
"Kalau begitu, silahkan kalian sekarang bisa istirahat dan membereskan semua barang bawaan. Nanti sore kita semua akan berkumpul lagi, mengadakan pesta kecil untuk menyambut kedatangan kalian tim relawan" theo.
"Benarkah?" Candra senang.
Theo mengangguk,
Semua senang dan gembira.
"Terima kasih" tim relawan.
Theo mengangguk.
"Sekarang, silahkan semua tentara bisa bubar dan kembali ke tempatnya masing masing" perintah theo.
"Baik kapten, hormat" para tentara,
kemudian pergi.
"Kita juga akan kembali" theo.
"Iya silahkan. Terima kasih sekali lagi" oliv.
Theo mengangguk,
kemudian pergi meninggalkan tim relawan, di ikuti oleh gerald dan patrick di belakangnya. Dan tim relawan pun pergi menuju tenda yang sudah di sediakan untuk mereka istirahat.
"Kenapa kau tidak memberitahu, bahwa dokter olivia itu adalah dokter yang waktu itu membantu saat kecelakaan" bisik gerald.
Theo mengangkat bahunya.
Setelah pergi meninggalkan tim relawan, theo pergi ke ruangannya. Sedangkan gerald entah pergi kemana, karena tadi saat di jalan, mereka berpisah.
Theo kembali memikirkan ketika pertemuan pertama antara dirinya dengan ketua tim relawan dari healthy hospital. Pertemuan saat terjadi kecelakaan mobil.
Sore hari
Suasana terlihat begitu ramai, semua sudah berkumpul. Di mana pesta penyambutan kedatangan tim relawan berlangsung. Dengan penampakan langit yang berwarna jingga, membuatnya begitu indah.
Semua orang sedang melakukan pekerjaannya masing masing. Ada yang sedang memanggang, membuat minuman dan pekerjaan lainnya.
"Kenapa kau tidak ikut membantu yang lain?" Edwin.
Ya, atasan theo juga ikut berkumpul bersama yang lainnya di berpesta. Karena sekalian edwin memperkenalkan dirinya, juga meminta maaf tidak ikut menyambut kedatangan mereka siang tadi.
Saat pertemuan pertama kali dengan tim relawan, edwin akhirnya tahu. Yang mana anak dari atasannya itu. Yang membuat edwi terkejut adalah karena paras wajahnya yang begitu cantik natural, mempesona.
Seperti yang di bicarakan oleh para tentara. Diam diam, edwin juga selalu mendengar gosip yang selalu beredar dari anak buahnya di wilayah barak.
"Astaga, kalau aku punya anak laki laki. Aku pun pasti akan menjodohkannya atau menyuruhnya untuk berpacaran dengan anak atasanku itu. Tapi sayangnya, aku tidak punya anak dan bahkan istri pun tidak" batin edwin, saat pertama kali melihat oliv, terbesit pikiran seperti itu.
"Sudah banyak orang yang melakukannya, untuk apa. Dan kenapa anda juga tidak ikut membantu?" Theo.
"Saya kan atasan kalian, sudah ada kalian yang melakukannya. Saya hanya tinggal menerima hasilnya saja" edwin.
"Cih, mentang mentang atasan" batin theo mendencih.
Kemudian pandangannya theo melihat kearah ketua tim relawan atau oliv, yang sedang menyiapkan peralatan makan bersama teman perempuannya.
"Tolong letakan ini di sebelah sana" tunjuk oliv, sambil menyerahkan beberapa piring pada ziya.
__ADS_1
"Baik, apakah mau langsung di tata?" Ziya, mengambilnya.
"Boleh" oliv.
Kemudian oliv menghampiri para tentara yang sedang memanggang ikan dan daging.
"Wow, banyak sekali. Apakah ini yang sudah matangnya?" Oliv.
"Iya, sudah matang. Tinggal sedikit lagi yang belumnya" salah satu tentara.
"Baiklah, yang sudah matangnya aku ambil ya" oliv.
Mereka mengangguk, lalu oliv mengambil setengah dulu. Karena tidak mungkin langsung membawa semuanya, itu terlalu banyak. Yang ada nantinya jatuh ke bawah dan terbuang.
Setelah meletakan ikan, daging di meja dan di tata langsung. Oliv kembali lagi untuk mengambil sisanya. Tapi tiba tiba terhenti, karena merasakan ponsel di dalam sakunya bergetar.
Lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Dan ternyata adalah nama seseorang yang begitu di cintainya tertera di layar ponselnya.
"Daddy" gumam oliv.
Ya, itu adalah daddynya oliv yang menelepon. Orang yang paling oliv cintai di dunia.
"Lisa" panggil oliv.
"Ada apa liv?" Lisa.
"Aku minta tolong, ambilkan sisa ikan dan daging yang sudah matang. Aku harus mengangkat telepon dulu" oliv.
Lisa mengangguk, lalu pergi ke tempat para tentara yang sedang memanggang. Begitu juga dengan oliv, pergi mencari tempat yang tidak ramai untuk mengangkat telepon.
Tanpa oliv sadari, ternyata ada theo yang sedari tadi melihat pergerakkannya dan ke pergian saat menjauh dari tempat pesta.
Tempat oliv
Di rasa sudah berjalan cukup jauh dari tempat pesta dan sepi dari kerumunan/kebisingan, oliv langsung mengangkat teleponnya.
"Hallo daddy, maaf lama mengangkatnya" oliv.
"Hallo sayang, tidak apa apa" louis.
"Ada apa dad?" Oliv.
"Kenapa tidak bilang pada daddy, kalau mau pergi ke barak menjadi relawan?" louis pura pura tidak tahu.
"Iya maaf dad, oliv tidak memberitahu itu sebelumnya pada dad juga mom" oliv.
"Baik, sudah tidak apa apa. Daddy hanya khawatir padamu, begitu momy mu" louis.
"Sekali lagi, oliv minta maaf, sudah membuat kalian khawatir" oliv.
"Iya" louis.
"Apa tante vina yang memberitahu dad, kalau aku pergi ke barak jadi relawan?" Oliv.
"Iya, tanten mu memberitahu dad. Katanya kau pergi ke barak jadi relawan. Juga sebagai ketua dari tim" louis.
"Iya, tante vina yang pilih oliv untuk jadi ketua tim relawan" oliv.
"Anakku memang hebat" louis bangga.
__ADS_1
"Terima kasih. Ohya, dad merahasiakan identitas ku kan?" oliv.
"Soal itu, tenang saja. Dad merahasiakan seperti biasa. Hanya mayor edwin saja yang tahu soal itu" louis.
"Oliv mengerti. Ya sudah, oliv tutup dulu teleponnya. Nanti oliv hubungi lagi" oliv.
"Iya, jangan lupa jaga kesehatan, makan yang teratur, istirahat yang cukup" louis.
"Siap komandan, semua perintah akan oliv laksanakan" oliv.
"Kalau ada apa apa, segera hubungi dad" louis.
"Iya, dad dan mom juga jaga kesehatan" oliv.
"Baik" louis.
"Salam buat mom" oliv.
"Iya" louis.
"Sampai jumpa dad, oliv sayang kalian" oliv.
"Dad dan mom juga" lous.
Setelah itu, panggilan pun berakhir.
Oliv kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan memutuskan untuk kembali ke tempat semuanya berkumpul. Karena oliv sudah cukup lama meninggalkan tempat itu.
T. Berkumpul
Sebagian orang sudah duduk di tempatnya masing masing. Hidangan makanan dan minuman pun sudah tersaji dan tertata rapih di atas meja.
"Oliv mana?" Candra, ketika tidak melihat ketuanya.
"Sedang pergi mengangkat telepon, mungkin sebentar lagi datang" lisa.
"Baiklah" candra.
Selang beberapa menit ziya melihat oliv.
"itu oliv" ziya, menunjuk keberadaannya yang sedang berjalan menuju arah mereka.
"Sepertinya sudah selesai" lisa.
"Memangnya telepon dari siapa?" Ziya.
"Aku tidak tahu, mungkin orang tuanya" lisa.
Ziya berO. Kemudian oliv pun sudah sampai di hadapan mereka.
"Oliv, sini duduk. Makanan sudah siap" candra.
"Iya, maaf ya. Kalian semua jadi menunggu" oliv, yang mulai mendudukkan bokongnya di kursi, begitu juga dengan yang lain.
"Tidak" Mereka.
Mereka menggelengkan kepala.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen and share🙏