
Di tempat lain, seorang wanita tengah di ambang dilema. Tinggal menghitung hari menuju hari pernikahan, tapi perasaannya tiba-tiba berubah untuk calon suaminya itu.
Ia merasa belum sanggup untuk menikah dalam waktu dekat ini. Masih ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Meski ia sudah berulang kali memantapkan hati untuk tunangannya. Tapi entah kenapa sulit sekali melupakan pria yang pernah singgah di hatinya. Melupakan ternyata tidak segampang yang ia kira.
Seorang wanita paruh baya datang ke kamar menghampiri nya. Kemudian duduk di tepi ranjang di sebelahnya.
"Key, apa yang kau pikirkan, sayang? Tiga hari lagi kan hari pernikahanmu. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya wanita paruh baya itu seraya mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Aku masih kepikiran Darren, ma," terang wanita itu.
"Darren? Kenapa masih memikirkannya, Key? Bukankah hubungan kalian sudah lama selesai? Apa Darren datang lagi ke hidupmu?"
Keylin menggeleng. "Bukan Darren, ma. Tapi mamanya. Mamanya Darren meminta aku untuk kembali dengan putranya."
"Lantas?"
"Aku mengatakan perasaanku yang sejujurnya. Aku memang masih sayang sama Darren. Tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan mamanya. Aku menghargai tunangan aku, ma."
Wanita paruh baya itu menghela napas lega.
"Pilihanmu sudah tepat, sayang. Lalu apalagi yang kau pikirkan sekarang? Jangan katakan jika kau mendadak ragu dengan calon suamimu hanya karena penawaran mamanya Darren."
__ADS_1
Keylin menatap mamanya untuk seperkian detik. Mamanya bukan pakar ekspresi, tapi beliau mampu membaca pikiran nya.
"Sayang, ini namanya ujian pernikahan. Hal-hal seperti ini datang menguji dan kau harus bisa melewati semua ini."
"Mulai sekarang lupakan, Darren. Dia tidak lebih dari sekedar masalalu yang sudah lama ditinggalkan. Fokus saja pada pasanganmu sekarang. Pasangan yang akan membawamu menuju masa depan," tutur wanita paruh baya itu bijak.
Keylin mengangguk patuh. Apa yang di katakan oleh mamanya benar juga. Sekarang ia hanya perlu memantapkan diri dan hati. Fokus pada satu hal saja.
***
"Aku sudah jadian dengan Erina," ungkap Darren pada saat makan malam berlangsung di rumahnya.
Tentu saja hal itu membuat bu Asty terkejut. Kedua matanya melebar dan wajahnya tampak marah.
"Iya, terima kasih, pa."
"Papa tidak menyangka jika kau mau serius itu dengan Erina. Papa pikir Erina hanya di jadikan untuk main-main saja."
"Erina berbeda, pa. Aku bisa bedakan mana wanita yang ku jadikan untuk senang-senang dan mana wanita yang akan ku jadikan serius."
"Baguslah kalau begitu. Itu artinya kau sudah dewasa dalam bentuk pemikiran."
__ADS_1
"Terima kasih, pa."
"Sama-sama."
Adipati senang dan bangga jika putranya sudah bisa menentukan pilihan hidup dari segi apapun itu. Sementara bagi bu Asty itu merupakan kabar buruk.
Braakk ...
Darren dan Adipati terkejut begitu wanita itu menggebrak meja makan dengan keras. Tanpa sepatah katapun, wanita paruh baya itu pergi meninggalkan meja makan. Ia masih tidak terima dengan pilihan Darren.
"Ma ..." panggil Darren namun di hiraukan.
Darren hendak menyusul mamanya, akan tetapi langkahnya di cegah oleh sang papa.
"Sudah, biarkan saja. Ini hanya perihal waktu. Nanti mamamu pasti akan bisa terima dengan keputusan mu."
"Tapi, pa-"
"Tidak usah khawatir. Nanti biar papa saja yang bicara dengan mamamu."
Darren menggangguk patuh. Ia harap apa yang di katakan oleh papanya benar. Jika sang mama bisa menerima kehadiran Erina meski tidak sekarang.
__ADS_1
_Bersambung_