Terjebak Cinta Putri Sahabat

Terjebak Cinta Putri Sahabat
Bag. 4 Pembeli Cantik


__ADS_3

Tak terasa hampir satu bulan Diana tinggal bersama dengan Samudra. Keberadaan merekapun sudah diketahui oleh aparat desa, sehingga aktivitas Diana tidak menganggu dan tidak ada yang curiga. Hubungan merekapun harmonis. Hingga saat ini tidak ada kabar dari Budi dan Ibu Diana.


Sam dan Diana menjalani hidup dengan tenang. Sam saat ini mulai membuka lagi toko di depan pasar. Beberapa waktu lalu toko itu ditutup karena Sam belum bisa melupakan kesedihan lantaran ditinggal istrinya.


"Sudah buka lagi pak Sam ?" tanya Ijon tetangga di tokonya.


"Iya nih pak. Tapi mungkin belum penuh. Masih siap-siap dulu. Dibersihakan. Sama stok yang sudah kadaluarsa disingkirkan." kata Sam menjelaskan.


"Oke pak Sam. Mari saya duluan."


"Oh ya, silahkan mas Ijon." jawab Sam.


Hari masih siang, namun Sam sudah selesai berbenah. Sam memutuskan untuk pulang. Mulai jualan penuhnya besok saja.


Saat Sam hendak masuk rumah, sekilas Sam melihat Diana berjalan melenggak lenggok layaknya ssorang model di catwalk. Sam urung masuk, hanya melihat aktivitas Diana dari luar. Benar saja, Diana lagi bergaya layaknya model.


Dengan pakaian celana jeans ketat dan jaket longgar sampai sedikif di atas dengkul, Diana berjalan mengitari ruang tamu. Sesampai di dekat pintu keluar di berputar dan mebuka jaketnya sehingga terlihat dengan jelas baju kaos yang dikenakannya. Berdiri sesaat lalu berjalan lagi mengitari ruang tamu. Lalu, masuk ke kamar.


Sam menunggu apalagi yang hendak dilakukan oleh Diana. Kali ini Diana keluar dari kamar masih menggunakan jaket yang sama. Berjalan mengitari ruang tamu, di depan pintu berputar. Sesaat di berhenti dan membuka bagian depan jaketnya. Terlihat dengan jelas pakaian yang dikenakan yaitu celana hawai dan kaos tangtop pink. Beberapa saat kemudian dia berjalan berputar dan kembali lagi ke kamar.


Sam tersenyum melihat tingkah Diana. Mungkin dia sedang melakukan peragaan busana. Dugaan Sam betul. Tak seberapa lama, Diana nongol lagi dari dalam kamar. Kali ini masih menggunakan jaket yang sama. Tapi tak jelas bawahannya pakai apa karena tertutup oleh jaket sampai di atas paha sedikit. Berjalan memutar mengelilingi ruangan dan berhenti di depan pintu. Tepat di depan Sam yang sedang mengintip dari luar. Diana berputar sekali, lalu dibuka bagian depan jaketnya.


"Wow." Sam terpekik lirih. Diana mengenakan celana laging. Barang yang tertukar. Seksi sekali. Laging hitam memperlihatkan Diana begitu cantik. Gayanya seperti artis model. Kecantikannya tidak kalah. Belum selesai keterkejutan Sam, Diana sudah menutup jaketnya dan berjalan mengitari ruang dan masuk kembali ke kamar.


Sam menepok jidatnya. Diana keluar lagi dari kamar, masih mengenakan jaket yang sama. Sama persis seperti tadi. Berjalan mengitari ruang dan berhenti di depan pintu, tepat di depan Sam yang menanti dengan dada berdebar-debar dari balik pintu.


"Apalagi yang dikenakan kini." batin Sam.


Diana membuka bagian depan jaketnya. Kali ini membuat Dada Sam tambah begetar. Sam merasa terjebak, tadinya Ia berfikir Diana mengenakan pakaian yang lebih menantang. Nyatanya Ia mengenakan baju semula. Sam tersenyum malu. Pikiran ngeresnya membuat Ia terjebak dalam angan-anagn semu.


Sam menunggu aksi Diana selanjutnya. Namun, lama sudah Diana tak muncul- muncul dari kamar.


"Pertunjukkan sudah selesai ini." batin Sam.


Sam terduduk lemas. Ingatannya kembali ke masa lalu saat masih sering bercanda dengan istrinya. Kini, malam-malam dilewatinya sendiri. Sekuat tenaga menahan gairah yang belum padam walau sudah cerai dengan istrinya. Sebuah kebutuhan biologis yang hingga kini belum tersalurkan.


Lagi asyik menerawang masa lalu, tiba- tiba Diana keluar.


"Eh, Om Sam. Sudah lama Om !" selidik Diana agak kuatir.


"Oh, belum." jawab Sam berbohong. Malu kalau ketahuan lagi ngintip Diana.

__ADS_1


"Kok tidak masuk Om ?" tanya Diana.


"Lha ini mau masuk. Pas kamu keluar tadi." kata Sam.


"Benar kan Om, baru saja datang ?" tanya Diana kuatir.


"Betul Yan. Masa kamu tidak percaya sama Om." jawab Sam sambil masuk ke dalam dan tak memperdulikan omongan Diana.


Diana diam saja dan ikut masuk ke dalam.


"Lihat dikit sih Yan." kata Sam jujur.


"Tuh kan." kata Dian sambil mukul-mukul ke Sam.


"Emang kenapa Yan ?" tanya Sam.


"Aku kan malu Om." kata Diana sambik menutup mukanya.


"Nggak perlu malu. Kamu cantik. Pantas kalau jadi model begitu." kata Sam.


"Ah. Om."


"Betul. Diana cantik." puji Sam sekali lagi.


Diana segera berlalu dari hadapan Sam. Hari sudah sore saatnya menyiapkan makanan.


Keesokan harinya Diana diajak ke toko milik Om Sam. Toko kelontong dan berbagai kebutuhan sehari-hari.


"Karyawan baru Om ?" tanya salah seorang pedagang yang lewat.


"Bukan, ini keponakan saya."


"Oh. Cantik orangnya. Seksi juga."


"Iya dong." kata Om Sam.


Beberapa saat kemudian ada seorang pembeli datang. Seorang gadis seusia dengan Diana. Parasnya juga cantik. Pembeli itu dilayani oleh Diana.


"Berapa semua mba ?"


"Delapan puluh ribu." jawab Diana.

__ADS_1


"Mahal sekali. Biasanya cuma 40 ribu." protes pembeli itu.


"Satu liternya 20 ribu. Empat liter ya 80 ribu mba." kata Diana menjelaskan.


"Om Sam mana. Saya ingin ketemu sama Om Sam." kata gadis itu.


"Untuk apa, sema sudah jelas kok. Apalagi yang mau ditanyakan. " jawab Diana dengan nada agak ketus.


"Saya mau ketemu Om Sam. Tolong panggilkan ?"


"Nggak ada." jawab Diana ketus.


"Tadi saya lihat ada di dalam, bilangnya kok tidak ada. Om. Om Sam." teriak gadis itu memanggil.


"Gak mau beli ya sudah. Tidak usah berteriak seperti itu." hardik Diana.


"Om. Om Sam !" teriak gadis itu memanggil.


Mendengar keributan di tokonya, Sam keluar, "Eh, ada Cindy. Ada apa Cin ?"


"Nih Om, minyak goreng 4 liter harganya 80 ribu. Biasanya 40 ribu." kata gadis itu.


Sejenak Sam memeriksa barang dagangan Cindy.


"Berapa Om." tanya Cindy.


"Empat puluh ribu saja." jawab Sam.


"Tuh kan. Empat puluh ribu." kata Cindy penuh kemenangan.


"Tapi, Om !" protes Diana keheranan.


"Sudah. Tidak apa-apa." jawab Sam yang membuat Diana semakin tidak mengerti. Diana melirik pada Sam. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres pada keduanya. Mata Sam tidak pernah lepas dari Cindy. Bahkan gaya bicaranya sangat lembut dan penuh perhatian.


Diana menduga-duga telah terjadi sesuatu diantara mereka. Mulut Diana segera mencibir.


"Pasti ada apa-apanya nih." batin Diana.


"Dah Om. Cin pulang dulu ya. Makasih ya Om." kata Cindy berpamitan.


"Dah Cin." balas Sam secara reflek. Melihat itu Diana memoyongkan bibirnya.

__ADS_1


Setelah Cindy menghilang Diana berkomentar, "Apa tidak rugi Om model dagang begitu ?"


"Ha ha ha. " Sam cuma tertawa.


__ADS_2