
Sudah seminggu Pangeran Anggara menuju ke tempat klan kura-kura, namun tidak ada tanda-tanda akan segera sampai. Sejak ia meninggalkan istana, ia tidak pernah melihat wajah bidadari itu lagi. Hati yang penuh dengan kekecewaan bercampur kesedihan membuat Pangeran Anggara tak berdaya melewati hari-harinya. Setiap ia terlelap, selalu memimpikan wajah bidadari itu. Namun, usaha yang ia perbuat masih sedikit dan belum menghasilkan buah.
Malam ini, Pangeran Anggara melanjutkan perjalanannya menuju klan kura-kura. Hingga saat itu, ia mendengar suara di balik bukit berduri seperti seseorang meronta-ronta kesakitan bagaikan petir yang menyambar sangat keras, membuat telinga pecah jika mendengar terlalu dekat. Awalnya Pangeran Anggara tidak mengacuhkan suara itu. Tapi hatinya menjadi luluh seketika, membuat ia melihat kearah sana. Betapa terkejutnya ia, melihat anak merpati yang kesakitan dikarenakan ranting berduri yang tersangkut di sayap kirinya. Segera saja mengobati merpati itu dan merawatnya sementara waktu.
Hampir dua hari sejak merpati yang pangeran temukan itu pulih total. Ia berharap agar secepatnya sembuh. Akan tetapi, sesosok anak kecil melintasi mereka, membuat pangeran penasaran dengan apa yang dilihatnya. Ketika ia mengintip dari balik lubang, melihat tepian sungai dan juga bangsa kura-kura. Segera saja pangeran menghampiri mereka. Pangeran pun bertanya kepada salah seorang diantara mereka.
"Wahai tuan yang bijaksana, apakah engkau tahu siapa guru yang begitu pintar dan cerdas di sekitar sini?" Tanya Pangeran Anggara.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidaklah mengenal semua orang disekitar kita. Akan tetapi, salah satu dari mereka, saya tahu. Jika tidaklah salah, tinggalnya di depan mata. Cobalah tuan untuk bertemu dengannya. mungkin disana tuan mendapati jawaban atas pertanyaan yang tuan berikan." Kata warga desa itu.
"Terima kasih atas apa yang tuan katakan kepada hamba. Semoga pertemuan kita kali ini berjodoh di lain hari. Kalaulah begitu, alangkah baiknya jika hamba memulai perpisahan ini dan menuju ke rumah itu." Dengan sopan santun pangeran kepada warga itu bertutur kata.
Pangeran segera berlari menuju ke arah itu. Ia melihat ada seekor kura-kura tua, namun gerakannya begitu cepat. Mungkin ini yang dinamakan jodoh tidak lari kemana-mana. Pangeran memperkenalkan diri dan meminta kura-kura itu untuk mengajarinya ilmu fire magic dan freeze magic.
"Wahai guru yang begitu arif. Izinkan hamba menjadi muridmu. Dikarenakan suruhan dari ayah, mempelajari tentang ilmu pengetahuan dan beberapa magic darimu. Ayah meminta untuk mempelajari ilmu fire magic dan freeze magic untuk menolongnya. Jikalah guru bersedia menolong hamba, mudah-mudahan bisa memberkati guru." Saat itu pangeran memberikan hadiah kepada kura-kura itu.
__ADS_1
"Untuk apa saya menghukum guru. Ini juga bukanlah salah guru sepenuhnya. Hamba kembalikan merpati ini kepadamu. Semoga ia sehat selalu."
Setelah pembicaraan itu, pangeran di minta untuk tinggal dan menginap di sana dan berlatih ilmu fire magic dan freeze magic agar misi yang di embannya selesai.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Pangeran yang dulu bukanlah siapa-siapa, sekarang sudah memiliki ilmu yang banyak. Bahkan, dengan kepintaran dan kesabarannya, ia berhasil mendapatkan ilmu fire magic dan freeze magic dalam waktu yang singkat.
"Kali ini, hamba harus meninggalkan guru untuk sementara waktu. Hamba harus menghadap kepada ayah, agar hamba berguna baginya. Jika guru mengizinkan, hamba akan pamitan kepada warga desa ini. Sungguh, pengalaman hamba disini, akan hamba kenang selalu."
__ADS_1
"Janganlah pangeran berucap seperti ini. Takutnya perpisahan ini, membuat kita tak berjodoh di lain hari. Hamba mengizinkan pangeran untuk berpamitan dengan siapapun. Hamba harap, pangeran dapat mengamalkan apa yang hamba ajarkan."
Setelah itu, pangeran mengunjungi semua rumah warga desa klan kura-kura. Ia juga bergegas menuju ke istana dan akan membawa bidadari ke istana juga, jika ia bersua kembali.