Tergoda Sekretaris Sexy

Tergoda Sekretaris Sexy
Makan Malam


__ADS_3

Seorang wanita berdiri mematung di depan halaman rumah besar usai turun dari mobil. Matanya mengedarkan pandangan menatap rumah yang saat ini ada di depan matanya.


"Ini rumahmu, tuan?" tanya Erina pada pria yang saat ini berdiri di sampingnya.


"Bukan. Ini rumah orang tuaku. Aku memutuskan untuk tinggal bersama mereka sebelum akhirnya aku menikah," jawab Darren.


"Sudah ada calon?" tanya Erina lagi.


"Belum. Kau mau jadi calonnya?"


"Hm?" iris mata Erina melebar.


Seketika Darren terkekeh kecil melihat reaksinya. Mungkin pria itu hanya bercanda.


"Ayo, masuk. Papa dan mamaku pasti sudah menunggu."


Erina mengangguk. Ia berjalan mengikuti langkah Darren. Jemari tangannya sibuk saling merremmas dan kini sudah mengeluarkan keringat dingin. Jujur, ia sangat gugup sekali.


Begitu masuk ke dalam rumah tersebut, Erina di buat takjub dengan interiornya yang super duper mewah. Ia belum pernah memasuki rumah semewah itu.


Seorang wanita paruh baya menghampiri.


"Den, tuan dan nyonya sudah menunggu di meja makan. Makan malamnya akan segera di mulai," ujar wanita paruh baya itu memberi tahu.


Darren menganggukan kepalanya. "Iya, bi. Terima kasih. Kami akan segera ke sana."


Pria itu menoleh ke arah Erina yang berdiri dengan jarak satu meter di belakangnya.


"Ayo!" ajak Darren di angguki oleh Erina.


Erina memberi senyum ramah pada wanita paruh baya itu begitu melewatinya. Wanita paruh baya itu pelayan di rumah tersebut. Ia sampai di buat kagum dengan kecantikan wanita yang putra majikannya bawa barusan.

__ADS_1


"Cantik sekali pacar baru Den Darren. Emang Den Darren tidak pernah salah kalau soal memilih wanita. Semua yang pernah jadi pacaranya, cantik semua. Tapi yang ini, lebih menarik. Cocok sekali," puji wanita paruh baya itu sebelum kemudian melipir kembali ke dapur.


Erina dan Darren sampai ruang makan. Kedua orang yang sudah ada di sana menoleh dan perhatian mereka tertuju pada wanita yang saat ini berdiri di samping putra mereka.


"Pa, ma. Ini Erina, sekretaris baru aku di kantor yang di pilih oleh papa." Darren memperkenalkan Erina pada kedua orang tuanya, terutama mamanya.


"Halo tuan, nyonya," sapa Erina dan mendapat balasan senyum ramah dari keduanya.


"Silahkan duduk, Erina." mama Darren mempersilahkan Erina untuk duduk di kursi sebrang.


Erina kemudian mengangguk. "Terima kasih, nyonya."


Darren menarik salah satu kursi untuk Erina duduk. Melihat perlakuan Darren barusan membuat wanita yang merupakan ibu kandungannya itu berpikir jika hubungan antara putranya dengan wanita itu bukan hanya sekedar bos dan sekretaris.


"Duduk, Erina."


"Terima kasih," ucap wanita itu.


"Bagaimana kinerja dia di perusahaan?" tanya Adipati pati putranya.


"Papa memilih orang yang tepat," jawab Darren.


"Baguslah kalau begitu."


Lagi-lagi Erina di buat penasaran kenapa Darren selalu mengatakan jika ia orang yang tepat. Padahal ia biasa saja selama ini.


"Kau nyaman bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh Darren, Erina?" tanya mama Darren yang bernama Asty.


Erina yang semula menunduk kini mendongakan wajahnya, memberanikan diri menatap wajah-wajah mereka.


"Iya, nyonya," jawabnya berusaha menetralisir rasa gugup dan canggung.

__ADS_1


"Jika ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman, kau bisa mengungkapkan apa yang membuatmu merasa tidak nyaman itu. Jangan sungkan untuk mengatakannya. Kami bisa menegur Darren untuk itu."


Erina menoleh ke arah Darren sekilas. Sebelum kemudian menatap nyonya Asty kembali.


"Sejauh ini nyaman, tante. Tuan Darren baik. Bahkan dia sampai mengajakku malam malam di rumah ini sekarang," jawab Erina.


"Iya. Memang Darren yang meminta izin pada kami untuk mengundang mu makan malam di sini bersama kami. Apa ada hubungan lain di antara kalian?"


Erina sampai tersedak air liurnya sendiri.


"Uhukk uhukk ..."


"Erina, kau baik-baik saja?" Dengan cepat Darren mengambilkan minum untuk Erina.


Erina menerima segelas air putih tersebut dan meminumnya sedikit sampai batuknya reda.


"Ma, kenapa harus bertanya hal itu?" ujar Adipati menegur istrinya.


"Maaf, pa. Mama hanya ingin tahu saja."


"Jangan membahas hal yang bukan menjadi urusan kita."


"Iya, pa. Maaf."


Begitulah kira-kira percakapan kedua orang tua tua Darren yang Erina dengar saat ia dalam keadaan terbatuk-batuk.


"Erina, saya minta maaf, ya," ucap nyonya Asty di angguki oleh Erina.


"Iya, nyonya. Tidak apa-apa," jawab wanita itu dengan suara yang sedikit serak.


Tanpa membahas apapun lagi, makan malam pun di mulai. Selama makan malam berlangsung, nyonya Asty terus memperhatikan nya. Itu yang membuat Erina sedikit tidak nyaman berada di sana. Itu semua karena perlakuan Darren yang berlebihan padanya. Pria itu menawarinya lauk pauk dan mengambilkan ke piringnya. Selain itu, Darren juga hendak menyuapi nya namun ia berusaha untuk menolak.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2