
" Kenapa kamu kok berkeringat? "
Karena putranya berkeringat Pak Alfin pun
segera bertanya kepada putranya karena khawatir.
" Gapapa kok pa, Bagas cuman merasa sedikit panas aja "
Dengan senyum yang lebar sampai memperlihatkan giginya Bagas mengatakan hal itu kepada papanya.
" Jangan senyum deh kalok gamau senyum, keliatan banget kalok itu senyum yang terpaksa "
Bu Laura hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri karena melihat ekspresi putranya yang sangat konyol itu.
Bagaimana Bu Laura tidak tersenyum melihat ekspresi senyum lebar seperti iklan pasta gigi itu dipenuhi dengan rasa terpaksa. Dan siapapun yang melihat putranya pasti akan langsung tau kalau putranya tersenyum dengan sangat terpaksa.
Bagas hanya diam dan tetap mempertahankan senyum terpaksanya itu, ia tidak menduga kalau senyum terpaksanya ketahuan dengan sangat cepat.
" Bagas jangan lupa besok kamu harus pergi sekolah "
Lalu Pak Alfin mengingatkan putranya kalau besok harus pergi sekolah, ia takut putranya akan lupa jadi ia mengingatkan nya.
" Iya pa "
Sebenarnya Bagas lupa kalau besok ia harus pergi sekolah, ekspresi senyum seperti iklan pasta giginya sekarang berubah menjadi ekspresi cemberut karena ia malas pegi ke sekolah besok.
" Besok bagun yang pagi, papa akan antar Bagas dan mama juga besok, karena tujuan kita bertiga searah "
__ADS_1
Pak Alfin merasa sangat bahagia karena bisa mengantarkan putranya pegi ke sekolah dan mengantar istrinya bekerja sekaligus.
" Bagas pulangnya bagaimana? " ~ Bagas
" Besok Pak Bambang yang akan jemput Bagas pulang " ~ Pak Alfin
" Tapi Bagas mau bawa motor sendiri ke sekolah " ~ Bagas
" Bareng papa sama mama aja udah " ~ Pak Alfin
" Papa pelit amat sih " ~ Bagas
" Kalau papa boleh in Bagas bawa motor natik Bagas malah langsung pergi main setelah pulang sekolah, iya kan ma " ~ goda Pak Alfin
" Iya betul banget pa " ~ Bu Laura
Saat sedang asik berbincang bersama keluarganya lalu Bagas menatap mamanya dan Bagas melihat seorang anak kecil berjalan di belakang mamanya.
Anak kecil itu memakai baju putih dan memiliki rambut panjang yang terurai dan berjalan di belakang namanya sambil membawa boneka beruang yang ia temukan tadi pagi.
Bagas langsung menundukkan kepalanya karena ia tidak mau melihat anak kecil itu.
Dan Bagas mulai ingat anak kecik yang berjalan di belakang mamanya itu mirip dengan anak kecil yang berlari di belakang Bu Ani tadi pagi.
Bagas hanya diam dan melahap makanan di depannya karena kagi-lagi ia berfikir kalau ia panik iai akan mengganggu waktu bersama keluarganya.
Bagas segera menghabiskan makanan nya lalu pergi ke kamar untuk tidur lebih awal karena besok ia harus pergi sekolah.
__ADS_1
" Bagas sudah selesai makan, Bagas pergi ke kamar dulu ya "
Akhirnya bagas selesai makan dan pergi meninggalkan meja makan. Saat ia akan menaiki anak tangga ia menoleh ke arah meja makan di belakangnya itu dan ia melihat seorang anak kecil yang tadi berjalan di belakang mamanya itu sekarang duduk di tempat ia makan tadi.
Bagas mematung melihat papa dan namanya tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap anak kecil yang duduk di meja makan tempat ia makan tadi. Papa dan mamanya seperti tidak melihat anak kecil itu.
Bagas tidak percaya dengan yang ia lihat dan Bagas mengusap-usap matanya dan saat ia mencoba melihat kembali, anak kecil itu sudah menghilang.
Ia berlari sekencang mungkin untuk menuju kamarnya karena ia benar-benar merasa lelah dengan kejadian aneh hari ini. Setibanya di kamar Bagas segera menggosok gigi dan berganti pakaian lalu segera tidur.
Matahari segera terbit dari arah timur. Cahaya rona merah dan oranye di langit sudah mulai terlihat dengan sangat jelas.
Kring,,, kring,,, kring,,,
Jam weker di sebelah ranjang Bagas akhirnya berbunyi, Bagas yang mendengar suara keras dan nyaring dari jam weker tersebut sontak terbangun.
" Wah ternyata sudah pagi ya "
Bagas segera mematikan jam weker itu lalu ia bergegas ke kamar mandi, lalu bersiap agar ia tidak membuat papa dan mamanya menunggu terlalu lama.
**********
" Eh tumben jam segini udah siap aja, mama gak salah liat kan, ini beneran putra mamakan? atau jangan-jangan mama sedang bermimpi "
Saat hendak membangunkan putranya Bu Laura sangat terkejut karena ia sudah mendapati putranya itu sudah siap dengan memakai seragam sekolah di depan pintu kamarnya.
" Gini amat punya mama "
__ADS_1
Bagas kesal dengan mamanya sendiri karena menuru Bagas mamanya itu bereaksi terlalu berlebihan seperti tidak pernah melihat Bagas rajin aja.