Tanah

Tanah
Menuju Klan Monyet


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Suasana yang nyaman dan aman selama dua tahun terakhir ini, memiliki makna yang sangat besar. Mulai dari penyusunan rumah warga di desa, sampai tatanan kehidupan sehari-hari di sana. Bahkan, yang dulunya mereka bekerja dengan berkebun atau bertani, sekarang sudah ada yang menjelajah laut sebagai nelayan.


Tak terasa, kemampuan beladiri yang diajarkan oleh seorang panglima besar pasukan dari kerajaan, melatih Anggara menjadi pemuda yang tangguh. Di umurnya yang masih muda, ia sudah membuat istana menjadi jaya. Ia juga dapat memimpin pasukan kerajaan yang sangat besar dalam menaklukkan desa teratai yang saat itu sedang berkhianat kepada kerajaan. Padahal sebelumnya, desa itu adalah desa yang sangat megah. Bisa dikatakan desa itu emasnya Negara Tanah. tapi, dikarenakan adanya penghasutan dari negara api, membuat mereka mau memberontak terhadap kerajaan.


Pagi ini, ditemani oleh desiran angin sejuk, membuat bulu kuduk berdiri ditambah cuaca yang cukup dingin bagaikan es beku yang dicelupkan ke dalam air membuat setiap insan menggigil. Namun, beda halnya dengan desa ini, warga setempat sangat bersemangat dalam melakukan rutinitas.


Disisi lain, di dalam istana, adanya sebuah pertemuan khusus antara menteri - menteri dengan raja mengadakan rapat mengenai upacara pengangkatan pangeran menjadi panglima besar untuk menghancurkan negara api.

__ADS_1


"Maaf paduka raja, bukannya hamba tidak menyetujui permintaan dari raja, tapi menurut hamba, belum pantas Pangeran Anggara menjadi panglima besar untuk menaklukkan negara api. Saran dari hamba, bagaimana jika pangeran diuji terlebih dahulu." Salah seorang menteri menolak perintah dari raja yang ingin menjadikan anak angkatnya sebagai panglima.


"Jika itu yang kamu katakan, ujian seperti apa yang pantas untuk pangeran?" Tanya menteri lainnya.


"Menurut hamba, bagaimana jika kita mengujinya dengan mengumpulkan semua senjata negara kita yang selama ini belum ada satupun yang berhasil mengumpulkannya pasca terjadinya kehilangan senjata ini. Hal ini, akan membuat pangeran menjadi kuat, dan akan dikenang jasanya dari generasi ke generasi berikutnya." kata menteri pertahanan.


"Hmm, Usulanmu saya terima. Sebelum saya mengangkat pangeran sebagai panglima besar untuk menaklukkan negara api, kita uji dia terlebih dahulu dengan mengumpulkan semua senjata negara kita, dan memberikan dia senjata negara yang saat ini saya simpan. Yaitu pedang legendaris Murry. Pedang yang sangat ganas. Tercatat dalam sejarah sebagai senjata yang memakan korban tujuh ratus juta orang dalam lima tebasan saja. Senjata yang paling kuat diantara senjata - senjata lainnya."

__ADS_1


Tidak lama dari hasil rapat negara, Pangeran Anggara langsung di panggil menghadap ke raja. Pangeran yang saat itu dia sedang berlatih dengan beberapa magic, langsung menghentikan langkahnya dan bergegas menuju ke hadapan raja.


Sesampainya disana, ia diminta raja untuk mengunjungi klan monyet, untuk menginap disana. Tujuannya adalah, agar ia dapat mengambil senjata negara, Tongkat sakti Salamander Berkepala Naga. Karena, letak senjata itu berada disana.


Dengan perasaan terkejut, pangeran muda ini menyetujui permintaan dari raja tanpa basa-basi. Ia langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk bersiap - siap. Akan tetapi, langkahnya ditahan oleh ibunda ratu. Beliau masih belum rela melepas anaknya itu, meski bukan anak kandungnya. Ia menangis dan memeluk anaknya itu dalam waktu yang lama. Beliau juga berpesan, agar menjaga kesehatan dan keselamatan di manapun berada.


"Wahai anakku, setiap derap langkah kakimu, ku restui, kemana saja engkau pergi aku izinkan, dengan syarat jaga dirimu baik-baik. Pastikan selalu sopan dimana saja engkau berada." Kata ibunda ratu dengan rintihan tangisnya melepas anaknya tercinta.

__ADS_1


"Satu hal lagi yang perlu engkau ingat. Engkau tidak boleh membocorkan kepada siapapun tentang statusmu kalau dirimu adalah seorang pangeran. Aku akan memberikanmu seorang prajurit sebagai pelayanmu yang akan berguna suatu saat nanti. Dengan satu ransel dan beberapa persediaan makanan selama perjalanan sehari, Engkau harus mendapatkan Tongkat Sakti Salamander Berkepala Naga dari klan monyet. Apapun yang engkau lakukan, jangan sekali-kali menyakiti rakyat yang tidak bersalah." Ucap raja setelah memeluk Pangeran Anggara.


Pangeran Anggara ingin membalas kebaikan yang telah diberikan kepada dirinya dengan mematuhi setiap perkataan orang tua angkatnya itu. Ia keluar dari istana bersama dengan seorang pelayan dari kalangan prajurit tangguh, menemani hari - harinya yang panjang itu.


__ADS_2