
Ini adalah cerita fiksi. Cerita rekaan imajinasi penulis. Ditulis untuk tujuan hiburan semata.
Subuh telah menjelang. Matahari pagi mulai malu-malu menampakkan dirinya di ufuk timur. Semburat warna merah tembaga perlahan mulai terlihat. Kicau burung murai mulai terdengar bersahut-sahutan. Angin bertiup sepoi-sepoi basa yang lembut mengalir di antara hijau dedaunan.
Suasana pagi itu betul-betul menunjukkan damainya alam pedesaan. Jauh dari hingar bingar suara pabrik dan kendaraan. Terlindungi dari polusi udara dan polusi suara. Terselemuti oleh indahnya kedamaian dan ketentraman jiwa.
Karena kondisi itulah, setelah sholat subuh Samudra memilih untuk kembali ke peraduan. Meringkuk di bawah selimut. Bermalas-malas sembari mendengar siaran suara radio. Radio yang didominasi oleh musik keroncong dan gending-gending gamelan jawa. Betul-betul seperti suasana tradisional yang magic dan penuh dengan misteri.
Semenjak di tinggal sama istrinya, Samudra lebih suka tinggal di desa. Meninggalkan kehidupan hingar bingar kota Jakarta. Menyendiri di sebuah desa pinggir bukit. Mungkin lebih tepatnya menenangkan diri. Bersembunyi dari kenyataan bahwa istrinya lebih memilih laki-laki yang lebih sukses ketimbang hidup bersama dengan Samudra.
"Hmmm. Hangat sekali di bawah selimut ini." batin Samudra swmbari menarik kembali selimutnya. Selimutnya sempat terjatuh dari ranjang akibat oleh gerakan tanpa sadar sewaktu tertidur.
Tiba-tiba.
"Tok. Tok. Tok. " terdengar suara pintu diketuk.
"Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah orang." batin Sam sambil menggerutu kecil. Dilemparnya selimut yang sudah menutupi tubuhnya. Mulutnya menguap dan menggerakkan badannya ke kanan dan kek kiri. Baru dia melangkah ke ruang depan.
Dibukanya pintu itu perlahan.
Kriet.
Dua orang sedang menunggu di depan pintu. Satu orang lelaki setengah baya yang usianya tidak jauh dari Samudra dan sedangkan seorang lagi gadis berusia 17 belasan tahun.
"Siapa ya ?" sapa Sam sembari memperhatikan wajahnya dan berusaha mengingat-ingat.
"Selamat pagi Sam. Lupa denganku ?" sapa lelaki itu datar. Sam masih berusaha mengingat siapa gerangan lelaki itu. Namun hasilnya nihil.
"Hmm. Siapa ya ?" tanya Sam sekali lagi karena belum berhasil memulihkan ingatannya tentang orang ini.
Lelaki itu melepaskan topi dan kacamatanya. Dari situlah ingatan Sam secara perlahan mulai bisa mengingat kembali lelaki di depannya.
"Budi ! Ya ampun. Apa kabar ini ?" kata Sam sesaat setelah mengenali tamu lelakinya.
"Samudra. " sahut Budi sembari menjabat tangan Sam erat-erat. Sesaat kemudian mereka saling berpelukan.
Budi adalah sahabat Sam semenjak kecil. Mereka berpisah ketika Sam melanjutkan kuliah dan Budi memilih merantau bekerja ke Malaysia. Boleh dikata, mereka berdua melewati masa kecil dan masa remaja bersama-sama.
"Lalu ini siapa ?" tanya Sam melihat gadis di sebelahnya.
"Oh ya, kenalkan Sam. Ini anakku semata wayang. Namanya Diana. Ayo salim sama Om Sam!" ujar Budi pada Diana.
Lalu, Sam dan Diana saling berjabat tangan. Gadis tanggung. Belum dewasa banget tapi juga bukan lagi anak-anak. Kucel, tidak terawat. Kulitnya kusam mungkin jarang pakai handbody, apalagi luluran. Rambutnya panjang berkepang dua terlihat dikepang begitu saja. Jangan-jangan perawatan pakai sampho hanya sebulan sekali.
__ADS_1
"Eh . Ayo masuk. Silahkan masuk." ujar Sam mempersilahkan mereka menuju ruang tamu.
Rumah Samudra tak terlalu besar. Maklum hanya ditinggali oleh Sam seorang. Rumah tipe minimalis dengan dua kamar dan 1 ruang tamu.
Sam mempersilahkan mereka duduk.
"Sebentar ya." pamit Sam hendak mempersiapkan minuman.
"Ndak usah repot-repot Sam." kata Budi.
"Nggak lah. Cuma teh hangat saja. Buat teman kita ngobrol." sahut Sam.
Sam berlalu menuju dapur dan menyiapkan tiga cangkir teh. Beruntung Sam terbiasa membuat biang teh selepas sholat subuh. Tinggal menambahkan gula dan mengaduknya, maka teh hangatpun sudah siap.
"Ayo silahkan. Dicoba. Teh buatan duren." canda Sam.
"Duren ?" tanya Budi.
"Ah, selera humormu sudah hilang Bud ? Duren. Duda Keren." kata Sam sambil tertawa terkekeh-kekeh. Rupanya humor Sam tidak lucu bagi Budi dan Dian. Tak satupun dari mereka berdua yang tertawa. Menyadari hal itu Sam juga berhenti tertawa.
"Kamu sudah pisah dengan Lidya ?" tanya Budi. Agak ragu bertanya itu takut menyinggung.
Sam mengangguk pelan. Itu sebuah kenyataan yang tak perlu aku pungkiri. Belum hilang rasa sakit di dada, sehingga Sam terdiam setelahnya.
"Dian Om." sahut Diana pelan.
"Oh Dian. Panggilan yang bagus. Artinya cahaya dalam kegelapan." balas Sam.
Sam dan Budi ngobrol kesana kemari. Maklum lama tidak bertemu. Kadang obrolannya tidak bermutu, hanya membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Dian hanya terdiam cemberut dengan matanya sesekali melirik pada Sam dan Bapaknya.
Sampai suatu saat Sam merasa ada sesuatu yang kurang, perutnya mulai merasa kelaparan.
"Bud, aku tak keluar sebentar ya. Cari makanan." ijin Sam pada Budi.
"Ndak usah repot-repot Sam."
"Tidak lah Bud. Emang sudah saatnya sarapan." lanjut Sam segera beranjak hendak pergi.
"Eh, tunggu Sam. Bisa kita ngobrol dulu sebentar. Penting dan genting." cegah Budi. Sam mengurungkan niatnya dan kembali duduk lagi.
"Ada yang serius Bud ?" tanya Sam menjadi ikut-ikutan serius.
"Anu. Ini." kata Budi agak ragu-ragu. Lalu terdiam.
__ADS_1
"Ayolah Bud. Ngomong saja. Ndak usah sungkan." kata Sam memecahkan kebisuan.
Budi menghela nafas dalam-dalam.
"Istri saya kan jadi TKW di Malaysia. Kemarin kasih kabar kalau saat ini sedang sakit. Minta ditemani sampai sembuh." cerita Budi. Sam memperhatikan Budi dengan sungguh-sungguh.
"Oh begitu. Ya seharusnya kamu nyusul kesana. Kasihan istrimu. Saya tahu apa artinya kehilangan istri." sahut Sam.
"Kau butuh duit Bud. Insya Allah ada. Butuh berapa ?" kata Sam tak ragu-ragu menawarkan jasa.
"Oh, bukan itu." elak Budi.
"Oh. Maaf Bud. Saya terlalu jauh ya. Maaf." koreksi Sam takut menyinggung perasaan Budi.
Budi terdiam. Lama terdiam. Seperti ragu untuk mengutarakan maksudnya. Sam tidak berani lagi menyela dengan pembicaraan. Jadi, Sam hanya menunggu sampai Budi bicara lagi.
"Masalahnya Dian. Ia tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Aku tak bisa membawanya ke Malaysia. Itu akan membutuhkan biaya yang besar. Padahal aku dan istriku sudah tidak lagi bekerja. Aku tidak sanggup menanggung hidup mereka." papar Budi yang membuat jantung Sam menjadi sedikit berdegub-degub.
"Aku ingin menitipkannya padamu." bisik Budi lirih. Sam terdiam terpana. Sebenarnya Sam tadi sudah siap kalau Budi hendak pinjam uang. Tapi, ini menitipkan anaknya padanya. Haduh, serasa dititipi guci keramik dari china.
Sam terdiam, tak sanggup berkata-kata. Tak tega hendak menolaknya, tapi tak tegar juga hendak menerimanya. Itu artinya Dia akan berperan sebagai ayah yang belum pernah sama sekali Sam lakukan.
"Bisa kan Sam ?" pertegas Budi.
"Kalau istriku sudah sembuh, aku segera balik ke Indonesia. Dianapun akan segera kuambil. Tolonglah Sam." pinta Budi memelas.
Sam menghela nafas dalam-dalam. Padahal semalam tidurnya pulas dan tak bermimpi yang aneh-aneh, tapi ini kok ada kejadian aneh.
Budi menatap saya dengan penuh harap. Sedangkan Diana hanya tertunduk penuh kesedihan. Sedih hendak ditinggal ayahnya. Sedih ibunya lagi sakit dan sedih karena harus tinggal dengan orang yang baru dikenalnya.
Lama mereka hanya terdiam. Sampai akhirnya Sam memutuskan untuk menyetujuinya. Sam betul-betul tidak tega. Pastinya nanti akan banyak masalah yang menghadang. Biarlah itu difikir nanti saja.
"Baiklah Bud, aku setuju." kata Sam menyetujuinya.
Sorot mata kegembiraan terpancar di wajah Budi. Sebaliknya rona kegembiraan itu tidak terpancar di wajah Diana.
"Baiklah. Ayo Dian, barang-barang kamu bisa masukkan ke kamar sana. Tolong sekalian dirapikan ya. Selama ini kan tidak berpenghuni. Jadi berantakan." ujar Sam pada Diana yang selalu tertunduk.
"Terima kasih Sam. " kata Budi dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Bud. Kita kan sahabatan dari kecil." timpal Sam.
"Eh, kita keluar yuk ! Cari makan. Biar Diana disini. Beres-beres." kata Sam selanjutnya. Budi mengangguk setuju.
__ADS_1
Sam dan Budi bersepeda motor cari sarapan pagi. Sepanjang jalan mereka berdua banyak tertawa. Bercerita mengenang masa lalu yang lucu-lucu. Sejenak melupakan masalah yang tengah dihadapi oleh diri mereka masing-masing.