Tergoda Sekretaris Sexy

Tergoda Sekretaris Sexy
Makan Siang


__ADS_3

Siang ini Erina di ajak makan siang lagi oleh Darren. Pria itu memaksa nya untuk ikut bersamanya. Berulang kali ia menolak, tapi Darren tetap bersikeras mengajaknya makan siang bersama di restoran Jepang yang sebelumnya sempat di kunjungi.


"Tuan, kau lihat tadi kan? Pandangan orang-orang di kantor ketika kita keluar secara bersamaan dari toilet? Mereka menatapku dengan tatapan merendahkan. Mereka berpikir telah terjadi sesuatu di antara kita."


"Kenapa harus di ambil pusing?" ucap pria itu dengan enteng.


"Tentu saja aku tidak enak, tuan. Mereka pasti berpikir jika kita melakukan sesuatu di toilet tadi. Tanpa di sadari, mereka menellanjjangi kita di pikiran mereka."


"Ya sudah kalau begitu kita lakukan saja seperti apa yang ada di dalam pikiran mereka, agar jatuhnya tidak fitnah."


Erina memelotot mendengar kalimat pria itu.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau membuat diriku semakin buruk di mata mereka."


Darren menyunggingkan sebelah sudut bibirnya melihat ekspresi kesal di wajah Erina. Padahal ia hanya bercanda.


Tidak berapa lama, seorang waiter datang membawa menu pesanan mereka.


"Selamat makan tuan, nona," ucap waiter tersebut seraya meletakkan makanan beserta minuman ke atas meja di hadapan Darren dan Erina.


"Terima kasih," ucap Erina seraya membalas senyum ramah waiter tersebut.

__ADS_1


Waiter tersebut pun pergi usai mengantarkan makanan dan minuman pada mereka.


"Selamat makan," ucap Darren.


"Iya, tuan. Selamat makan," balas Erina.


Keduanya memulai makan siangnya. Awalnya Erina merasa biasa saja dan makan makanan di piring nya, tapi begitu ada sendok berisi makanan yang berhenti di depan mulutnya, ia mendongakan wajah dan melihat ke arah Darren. Sendok tersebur berasal dari tangan Darren yang berniat menyuapi dirinya.


"Aaa ..." Darren meminta Erina untuk membuka mulutnya.


Jantung Erina berpacu lebih cepat dari biasanya, kenapa tiba-tiba pria itu bersikap semanis ini padanya? Apa ada udang di balik batu?


Lantaran Erina tidak juga membuka mulut, Darren menggerakan sendoknya menerobos mulut wanita itu sehingga pemilik nya terpaksa membuka mulutnya.


Erina perlahan mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia memandang wajah pria di hadapannya yang sedari tadi senyum-senyum.


"Mau lagi?" tawar Darren namun Erina menggeleng.


"Tidak, tuan," tolak Erina masih sopan.


"Jangan sungkan, ayo buka mulutnya."

__ADS_1


Lagi-lagi Darren memaksa Erina membuka mulut. Mau tidak mau wanita itu membuka mulutnya dan suapan kedua pun berhasil.


"Di makan juga ternyata," ujar pria itu sembari geleng-geleng.


Erina jadi malu. Salah pria itu juga yang terus memaksa nya. Padahal ia sudah berusaha untuk menolak.


"Gantian bisa?" pinta Darren kemudian membuat iris mata Erina melebar seketika.


"Hm?"


"Gantian. Kau yang suapin aku. Aku tidak akan menolak. Aaa ..." Darren membuka mulutnya berharap Erina mau menuruti permintaannya.


Erina berusaha menghiraukan pria itu. Namun Darren terus membuka mulutnya. Terpaksa ia juga harus menyuapi balik.


Erina menyendok makanan dari piring nya. Kemudian ia menyuapi pria itu dengan perasaan terpaksa. Tapi Darren tetap senang lantaran Erina mau menuruti permintaannya.


Darren mengembangkan senyumnya lebar seraya mengunyah makanannya.


"Terima kasih, ya," ucapnya kemudian.


"I-iya," jawab Erina sedikit gugup.

__ADS_1


Darren terus menatap Erina tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Ia mulai merasakan perasaan lebih dari rasa penasarannya. Dan ini pertama kali untuk dirinya merasakan perasaan tersebut untuk sekretaris nya. Biasanya yang ia miliki hanya rasa penasaran dan ia jadikan untuk bersenang-senang saja. Tapi saat ini rasanya beda, Erina berbeda dari sekretaris-sekretaris sebelumnya.


_Bersambung_


__ADS_2