrak"
"Udah buka aja"
Mereka pun langsung membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa.
Kak Adam lansung masuk dan menghampiri aku.
"Kalian apain citra, kamu Sarah ngapain kamu nyiksa Citra, ini udah masuk tindak kriminal kalo citra ngak bersalah awas aja kalian.
"Aku bisa jelasin sayang"
"Aku udah denger semuanya dari Nisa, lagian semua tuduhan kalian ngak masuk akal, aku akan selidiki kasus ini"
Kak Adam menggendongku yang sudah acak-acakan karena mereka siksa pergi menjauh dari mereka menuju UKS.
"Kamu istirahat aja disini aku mau ngambil kompresan dulu"
Aku tidak menjawab kak Adam.
__ADS_1
Dia mengkompreskan wakahku dengan hati-hati, akupun mengeluarkan air mata.
"Kamu kenapa nangis, sakit ya aku konpres"
"Ngak kak, aku takut mereka nyiksa aku lagi"
"Maaf ya aku dateng terlambat"
Diapun menenangkan aku dengan memelukku erat, begitu nyamannya rasanya di berada di pelukan kak Adam.
Hari itu dia lansung mengantar aku pulang dan menyuruh ku untuk menghubunginya ketika ada yang mengangguku, aku jadi lebih tenang karena ada kak Adam di sisiku.
"aku anterin kamu pulang ya" sambil mengelus kepalaku.
"iya kak tapi aku berantakan gini nanti anak-anak pada liat aku ngak mau reputasi kakak di kampus jadi jelek gara-gara aku"
"dengerin ya Citra scholastika reputasi aku di kampus ini ngak jauh lebih penting dari pada kamu ngerti" menatapku dalam.
"makasih banyak kak Adam"
akupun memeluk kak Adam erat begitupun dengannya.
"sekarang kamu naik atas punggung biar aku gendong"
aduh malu banget tapi mau jalan juga sakit ini badan.
akupun manaiki punggungnya yang kokoh itu.
"eh liatin tuh si mahasiswa baru berani banget di gendong kak Adam apa ngak takut sama sarah dia" suara anak kampus yang sedang bergunjing sambil menatap tajam ke arahku dan kak Adam.
"udah ngak usah peduliin omongan mereka"
"eh Sarah liat tuh si Adam lagi gendong mahasiswi baru ngak tahu diri itu"
"mana?"
awas aja kamu Citra kali ini boleh aja kamu lepas dari aku tapi aku ngak akan ngebiarin kamu hidup tenang.
"itu dia ke parkiran tuh kayaknya masukin tuh anak ke mobilnya"
"udah biarin aja sekarang dia bisa di selamatkan Adam tapi untuk yang berikutnya jangan mimpi dia"
"iya aku setuju tu cewek gatel harus di kasih banyak pelajaran dari kita"
kak Adam mengantarku ke kosan.
"akhirnya sampe juga"
"diapun mengangkat aku turun dari mobil"
"ini kuncinya kak"
dia membaringkan aku di tempat tidur dengan perlahan.
"aku mau ke kampus lagi ya soalnya ada kelas terakhir lima belas menit lagi kamu kalo masih sakit nanti telpon aku ya" sambil mengelus kepalaku.
"iya kak hati-hati di jalan yah"
"iya semoga cepat pulih ya dan masalah tadi jangan di fikirin lagi biar aku yang cari tahu semuanya"
dia mengecup keningku dan kembali lagi menuju kampus, sungguh pria yang berhasil membuatku merasa aman ketika berada di dekatnya.
__ADS_1
Bersambung.....