Terjebak Cinta Putri Sahabat

Terjebak Cinta Putri Sahabat
Bag. 2 Titipan berharga


__ADS_3

Ini adalah cerita fiksi. Cerita rekaan hasil imajinasi penulis. Ditujukan untuk hiburan semata.


Sam dan Budi pergi mencari makanan buat sarapan pagi. Makanan ala kadarnya. Buat lelaki berumur yang menduda, asalkan kenyang sudah cukup. Seperti itu juga yang terjadi pada Sam. Pagi inipun Sam membeli makanan ala kadaenya seperti biasa. Rupanya mereka mempunyai selera makanan yang sama. Makanan yang Sam suka, Budipun suka. Karena Budi sama sekali tidak berkomentar dan berkeberatan terhadap makanan yang Sam pilih. Apa karena Budi tamu, malu untuk memilih.


Mereka berdua sudah sampai kembali ke rumah. Ketika memasuki rumah, Sam sungguh terkejut. Rumahnya menjadi rapi sekali. Bahkan Sam sempat ragu kalau salah masuk rumah. Tapi tidak, karena di sana masih ada Diana yang menyambut mereka berdua.


"Wah, makasih ya Dian. Rumah Om jadi rapi banget." puji Sam dengan rasa gembira.


"Sama-sama Om." sahut Dian lirih. Belum juga terlihat senyum Dian hingga saat ini. Masih kaku.


"Wajar." batin Sam.


"Ayo kita makan." ajak Sam sembari membawa makanan yang baru saja dibelinya.


Meja makanpun sudah teratur rapi. Sudah dibersihkan. Sudah tersedia piring, sendok dan tempat minum. Sam jadi merasa asing di rumahnya sendiri. Tak bisa dipungkiri oleh Sam, gadis ini begitu pandai membawa diri. Walaupun sedikit kucel, tak apalah. Yang penting tidak bau-bau amat seperti seorang gelandangan. Lagipula suatu saat Sam bisa membawanya kesalon kecantikan bilamana perlu.


Tanpa di suruh, Dian membuka bungkusan. Mengaturnya dengan rapi di piring-piring mereka. Mereka makan dengan lahap pagi itu. Merayakan perjumpaan dengan sahabat lama.


"Kamu tidak pernah masak Sam ? Beli terus begini ?" tanya Budi.


"Tergantung kondisi Bud. Kalau lagi malas, ya beli saja. Tapi kalau lagi pengin ada kegiatan, ya masak." jelas Sam.


"Bisa masak juga Sam." lanjut Budi.


"Ya, bisa karena terpaksa. Awalnya ambyar. Lama-lama faham juga." jelas Sam selanjutnya. Sam tersenyum geli dalam hati, karena sebenarnya Sam sama sekali tidak bisa memasak.


"Dian bisa masak tidak nih ?" tanya Sam selanjutnya.


"Bisa Om. Tapi gak tau enak atau tidak menurut selera Om." jawab Diana lirih.


"Oke. Tidak masalah. Kalaupun tidak bisa masak, beli makanan matang juga tidak apa-apa." sahut Sam menenangkan hati Diana.


"Pokoknya disini apapun, oke." lanjut Sam. Budi dan Diana tertawa mendengar kata-kata itu.


Selasai makan Sam dan Budi kembali ke ruang tamu. Sam melihat rona wajah Budi yang gelisah. Gesture tubuhnya ingin menyampaikan sesuatu, tapi sedari tadi diam saja.


"Tenang saja Bud. Aku akan menjaga Dia seperti anak kandungku sendiri." kata Sam menenangkan diri Budi.


"Terima kasih Sam." sahutnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jangan gitu lah Bud. Kita kan bersama dari kecil dalam suka dan duka." hibur Sam selanjutnya.


Budi hanya terdiam saja. Sambil menundukkan kepala.


"Kamu kenapa sih Bud ?" tanya Sam selanjutnya.


"Anu. Anu." jawabnya gagap. Lalu memandang Sam. Lalu nunduk lagi. Sepertinya Budi ragu-ragu hendak mengutarakan sesuatu.


"Kenapa nih orang ?" batin Sam. Suasana hening terjadi agak lama. Tiba-tiba Sam menyadari sesuatu. Pasti ini penyebabnya.


"Oke Bud, aku tau apa masalahmu. Butuh berapa ?" tebak Sam dan menyakini tebakannya benar.


Benar saja. Budi menyebutkan angka.


"Nah, dari tadi ngomong ta Bud. Sampai aku bingung. Aku ambilkan dulu ya." kata Sam sambil menuju kamar.


Sekembalinya ke ruang tamu, Sam mendapati Diana sudah duduk dekat ayahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Budipun menunduk sedih.


"Sudah ya Dian. Bapak pergi dulu menjenguk ibumu. Jaga diri baik-baik." kata Budi serak dan sedikit terisak.


"Dian ikut saja ya !" rajuk Diana pada Budi.


Budi memeluk Diana erat-erat, sembari mengecup kepala gadis itu. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Budi segera menatap Sam.


"Titip Dian ya Sam." bisiknya.


Sam hanya mengacungkan jari jempol sembari tersenyum sebisanya. Budi meninggalkan rumahku dengan menintipkan putri tunggalnya. Sementara Diana masih terlihat menangisi kepergian Bapaknya. Sam biarkan Diana mengawasi kepergian Budi sampai menghilang dari pandangan. Dengan menangis sesegukan Diana menuju kamar yang tadi telah dirapikannya. Sampun masuk kamar dan termangu-mangu di depan laptopnya, bingung mau apa hari ini. Tiba-tiba saja Sam merasa dirinya harus menjadi seorang Ayah.


"Ayah ?" bisik Sam pada dirinya sendiri.


"Gadis itu sudah besar. Memang belum dewasa, apa ya mampu aku merawatnya dan membimbingnya nanti."


"Ah, biar sajalah. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi." batinku selanjutnya.


Sam kembali ke ranjang kesayangan. Seperti biasanya diisi dengan siaran radio yang memutar musik keroncong dan gamelan jawa. Jauh dari kata mordernisasi. Kehidupan yang katro. Sekatro nasib yang dirasakan oleh Sam.


Alunan musik keroncong membuat Sam terlelap tidur. Ranjang ini terasa begitu hangat dan empuk. Sehingga Sam merasakan begitu nyaman.


Lama juga Sam tertidur hingga suara adzan terdengar sayup-sayup dari masjid. Sam meloncat terkejut.

__ADS_1


"Jam berapa ini ?" batin Sam. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 11.45 wib. Lama juga Sam tertidur.


"Ya ampun. Diana." tiba-tiba Sam teringat gadis itu. Bergegas Sam menuju kamar sebelah. Terlihat pintu kamar tak ditutup rapat. Dari celah pintu terlihat diana juga sedang tidur.


Sam menarik nafas lega. Walaupun Diana anak sahabatnya, tapi Dia merasa harus bertanggung jawab setelah Budi menitipkannya padanya.


Segera Sam menuju dapur, menyiapkan makan siang. Perut ini rasanya sudah mulai keroncongan. Tidak ada makanan disana. Bahan makanan juga tidak ada. Lagi pula Sam selalu gagal saat mencoba memasak. Kadang keasinan. Gosong. Haduh.


Saat sedang melamun macam-macam, tiba-tiba.


"Lapar ya Om ?" kata seseorang dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Diana.


Sam tersenyum malu. Ketahuan.


"Iya Dian." jawab Sam singkat.


"Tadi aku kedapur Om. Mau masak. Tapi tidak ada bahan makanan yang bisa di masak. Makanya aku ke kamar lagi." jelas Dian pelan dan lirih.


"Iya. Tadi pagi Om lupa nih. Tidak belanja. Soalnya takut meninggalkan kamu kelamaan di rumah." jawab Sam mencoba menghindar.


"Makan siang mau masak apa beli yang sudah matang ?" kata Sam menawarkan.


"Masak saja Om. Aku bisa kok." usul Diana.


"Kalau begitu, ayok kita belanja !" ajak Sam pada Diana.


"Sama aku Om ?" tanya balik Dian.


"Ya iya. Om kan tidak tahu harus beli apa saja." jelas Sam.


Mereka segera bersiap-siap hendak berangkat ke pasar bareng Diana. Aduh, ada yang lupa. Sam ternyata belum mandi. Betul-betul konyol. Bau badan Sam begitu menyengat. Bau jigong. Apalagi keringat yang keluar dari tubuh Sam. Maklum, semenjak tinggal di sini Sam tidak memasang AC. Tidak lazim di desa ini menggunakan AC.


"Maaf Dian, kamu belum terlalu lapar kan ?" tanya Sam pada Diana yang sudah bersiap-siap.


"Belum Om. Kenapa ?" sahutnya.


"Om belum mandi." kata Sam sambil ngacir ke kamar mandi. Sekilas kulihat Dian menahan senyum.


"Cobalah senyum Dian, aku ingin manisnya senyummu." bisik Sam dalam hati.

__ADS_1


Sam segera mandi. Entahlah, mandi apa ini. Mandi pagi kok hampir jam dua belas siang. Tapi rasanya tidak beda dengan mandi pagi. Air pedesaan ini betul-betul bisa menyegarkan tubuh dan menyegarkan pikiran. Membuat badan lebih fresh.


__ADS_2