TERLEMPAR KEZAMAN KERAJAAN KUNO

TERLEMPAR KEZAMAN KERAJAAN KUNO
BAB 16 MENYELESAIKAN MISI KEDUA DAN KETIGA


__ADS_3

"Sekarang, misi kedua di mulai. Gimana bestie, siap!" Ucap Putri Andini.


"Ya," Ucapku.


"Asiaap," Ucap Putri Irha.


"Cus lah," Ucap Putri Andini.


Kami bertiga bergegas ke kediaman target kedua, yaitu Pangeran Bima.


"Untung kagak ada penjaganya, jadi kita bisa langsung masuk," Ucap Putri Andini berjalan lebih dulu.


"Tunggu, ini kayak ada yang aneh," Ucapku.


"Gak usah terlalu berpikir yang enggak-enggak deh, kita sebaiknya segera selesaikan misi," Ucap Putri Irha.


Keduanya berjalan lebih dulu, aku masih diam tak berpikir. Putri Andini jatuh tergelincir. Sedangkan Putri Irha terjepit.


"Bug....auh, ini lantai kok licin sekali sih. Pantatku jadi sakit," Ucap Putri Andini.


"AAAAAA!" Teriak Putri Irha.


"Shhttt...diam bodoh," Ucap Putri Andini membekap mulut Putri Irha.


"Tapi sakit banget kaki ku," Ucap Putri Irha menunjuk ke arah kakinya.


"Lah, kok ada penjepit tikus disitu?" Ucap Putri Andini bingung.


"Mana ku tau. Tolong lepaskan itu dari kakiku secepatnya. Sakit nih, aku udah gak tahan," Ucap Putri Irha.


Aku yang melihat mereka terjatuh, bergegas mendekat.


"Kalian baik-baik saja?" Tanyaku.


"Baik apaan, pinggangku jadi sakit gara-gara lantai licin ini," Kesal Putri Andini.


"Tolong cepat bantu aku lepaskan penjepit tikus ini, nanti aku gak bisa jalan kalau kalian bicara mulu," Ringis Putri Irha.


"Oh iya maaf kelupaan, hehe," Ucap Putri Andini.


"Is, pasti ngilu banget tuh kaki," Ucapku.


Aku dan Putri Andini mulai membantu melepaskan penjepit di kaki Putri Irha.


"Awh, pelan-pelan," Ucap Putri Irha.


"Ini juga pelan, kau aja yang alay," Ejek Putri Andini.


"Tahan dikit, salah sendiri gak mau dengar aku. Tadi sudah ku bilang ada yang salah, kau pada enggak dengar. Sekarang rasakan sendiri akibatnya," Ucapku.


Setelah berhasil melepaskan kaki Putri Irha dari perangkap. Aku mencoba membantunya berdiri.


"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, biar aku dan Putri Andini yang lanjutkan misi," Ucapku.


"Kagak-kagak. Aku akan tetap ikut, apapun yang terjadi," Ucap Putri Irha.


"Keras kepala sekali, kalau ada apa-apa nanti kamu nangis lagi," Ejekku.


"Kagak ya, aku kagak gitu," Sebal Putri Irha.


"Aku masuk duluan," Ucap Putri Andini memegang gagang pintu dan membukanya perlahan.


'Kok perasaanku gak enak? Dan ada yang aneh sama pintu itu? Tunggu dulu....itu kok ada tali di celah-celah pintu?' Batinku


"Jangan dibuka!" Ucapku.


Byuarrrrrr(Suara air menggulur tubuh Putri Andini).


"Astaga, apa-apaan ini! Tadi lantainya yang licin, sekarang guyuran air yang ku dapat," Kesal Putri Andini.


"Udah ku bilang jangan buka, kau malah tetap buka pintu itu," Ucapku.


"Lambat kau bilang, harusnya kau bilang sebelum ku buka nih pintu laknat," Kesal Putri Andini.


"Sudah-sudah, kita sebaiknya balik ke kamar masing-masing. Daripada kalian dapat apes mulu," Ucapku.


"Gak akan. Sebelum misi ini berhasil, aku tak akan nyerah," Ucap Putri Andini.


"Aku juga akan tetap disini dan selesaiin misi. Walaupun ada hujan badai sekalipun, aku akan tetap tuntaskan misi," Ucap Putri Irha.


'Percuma bicara sama mereka. Mereka sangat keras kepala dan gak mau dengerin aku,' Batinku.


"Ayo kita tuntaskan misi kita," Ucap Putri Irha.


"Ya," Ucapku.


"Tunggu, kita harus lebih hati-hati, siapa tau ada jebakan Lagi," Ucap Putri Irha.


"Okey," Ucapku.


"Kita harus lebih waspada," Ucap Putri Andini.


"Ya," Ucapku.

__ADS_1


"Awalnya ku kira misi ini berjalan lancar, gak taunya malah terjebak," Ucap Putri Irha.


"Tuh pangeran gemuk banyak sekali jebakannya. Rasanya pengen ku jadikan sambel tuh orang. Gara-gara jebakannya ini, pinggang-ku jadi sakit," Ucap Putri Andini.


"Yuk kita selesaiin misi ini cepat, sebelum pangeran bangun. Ngobrolnya di lanjut nanti aja," Ucapku.


"Yuk," Ucap Putri Irha dan Putri Andini.


"KOHK...KOHK," Suara ngorok pangeran Bima.


"Berisik sekali nih pengeran, pengen ku sumpal mulutnya itu," Kesal Putri Irha.


"Sudah jebakannya banyak, tidurnya ngorok pula," Ucap Putri Andini.


"Shtt, kalian jangan berisik, nanti dia bangun," Ucapku.


"Habisnya aku kesal, ngoroknya besar sekali. Kupingku jadi sakit gara-gara dia," Ucap Putri Irha.


"Kita sumpal mulutnya, gimana?" Tanya Putri Andini.


"Setuju," Ucap Putri Irha.


"Pakai ****** ***** dia aja buat sumpal," Ucapku menunjuk ke arah ****** ***** yang berada di meja sisi ranjang.


"Iuuu, aku gak mau pegang ****** ***** dia," Ucap Putri Irha dengan jijik.


"Aku juga ogah sentuh tuh celana dia, bisa-bisa tanganku kena virus," Ucap Putri Andini.


"Terus kalian mau pakai apa? Disini semua barang dia besar-besar, kagak ada yang kecil. Hanya ****** ***** dia saja yang kecil," Ucapku.


"Yaudah, terpaksa aku pegang tuh ****** ********," Ucap Putri Andini.


"KOHK."


"Cepat sumpal, kupingku jadi tambah sakit denger ngorok dia," Ucap Putri Irha menutup kuping.


"Iya-iya, ini juga baru mau ku lakukan," Ucap Putri Andini. Dia memasukkan sebagian ****** ***** ke mulut Pangeran yang tak lain milik Pangeran Bima sendiri.


"Sudah," Ucap Putri Andini.


"Hahaha, dia lucu sekali. Kalau saja ada ponsel disini, udah ku foto dan posting di sosial media, pasti bakal banyak yang like dan subcribe," Ucap Putri Irha.


"Bener, pasti banyak komentar dari netizen jika kita video tuh pangeran gemuk," Ucap Putri Andini.


"Kalian mau bicara terus atau menyelesaikan misi ini," Ucapku.


"Ya selesaiin lah," Ucap Putri Irha dan Putri Andini.


"Akhirnya udah selesai," Ucap Putri Andini pun melihat hasilnya.


"Jadi gak sabar pengen liat aksinya besok saat keluar kamar, hahaha," Ucap Putri Irha.


"Shhtt, jangan terlalu keras ketawa, dia bisa bangun," Ucapku.


"Hehehe, iya," Ucap Putri Irha.


"Masih ada satu lagi, kita belum coret wajah Putri gak tau diri itu," Ucap Putri Andini.


"Kenapa kalian ngebet banget pengen ngerjain Putri Amalia?" Tanyaku.


"Apa kau lupa sama yang dia lakukan di ruang makan! Dia telah berani duduk di kursimu dan menyuruhmu pindah," Kesal Putri Irha.


"Dengan itu kita harus balas dendam. Kita harus mengerjai dia juga," Ucap Putri Andini.


"Makasih ya, kalian sudah mau peduli padaku," Ucapku berkaca-kaca. 'Hanya mereka yang peduli dan selalu membelaku, tidak seperti keluarga dan sahabat lamaku yang sama sekali gak peduli,' Batinku.


"Sama-sama, Bestie," Ucap Putri Andini.


"Kau tidak perlu bilang makasih, sebagai teman sudah seharusnya kita saling support dan saling melindungi," Ucap Putri Irha.


"Makasih," Ucapku memeluk Putri Irha dan Putri Andini pun ikut memeluk kami.


Kami melepaskan pelukan dan bergegas keluar dari kamar Pangeran Bima.


"Putri Irha, Putri Andini, apa rencana ini di batalkan saja? Aku takut kalau sampai kita ketahuan, kita bisa kena hukum," Ucapku was-was.


"Tenang, kita gak bakal ketahuan. Kita cukup lebih berhati-hati, siapa tau dia juga buat jebakan kayak si gendut itu," Ucap Putri Andini.


"Ayo kita bergegas ke kediaman Putri Amalia, kita tuntaskan misi kita," Ucap Putri Irha.


"Yuk."


Setelah membersihkan sisa-sisa jejak akibat jebakan pangeran. Kami bergegas pergi dan menuju ke kediaman Putri Amalia. Sesampainya disana, ku liat pengawal tertidur di depan kamar Putri Amalia.


"Gimana caranya kita masuk kalau pengawal itu tidur bersandar di pintu kamar?" Tanyaku.


"Iya juga ya," Ucap Putri Andini.


"Aha...aku ada ide," Ucap Putri Irha.


"Apaan?" Tanyaku dan Andini bersamaan.


"Kita lewat atap," Ucap Putri Irha.

__ADS_1


"Apa kau gila, kalau kita naik atap, kita bisa-bisa jatuh nyunsep ke bawah," Ucap Putri Andini.


"Idemu sungguh konyol dan membahayakan kita," Ucapku.


"Lalu kita harus apa dong?" Tanya Putri Irha.


"Entahlah, aku juga bingung," Ucap Putri Andini.


"Kita lewat jendela saja, gimana?" Tanyaku.


"Wah, kau emang cerdas, aku saja gak kepikiran sampai ke situ," Ucap Putri Irha.


"Kau aja yang bodoh," Ejek Putri Andini menatap ke arah Putri Irha.


"Aku gak bodoh ya, cuman kurang pintar saja," Ucap Putri Irha.


"Hahaha," Tawaku dan Andini.


"Sama aja bego," Ucap Putri Andini.


"Ayo kita kerjakan misi terakhir, kalau kalian bicara terus kapan selesainya," Ucapku.


Kami mulai menjalankan misi ketiga. Perlahan kamu naik meraih jendela, lalu melompat ke dalam kamar. Setelah itu, kami mulai menghampiri Putri Amalia yang masih tertidur pulas.


"Pangeran, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, ku mohon. Aku tidak menyukai Putra Mahkota Ilyas, aku hanya kagum padanya. Aku sama sekali tidak pernah berpikir menduakanmu. Aku hanya mencintaimu seorang. Tolong jangan pergi, hiks," Igau Putri Amalia.


"Hadeh, dia malah mengigau gak jelas," Ucapku.


"Dia kok bilang kagum sama Ilyas? Apa dia suka sama suami-mu, Putri Khina?" Ucap Putri Irha.


"Wah, bener-bener mau jadi pelakor nih cewek. Mesti kita beri pelajaran, biar pelakor ini kapok," Ucap Putri Andini.


"Sudahlah, yuk kita coret wajahnya," Ucapku.


"Oke."


Tak lama kemudia, akhirnya kami menyelasaikan misi kami. Saat hendak pergi, Putri Amalia menahan tanganku.


'Apa aku ketahuan?' Batinku was-was.


"Ku mohon jangan tinggalkan aku, hiks," Igau Putri Amalia.


Aku berbalik dan melihat Putri Amalia masih memejamkan mata dan mengigau.


"Huh, ku kira dia sadar," Ucapku merasa legah.


"Syukurlah, dia hanya ngigau," Ucap Putri Irha.


"Kita selamat, yuk kita pergi dari sini," Ucap Putri Andini.


"Gimana mau pergi, tanganku di pegang sama dia?" Ucapku.


"Cewek ini ngerepotin sekali," Ucap Putri Andini menatap kesal ke arah Putri Amalia.


"Sini ku bantu melepaskan tangannya darimu," Ucap Putri Irha.


Satu jam kemudian, tanganku masih terus di pegang oleh Putri Amalia. Kami sudah mencoba melepaskan, namun Putri Amalia semakin mengeratkan pegangannya.


"Aduh, capek aku. Dari tadi nih cewek gak mau lepasin tangan-mu," Ucap Putri Andini.


"Aku juga lelah," Ucap Putri Irha.


"Emmm....Putri Andini, coba ambil sapu lidi itu!" Ucapku.


"Hah, buat apa?" Tanya Putri Andini.


"Kau mau apakan sapu itu? Jangan bilang kalau kau mau mukul Putri Amalia pakai sapu itu!" Ucap Putri Irha penuh selidik.


"Enggak. Aku mau coba mengganti tanganku yang di pegang putri dengan sapu itu," Ucapku.


"Kau emang cerdas, aku salut padamu," Ucap Putri Irha.


"Idemu bagus," Ucap Putri Andini bergegas mengambil sapu lidi. Lalu menyerahkannya padaku.


Aku mulai mencoba menaruh sapu di dekat tanganku. Ku coba melepaskan tangan Putri Amalia, namun nihil.


"Susah amat," Ucapku.


"Sini ku bantu," Ucap Putri Irha dan Putri Andini.


Kami berusaha melepaskan tangan Putri Amalia dengan sekuat tenaga. Setelah terlepas, aku langsung menodongkan sapu lidi. Putri Amalia menggenggam sapu lidi tersebut.


"Huh, akhirnya," Ucapku legah.


"Untung sudah lepas," Ucap Putri Irha merasa legah.


"Yuk kita keluar, sebelum nih cewek sadar," Ucap Putri Andini.


Aku dan Putri Irha mengangguk, kami bergegas berjalan ke arah jendela.


"Kalian mau kemana?" Ucap Putri Amalia tiba-tiba.


...¤BERSAMBUNG¤...

__ADS_1


__ADS_2