
Tiga hari berikutnya Erina sudah melakukan aktivitas pekerjaannya sebagai seorang sekretaris. Ia cukup di buat terkejut begitu mendengar para staf yang tengah membicarakan Tessa yang baru saja di pecat oleh Darren. Terlebih mereka berasumsi jika di pecat nya Tessa itu gara-gara kehadirannya. Beberapa dari mereka melirik nya dengan tatapan tidak suka. Buru-buru Erina melipir pergi dan menuju ke ruangan bosnya.
"Masuk!" teriak seorang pria dari dalam begitu ia mengetuk pintu ruangan tersebut.
Erina masuk dan menutup pintu nya kembali.
"Tuan Darren," panggil Erina mengalihkan perhatian pria itu dari layar laptop.
"Kenapa, Erina?" tanya pria itu.
"Aku dengar Tessa di pecat. Apa itu benar?"
Darren mengangguk membenarkan.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Mereka berpikir Tessa di pecat karena aku."
"Siapa?"
"Karyawan di sini."
"Jangan pikirkan hal itu."
__ADS_1
"Selain dia membenciku, alasan apa yang membuatmu sampai memecat Tessa?"
Darren diam sejenak begitu mendengar pertanyaan Erina. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu. Jika Tessa tetap di biarkan bekerja di perusahaannya, ia khawatir Tessa akan membocorkan soal hubungan kedekatannya selama ini. Ia tidak ingin gara-gara itu akan membuatnya kehilangan Erina.
"Itu bukan urusanmu. Sekarang duduklah di sini." Darren menepuk sofa tepat di sebelahnya.
"Tapi, tuan-"
"Aku tidak suka penolakan. Bukankah aku sudah katakan sebelumnya padamu?"
Mau tidak mau Erina harus patuh. Ia mendaratkan tubuhnya persis di sebelah Darren. Ia tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan padanya.
Darren memiringkan badannya, menatap wajah Erina dari samping lantaran wanita itu memandang lurus ke depan. Pandangan pria itu tertuju pada buah dada yang tampak menyembul besar. Membuat jakun leher nya kini naik turun meneguk saliva.
"Erina ..." panggil pria itu lirih namun terdengar nada sensual yang cukup kental.
Erina mengerjapkan matanya sekali. Sekujur tubuhnya kini sudah beku seperti batu. Wajah mereka sangat dekat seolah tidak ada lagi jarak di antara keduanya.
Kedua mata Darren kini sudah di penuhi oleh kabut hasrat. Saat Erina berusaha untuk mundur dan menjauh, dengan cepat ia menarik tengkuk wanita itu dan kini bibir mereka saling menempel.
Iris mata Erina terbelalak lebar. Ia berusaha untuk melepaskan tautan bibirnya.
"Mmm ... Mmmm ..." Erina berusaha mendorong tubuh Darren agar pria itu menjauh dan melepaskan tautan bibirnya.
__ADS_1
Namun, semakin ia berusaha untuk melepaskan, semakin kuat Darren menahan tubuhnya.
"Mmm ... Mmmmm ..."
Darren tak kunjung melepaskan bibirnya. Justru pria itu dengan ganas dan liarnya menjelajahi setiap jengkal bibirnya.
Bahkan kini Darren membuat tubuh Erina tertindih oleh badannya. Wanita itu merasa kehilangan banyak tenaga saat berusaha membebaskan diri dari terkaman bosnya sendiri. Pada saat Darren lengah, ia menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Darren dengan kekuatan tubuhnya yang masih tersisa.
"Lepaskan aku!" seru Erina.
Tubuh Darren terdorong jauh.
"Tuan, apa yang kau lakukan padaku, hah?" seru Erina lagi.
Darren membisu. Bahkan seruan Erina terdengar begitu lembut di telinganya.
Erina menyeka bibirnya yang basah, ia harus segera keluar dari ruangan tersebut sebelum pria itu kembali menerkam nya.
Belum sempat melangkah, pergelangan tangannya sudah di tarik dan membuat tubuhnya terjatuh ke dalam pangkuan pria tersebut.
"Ahhh ..." Erina refleks mendessah saat pria itu dengan kurang ajarnya merremmas buah kembarnya.
_Bersambung_
__ADS_1