
PROK, PROK," Putri Andini bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.
"Prok, prok, prok," Suara tepuk tanganku dan Putri Irha.
"Sangat bagus, suaramu sungguh merdu," Ucap Putri Irha.
'Merdu apaan! Orang suaranya fales gitu. Bukan maksud menghina sih, ini emang faktanya,' Batinku.
Semua orang ikut bertepuk tangan, walaupun mereka tidak mengerti dengan makna dari lagu yang di bawakan Putri Andini.
"Thank you semua. Love sekebong," Ucap Putri Andini. Dia melambai-lambai tangan seakan artis papan atas. Dia kembali ke kursinya.
Kini giliran Putri Irha, awalnya dia takut. Namun mau tak mau, dia terpaksa berdiri di tengah aula.
'Apa yang akan di nyanyikan Putri Irha?' Batinku.
Putri Irha memejamkan mata dan memengan udara seakan memegang tongkat. Dia pun mulai bernyanyi, "Ayolah susanti, perempuan banyak muda.
Ana banyak susah, jalan tutup mata. Uang dan ringgit ana tak da heran na. Ente tutup mata, ana tentu jalan. Marilah Mei Mei, oi mari sayang. Ikutlah ana, Mei Mei jangan bimbang. Marilah jalan, ente cepatlah cepat. Awas hei longkang, oi kaki melompat," Nyanyian Putri Irha.
"HAH!" Semua orang lagi-lagi melogoh tidak mengerti bahasa nyanyian yang di gunakan Putri Irha.
'Astaga....itu nyanyian adek-adekku lagi. Demen banget mereka nyanyiin lagu viral tahun 2023 di dunia moderen,' Batinku geleng-geleng kepala.
"Terima kasih," Ucap Putri Irha berjalan menunduk dan bergegas menuju ke arah kursinya.
"PESERTA SELANJUTNYA...PUTRI AMALIA," Ucap pengawal yang di tugaskan membacakan nama para peserta.
'Huh, syukurlah bukan namaku yang disebut. Ku pikir setelah Irha dan Andini, giliran aku. Nyatanya kagak. Tapi nanti aku nyanyi apa ya, kalau namaku di sebut nanti?' Batinku berpikir.
Semua peserta sudah menampilkan bakat dalam bidang menyanyi.
'Namaku belum disebut, apa aku gak jadi tampil? Bagus....,' Ucapku membatin. Namun terhenti saat mendengar suara pengawal lagi.
"PESERTA TERAKHIR IALAH PUTRI KHINA," Ucap Pengawal.
'Hah! Aku! Waduh, baru aja aku senang karena namaku gak disebutin, ini malah disebutin. Aku harus nyanyi apa coba?' Batinku.
"Dia hanya bisa membuat malu," Bisik para Putri.
"Entah apa lagi yang akan di lakukan. Semoga dia tidak membuat kekacauan," Bisik putri lainnya.
"Kau jangan buat kerajaan Majapahit malu! Ingat baik-baik!" Bisik Putra Mahkota Ilyas memperingatiku.
'Nih orang suami macam apa? Bukannya ngedukung, malah beri peringatan,' Batinku kesal.
Akupun perlahan turun ke tengah-tengah aula. Ku tarik napas perlahan dan hembuskan.
'Aku nyanyi lagu apa ya?' Batinku bingun.
"Tidak bisa menyanyi, malah berani turun," Ejek Putri Izza.
"Harusnya dia sembunyi di kamar, biar gak buat malu," Ejek putri lainnya.
'Tenang Ina, kau harus tenang. Anggap hinaan mereka sebagai angin lalu,' Batinku memfokuskan pikiran.
"Sewindu sudah. Ku tak mendengar suaramu. Ku tak lagi liat senyumanmu. Yang selalu menghiasi hariku. Sewindu sudah. Kau tak berada disisiku. Kau menghilang dari pandanganku. Tak tahu kini kau dimana. Ternyata belum siap aku. Kehilangan dirimu. Belum sanggup untuk jauh darimu. Yang masih selalu ada dalam hatiku. Tuhan tolong mampukan aku. Tuk lupakan dirinya. Semua cerita tentangnya yang membuatku. Selalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku," Nyanyianku berakhir.
"Prok! Prok!" Suara tepuk tangan menggema, membuatku terkejut dan membuka mata.
"Wah, Putri Khina ternyata memiliku suara yang merdu. Lagu yang di bawakan begitu menyentuh," Ucap Para Pangeran.
__ADS_1
"Andai Putri Khina belum menikah, sudah ku lamar Putri Khina hari ini juga," Ucap Pangeran lainnya.
'Bestie-ku the best,' Batin Putri Andini menatap bangga padaku.
'Wow, suara Khina bagus banget. Enak di dengar dan gak fales kayak aku,' Batin Putri Irha.
"Hiks!" Tangis Putri Tia, salah satu putri kerajaan lain.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Putri Amalia.
"Aku teringat sama kekasihku yang telah tiada, hiks. Lagu yang di bawakan Putri Khina, mengingatkanku akan kekasihku, hiks," Ucap Putri Tia.
'Iya benar, suara Putri Kina bukan hanya menyentuh, juga adem dan enak di dengar,' Batin Putri Amalia.
'Harusnya semua pujian itu untukku, bukan untuk Putri bodoh itu,' Batin Putri Izza merasa kesal.
'Aku tidak salah mengagumi Putri Khina. Dia wanita yang sempurna, andai dulu aku melamarnya sebelum Putra Mahkota menikahinya,' Batin Pangeran Nakula.
'Putri Khina...andai kejadian itu tidak terjadi. Mungkin aku satu-satunya orang yang paling beruntung mendapatkanmu,' Batin Pangeran Arjuna.
'Sungguh merdu, entah kenapa rasa kagumku padanya tiba-tiba muncul. Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh terlena, bisa saja ini siasat baru dia agar aku mengaguminya,' Batin Putra Mahkota Ilyas.
"Aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Apa kau yang membuat lagu tersebut?" Tanya Raja Dayat.
"Itu lagu steve.....em, iya..itu lagu buatanku," Ucapku berbohong. 'Terpaksa aku bohong, mana mungkin aku bilang kalau itu lagu Steve Pasaribu ciptaan David Albert, Agie, dan Indra the titans. Bisa curiga mereka semua.'
"Lagu yang kau bawakan begitu menyentuh. Suaramu sungguh indah, maukah kau bernyanyi sekali lagi," Ucap Raja Dayat.
"Aku...," Ucapanku terpotong.
"Ayo nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" Teriak Putri Irha dan Putri Andini.
'Apa aku salah lihat? Kenapa dia begitu berbeda?' Batin Putra Mahkota Ilyas.
'Aku mau nyanyi apa coba? Apa aku nyanyiin lagu Agnez Mo saja kalik ya?' Batinku bingung.
"Aku di hadapkan pilihan.
Antara benar dan salah.
Aku mencintai kamu.
Sangat mencintai.
Kamu berjalan bersamanya.
Selama kamu denganku.
Begitu rumitnya dunia.
Hanya karena sebuah rasa cinta.
Jadilah, aku, kamu dan dirinya.
Berada dalam dusta yang tercipta.
Mengapakah harus ku rasa.
Sepenting itukah cintamu.
Kita berawal karena cinta.
__ADS_1
Biarlah cinta yang mengakhiri,"
Aku menyelesaikan nyanyianku. Semua orang bertepuk tangan.
"Prok! Prok!" Suara tepuk tangan.
"Lagi! Nyanyi Lagi!" Teriak mereka.
'Enak bener mereka ngomomong lagi. Mereka pikir aku penyanyi yang wajib mengikuti perintah mereka. Suaraku bisa serak kalau menyanyi mulu. Enggak, aku gak mau, aku harus cari jalan untuk pergi dari sini,' Batinku berpikir.
"Awh, perutku tiba-tiba sakit. Kayaknya aku harus ke kamar mandi dulu. Aku pamit Yang Mulia dan semuanya, permisi. Assalamu'alaikum," Ucapku membungkukkan badan. Lalu berjalan cepat mencari pintu keluar.
"Putri Khina!" Panggil Raja Dayat.
'Mau apa sih, tuh raja,' Batinku kesal. Aku mencoba untuk tidak mendengarkannya.
"PUTRI KHINA!" Panggil Raja Dayat.
'Astaga-naga, Raja itu mau apa lagi sih,' Batinku kesal. Aku terpaksa berhenti dan berbalik menghadap Raja Dayat dari kejauhan.
"Maaf Yang Mulia Raja, saya harus ke kamar mandi. Panggilan alam sudah memanggil," Ucapku memegang perut berpura-pura sakit.
"Pintu keluar bukan di situ, Putri Khina! Pintu keluar ada disana!" Tunjuk Raja Dayat.
'Oh astaga, malunya aku. Bodoh, karena teriakan mereka minta di nyanyiin lagi, aku jadi pusing dan akhirnya salah jalan. Huh, untung mereka kagak tertawain aku,' Batinku.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Akibat sakit perut, saya jadi gagal fokus," Elakku.
Raja Dayat mengangguk. Aku bergegas melangkah keluar, namun terhenti.
"PUTRI KHINA, AWAS ADA ULAR!" Teriak Putri Andini.
"APA! AAAAAA, TOLONG!" Teriakku berlari ke arah Putri Andini dan Putri Irha duduk.
Pangeran Arjuna dan Pangeran Nakula berdiri dari kursi. Mereka berlari bersamaan ke arahku.
Saat menaiki tangga, aku hampir terjatuh. Tiba-tiba seseorang menangkap dan menahanku agar tidak jatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Putra Mahkota Ilyas.
Aku langsung memeluknya. Dia membalas pelukanku.
'Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdetak lebih cepat?' Batin Putra Mahkota Ilyas.
'Kenapa, Putri Khina! Kenapa! Kenapa kau memeluknya!' Batin Pangeran Nakula.
'Harusnya aku yang kau peluk, bukan Putra Mahkota!' Batin Pangeran Arjuna mengepalkan kedua tangannya.
"Hahaha, ketahuan bohong. Pakai bilang sakit perut, padahal hanya berpura-pura," Ejek Putri Andini.
Aku tersadar dengan perkataan Andini, spontan ku lepaskan pelukanku pada Putra Mahkota.
"Maaf...maaf...aku tidak sengaja," Ucapku.
"Tidak apa," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
'Aduh, malunya aku. Pasti Ilyas bakal marah ke aku setelah pesta ini selesai. Mampus aku, ini gara-gara Andini. Awas kau Andini!' Batinku menatap tajam ke arah Putri Andini.
'Mati aku. Dia menatapku dengan tatapan maut,' Batin Putri Andini memalingkan wajah dengan cepat.
...¤BERSAMBUNG¤...
__ADS_1