
Sore ini pukul 6.30. Sam dan Diana sedang makan sore.
"Kira-kira siapa ya Om yang ngintip tadi ?" tanya Diana memecah kesunyian.
"Ups. Huk." Sam batuk kecil. Untung tak tersedak.
"Hati-hati Om." kata Diana.
"Selama ini yang begitu getol pendekatan siapa ?" tanya Sam balik.
"Janson. David. Januar. Rian. Doni. Raharja. Tosa. E .." jelas Diana.
"Ow. Sebanyak itu. Kok Om tidak tahu." tanya Sam kaget.
"Tidak semua Om harus tahu kan. Lagi pula, Om kan punya kesibukan sendiri." terang Diana.
"Yang masuk hatimu yang mana ?" selidik Sam.
"Gak ada. Mereka saya anggap teman kok." kata Diana.
"Memang seperti apa cowok yang kamu idamkan ?" tanya Sam.
"Yang tanggung jawab Om" sahut Diana.
"Tinggal diseleksi tuh, mana yang bertangbung jawab." jawab Sam sekenanya.
Diana terdiam. Begitu juga dengan Sam. Mereka melanjutkan menghabiskan makanan masing-masing. Tak lama kemudian ada suara pintu diketuk.
Tok. Tok. Tok.
Sam menuju ke ruang tamu dan membuka pintu. Ada tiga orang di luar. Dua orang sudah setengah baya dan seorang lagi masih muda. Kayaknya pasangan suami istri dan anaknya.
"Mohon maaf. Siapa ya ?" tanya Sam kebingungan.
"Oh iya. Saya Santoso. Ini istri saya. Ini anak saya Dimas." kata Santoso memperkenalkan diri.
"Oh iya. Silahkan masuk !" kata Sam.
Mereka masuk sambil meletakkan buah tangan yang lumayan banyak.
"Mohon maaf. Saya masih belum mengenali Bapak dan Ibu. Mohon maaf." kata Sam.
"Tentu saja Bapak tidak kenal. Kami kenalnya Diana." jawab Santoso.
"Oh begitu. Oke. Oke. Saya faham sekarang. Jadi Bapak, Ibu dan Mas mau ketemu sama Diana." sahut Sam sudah mulai dapat pencerahan.
"Yan ! Ada tamu nih !" panggil Sam pada Diana yang sedang berada di kamar.
Diana keluar kamar. Seketika terkejug melihat Dimas dan orang tuanya.
"Pak De dan Bu De." sapa Diana sambil mencium tangan kedua orang tua itu.
"Apa kabar Dim ?" lanjut Diana menyapa Dimas sambil bersalaman. Senyum bahagia mengembang di wajah Dimas. Tapi Diana menunjukkan raut wajah kebingungan.
"Kami dulu tinggal satu desa dengan Diana. Sampai kemudian Diana pindah kesini." kata Santoso menjelaskan.
__ADS_1
"Oh ya. Jadi Diana dan Dimas sudah saling kenal ?" tanya Sam sambil memandang ke Diana. Diana nyengr kuda.
"Apa kabar Din ?" tanya Dimas pada Diana.
"Baik. Kamu sendiri gimana kabarnya ?" tanya Diana balik.
"Baik."
Merekapun ngobrol kesana kemari. Hingga akhirnya Santoso berbicara serius.
"Begini pak Samudra. Saya datang kesini sebetulnya ditangisi anak saya Dimas. Dimas dan Diana sudah lama menjalin hubungan. Nah, kedatangan Saya dan Istri kesini untuk mempererat hubungan mereka. Singkatnya saya melamar Diana untuk jadi calon istrinya Dimas. Begitu pak Samudra." kata Santoso menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Sam terdiam. Dia memandang Diana. Diana juga bingung. Dahinya berkerut tanda kurang berkenan dengan situasi yang ada. Cukuo lama Sam dan Diana berpandang-pandangan.
"Begini lho pak Santoso. Saya menghargai maksud baik bapak untuk melamar Diana. Cuma pak Santoso kayaknya salah alamat. Saya bukan orang tuanya Diana. Saya itu teman baiknya Budi. Hanya teman baik. Jadi tidak berhak memutuskan untuk hal-hal seperti ini." kata Sam sambik menghela nafas panjang.
"Gimana Yan ?" tanya Sam pada Diana.
"Apa yang Om sampaikan sudah betul." jawab Diana.
"Kamu mau terima lamaran ini nggak ?" bisik Sam.
"Saya belum kepikiran Om." balas Diana.
Percakapan berhenti. Semua dalam posisi tidak enak.
"Lalu bagaimana ini pak Sam ?" tanya Santoso.
"Sebaiknya menunggu Bapaknya Diana pulang. Kalau tidak sabar, bapak bisa menemui Budi di Malaysia." jawab Sam.
"Maaf Mas, tunggu bapak pulang dulu." jawab Diana.
Percakapan menemui jalan buntu. Akhirnya Santoso berpamitan pulang.
"Semoga kita bertemu lagi kalau Pak Budi sudah pulang." ujar Santoso.
"Betul Pak." sahut Sam.
Sam mengantarkan tamunya sampai luar rumah. Begitu kembali didapati Diana masih duduk terdiam.
"Kamu menyesal Yan ?" tanya Sam.
"Ah. Tidak kok. Aku cuma kaget. Dimas ternyata serius begitu." jawab Diana.
"Memang pernah mengutarakan sebelumnya ?" imbuh Sam.
"Iya. Sebelum Bapak ke Malaysia. Dimas pernah mengutarakan padaku." jawab Diana malu-malu.
"Oh. Kamu menolaknya ?" tanya Sam.
"Iya Om. Hidupnya saja masih sama orang tua. Pengangguran. Bagaimana mau menghidupi kita berdua. Lagipula saya hanya mengganggap Dimas teman." sahut Diana lirih.
"Ya udah kalau begitu. Kita tunggu Budi pulang. Nanti kita bicarakan dengan bapakmu." kata Sam.
"Makasih ya Om." ujar Diana.
__ADS_1
"Oke. Itu oleh-oleh dari Dimas dibawa masuk." kata Sam sambil menuju ke kamarnya.
Samudra merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Sepertinya ada gundah yang dirasakan Sam saat orang tua Dimas melamar Diana. Seperti ada rasa tidak rela yang bergejolak di hatinya.
"Apakah aku sudah jatuh cinta pada Diana ?" batin Sam.
Sam menggeleng-gelengkan kepalanya. Kejadian kali ini membuat Sam tambah pusing. Kewajibannya menjaga Diana dan hasrat pribadi yang perlahan mulai tumbuh.
Seperti biasa Sam lebih memilih membenamkan wajahnya di bantal dan memutar radio yang khusus menyiarkan musik keroncong. Biasanya alunan musik keroncong membuat dia terlena dan pelan-pelan tertidur. Namun tidak untuk kali ini. Permasalahan itu begitu liar menguasai benaknya. Dalam benaknya hanya Diana, Diana dan Diana. Hingga akhirnya Sam bangkit dan melihat keluar dari lubang ventilasi kamar.
Dilihatnya Diana sedang berbaring di sofa. Sama seperti Sam, Diana juga sedang memikirkan sesuatu. Dalam pandanga Sam, Diana terlihat sangat cantik malam ini. Wajahnya yang keibuan dan sikapnya yang kadang kekanak-kanakan. Ada getar dalam dada Sam saat memperhatikan Diana.
Sam memutuskan untuk keluar berbincang dengan Diana yang tengah rebahan di sofa.
Kriet. Pintu kamar Sam terbuka. Diana segera duduk.
"Belum tidur Yan ?" tanya Sam.
"Belum Om." jawab Diana lirih sambil menggeleng perlahan.
Sam duduk di depan Diana.
"Masih kepikiran Dimas ?" tanya Sam.
"Sedikit Om. Lebih kepikiran Bapak sama Ibu."
Sam menghela nafas dalam-dalam.
"Kamu punya alamat Bapak dan Ibumu tinggal ?" tanya Sam.
Diana menggeleng pelan.
"Kita sabar saja menunggu Bapak pulang." kata Sam.
"Iya." jawab Diana pasrah.
Sam lalu keluar rumah. Duduk di teras. Bulan purnama sedang bersinar. Sam duduk sambil memutar radio dengan musik keroncongnya. Tak seberapa lama Diana keluar sambil membawa secangkir kopi dan makanan ringan.
"Kopi Om." kata Diana menawarkan kopi dan duduk disebelah Sam.
"Ternyata duduk di luar memandang terang purnama sangat asyik ya Om." kata Diana sambil menghirup secangkir kopi.
"Ini oleh-oleh Dimas ?" tanya Sam.
Diana mengangguk sambik tersenyum simpul.
"Bisa dibawa tuh ke toko. Dijual lagi." ledek Sam.
"Ih. Om jahat ya ternyata. Nggak manusiawi banget." kata Diana sambil mencubit Sam.
"Lha sebanyak itu buat apa ? Kamu mau habisin ?" tanya Sam.
"Jangan lah Om. Tidak etis." sahut Diana.
"Iya ya. Bercanda lah Yan." balas Sam.
__ADS_1
Malam itu purnama semakin indah. Angin bertiup tak begitu kencang.