Tanah

Tanah
Pertemuan Tak Diduga


__ADS_3

Sesampainya di istana, Pangeran Anggara diminta menuju klan kupu-kupu untuk mengambil senjata negara dari klan itu. Senjata kali ini berbeda dari yang pernah ia jumpai. Sebelumnya, senjata negara tanah hanya mengandalkan kekuatan jarak dekat. Tapi yang satu ini, jarak sejauh sepuluh kilometer pun, dapat terkena oleh panahnya. Mengapa tidak, konon dikatakan bahwa ada seseorang yang berhasil menjinakkan Busur Elang, ia mendapat kekuatan yang begitu besar. hanya satu sentuhan saja, ia berhasil menghasilkan ribuan anak panah ajaib ini menuju ke arah langit seperti peluru yang ditembakkan ke atas dengan sangat cepat. ketika ia turun, seperti hujan panah yang tiada henti. Ada juga yang mengatakan bahwa orang itu membidik dengan mata tertutup, dengan jarak Lima ratus meter, tak sedikitpun lecet sasarannya. Semuanya mengenai sasaran. Hal inilah yang paling di takuti oleh semua orang, jika senjata ini dapat dijinakkan.


Satu bulan telah berlalu, musim dingin juga telah dilewati menuju musim semi. Hari itu, tepatnya hari Sabat bulan Noe tahun Letto. Pangeran Anggara belum menemukan tanda-tanda akan kehidupan seseorang disana. Ia telah mencari ke seluruh pelosok negeri bahkan sampai ke Klan Kupu-kupu seberang. Tidak lama kemudian, ia yang terlihat penat di awal, membaringkan tubuhnya di atas akar pepohonan yang rindang. Ia beristirahat sejenak sambil melepas rasa letih. Tanpa ia sadari, ia sudah terlelap tidur di sana. Ia bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik yang coba merayu dirinya. Pangeran Anggara yang di dunia nyata, pernah bertemu dengannya sekaligus jatuh cinta padanya. Ia mengejar wanita itu. Tanpa ia sadari ia terjatuh ke dasar jurang, yang membuat ia terbangun dari tidurnya.


Sorepun tiba, Pangeran sudah terbekas di keningnya rasa putus asa dan segera saja ingin pulang tanpa membawakan hadiah kepada ayahnya. Tapi, dengan semangat untuk mendapatkan apa yang ia cari, tetap berusaha menuju ke tempat tujuan, yaitu tempat beradanya senjata Busur Elang.


Hari pun mulai gelap. Matahari pun tidak memancarkan sinarnya lagi dan berganti tugas dengan bulan yang ditemani oleh jutaan bintang-bintang. Rasa putus adanya kian bertambah. Kini, ia berencana untuk kembali dengan tangan kosong. Membuat hatinya sedih dan sedikit kecewa. Akan tetapi, ia mendengar suara gerak gerik dari seberang jalan. Dengan hati-hati ia merangkak, menuju sumber suara. Ia berusaha mengintip dari balik celah semak belukar. Betapa terkejutnya ia, melihat apa yang ia temui membuat ia bersemangat kembali mencari senjata negara karena senjata itu di pegang oleh wanita cantik yang ia temui di dekat istana tempat tinggalnya. Wanita itu memainkan busur elang dengan sangat elegan. Wajahnya yang cantik, membuat ia terlihat anggun. Akan tetapi, keindahan itu tidaklah bertahan lama. wanita itu menyadari bahwa ada orang yang mengintipnya. Dengan kemampuannya, ia mengeluarkan jutaan anak panah ke atas langit dan berpencar ke segala arah. Hampir saja Pangeran Anggara terkena anak panah itu dan keluar dari persembunyiannya.


"Siapa kau! Atas dasar apa mengikutiku. Apakah engkau orang yang mesum?!" Kata wanita itu.


"Maaf kakak yang cantik dan baik hati. Izinkan hamba berkenalan denganmu terlebih dahulu. Hamba hanyalah warga yang kebetulan sedang lewat. Tak sengaja, hamba mendengar suara dari seberang jalan, lalu hamba melihat bidadari yang cantik ini, bermain dengan busurnya. Akan tetapi, yang membuat hamba penasaran, mengapa ia tak punya anak panah? Ternyata, anak panah itu berasal dari petikan engkau sendiri. Hal ini lah yang membuat hamba terkagum. Kalau boleh tahu, apa nama senjata ini?" Dengan sopannya pangeran bicara dan merendahkan diri.


"Untuk apa engkau ingin mengetahuinya?" Bentak wanita itu.


"Hamba hanyalah ingin mendengar apa yang membuat hati hamba yang penasaran ini, menjadi terobati."


"Jika itu yang engkau mau, layani dulu aku bermain"

__ADS_1


"Maafkan hamba wahai wanita yang rupawan. Parasmu tidak akan ku korbankan demi mendapatkan keegoisan. Tapi, hamba hanya ingin menanyakan nama engkau saja, apakah engkau bersedia?"


"Namaku Miya, dari klan kura-kura desa seberang sana. Hari sudah malam, sebaiknya engkau pergi dari sini, atau aku akan membidikmu tepat di urat leher."


"Senang sekali bisa bertemu dan berbicara denganmu. Lain kali bertemu jika berjodoh."


"Tunggu! Engkau sudah mengetahui namaku, lantas, siapa namamu?" Tanya Miya.


"Namaku Anggara." Dengan menundukkan kepalanya.


Seketika wanita itu langsung mengarahkan busurnya ke kepala Pangeran Anggara. Ia sudah menyadari firasat, kalau akan bertemu dengannya kembali.


"Apa yang terjadi, mengapa setelah engkau mengetahui namaku, langsung ingin membunuh nyawa yang tak berdosa ini?" Dengan syoknya pangeran yang nyaris tewas ditembak.


"Aku tahu engkau. Engkau yang sudah mengambil senjata klan monyet. Aku mendapat informasi ini dari guru. Mengatakan kalau senjata ini akan engkau ambil "


Betapa terkejutnya pangeran Anggara, ia heran dan bingung, mengapa ada orang luar yang tahu akan rencana kerajaan. Atau jangan-jangan ada mata-mata dari Klan Kupu-kupu disana?. Atau jangan-jangan ia adalah seorang menteri?. Pertanyaan demi pertanyaan timbul di otaknya.

__ADS_1


"Mengapa engkau diam? Apa karena itu benar?" Miya masih membidik pangeran Anggara yang siap kapan saja untuk melepaskan tembakan ke arah pangeran.


"Maafkan hamba, hamba tidaklah tahu akan hal ini semua."


"Jangan bohong! Aku tahu semua informasi mengenai dirimu yang berbakat ini. Aku juga tidak mau, senjata milik klan kupu-kupu kami, direbut begitu saja."


"Janganlah engkau seperti itu, wahai wanita yang cantik. Karena engkau sudah mengetahui identitas diriku secara lengkap, mengapa tidak engkau serahkan saja senjata itu kepadaku. Itu adalah milik negara kita, Negara Tanah."


" Jangan banyak alasan dan mengada-ada. Ini adalah buatan nenek moyang kami. Aku tidak akan mudah mempercayai orang asing sepertimu."


"Bukankah engkau sudah tahu siapa aku, jika engkau tidak percaya kepadaku, engkau bisa menanyakan hal ini kepada semua klan. Engkau akan mendapati jawaban yang sama, kalau senjata yang engkau pegang sekarang, milik negara."


"Baiklah, beri aku waktu satu Minggu untuk mencari informasi."


"Baiklah, hamba akan berbaik hati. Tapi, jika lewat dari satu Minggu, hamba tidak akan segan-segan untuk menghancurkan semua klub kupu-kupu."


"Jika engkau melakukan hal itu, aku tidak akan segan-segan mengeluarkan jutaan anak panah untuk menghancurkan negara ini ditanganku agar dendam nenek moyangku terbalaskan." Dengan marah, Miya membalasnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, izinkan aku menginap disini, malam ini. Tolong engkau tepati janjimu, juga jangan bunuh aku jika aku terlelap. Karena seekor kupu-kupu tidak akan mengambil nektar dari bunga jika tidak diberi izin."


Malam itu, pangeran Anggara berisitirahat dan memimpikan bahwa ia akan mudah mendapatkan hatinya, jika ia tulus membantu wanita itu setiap ia membutuhkan pertolongan.


__ADS_2