Terjebak Cinta Putri Sahabat

Terjebak Cinta Putri Sahabat
Bag. 6 Rejeki tak akan kemana


__ADS_3

Janson bersungut-sungut lantaran gagal maksud hatinya mengajak Diana makan siang. Diajak ke restoran milik ibunya tidak berhasil, begitu juga saat mendatangi toko Sam. Diana enggan menemaninya makan siang. Padahal Ia sudah bersusah payah mengambilkan makanan itu dari restoran milik ibunya. Maksud hati ingin makan bersama dengan Diana, si pujaan hatinya, malah Ia makan sendiri di toko kelontong milik Sam. Jadinya seperti numpang makan di tempat orang lain.


Diana berkali-kali melirik ke dalam toko. Ia berusaha mencari tahu sikap Sam melihat dirinya berdua makan siang bersama Janson. Ia takut Sam marah dengan kehadiran Janson. Apalagi sekilas Diana melihat Sam membeli dua bungkus makanan. Pasti yang satu lagi untuknya. Tadi sewaktu Sam berjalan melewati mereka, tak ada tegur sapa seperti biasanya. Ekor mata Sam hanya melirik tajam. Bibirnya ditekuk dan berjalan acuh menuju ruang kerjanya.


Janson memandangi Diana dengan muka memelas. Beberapa kali Ia memohon agar momen romantis segera terwujud, walau hanya makan dengan nasi bungkus. Lagi pula, Janson mengajaknya makan ke restoran ibunya. Bukan sekedar makan nasi bungkus.


"Ayo Yan, makan dulu. Nanti kamu sakit !" bujuk Janson.


Diana menggeleng perlahan.


"Kenapa ? Masakan restoran ibuku enak lho !" rayu Janson sekali lagi.


Lagi-lagi Diana menggeleng. Mata Diana melirik lagi ke ruangan kerja Sam. Janson mengikuti kemana arah lirikan mata Diana.


"Oh, pak tua itu." komentar Janson.


"Hush. Jangan ngomong begitu ah !" protes Diana.


"Lha memang sudah tua. Emang mau dibilang bocah. Bocah tua nakal." kata Janson sambil tertawa terkekeh-kekeh. Bocah tua nakal, tokoh jagoan kung fu dalam kisah Romance of the Condor Heroes.


"Iya, tapi kalau dengar nanti bisa marah !" tegas Diana.


"Itulah makanya, suruh kawin lagi. Biar bisa ikut merasakan gairah kawula muda." kata Janson nyinyir.


"Diam Son. Jangan nyinyir begitu. Jadi kayak bencong." kata Diana tertawa.


"Emang apa salahnya kalau kita makan bersama ?" sahut Janson sekali lagi.


"Nggak ada yang salah, cuma nggak enak saja." jawab Diana sekenanya.


"Cuek saja. Yuk !" bujuk Janson.


"Sudah kalau mau makan, makan saja. Tidak harus berdua kan ?"


"Aku maunya makan berdua sama kamu." balas Janson.

__ADS_1


"Maaf, aku nanti sama Om Sam saja."


"Lagi-lagi pak tua itu." keluh Janson.


Merasa sia-sia membujuk Diana, Janson segera menghabiskan makanannya. Lalu berpamitan pada Diana.


"Sampai ketemu lagi Yan !" kata Janson sambil berpamitan. Sengaja Dia tidak berpamitan pada Sam, namun matanya melirik tajam padanya.


"Salam buat pak tua." bisik Janson pada Diana.


"Hush !" bentak Diana, "Sudah sana pulang !"


Janson segera menghilang dari toko Sam dengan raut wajah kekecewaan dan enggan tanpa berpamitan dengan Sam. Diana segera menghampiri Sam yang duduk di dalam. Ia mendekat dengan sedikit rasa takut.


"Om, Diana dibelikan makan tidak ?" tanya Diana sedikit takut.


Sam mendongakkan wajahnya, lalu menatap Diana dengan tajam.


"Lho, tadi kan sudah makan sama Janson." sahut Sam.


"Itu yang di pegang apa ?" tunjuk Sam pada nasi bungkus yang dipegang Diana.


Diana tersipu malu.


"Dari Janson Om. Tapi kayanya tidak enak. Aku pengin punya Om saja." jawab Diana mulai merengek manja.


"Ayo duduk sini." pinta Sam.


Diana mengambil tempat duduk di depan Sam sambil meletakkan nasi bungkus pemberian Janson. Sam memberikan nasi bungkus yang baru saja di beli. Diana mengambil nasi bungkus itu. Segera dibukanya. Begitu tahu lauknya, Diana sedikit kecewa.


"Tempe goreng dan ikan keranjang. Padahal dari Janson tadi lauknya rendang sapi dan ayam bakar." batin Diana.


Namun demi menyenangkan Sam, Diana segera memakan nasi bungkus itu.


"Lho, Om tidak makan ?" tanya Diana melihat Sam diam saja.

__ADS_1


"Ayo kita makan !" sambut Sam dengan tawa bahagia. Selagi makan beberapa suap nasi tempe dan ikan keranjang, tiba-tiba Sam mengambil nasi bungkus Diana pemberian Janson.


"Ho ho. Lauknya enak nih. Buat Om ya Yan !" kata Sam begitu melihat lauknya rendang sapi dan ayam bakar. Tanpa menawari Diana, tanpa basa-basi, langsung saja Sam memakan lauk nasi bungkus itu. Terlihat dari wajahnya, Sam tersenyum puas. Rupanya Sam sedang menggoda Diana.


"Ehm, harum sekali ayam bakar ini." kata Sam sambil mendekatkan ayam bakar itu ke hidung.


Diana cemberut. Bibirnya ditekuk. Wajahnya berubah jadi masam.


"Om nyebelin." bisik Diana dalam hati melihat Sam begitu lahap makan nasi bungkus miliknya.


"Ayo Yan ! Makan ! Makan ! Wah, wah. Rendangnya bisa gurih begini. Bagaimana masaknya ya ?" kata Sam sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


Dari raut wajah Diana, ingin sekali mencakar Sam. Namun sekuat tenaga Diana menahan emosinya. Diana hanya menekan-nekan nasi bungkus pemberian Sam. Dibolak-baliknya nasi pemberian Sam. Diaduk-aduk seperti sedang membuat adonan kue. Baru beberapa suap saja yang masuk namun tak berselera makan lagi.


Sedangkan Sam dengan lahap makan rendang sapi dan ayam bakar. Sesekali Sam melirik ke arah Diana yang sedang sewot. Justru Sam merasa bahagia melihat muka Diana ditekuk seperti itu. Ia merasa menang.


"Wah, pintar sekali ibunya Janson masak. Uenak banget. Pantas sahaja buka restoran. Eggghhh. Aaah. Kenyang." kata Sam yang sebetulnya menggoda Diana.


Wajah Diana semakin cemberut. Betul-betul Dia kecewa dengan sikap Sam. Diana tak tahan lagi. Karena tidak bisa melampiaskan dengan menggebrak meja atau mencakar muka Sam, Diana memutuskan untuk pergi meninggalkan Sam sendirian.


"Udah Om. Aku sudah kenyang." kata Diana segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke depan lagi.


"Lho Yan. Kamu belum makan gitu kok !" cegah Sam.


Diana tak peduli dengan kata-kata Sam. Entah mengapa matanya berkaca-kaca. Namun sekuat tenaga Diana menahannya agar tidak menangis. Bergegas Ia pergi meninggalkan Sam dan nasi bungkus pemberian Janson. Diana duduk kembali menunggu pembeli. Namun hatinya masih kesal, tangannya *******-***** ujung bajunya. Matanya nanar menatap keluar toko. Lalu-lalang orang yang lewat sedikit memberikan hiburan dalam hatinya. Namun, tetap saja hatinya masih dilanda kekecewaan dan kesedihan.


Tiba-tiba Sam berada di depan Diana dan memberikan nasi bungkus yang belum dibuka.


"Ayo makan !" kata Sam pada Diana.


Diana menggelengkan kepalanya. Suasana hatinya masih terbawa emosi.


"Ayo makan, nanti kamu sakit." bujuk Sam sambil beranjak pergi dan meletakkan nasi bungkus di depan Diana.


Diana diam mematung. Tak disentuhnya nasi bungkus itu. Namun, saat Sam menghilang dari pandangan, perlahan Diana membukanya. Senyum di bibirnya langsung mengembang. Rendang sapi, Ayam bakar, Tempe dan lauk lainya menghiasi nasi sekepal dalam bungkusan itu.

__ADS_1


"Makasih Om." bisiknya dalam hati sambil melirik Sam yang sedang bersenandung di ruang kerjanya. Rupanya Sam tidak sekejam yang Diana bayangkan.


__ADS_2