Terjebak Cinta Putri Sahabat

Terjebak Cinta Putri Sahabat
Bag. 9 Menangkap pengintai


__ADS_3

"Om kayaknya kita perlu pasang cctv." usul Diana pada suatu ketika. Sam sendiri tak terfikir untuk memasang alat pengintai. Baginya masih bisa di atasi dengan menutup jendela rapat-rapat atau menutup korden lebar-lebar.


"Cctv ? Buat apa ?" tanya Sam agar keberatan.


"Aku pengin tahu sapa yang suka ngintip di jendela." sahut Diana.


Deg. Dag. Dig. Dug.


Sam kena sasaran juga. Bagaimanapun Sam pernah mengintip aktivitas Diana. Entah waktu itu disengaja atau tidak. Dadanya berdetak kencang.


"Bagajmana kalah Diana tahu apa yang aku kerjakan ?" batin Sam.


Sebenarnya Diana ngomong seperti itu tidak bermaksud menyindir Sam. Dia memang betul-betul penasaran ingin mengetahui siapa yang menjadi fans dirinya.


"Fans mesum." bisik Diana.


Karena tidak punya alasan kuat untuk menolak, akhirnya Sam menyetujui rencana Diana.


"Oke. Om pasang CCTV di atas jendela kamar kamu." jawab Sam dengan berat hati. Karena Dia akan memasang senjata yang membidik dirinya sendiri.


Sam memesan cctv dari rekannya yang punya toko elektronik. Karena Sam sendiri bisa memasangnya, maka alat cctv itu dipasang sendiri oleh Sam.


"Mau dipasang di mana Yan ?" tanya Sam saat cctv itu sudah didapat.


"Di saja sana Om." jawab Diana sambil menunjuk tempat tepat di atas jendela kamarnya.


Akhirnya cctv di pasang di tempat yang dikehendaki Diana.


Rona bahagia terpancar di wajah Diana. Harapan segera tahu siapa yang suka iseng pada dirinya akan segera terwujud. Ingin rasanya mencakar mukanya para fans mesum itu. "Hmmm !" gumam Diana lirih.

__ADS_1


Namun ada satu hal yang tidak Diana pahami cctv itu bisa berputar ke segala arah, sehingga bisa menjadi bumerang bagi Diana. CCTV itu malah bisa diarahkan ke dalam kamar dan melihat aktivitas Diana. Bukannya merekam orang yang iseng, malah merekam Diana dalam kamarnya.


Seperti saat Diana habis mandi, aktivitas Diana ganti baju justru terlihat dari cctv. Saat diatur dalam mode manual, cctv itu mengarah ke bawah jendela. Melihat aktivitas di bawah jendela kamar Diana. Namun, saat diatur dalam mode otomatis, cctv itu mengarah liar. Bisa ke bawah jendela, ke samping dan bahkan ke dalam kamar. Semua sudut direkam oleh alat itu. Sehingga aktivitas yang sedang Diana lakukan bisa terlihat.


Sam tak menyadari kalau cctv bisa mengarah liar. Tahunya hanya mengarah ke bawah jendela sehingga bisa tahu siapa yang mengintip aktivitas Diana dari luar. Dia tidak menduga kalau saat dijalankan otomatis, cctv itu bisa mengarah ke dalam.


Awal memasang, cctv diatur dalam mode manual. Diana dan Sam bergantian mengawasi. Namun, tak ditemui aktivitas pengintip. Lama kelamaan mereka bosan. CCTV diatur dalam mode otomatis. Dari situlah muncul berbagai masalah.


Suatu saat Diana melihat rekaman cctv. Dilihatnya rekaman cctv itu. Seorang laki-laki mengendap-endap mendekati jendela kamar Diana. Namun wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena kamera berada di atas. Terlihat hanya kepala bagian atas.


"Wah, gak terlihat wajahnya. Cuma topinya." gumam Diana kesal.


Dicobanya rekaman yang lain. Terlihat ada seorang mengendap-endap mendekati jendela kamar Diana. Tapi tetap saja tidak bisa dipastikan siapa orang itu.


"Huh !" umpat Diana tambah kesal.


Diana mencoba rekaman lain, siapa tahu yang ini bisa menghasilkan gambar memuaskan. Namun, ekaman ini justru yang membuat Diana naik pitam. Kamera cctv tidak mengarah ke luar tapi ke arah dalam kamar. Diana terlihat dengan jelas masuk kamar dengan hanya berbalut handuk. Menutup pintu kamar dan berjalan lenggak lenggok layaknya model di catwalk. Berjalan lagi ke depan cermin dan membuka handuk yang membalut tubuhnya. Tentu saja Diada terekam dalam keadaan bugil.


"Aaaa !" Diana berteriak. Teriakan Diana mengejutkan Sam yang sedang duduk di sofa. Sam segera berlari menghampiri Diana untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Apa ini Om ?" teriak Diana dengan marah. Matanya melotot ke arah Sam. Bola mata itu seakan mau keluar dari kelopak mata Diana. Warnanyapun perlahan mulai memerah. Sam melihat rekaman itu. Mulutnya diam. Lehernya serasa tercekik. Sam tak bisa berkata satu patah katapun. Diam seribu bahasa.


"Om jahat. Tak kuduga Om pikirannya jorok. Mesum. Tidak punya moral. Tidak punya ahlak." kata Diana berapi-api sambil berkacak pinggang.


"Tunggu Yan. Aku jelasin dulu." jawab Sam gugup. Persis seperti maling yang tertangkap basah.


"Tak perlu. Aku tidak perlu penjelasan apa-apa. Semua ini sudah cukup memberikan penjelasan nagiku. Aku akan melaporkan semua ini apa polisi !" ancam Diana dengan suara keras.


"Apa ? Haduh !" gumam Sam.

__ADS_1


Diana segera pergi meninggalkan monitor cctv dan Sam. Lalu membanting pintu rumah dengan keras. Semua itu dilakukan Diana untuk menunjukkan kalau Dia sunggug sangat marah.


"Yan. Jangan Yan !" cegah Sam. Namun semua itu sia-sia. Diana sudah menghilang.


Sam berusaha mengejar Diana. Sam berlari mengejar Diana, namun cepat sekali Diana menghilang. Sam memutuskan mengejar Diana dengan motor bututnya. Motor yang selama ini digunakan Sam untuk keperluan sehari-hari, ternyata tidak mampu mendapatkan keberadaan Diana. Diana pergi tak terkejar. Diana pergi dengan kemarahan. Jadi langkahnya begitu cepat.


Sam mencoba mencari dengan menggunakan motornya. Pertama ke kantor polisi. Kata pokisi yang jaga katanya Diana pernah ke sana. Lalu dicoba mencari ke restoran milik ibunya Janson. Diana juga tak ada.


"Siapa tahu ke toko." batisn Sam. Namun toko masih tertutup dan sepi.


Berbagai upaya yang telah dilakukan Sam nampaknya tak membuahkan hasil.


Sam terdiam. Mukanya pucat. Dadanya berdetak kencang. Ancaman hukuman penjara atau di pancung Budi membayang di benaknya.


"Bagaimana cctv itu bisa berbalik ke arah dalam." batin Sam.


Hal-hal seperti ini yang tak terfikirkan saat mau menerima Diana di rumahnya. Sam terduduk lemas di samping motor bututnya. Tatapan matanya menerawang ke langit yang tak berbintang. Dia harus menerima akibat dari semua ini dipenjara apa di hajar sahabatnya sendiri.


Diana sebenarnya masih di sekitar rumah Sam. Begitu melihat Sam keluar rumah Diana segera balik da mengambil semua barang milik Diana. Diana memutuskan untuk kabur. Diana segera pergi meninggalkan rumah Sam dengan berlinang air mata.


Langkah Diana tertatih-tatih menyusuri jalan. Langkahnya gontai, lemah lunglai. Antara sedih, kecewa, bingung bercampur aduk menjadi satu. Penginnya menangkap siapa yang tukang intip, ini malah menangkap orang dalam. Ibarat pepatah pagar makan tanaman.


"Huh." umpatnya meluapkan kekesalan.b


Sesekali kakinya menendang kerikil melampiaskan kekesalan pada peristiwa yang terjadi.


"Dasar orang mesum ! Tidak bermoral !" umpat Diana.


Diana terus melangkah walaupun dia sendiri tidak tahu hendak melangkah kemana. Dia tidak punya saudara dekat. Oleh karena itu, Dia dititipkan pada Sam sahabat ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2