Tanah

Tanah
Bugenvile mendapat bencana


__ADS_3

Desa adalah tempat kita berteduh, bergaul, saling membutuhkan antar sesama, dan tempat yang indah bagi penduduknya. Semua jenis kalangan dapat beraktivitas dengan baik. hal ini juga mempengaruhi sistem sumber daya manusia yang ada. Akan tetapi, tempat ini seperti gurun tak berujung. Tak ada tanda kehidupan. Air pun tak ditemukan. Anggara bersama dengan Miya melewati lembah, jurang yang terjal dan perbukitan demi mencapai tujuannya kesini. Hal ini membuat hati kecil Miya terketuk dan meneteskan air mata.


Siang itu, matahari serasa membakar raga. Aura pancaran sinarnya melekat pada baju besi yang di kenakannya. Kulitnya yang mulus berubah seketika. Tak terasa, perjalanan mereka menghabiskan waktu tiga hari tiga malam. Tanpa persediaan yang lengkap, mereka tertatih tatih dalam berjalan.


Anggara memaklumi apa gerangan Miya bersedih. Karena tempat yang ia tuju, adalah kampung halaman Miya. Ia tak kuasa menahan kesedihan membuat matanya bengkak karena menangis. Kini, Miya hanyalah sosok kupu - kupu yang sebatang kara. Tak ada satupun keluarga dari rasnya yang selamat. Dia hanya melihat kehancuran dimana mana.


"Maafkan aku yang tak pantas untuk hadir pada saat seperti ini, tak selayaknya aku berada pada saat ini. Apakah menurutmu aku harus berbalik, ataukah meneruskan perjalanan ini?" Tanya Anggara dalam hati.


Anggara juga turut bersedih dengan bencana yang terjadi. Dia berusaha membujuk Miya agar kesedihannya luput dari kalbunya.


"Tuan putri, maafkan hamba yang tak kuasa melihatmu menangis. Apakah pantas bagi hamba untuk menjagamu dari semua bahaya ini? ataukah pantas bagi hamba bertanya mengenai insiden ini?" Tanya Anggara.


"Tidaklah engkau urusi urusanku. Pikirikan sendiri nasibmu. Memang sekarang aku sebatang kara, tapi tak usah kau tampakkan sok baikmu padaku. Menjauh dariku!!."


Berlinangan air mata membasahi pipinya yang ayu. Di usap perlahan oleh Anggara, seperti ia di usap oleh orang tuanya sewaktu kecil. Ia teringat dengan ayah ibunya. Kesedihan di hatinya merasuk ke jiwa. Sampai ia menitikkan tangisannya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan hamba yang tak sopan pada tuan putri. Hamba juga pernah mengalami hal ini. dimasa itu, hamba bukanlah siapa - siapa, melainkan penduduk desa biasa. Hal ini mengingatkan hamba pada kejadian itu. Semua keluarga hamba di habisi oleh Negara Api. Desa hamba hancur lebur. Yang tersisa hanyalah puing kenangan."


Mendengar hal ini, Miya terkejut dan bersimpati dengannya sambil bertanya...


"Lantas apakah yang membuatmu seperti ini?"


"Hamba dipungut oleh seorang prajurit kerajaan. Diserahkan pada sang raja, diangkat menjadi anaknya. Hamba benar - benar bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Ditambah dengan aset yang diberikan, pelayanan yang memuaskan, betapa bahagianya hati hamba. Lantas, hal inilah yang membuat hamba bersemangat untuk membalas budi paduka raja beserta kerajaannya." Kata Anggara dengan semangat.


Seberkas senyuman mulai terisi di pipi Miya. Mendengar kisah heroik dari bocah yang berada disampingnya, membangkitkan semangat di dalam dada. Dan, mulai dari saat ini dan seterusnya, mereka mulai akrab, satu sama lain.


Miya ingin minta tolong kepada Anggara untuk membangun kembali desanya. Anggara langsung menyetujuinya tanpa syarat.


"Semoga, desa bugenvile bisa aman dan damai kembali, meskipun sekarang hanya dia satu - satunya masyarakat lokal yang tersisa."


Katanya di dalam hati.

__ADS_1


Detik demi detik, siang, malam, sudah mereka lewati. Hanya berdua, mereka membangun kembali desa bugenvile. Bekal yan setiap hari mereka, dicari oleh Miya. Sedangkan membangun desa, Anggara yang melakukannya. Mereka berdua serasa pasangan yang abadi. Bersama selalu.


Hari demi hari, Perkenalan mereka membuahkan hasil yang baik. keakraban dan keingintahuan mereka untuk mengenal satu sama lain, sudah tampak. Setiap hari, mengisi waktu dengan cerita dan canda tawa. Tak terasa, Sudah enam bulan berlalu. Padang pasir tandus itu, berubah total menjadi desa yang megah. Di hiasi taman, calon pepohonan, dan sumur mata air yang banyak.


Kini, desa itu sudah hidup kembali. Akan tetapi, penghuninya belum ada.


"Apakah ada hal gerangan yang ingin tuan putri sampaikan pada hamba, sebelum hamba mencari arah tujuan lain?" Tanya Anggara yang tak kuasa meminta imbalan busur elang itu. Ia sudah merasa dirinya tak pantas mendapatkan benda berharga itu. Justru pemakainya sekaranglah yang paling layak.


"Maafkan atas sikapku selama ini, Pangeran. Engkau sungguh mulia. Bahakn dengan relanya hati membantuku dalam membangun desa kecil ini. Hamba tak pantas lagi meminta apapun darimu. Sekiranya engkau mau, aku ingin menjadi pendamping hidupmu." Suara Miya tersipu dan malu yang bercampur, membuat ia kelepasan bicara. Refleknya menutup mulut, membuat pangeran Anggara ingin memilikinya dan bersedia dengan permintaannya.


"Alangkah baiknya jika kita minta restu pada sang raja dan keluargaku disana. Mereka pasti akan merestui kita. Dan aku harap, engkau bahagia menjadi keluarga kerajaan." Kata pangeran Anggara.


"Hal ini membuatku kaget, pangeran. Jika hanya menjadi keluarga kerajaan, aku tak butuh. yang kubutuhkan hanyalah dirimu dan bersedia sehidup semati bersama denganku di sini, di desa bugenvile. Agar kita dapat mengerti satu sama lain, berbagi cerita seperti saat saat ini, dan berkembang biak disini." Muka Miya yang pucat itu, berubah drastis menjadi merah seperti air didih yang meluap. Malunya dirinya mengatakan hal ini, sekaligus perasaannya pada pangeran, tak dapat ia tahan.


"Aku mengerti maksudmu. Kalau begitu, kita tinggalkan sejenak desa ini, lalu bergegas menuju kerajaan. Meminta persetujuan. Danmenyampaikan pada warga, siapa saja dari ras apa saja, yang ingin menetap di desa bugenvile, kita terima dengan lapang dada." Lontaran kata dan senyuman pangeran, makin membuat Miya jatuh cinta.

__ADS_1


Malam ini mereka rehat dan melanjutkan perjalanan menuju kerajaan di esok hari.


__ADS_2