Tergoda Sekretaris Sexy

Tergoda Sekretaris Sexy
Kembali Ke Kantor


__ADS_3

Hari berikutnya, Erina kembali masuk ke kantor. Begitu ia berjalan melewati orang-orang yang sudah lebih dulu sampai di sana, pandangan mereka tertuju padanya. Tak jarang dari mereka yang bisik-bisik membicarakannya, disertai tatapan sinis.


"Masih berani dia masuk kerja setelah apa yang dia lakukan dengan bos sendiri?" bisik salah satu wanita pada lawan bicaranya yang berdiri tidak jauh darinya.


"Iya. Tebal sekali mukanya. Aku pikir dia mengundurkan diri dari sini. Eh ternyata mentalnya cukup kuat," sahut yang lainnya.


"Bukan mentalnya yang kuat, tapi perasaan malu nya yang sudah hilang."


"Lihat, bahkan tanda merah di lehernya belum hilang merata. Masih terlihat meski sudah tidak sejelas waktu itu."


Mendengar kalimat itu Erina refleks memegang bagian lehernya dan mempercepat langkah pergi dari sana. Jujur jika bukan karena surat perjanjian itu mungkin ia tidak akan pernah lagi menginjakan kakinya di kantor ini.


"Pasti dia bakal melakukan hal serupa dengan tuan Darren nanti," tebak salah satu dari ketiga wanita yang membicarakan Erina tadi.


"Itu sudah pasti. Tuan Darren juga, kenapa coba tergoda wanita seperti dia? Menurutku lebih cantikan Tessa, sih."


"Mungkin karena dia lebih unggul body nya. Dia lebih berisi dari Tessa. Oleh karena itu tuan Darren tergiur untuk mencicipi."


"Hahaha ... Dasar murah!"


"Tapi kalau tuan Darren mau sama aku, kayaknya aku juga bakal melakukan hal yang sama, deh. Tidak ada alasan untuk menolak. Aku pasti bakal melayani tuan Darren. Sayangnya aku tidak menarik di matanya."


"Ah kau sama saja murahnya dengan dia."


"Hehehe ..."


Ketiga wanita tersebut terus berlanjut. Antara membicarakan kejelekan Erina dan perasaan iri lantaran mereka tidak menarik di mata bosnya.


Sementara Erina sendiri pergi ke toilet dan melihat pantulan wajahnya di cermin wastafel. Ia melihat lehernya yang katanya masih menyisakan tanda merah di sana. Dan ternyata memang benar, tanda merah ulah Darren masih terlihat meski samar.


"Ah ya ampun, kenapa aku tidak memperhatikan hal ini tadi sebelum berangkat."

__ADS_1


Tanda merah tersebut tidak dapat di hapus. Satu-satunya cara ia harus menutupi tanda merah tersebut sebelum seluruh karyawan di sana melihatnya kembali.


Biasanya tanda merah seperti itu di tutup oleh plester untuk luka. Hanya saja ia tidak memilikinya.


Seketika ia mendapat ide. Dengan itu ia berharap tanda merah di lehernya bisa tertutup.


Ia membuka ikat rambut dan menggerai rambutnya ke depan. Dengan itu akhirnya tanda merah di leher di tertutup.


"Akhirnya tanda merahnya tidak kelihatan."


Erina kembali memperhatikan lehernya dari cermin.


"Tapi mereka tetap akan membicarakan aku nanti. Mereka pasti akan berpikir aku akan menggoda tuan Darren lebih dari kemarin dengan menggerai rambutku."


Erina berdecak. Ia merasa serba salah. Tapi untuk sementara ini ia akan menggerai rambutnya sebelum tanda merah di lehernya benar-benar hilang.


Setelah memastikan tanda merah di lehernya aman, Erina keluar dari toilet tersebut dan berpapasan dengan pemimpin perusahaan Adipati Gemilang.


Darren terke siap melihat penampilan wanita di hadapannya. Wanita yang bisa mengikat rambutnya itu kini menggerai rambutnya dan terlihat berbeda sekali. Lebih cantik dari sebelumnya.


"Tuan Darren, kenapa kau ada di toilet wanita khusus karyawan?" tanya Erina seraya melihat ke sekitar, khawatir ada orang lain yang melihat mereka di sana.


Pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Justru dia terpaku memandang wajahnya dengan ulasan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Tuan Darren."


"Hm, iya." Darren tersadar begitu Erina melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Tuan, kenapa kau ada di sini?" ulang wanita itu.


"Aku tadi bertanya pada security, apa kau melihatmu datang ke kantor ini. Katanya kau sudah datang. Aku mencarimu dan ternyata kau ada di sini."

__ADS_1


"Mencariku? Untuk apa?"


"Hanya untuk memastikan jika kau benar-benar kembali bekerja di sini."


Erina terdiam. Sebegitu khawatirnya pria itu jika ia tidak datang.


"Ah ya, hari ini kau terlihat sangat cantik dengan rambut yang di gerai," puji Darren kemudian.


"Aku terpaksa melakukannya," jawab Erina.


"Maksudnya?" tanya Darren tidak paham.


"Untuk menutupi tanda merah ulahmu, tuan. Tadi ada beberapa karyawan yang membicarakan aku karena tanda merah ini belum hilang."


"Boleh aku lihat?"


Erina mengangguk mengizinkan.


Darren maju selangkah dan tangannya membuka rambut yang tergerai di pundak Erina sebelah kiri, wajahnya sedikit menunduk guna melihat tanda merah yang Erina maksud bekas ulahnya.


"Iya, masih ada. Sebentar lagi akan hilang, kau tidak perlu khawatir."


"Iya, tuan. Semoga cepat hilang," harap Erina.


Dari kejauhan, seorang wanita merupakan karyawan kantor tersebut yang hendak ke toilet melihat mereka dari kejauhan. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke sana lantaran melihat dua orang tersebut.


"Oh my god, bahkan mereka melakukannya secara terang-terangan di depan toilet."


Wanita itu pikir bos nya tengah melakukan sesuatu dengan Erina. Padahal pria itu hanya mengecek tanda merah bekas ulahnya saja.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2