
Setelah makan malam selesai, Darren mengajak Erina ke balkon lantai dua. Menghirup udara malam yang dinginnya terasa menusuk ke bagian tulang. Langit gelap yang hitam pekat menandakan jika hujan akan turun.
Darren mengambil jaket sebentar ke kamarnya dan memakaikan pada tubuh Erina dari belakang. Wanita itu sedikit terkejut mendapati Darren kembali dan memasangkan jaket tersebut di tubuhnya.
"Aku tahu kau pasti kedinginan," ujar pria itu.
"Terima kasih," ucap Erina.
Keduanya kembali menatap langit dengan tangan yang memegangi pagar pembatas balkon.
"Kau pasti tidak nyaman ya tadi pada saat mama bertanya tentang hubungan di antara kita?"
Pertanyaan Darren membuat Erina menoleh dan memandang wajah pria itu dari samping.
"Apa wajahku memperlihatkan ketidaknyamanannya?"
Darren ikut menoleh dan mereka saling memandang sekarang.
"Tentu saja. Kau juga terlihat terburu-buru tadi makannya. Maaf ya jika mama membuatmu tidak nyaman berada di sini."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa. Itu salahmu juga tuan, karena terlalu berlebihan memperlakukan aku di depan mereka seperti tadi."
Darren mengerutkan dahinya. "Berlebihan?"
"Hm."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Apa kau tidak nyaman aku memperlakukanmu seperti itu?"
Erina menggeleng. "Bukan begitu, tuan. Kau adalah bosku dan aku adalah sekretarismu. Jadi apa yang kau lakukan untukku seperti tadi di depan orang tuamu sangatlah berlebihan."
"Aku bosmu dan kau sekretaris ku, itu hanya berlaku di kantor saja, Erina," ralat Darren.
Erina mengernyit. "Maksudnya?"
Erina bergeming. Ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan pria itu dengan apa.
"Jika kau keberatan, seharusnya kau sudah keluar dan mengundurkan diri dari perusahaan ku. Tapi kau tidak. Apa kau juga menikmati hubungan lebih daripada seorang bos dan sekretarisnya?"
Erina kini malah di buat gugup. Kenapa pria itu bisa menyimpulkan hal itu?
__ADS_1
"Atau justru sebenarnya kau menyukai caraku memperlakukanmu, Erina?"
Wanita itu berusaha menghindar dari tatapan Darren yang membuatnya kelihatan semakin gugup. Jujur, ia memang tidak suka pria itu memperlakukannya berlebihan seperti itu. Tapi jujur ia juga tidak bisa menolak. Justru ia berusaha menerimanya dengan sangat baik.
Darren meraih buah tangan Erina dan mengalungkan pada lehernya. Kemudian tangannya ia lingkarkan pada pinggul Erina. Ia menarik tubuh Erina agar lebih dekat dan rapat lagi dengan tubuhnya.
"Tuan, apa lagi yang akan kau lakukan?" seru Erina namun lebih lirih.
"Sudah, jangan banyak bicara. Aku tahu sebenarnya kau juga menyukainya, Erina."
Belum sempat Erina melayangkan protes, tangan Darren sudah menarik tengkuknya hingga bibir mereka saling bertaut. Darren melakukannya lebih lembut dari sebelumnya.
Erina hendak menolak, namun perlakuan pria itu kini membuatnya merasa terrbuaii. Rintik hujan gerimis membasahi ibu kota. Semesta seolah mendukung apa yang saat ini sedang mereka lakukan.
Darren semakin mengeratkan tubuh Erina dengan dirinya. Lantaran angin malam semakin kencang dan ia butuh kehangatan.
Dengan sangat lembut Darren menjelajahi setiap inci bibir Erina yang terasa sangat manis. Bahkan wanita itu tidak lagi sungkan untuk memberinya balasan melalui lilitan lidah yang menambah kesan panas.
Dari kejauhan, seseorang berdiri di ambang pintu dan menatap kedua orang yang ada di depan matanya dengan sorot tidak suka.
__ADS_1
"Kenapa kau menyukai sekretarismu sendiri, Darren. Kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada dia untuk kau jadikan menantu mama."
_Bersambung_