
Satu minggu kemudian, dimana tinggal hitungan hari, acara ulang tahun Putra Mahkota akan segera di selenggarakan. Aku menyuruh tukang jahit membuatkan baju buatku, Zahra dan Putra Mahkota. Biar pakaian kami couple. Gaunku dan Zahra bergamis panjang, plus hijabnya. Pakaian Putra Mahkota, berlengan pendek dengan motif dan warna yang sama dengan gaunku dan Zahra.
"Zahra sayang, yuk kita kepasar. Kita liat gaunmu udah jadi atau belum. Sekalian kamu mencoba gaunmu disana nanti," Ucapku.
"Bestie, aku ikut," Ucap Putri Andini. Dia memasuki kamarku tanpa memberi salam.
"Bestie itu apa, Bunda?" Tanya Zahra.
"Bestie itu artinya sahabat atau panggilan sayang ke orang tersayang," Ucapku.
"Ooooo, jadi aku boleh panggil Bunda dengan sebutan bestie?" Tanya Zahra.
"Tidak usah. Kamu cukup panggil Bunda saja," Ucapku.
"Hiks," Tangis Zahra.
"Eh, kamu kenapa nangis? Jangan nangis dong," Ucapku panik.
"Bunda melarangku panggil Bestie, hiks. Aku juga pengen panggil Bunda dengan sayang," Ucap Zahra.
"Dasar bocil, gitu aja nangis," Ejek Putri Andini.
"Huwaaa...AYAHANDA, BIBI JELEK MENGEJEKKU," Teriak Zahra.
"APA KAU BILANG, JELEK? KURANG AJAR NIH BOCAH, AKAN KU KASIH PELAJARAN BUAT KAU," Bentak Putri Andini.
"AYAHANDA, HIKS," Teriak Zahra.
Tiba-tiba Putra Mahkota Ilyas memasuki kamarku.
"Ada apa, Nak?" Tanya Putra Mahkota yang langsung menggendong Zahra.
"Bibi jelek mengejekku, hiks," Tangis Zahra.
"Keluar!" Perintah Putra Mahkota dingin.
"Kenapa aku yang keluar?" Tanya Putri Andini.
"KELUAR!" Teriak Putra Mahkota.
'Orang ini menakutkan sekali. Mending aku keluar saja dulu, daripada di tatap dengan tatapan maut gitu,' Batin Putri Andini. Dia berjalan keluar kamarku.
Setelah dia tak tampak lagi, Zahra memberontak pengen lepas dari gendongan Putra Mahkota.
"Ayahanda, aku mau turun," Ucap Zahra.
Putra Mahkota menurunkan Zahra dalam gendongannya.
"Bunda, Ayahanda, ayo kita ke pasar," Ucap Zahra menarik tanganku dan Putra Mahkota.
Kami mengangguk dan berjalan keluar kamar. Setelah kereta kami siap, kami bergegas masuk ke dalam kereta. Di perjalanan, Zahra tak henti-hentinya mengoceh. Putra Mahkota tertawa mendengar ocehan Zahra.
'Untuk pertama kali, aku melihat cowok kulkas ini tertawa. Eh, ralat, aku kan sering lihat Ilham tertawa. Wajah Ilham dan Ilyas juga sama. Tapi....sifat dan karakter mereka berbeda. Ilyas cowok baik, tangguh dan penyayang, walaupun dingin dan irit bicara sih. Beda sama Ilham, dia hanya bisa nyakitin dan gampang marah. Eh....kok aku malah banding-bandingkan mereka sih. Kurang kerjaan amat,' Batinku.
Kereta kami akhirnya sampai di depan tokoh, dimana kami menjahit pakaian kami. Kami turun dari kereta dan memasuki tokoh.
"Salam Putra Mahkota, Putri Khina, Putri Zahra," Ucap Si pemilik tokoh membungkuk hormat.
"Bu, gaunku, gaun putriku, dan pakaian Putra Mahkota, apa sudah selesai?" Tanyaku.
"Sudah, Putri Mahkota," Ucap Pemilik tokoh bergegas mengambil gaun. Lalu dia menyerahkan gaunku dan gaun Zahra.
"Ayo biar Bunda yang pakaikan baju untukmu," Ucapku.
"Bunda, kenapa bajuku panjang? Dan ini apa, kenapa kepalaku di tutup pakai ini?" Tanya Zahra.
"Ini namanya hijab. Dalam islam, setiap perempuan di wajibkan menutup aurat. Contonya rambut yang tidak boleh terlihat sehelai pun," Ucapku.
"Kenapa, Bunda? Bukankah dalam kitab tidak ada larangan memperlihatkan rambut?" Tanya Zahra.
"Sayang, tidak ada tuhan selain Allah. Dan kitab kita yaitu kitab Al-Qur'an. Tidak ada kitab-kitab lain," Ucapku.
"Kitab Al-Qur'an itu apa, Bunda?" Tanya Zahra.
"Al-Qur'an ialah.....," Ucapanku terpotong saat seseorang tiba-tiba menendang pintu.
"Jangan memberi ajaran sesat pada putriku!" Ucap Pangeran Mahkota dingin.
"Ini bukan ajaran sesat, yang sesat itu kalian yang menyembah berhala," Ucapku.
"Brak." Putra Mahkota memukul dinding dan membuang hijab yang ada di tanganku.
"Ayo kita pulang!" Ucap Putra Mahkota dingin. Dia menggendong Zahra dan berjalan keluar meninggalkanku sendiri.
'Aku coba menyadarkan, dia malah marah-marah gak jelas,' Batinku.
"Putri...," Ucap Bu Eni dengan suara pelan. Pemilik Tokoh jahit.
"Tolong bungkus semua gaun dan baju putra mahkota!" Perintahku.
"Baik, Putri," Ucap Bu Eni.
Setelah gaunku terbungkus dengan kain panjang. Aku pun keluar menyusul Putra Mahkota. Kemudian, aku memasuki kereta. Didalam kereta, hanya ada keheningan. Hingga tak lama, sampailah kami di gerbang istana.
Putra Mahkota turun tanpa berbicara padaku. Dia membawa Zahra di gendongannya.
'Kalau kayak gini, gimana aku mau sebar ajaran islam? Belum apa-apa, dia udah marah,' Batinku.
Sesampainya di halaman depan istana, aku segera berjalan meninggalkan halaman, namun terhenti saat mendengar teriakan.
"BESTIE," Teriak Putri Irha dan Putri Andini berlari menghampiriku.
"Ya, ada apa?" Tanyaku.
"Kau pergi enggak ngajak-ngajak. Dari tadi aku nunggu di depan kamarmu, kau kagak keluar-keluar. Terus Nurfa bilang kau sudah pergi dari tadi," Kesal Putri Andini.
"Tadi saat aku keluar, kau enggak ada," Ucapku.
"Ya, aku ke dapur buat ambil buah-buahan untuk kita makan di perjalanan. Pas balik, kau udah nggak ada," Ucap Putri Andini.
"Ya sudah, aku temenin ke pasar deh," Ucapku.
"Kau yakin?" Tanya Putri Irha.
"Iya, demi bestie-ku. Apa sih yang gak mungkin," Ucapku.
__ADS_1
"Ululu, enggak salah aku milih bestie," Ucap Putri Andini.
"Aku senang deh, punya sahabat setia kawan. Enggak kayak di sebelah," Ejek Putri Irha.
"Salah sendiri ngerebut Kevin dariku," Ucap Putri Andini.
"Kalau kevin maunya sama aku, harusnya kau ngalah, bukannya malah buat kami celaka," Ejek Putri Irha.
"Yang harusnya ngalah itu kau, bukan aku," Ucap Putri Andini.
"Hadeh, malah debat, kapan berangkatnya. Kalian gak jadi nih ke pasar? Kalau gak jadi, aku mau balik ke kamarku," Ucapku.
"Dia yang mulai," Ucap Putri Andini menatap sengit ke arah Putri Irha.
"Kau yang memulai kecelakaan itu," Ucap Putri Irha tak mau kalah.
"Bay," Ucapku hendak berjalan meninggalkan mereka.
"Jangan pergi," Ucap Putri Irha dan Putri Andini menahan tanganku.
"Kalian berdebat mulu, pusing aku dengarnya, jadi aku mau balik kamar aja," Ucapku.
"Kami enggak bakal debat lagi, suer," Ucap Putri Andini mengangkat kedua jarinya.
"Iya, kami enggak bakal debat. Asal kau jangan marah ya," Ucap Putri Irha.
"Hmm, ya," Ucapku.
"PUTRA MAHKOTA JAYA DAN PUTRI AMALIA DARI KERAJAAN SRIWIJAYA, MEMASUKI ISTANA," Teriak penjaga gerbang.
Raja Dayat, Ratu Helena, Putra Mahkota Ilyas, Pangeran Arjuna dan Pangeran Bobby berjalan tergesa-gesa ke arah kami. Lebih tepatnya ke halaman depan istana.
Kereta memasuki halaman depan. Tampak seorang pria turun dari kuda. Di ikuti seorang wanita turun dari kereta.
'*Deg*.'
"Cantikan juga aku. Wajah dia Biasa aja tuh," Ucap Putri Andini dengan suara pelan.
'Wajahnya kok mirip......,' Batinku.
"Itu mirip wajahku di dunia modern. Bukan mirip lagi, tapi sama persis," Gumamku.
"Hah!" Putri Irha dan Putri Andini terkejut mendengar gumamanku.
"Apa kau serius?" Tanya Putri Irha.
"Masa sih?" Tanya Putri Andini.
"Iya, aku serius. Dua rius malahan. Kalau saja aku punya fotoku yang di dunia moderen, pasti udah lama ku perlihatkan pada kalian," Ucapku pelan.
"Wah, pasti banyak cowok yang naksir sama Lo di sekolah," Ucap Putri Irha.
"Awalnya emang banyak, namun semua itu berubah semenjak wajahku berubah merah dan berjerawat," Ucapku.
"Kok bisa?" Tanya Putri Andini.
"Orang yang ku anggap sahabat berhianat. Dia yang merusak wajahku dengan memberikan make up kedaluwarsa padaku," Ucapku.
"Parah banget, kalau aku yang jadi sahabatmu, sudah ku cabik-cabik wajahnya," Ucap Putri Irha.
"Kalau aku yang jadi kau, sudah ku siram air panas tuh muka si rubah," Ucap Putri Andini.
"Kau juga rubah," Ejek Putri Irha.
"Enak aja, aku bukan rubah," Ucap Putri Andini.
"Buktinya, kau nusuk sahabat sendiri dari belakang," Ejek Putri Irha.
__ADS_1
"Itu karena...," Ucapan Putri Andinu terpotong.
"Sudah-sudah, kalian jangan debat. Kalian mau jadi pusat perhatian, kalau debat melulu," Ucapku.
"Salam Yang Mulia Raja. Salam Yang Mulia Ratu. Salam Putra Mahkota, salam Putri Mahkota. Salam Pangeran Arjuna, salam Putri Andini. Salam Pangeran Bobby, salam Putri Irha," Ucap Putra Mahkota Jaya dan Putri Amalia membungkuk hormat.
"Salam," Ucap Mereka serentak.
"Silahkan masuk dan beristirahat di kediaman yang sudah kami persiapkan," Ucap Raja Dayat.
"Terima kasih atas penyambutannya Yang Mulia," Ucap Putra Mahkota Jaya.
"PANGERAN YUDISTIRA DAN PANGERAN BIMA MEMASUKI GERBANG ISTANA," Teriak pengawal dari luar gerbang.
Dua pasang kuda perlahan memasuki gerbang istana. Tampak seorang pria turun dari kuda.
"Salam Yang Mulia," Ucap Pangeran Yudistira dan Pangeran Bima bersamaan.
"Dia gemuk sekali, puufttt," Bisik Putri Andini menahan tawa.
"Puftttt...iya. Lihat yang satunya lagi, tuh putra mahkota kurus amat kayak tusuk sate. Kulitnya juga hitam, rambutnya keriting pula. Kok ada putra mahkota dan pengeran kayak gitu ya. Biasanya kan putra mahkota atau pangeran-pangeran memiliki perawakan yang tampan dan seksi. Ini malah jauh dari ekpektasi," Bisik Putri Irha.
"Iya ya, baru kali ini aku melihat putra mahkota dan pengeran seperti itu. Ku kira mereka pangawal, tak taunya pangeran," Bisikku.
Putra Mahkota Yudistira menatap ke arah kami. Begitupula Pangeran Bima mengedipkan sebelah matanya ke arah kami.
"Eh, itu mereka liatin kita kok kayak gitu," Ucap pelan Putri Andini.
"Huek, menjijikan. Tatapan mereka penuh nafsu. Dasar pria mata keranjang," Ucap pelan Putri Irha.
"Yuk kita pergi dari sini. Daripada di liatain sama pria mesum itu, mending kita pergi," Ucapku pelan.
"Yuk lah," Ucap Putri Andini.
"Let's go," Ucap Putri Irha.
"Yang Mulia, kami pamit undur diri. Kami akan berangkat ke pasar. Putri Irha dan Putri Andini ingin mengambil gaun-gaun mereka di tokoh buk eni," Ucapku.
"Pergilah. Kalian hati-hati dijalan," Ucap Raja Dayat.
"Baik, Yang Mulia," Ucapku.
"Kalau berkenan, izinkan saya mengantar para Putri ke pasar," Ucap Pangeran Bima.
"Tidak perlu," Ucap Putri Irha dan Putri Andini.
"Terima kasih atas tawarannya dan maaf kami bisa ke pasar sendiri. Pangeran tidak perlu repot-repot mengantar kami," Ucapku.
"Pengeran Bima, jaga sopan santunmu!" Peringatan Putra Mahkota Yudistira.
"Maafkan saya Yang Mulia," Ucap Pangeran Bima meyatukan kedua tangan meminta maaf ke Raja Dayat.
'*Nih orang salah ke siapa, minta maafnya ke siapa*,' Batinku.
"Maafkan atas tindakan pangeran Bima, Putri Irha," Ucap Putra Mahkota Yudistira menatap sendu ke arah Putri Irha.
'*Lah, nih orang kok cuman nyebut nama Putri Irha? Harusnya dia juga sebut namaku dan Putri Andini. Ada yang salah nih*?' Batinku.
'*Tatapannya kenapa kayak gitu*?' Batin Putri Irha.
'*Sepertinya dia suka sama Putri Irha*?' Batin Putri Andini.
'*Kurang ajar, beraninya dia menatap Putri Irha dengan tatapan menjijikan seperti itu*,' Batin Putra Mahkota mengepalkan tangannya.
'*Perlu di hajar ini orang, berani sekali dia menatap istriku*,' Batin Pangeran Bobby.
'*Andai kau memilihku saat itu, mungkin sekarang kita sudah bahagia hidup bersama. Andai waktu bisa di putar, aku akan menculikmu sebelum kau menikah dengan Pangeran lemah itu*,' Batin Putra Mahkota Yudistira menatap Pangeran Bobby dengan tatapan permusuhan.
...¤**BERSAMBUNG**¤...
__ADS_1