Tanah

Tanah
Terjebak


__ADS_3

Perjalan Pangeran Anggara menuju Klan Monyet sangatlah panjang setiap saat, ia melewati jebakan, rintangan, bahkan nyawanya menjadi taruhan dalam mengikuti misi yang diberikan ayahnya. Bersama dengan pelayannya, ia melakukan rutinitas sehari-hari dengan mencari makanan, beristirahat bila hari sudah senja, mendirikan tenda untuk tidur mereka dengan kayu - kayu yang didapatnya dari dalam hutan.


"Wahai paman Maruli, sudah pantasnya untuk kita berehat dahulu. Matahari sudah mulai tenggelam menandakan malam akan tiba."


"Benar kata pangeran. Hamba akan mencari kayu untuk kita bikin tenda kecil untuk ditempati sementara."


"Sudah saya katakan berkali - kali, kalau diluar sekarang saya tidak lagi seorang pangeran, atau apalah itu. panggil saja saya Anggara. lagian, Ayahanda melarang saya membocorkan indentitas diri saya kepada siapapun. Kalaulah warga mengetahui pembicaraan kita, tentu masalah yang timbul akan banyak. Jadi, saya mohon kepada paman, untuk tidak memanggil saya sebagai pangeran." Kata Anggara yang seketika kesal karena namanya dipanggil dengan sebutan pangeran.


"Baik, Raden. Paman akan membiasakannya mulai dari saat ini." Balas Pelayanannya itu.


Udara malam ini sungguh dingin. Saking dinginnya cuaca, membuat pangeran Anggara menggigil hebat yang saat itu ia sedang tertidur. Padahal, sebelumnya belum pernah ia seperti ini. Hal ini membuat pelayannya khawatir dan memberikan Anggara kain panjangnya.


"Nak, pakailah kainku ini, sungguh memprihatinkan kondisimu yang sekarang. Di umurmu yang belia ini, engkau sudah dibebani amanah yang begitu besar. Semoga, di suatu hari nanti, engkau berhasil menjadi seorang raja yang adil seperti Raja Surya sekarang." Bisik dari Maruli agar Anggara tidak mendengar apa yang sedang ia katakan.


Pagi hari pun datang. Matahari menampakkan dirinya kembali disertai kicauan burung kenari yang indah, membuat pagi ini begitu cerah. Rerumputan di dalam hutan pun tampak segar dikarenakan adanya buliran embun bagi di setiap helaian daunnya.


Pangeran yang semalam kedinginan, paginya bangun dengan kondisi fresh. Akan tetapi, begitu ia sadar, ia sudah dalam keadaan terikat. Ia tidak sadar kalau dirinya sedang dibawa oleh beberapa prajurit klan monyet menuju markasnya. Anggara yang saat itu masih terkejut, sontak berteriak.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaa................"


Hal ini membuat prajurit itu melepaskan tangan mereka dan melihat wajah Anggara yang tampak takut. Monyet itu dapat berbicara menggunakan bahasa manusia. Salah seorang diantara mereka bertanya,


"Apa yang engkau lakukan disini? tempatmu bukan seharusnya disini. Kami tidak tahu engkau berasal darimana. Atau mungkin engkau berasal dari klan musuh kami. Jadi, kami ingin membawamu kehadapan Ketua agar ia yang memutuskan, hal apa yang akan diperbuatnya kepadamu. Disana engkau juga boleh berkata kalau engkau bukan siapa-siapa, melainkan musafir yang kebetulan menginap."


Sesampainya di Tempat ketua klan, prajurit-prajurit itu segera meninggalkan ketua. Ketua bertanya kepada Anggara,


"Siapa engkau?, apa yang engkau lakukan disini?" pertanyaan ini diulang ulang terus oleh ketua klan, membuat telinga Anggara seakan-akan pecah.


"Siapa yang berkata seperti itu kepadamu?"


"Warga desa yang ada di bawah. Satu hal lagi, ketua. Apakah engkau melihat pamanku? aku pergi dari desa bersama dengannya. Jika aku tidak bertemu dengannya, pastinya aku akan dimarahinya. Mohon ketua izinkan aku bertemu dengannya."


"Panggilkan pria besar itu kemari!" Kata ketua klan.


"Paman!" Ucap Anggara dengan terkejutnya melihat pelayannya luka - luka.

__ADS_1


"Apa yang telah kamu lakukan kepada pamanku? Mengapa banyak sekali luka ditubuhnya?" Dengan ekspresi marahnya Anggara mengangkat wajahnya seperti ingin menerkam ketua klan monyet.


"Dia tidak mau berbicara mengenai dirinya. Jadi aku minta dia untuk dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang berisi anak - anak kami yang tidak ada orang tuanya dalam keadaan lapar. Luka itu mungkin dari anak - anak itu."


Mendengar hal itu, Anggara makin marah. Dengan kekuatannya, ia berhasil melepaskan ikatan yang kuat dari dirinya, dan segera menerkam Sun, si ketua monyet. Akan tetapi, Sun dapat mengelak dari serangan yang diberikan Anggara.


Sun yang sudah curiga dengan kedua orang ini, dengan kekuatannya ia mengeluarkan Tongkat Sakti Salamander Berkepala Naga dari belakang punggungnya dengan tangan berada menempel di punggung.


Seketika Anggara terkejut dan senyum. Akhirnya apa yang ia cari selama ini berada di depan matanya.


Dengan magic yang di pelajarinya, ia melawan ketua klan monyet dengan satu lawan satu. Pertempuran sengit pun terjadi. Anggara yang sudah lelah, hampis saja kehilangan nyawanya. Untung saja ia dapat menghindari dari serangan pembelah batu berlapis, yaitu serangan khas dari Senjata Sakti Salamander Berkepala Naga itu.


Saat Sun lengah sedikit, Anggara langsung menyentuh titik kelemahan dari Sun. Akhirnya, Sun dapat dikalahkan olehnya dan berhasil mendapatkan Sebuah Sakti Salamander Berkepala Naga itu dengan berkata, "Kamu kalah, ketua. Serahkan senjata itu atau aku akan menghabisimu dalam satu pukulan dan akan menghancurkan desa beserta klan monyet dari sini."


Sun yang tidak memiliki daya apa lagi, menyerah dan memberikannya. Ia juga melepas ikatan yang ada pada Maruli. Sun juga meminta maaf kepada mereka berdua. Dan berjanji tidak akan menyiksa orang sebelum bertanya terlebih dahulu.


Akhirnya Anggara dan Maruli melanjutkan perjalanannya untuk pulang, karena apa yang mereka cari, berhasil didapatkannya.

__ADS_1


__ADS_2