
Pagi ini, Disertai burung yang bermigrasi, siluan pagi dan secercah kehidupan menampakkan diri di bumi bugenvile. Tuan Putri Miya beserta Pangeran Anggara, bersiap sedia untuk pergi menuju kerajaan. Perbekalan dan persediaan selama tiga hari tiga malam selama perjalanan, sudah di siapkan. Hari ini, mereka meninggalkan desa ini untuk sementara.
"Wahai desa, ku tinggal engkau sementara aku ingin pergi, apakah pantas bagiku untuk bertemu denganmu lagi?" Tanya Miya di dalam hati dengan penuh kerinduannya, pada keluarganya dan pada desa ini.
Perjalananpun di lalui, seperti halnya mereka datang, seperti itu jugalah perjalanan menuju kerajaan. Tak berubah sama sekali. Yang berubah hanyalah kedudukan mereka. Sebelumnya canggung dan asing, kini mulai menghampiri masa pernikahan.
Perjalanan selama tiga hari sudahlah usai. Pangeran disambut oleh kerajaan. Kerinduannya pada semua penduduk, dan terutama Ayah dan Ibu angkatnya ini, tak terbendung lagi. Tangis kebahagiaan berurai di setiap tempat. Dan, percakapan antara ayah dan anakpun terjadi.
"Ayah, aku ingin meminta satuhal padamu."
"Apa itu?"
"Aku ingin menikahi gadis yang pernah kuceritakan padamu sebelumnya. Dan aku ingin, agar kalian merestuinya."
"hmm.. Kamu sudah besar, anakku. Dan sudah saatnya engkau berkeluarga. Dan lagi, apakah engkau sudah menyelesaikan misimu?"
Mendengar ucapan ayahnya, Pangeran Anggara kelupaan soal ini, tapi, ia tak tega menceritakannya.
__ADS_1
"Ayah, sebelumnya aku mohon maaf. Bukan bermaksud mengkhianatimu, tapi, aku hanya meminta, senjata itu berikan saja pada calon istriku. Dia sangat mahir dalam menggunakannya. Biarkan dia memilikinya." Pinta Pangeran Anggara.
"Apa? ternyata senjata itu ada bersama orang yang tepat. Nak, namamu siapa, apakah engaku dari clan kupu - kupu? sebelumnya aku belum pernah melihatmu disini. Apakah aku benar ataukah salah?" Raja menanyai Miya dengan lemah lembut.
"Ampuni hamba, raja. Hamba memanglah dari clan kupu - kupu. Dan Busur elang, adalah peninggalan satu satunya keluarga hamba. Jika engkau menginginkannya, hamba tak akan memberikannya pada siapapun. Karena, hanya inilah satu satunya yang hamba miliki saat ini. Semua keluarga hamba, semua penduduk, bahkan desa hamba, semuanya habis di bantai dan di hancurkan. Saat itu, Hamba berada dalam pelatihan di desa Kura - kura. Mengenai insiden yang terjadi di desa, hamba segera menyusulnya. Akan tetapi hamba merasakan hal aneh, sebelum kesana. Hamba di mata - matai oleh Pangeran Anggara saat menuju desa. Di saat itulah, kami saling kenal. Saat sampai, Aku terkejut, betapa sadisnya pembantaian dari Negara Api. Tapi dengan pertolongan Pangeran Anggara, desaku sekarang sudah di hiasi kembali. Yang membuatku merasa sedih ialah, belum adanya penghuni di sana, untuk saat ini. Jadi, perkenankan aku dan Pangeran Anggara, untuk tinggal bersama di sana. Memimpin desa kecil kami. Dan, izinkan aku untuk merawat busur elang ini." Kata Miya sambil menangis tersedu.
"Anakku, engkau sekarang aku nikahkan engkau dengan Putri Miya ini, dan dia, akan menjadi keluarga besar kita. Sudah sepantasnya senjata - senjata negara, di berikan kepada pihak yang pantas untuk di gunakan. Dan, engkau, Miya. Aku subgguh berterima kasih kepadamu, dalam mengemban amanah yang besar ini, kamu dapat membangun kembali desa. Sebagai ucapan terima kasihku, engkau pantas mendapatkan senjata itu. Anggara, Misimu sudah selesai untuk urusan ini. Sekarang. Kita akan mengadakan pesta dalam penyambutanmu, sekaligus pernikahanmu." Tutur kata sang raja dengan senyum.
Hari ini, adalah hari yang sangat bersejarah. Sekiranya kejadian yang berlangsung lama, dan tak kunjung menemui titik terang, niscaya kegelapan yang akan menerkam. Alangkah indahnya suasana ini. Pesta di seluruh tempat sekitaran kerajaan, sangat di sambut megah oleh rakyat. Tawa dimana mana, cerita seru, pertunjukan seni, festival, dan masih banyak hal seru lainnya. Pesta ini berlangsung selama satu pekan. Dan semuanya menikmatinya.
"Anakku, Anggara. Engkau akan mendapatkn kejutan yang luar biasa setelah ini. Perjalananmu masih panjang. Dan pesanku cukup satu, jaga dirimu."
Seminggu sudah berlalu. Masyarakat yang ingin pindah ke desa bugenvile pun sudah menanti di pintu gerbang kerajaan. Semuanya sudah siap untuk berangkat.
Sebelum pergi, para menteri dan raja berdiskusi mengenai tes apalagi yang pantas diberikan kepadanya. Saat itu, sekretaris jendral mengusulkan kepada raja..
"Wahai, paduka raja. Alangkah baiknya jika pangeran mengusai teknik tombakan ular berbisa. Jadi, hamba menyarankan untuk Meminta beliau untuk mencari Tombak Ular ini yang berada di desa kematian, clan ular. Tombak ini akan membuat pangeran bertambah kuat."
__ADS_1
"Maafkan hamba paduka raja. Hamba tak setuju mengenai pendapat ini. Paduka tahu sendiri, kalau kemampuan pangeran dan pengalamannya masihlah terbatas. Hamba mengisulkan Pangeran Anggara untuk mencari Belati Terbang dari clan merpati. Bukankan pangeran hanya memiliki Pedang Murry? Bagaimana kalau pangeran berada pada situasi genting dan mengharuskan ia untuk menyrang dari jarak jauh. Meskipun pangeran memiliki Fire Magic dan Freeze Magic, hal ini belum cukup untik menghadapi situasi buruk. Jadi, hamba sarankan untuk Pangeran Anggara, Agar beliau mencari Belati Terbang." Sanggahan sekaligus Saran dari menteri Persenjataan. Hal ini di setujui langsung oleh menteri pertahanan.
"Hmm... menurutku, memang beresiko untuk mengambil tombak. Jadi aku akan menerima usulanmu, menteri persenjataan. Sekarang aku akan berbicara dengan Anggara dan memintanya menjalankan misi ini setelah ia tiba di desa bugenvile."
"Maaf, paduka raja, bukankah jalan menuju clan merpati berlawanan dengan desa bugenvile? bukankah hal ini akan menyita banyak waktu untuk pangeran?" Tanya Penasehat raja.
"Hmm, menurutku itu adalah solusi yang pantas untuk saat ini. Jadi, aku harap dia dapat bijaksana dalam memimpin desa kecil, dan menjalankan amanah, agar kedepannya dia pantas menjadi penggantiku." Kata raja.
"Baik, paduka raja. Hamba akan memanggil pangeran." Serempak semua menteri.
Saat rapat berlangsung, pangeran dan istrinya Miya sedang bersenda gurau, di temani penduduk yang ada di gerbang kerajaan.
"Selamat tuan, kini kalian menjadi pasangan, dan tidak hanya itu, kalian jugalah yang memimpin kami. Bukankah begitu?????" Heboh masyarakat dengan semangat dan semuanya setuju dengan mengatakan 'iya' secara serempak. Pangeran dan Tuan putri pun tersipu malu oleh rakyatnya sendiri. Hal ini akan membuat desa bugenvile menjadi aman dan damai.
Tidak lama setelah itu, rapatpun selesai dan pengeranpun di panggil menghadap paduka raja.
"Akhirnya kita dapat merasakan kehidupan di luar sana" kata salah seorang penduduk.
__ADS_1
Setelah pangeran diberikan amanah oleh raja, Pangeran Anggara, Tuan putri Miya, beserta penduduk meninggalkan tempat, menuju desa bugenvile.
Perjalanan kali ini lumayan lama dari biasanya, karena mereka membawa penduduk. perjalanan menuju desa bugenvile pun selama sepekan tapi terasa sehari dikarenakan keasyikan penduduk dengan kepala desa barunya yang dianggap seperti saudara sendiri. Hal ini tentu meningkatkan kualitas kepercayaan sekaligus kedamaian di desa nanti. Tak di sangka, lernikahannya dengan Putri Miya, membuat pangeran di segani oleh semua masyarakat dan di terima secara menyeluruh.