
Seperti yang diduga oleh Diana, Cindy datang lagi keesokan harinya. Namun, kali ini Ia membeli minyak goreng 20 liter.
"Berapa mba ?" tanya Cindy.
"Empat ratus ribu." jawab Diana.
"Mba ini. Lagi-lagi mau buat masalah denganku. Sudah, panggil Om Sam." kata Cindy.
Enggan membuat ramai, Diana memanggil Sam.
"Nih Om, Cindy membeli minyak goreng 20 liter. Jadi totalnya 400 ribu." kata Diana melaporkan.
"Dua ratus ribu. Harganya masih sama kan Om ?" timpal Cindy.
Sam terdiam. Antara rugi atau kehilangan langganan cantik.
"Eh. " kata Sam.
"Masih sama seperti kemarin kan Om. Ini uangnya. Makasih ya Om. Da da !" kata Cindy tak memberikan sedikitpun kesempatan Sam menjawab pertanyaan Cindy. Sambil membawa minyak goreng yang dibeli Cindy pergi dan menghilang.
" Da da !" balas Diana karena Sam hanya terdiam saja.
"Da da cantik. Besok beli sini lagi ya ? Masih banyak nih barangnya. Jangan lupa bawa senyum manisnya." jawab Diana sambil mencibir.
Sam melirik pada Diana dengan tatapan tajam. Takut juga Diana mendapatkan tatapan mata begitu. Akhirnya memilih diam.
Tak seberapa lama datang seorang perempuan datang hendak membeli minyak goreng. Diana hendak mengambilkan stok minyak goreng di dalam gudang. Tapi Sam tiba-tiba berkata, "Maaf bu, minyak goreng kita sudah diborong tadi. Sekali lagi maaf ya bu."
"Wah, habis ya." kata ibu pembeli itu kecewa.
"Iya bu, di borong sama bidadari cantik." ledek Diana sekali lagi. Tiba-tiba ada kertas meluncur ke arah Diana.
"Ngledek lagi, nanti yang meluncur palu." kata Sam sambil masuk ke dalam.
Diana mengurungkan niatnya hendak mengambil stok minyak di dalam. Ia mengerti maksud Sam.
"Tenang saja Om. Besok kalau datang lagi biar Dian yang menghadapi." kata Dian.
Sam menghisap nafas dalam-dalam. Lega.
"Om suka sama Cindy ya ?" tanya Diana penuh selidik.
"Ah, tidak." jawab Sam mencoba mengelak.
"Kelihatan dari sikap Om. Perhatian banget. Gadisnya cantik juga. Seksi." kata Diana nyerocos tak berhenti.
"Masih cantik kamu Yan." puji Sam.
Diana terdiam. Tersipu malu. Rona wajahnya memerah.
"Mengapa Om bisa kasih harga beda sama Cindy ?" tanya Diana.
"Tadinya sih buat menyenangkan dia. Soalnya anaknya itu can ... " kata Sam yang tidak diteruskan kata terakhirnya.
"Cantik kan ?" sahut Diana.
""Om cuma dimanfaatin saja tuh."
Sam tidak membalas komentar Dian.
__ADS_1
Seorang pembeli datang lagi. Kali ini ganteng. Perkasa. Mirip dengan artis korea. Namanya Janson.
"Halo Yan !" sapa Janson yang langsung menghampiri Dian. Keberadaan Sam sama sekali tak dianggap.
"Halo juga Son ! Ehm tumben nih, biasanya yang belanja ibu ?" tanya Dian. Ternyata ibu Janson langganan di toko Sam. Ibu Janson punya restoran. Tak begitu jauh dari toko tempat Sam berjualan.
"Ibu langsung ke restoran. Jadi aku yang ke sini." kata Janson yang sedari tadi matanya tak mau lepas dari Dian.
"Oh gitu. Jadi kamu yang repot ke pasar ya ?" lanjut Dian.
"Ah, gak repot kok. Kan mau ketemu gadis cantik." kata Janson merayu.
"Ehem ehm. Hmm." suara dehem Sam yang sengaja dikeraskan.
"Kenapa pak tua itu. Batuk-batuk harusnya istirahat di rumah tidak perlu kerja lagi. Biar kita yang muda-muda saja yang bekerja." kata Janson. Sam mendelik mendengar kata-kata itu.
"Apa ? Pak tua ?" semprot Sam dalam hati.
Diana tersenyum geli.
"Ini Son, belanjaannya sudah." kata Diana.
"Wah. Terima kasih ya." kata Janson sambil membayar belanjaan yang dibelinya.
Diana memberika kembalian uang Janson.
"Sudah tidak usah. Buat kamu saja." jawab Janson.
"Aduh. Terima kasih ya Son. Kamu baik banget." kata Diana sambil melirik ke arah Sam.
"Tuh lihat ini bayarnya malah dilebihin. Gak minta diskon maksa kayak gadis pujaan hati Om." batin Diana.
"Oh ya. Nanti siang makan siang direstoranku ya ? Nanti aku jemput." ajak Janson.
"Oh. Ndak tau nanti." jawab Dian tergagap.
"Mari Yan." kata Janson.
"Ya ! Ya !" jawab Dian.
Toko itu sunyi kembali. Belum ada lagi pembeli yang datang. Dari tadi Dian melihat Sam cemberut saja.
"Ah, ada apa ini. Apa aku berbuat salah." batin Diana.
Semua terjawab manakala hari menjelang siang. Sam mulai menutup Tokonya.
"Lho Om. Kok sudah mau tutup ?" tanya Diana keheranan.
"Kan mau makan siang. Makan enak di restoran." jawab Sam nyindir dengan bibir nyinyir.
Diana kerasa dengan sindiran itu.
"Janson tadi cuma bercanda Om. Lagipula Dian nggak mau makan di warungnya Janson." sahut Dian.
"Restoran Yan ! Restoran. Bukan warung. Makanannya enak lho. Aku juga sering makan di sana." timpal Sam dengan nada sengit.
"Iya restoran." sahut Dian lirih.
"Ya udah siap-siap sana. Dandan yang cantik. Sebentar lagu dijemput tuh sama sang Arjuna." kata Sam.
__ADS_1
"Om mengijinkan tidak ?" tanya Diana pelan-pelan.
"Tentu ! Silahkan !" jawab Sam agak ketus.
Diana bingung dengan sikap Sam.
"Diana ikut pulang saja." kata Diana pada Sam.
"Lho nggak jadi pergi makan siang bareng Janson ?" tanya Sam.
"Nggak." jawab Diana menggeleng.
Mendengar jawaban itu Sam membuka kembali pintu-pintu toko yang telah ditutup.
"Kok dibuka lagi Om ? Gak jadi pulang ?" tanya Diana keheranan.
"Gak jadi. Kan kamu tidak jadi makan siang." jawab Sam kalem.
"Oh." jawab Diana sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu jaga toko ya ? Saya beli makan dulu. Dian pengin makan apa ?" kata Sam.
"Terserah Om saja." jawab Dian enteng.
Diana sama sekali tidak mengerti dengan sikap Sam. Sebentar mau tutup toko, sebentar lagi mau buka toko.
"Ada apa dengan Om Sam ?" batin Diana.
Sam pergi mencari makan siang. Tak seberapa lama Janson datang.
"Yan. Yuk makan siang !" ajak Janson pada Diana.
"Maaf gak bisa. Aku lagi jaga toko." tolak Diana,
"Si tua itu kemana ? Apa gak ada ?" tanya Janson mengenai Sam.
"Lagi keluar." jawab Diana.
"Aduh. Oh, aku punya ide." kata Janson selanjutnya.
"Tunggu sebentar." kata Janson berlari meninggalkan toko Sam.
Diana hanya mengawasi saja.
Tak seberapa lama Jason kembali dengan membawa bungkusan makanan. Ternyata Janson mengambil makanan dari restorannya.
"Ayo Yan, kita makan bersama." kata Janson sambil membagi makanan buat Dian dan dirinya.
"Hanya dua bungkus. Aduh, nanti Om Sam sewot lagi." batin Diana.
"Kamu dulu saja yang makan, aku nunggu Om Sam." tolak Diana secara halus.
"Kenapa harus menunggu pak tua itu ?" tanya Janson kembali.
"Tadi kan Om Sam beli makanan buat aku dan Om. Masa aku makan duluan." kata Diana menjelaskan.
"Kamu makan dulu saja !" pinta Diana.
"Ya. Nggak asyik dong. Aku bela-belain ke sini biar bisa makan sama kamu." kata Janson kecewa.
__ADS_1
"Maaf ya." bisik Diana.