
"Ampun Putri, saya janji tidak akan gagal lagi. Beri saya kesempatan sekali lagi," Ucap Sari.
"Tidak. Biar saya sendiri yang bertindak," Ucap Wanita itu yang tak lain ialah Putri Izza. Dia meninggalkan Sari yang masih dalam lamuan.
'Apa yang akan di lakukan Putri Khai?' Batin Sari.
'Saya harus pengaruhi Khina lagi. Jangan sampai ketiga saudara tiri itu akur. Bisa jadi ancaman untuk diriku sendiri,' Batin Putri Izza.
●●●●●●●
Keesokan harinya, Inaya terbangun kesiangan. Ia tampak masih mengarungi mimpi yang indah. Sekarang kita panggil Inaya dengan sebutan Putri Khina.
Di pinggiran hutan, Putri Khina berkeliling memandangi bunga-bunga warna warni. Tiba-tiba seseorang mengeluarkan suara dari belakang.
"Sayang," Ucap Seorang Pria.
Putri Khina berbalik dan terpesona melihat ketampanan Pria tersebut.
'Apa ini surga? Dia tampan sekali....eh, apa yang aku pikirkan sih. Sadar Ina, sadar...belum tentu di suka sama kamu. Tadi dia panggil sayang ke siapa ya?' Batinku.
"Sayang, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini," Ucap Pria itu.
"Sayang? Siapa?" Tanyaku menengok kiri kanan dan belakang.
"Kau, sayangku," Ucapnya langsung memelukku.
'Deg...Aku?' Batinku.
"Kau tidak salah orang kan?" Tanyaku.
"Tidak, Sayangku," Ucapnya.
'Dia siapa sih? Kok aku enggak bisa menolak saat di meluk aku ya?' Batinku.
"Sayang, yuk kita kesana," Ucapnya.
"Ayuk," Ucapku.
"Liat di sana, Sayang," Ucapnya itu menunjuk ke arah hutan.
"Pemandangannya bagus ya, disini juga sejuk," Ucapku.
Tiba-tiba Pria tampan itu menaruh mahkota bunga di atas kepalaku. Aku terkejut dengan aksi Pria Tampan itu.
"Untukmu, sayang," Ucapnya itu tersenyum penuh kasih sayang.
'Oh, Tuhan....apa ini mimpi, ini cowok so sweet banget. Udah tampan, perhatian lagi. Senyumnya itu buat ku meleleh. Pokoknya cowok idaman banget deh,' Batinku.
"Aku akan menjadikanmu ratuku, Sayang. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu," Ucap Pria itu.
"Tunggu dulu, dari tadi kau panggil aku dengan sebutan sayang. Kau ini siapa sih? Apa kita saling kenal?" Tanyaku.
"Kau melupakanku, Sayang! Kita sepasang kekasih dan akan tetap menjadi kekasih," Ucapnya.
"Kekasih? Sejak kapan kita pacaran?" Tanyaku.
"Pacaran? Apa itu?" Tanyanya.
'Oh astaga, aku baru ingat kalau ini jaman kerajaan. Pasti dia bingung lah,' Batinku.
"Pacar itu artinya kekasih," Ucapku.
"Aku kekasihmu dan kita sudah lama menjalin hubungan," Ucapnya.
'Apa dia kekasih dari pemilik tubuh ini? Bisa jadi sih....nih pemilik tubuh pintar amat milih kekasih tampan kayak dia,' Batinku.
"Kenapa melamun, Sayang? Kau melamunkan aku," Ucapnya melambaikan tangan di wajahku.
"Eh, tidak. Aku tidak melamunkan apapun. Aku belum tau namamu, nama kau siapa?" Tanyaku.
"Kau juga melupakan namaku, Sayang?" Ucapnya sedih.
"Eh bukan itu, aku hanya nanya siapa namamu. Aku beneran tidak ingat siapa namamu," Elakku.
"Aku Pangeran Arjuna, Sayangku," Ucapnya.
'Namanya bagus juga, Arjuna...kayak nama pemain india di serial mahabrata. Arjuna, oh Arjuna. Apakah dia sama seperti Arjuna yang gagah berani. Uh, beruntungnya aku menjadi kekasihnya, orang-orang pasti iri kalau tau aku punya pacar tampan gini. Andai ini zaman moderen, sudah ku kenalkan dia sama Andin. Andin pasti bakal terkejut, wkwkw,' Batinku.
Arjuna bertekuk lurut dan mulai berbicara. "Sayang, maukah kau menikah denganku?"
"Apa," Ucapku melongo kaget.
"Kau mau jadi istriku dan ibu dari anak-anakku?" Tanyanya.
"Mau, mau, mau banget," Ucapku kegirangan. 'Kapan lagi dapat cogan kayak gini. Sudah pasti aku terimah lah. Mana ada yang mampu nolak pesona pangeran Arjuna,' Batinku.
Arjuna langsung berdiri dan memelukku. Tiba-tiba Putra Mahkota datang dan menarik tanganku.
"Dia istriku dan kau tidak berhak atas dirinya," Ucap Putra Mahkota.
"Ilham," Ucapku tanpa sadar.
"Siapa Ilham? Apa dia selingkuhanmu?" Tanyanya.
"Dia kekasihku," Ucapku tanpa sadar.
"APA!" Kaget Putra Mahkota dan Pangeran Arjuna.
"Siapa dia dan dimana dia tinggal? Akan ku binasakan dia," Ucap Putra Mahkota marah.
"Kalian tidak akan pernah menemukan Ilham," Ucapku. 'Iyalah tidak bakal bisa, orang si Ilham ada di Zaman moderen bukan zaman kuno ini. Yang sama wajahnya Ilham itu, kamu Putra Mahkota. Kalian sama persis. Cuman kalau Ilham memiliki iris mata hitam. Kalau Putra Mahkota, iris matanya bewarna biru. Rambut mereka juga berbeda. Udah ah, ngapain aku bandingkan Ilham sama Putra Mahkota,' Batinku.
"Katakan dimana dia berada! Tidak akan ku biarkan dia merebutmu dariku," Ucap Pangeran Arjuna.
"Tenang, dia tidak akan merebutku darimu. Ilham hanya masa laluku dan kamu masa depanku, hehe," Ucapku tersenyum malu. 'Bisa juga aku gombal, hahaha,' Batinku.
"Sayang," Ucapnya ingin memelukku, namun di dorong oleh Putra Mahkota.
"Jangan sentuh istriku! Atau ku habisi kau," Peringatan Putra Mahkota.
"Aku tidak mau jadi istrimu," Ucapku.
__ADS_1
"Kau dengar sendiri, Putri Khina tidak menginginkanmu jadi suaminya. Dia mencintaiku dan akan terus mencintaiku," Ucap Pangeran Arjuna. Dia menarik tanganku.
"Aku tidak peduli, dia istriku dan akan tetap jadi istriku," Ucap Putra Mahkota sembari ikut menarik tanganku.
"Dia milikku!" Ucap Pangeran Putra Mahkota Ilyas.
"Dia kekasihku, lepaskan tanganmu itu," Ucap Pangeran Arjuna.
"Lepas! lepas!" Ucapku.
"Lepaskan aku, sakit bodoh," Igauku.
"Putri! Putri! Bangun!" Ucap Nurfa.
"Lepas, jangan tarik-tarik aku kayak gini," Igauku.
"Putri, bangun," Ucap Nurfa.
Aku langsung terbangun dan melihat Nurfa.
"Kau kenapa disini? Mana putra Mahkota?" Tanyaku.
"Disini tidak ada Putra Mahkota, Putri. Putri tadi mengigau dan menyebut nama Putra Mahkota terus," Ucap Nurfa.
"Bukan cuman nama Putra Mahkota, tapi ada pangeran...," Ucapku terpotong.
"Putri bermimpi, sebaiknya Putri mandi dan bersiap-siap. Saya akan menemani Putri ke tokoh pakaian yang ada di pasar," Ucapnya.
"Untuk apa?" Tanyaku.
"Beberapa hari lagi, ulang tahun Ratu Helena akan segera di selenggarakan. Dan Putri juga harus memilih gaun untuk menghadiri pesta Yang Mulia Ratu Helena," Ucapnya.
'Males banget hadir di acara ultah tuh nenek sihir. Omongannya selalu pedas kayak cabai,' Batinku.
"Ayo, Putri," Ucapnya.
"Iya-iya," Ucapku.
"Biar saya bantu, Putri," Ucapnya.
"Tidak perlu, kau sebaiknya keluar dari kamarku. Aku mau besiap-siap sendiri," Ucapku.
"Baik, Putri," Ucapnya keluar dari kamarku.
"Salam Putri Mahkota," Ucap Sari tiba-tiba berada di depan pintu kamarku.
'Hadeh, dia lagi,' Batinku malas.
"Ya," Ucapku.
"Bisa saya bantu, Putri?" Tanya Sari.
"Tidak usah, kau keluar!" Pintahku.
"Tapi..," Ucapannya terpotong.
"Ku bilang keluar, ya keluar!" Perintahku.
"Baik," Ucap Sari kembali menutup pintu kamarku.
"Apa yang Kau lakukan sama Putri, hingga Putri mengusirku dari kamar, hah?" Ucap Sari menatap Nurfa dengan penuh kebencian.
"Aku tidak melakukan apapun," Ucap Nurfa melenggang pergi.
"Kau mau kemana, heh!" Ucap Sari.
"Mau ke dapur," Ucap Nurfa berjalan cepat meninggalkan Sari.
"Kurang ajar! Dia semakin berani padaku semenjak Putri Kina hilang ingatan. Bakal ku balas kesombongan dia nanti," Ucap Sari kesal.
Setelah mandi, aku mulai mengenakan gaun milik Putri Kina si pemilik tubuh ini.
"Gaun ini terlalu alay, masa hampir semua baju warnanya pink. Dan ini juga ada pernak pernik bunga-bunga dan love-love. Hadeh, masa iya aku pakai baju ini?" Gumamku.
"Ini gaunnya bewarna putih, aku pakai ini aja deh. Daripada pakai warna pink atau warna biru mencolok, mending pakai yang putih ini. Lebih simpel, walau sebenarnya aku enggak terlalu suka pakai gaun putih, nanti cepat kotor. Tapi gak apalah, enggak ada pilihan lain. Lagian bukan aku yang cuci gaun ini, udah ada pelayan. Aku enggak perlu capek-capek nyuci lagi," Gumamku.
Setelah memakai gaun putih tersebut, aku mulai berdandan. Tak lama akhirnya aku selesai memakai bedak tipis dan lipstik warna Pink.
"Aku sebenarnya enggak suka pakai gaun pendek gini kalau lagi jalan keluar rumah. Aku terbiasa memakai kerudung kalau keluar rumah. Apa aku suruh tukang jahit untuk buatkan aku gaun lengan panjang dan kerudung aja kali ya? Ide bagus," Gumamku.
"Tok! Tok!"
"Masuk!" Ucapku.
"Salam, Putri. Saya bawakan makanan untuk Putri," Ucap Nurfa.
"Aku tidak mau makan, nanti itu danging haram lagi. Aku tidak makan makanan haram," Ucapku.
"Ini daging kucing kesukaan, Putri," Ucap Nurfa.
"Tidak lagi. Aku lebih suka makan ayam goreng sama sate kambing. Kamu bawa balik daging-daging itu. Aku mau makan buah-buahan saja," Ucapku.
"Baik, Putri," Ucapnya.
Tak lama, Nurfa kembali dan mengajakku keluar. Aku berjalan di depan Nurfa layaknya seorang bos.
'Gini ya rasanya punya pelayan yang mengekor di belakang. Terasa jadi bos besar,' Batinku.
Saat sampai di depan gerbang, ku liat banyak orang berkumpul di halaman depan gerbang.
'Ngapain mereka pada ngumpul di sana? Kayak satpam aja mereka, haha,' Batinku.
"Kenapa Putri tertawa?" Tanya Nurfa.
"Tidak. Itu kenapa Raja, Ratu, Putra Mahkota, Pangeran Bobby dan yang lainnya pada berkumpul di depan?" Tanyaku.
"Maafkan saya, Putri. Saya lupa memberi tau kalau pangeran Kedua sudah kembali dari perbatasan," Ucap Nurfa.
"Oooo....yuk kita kesana," Ucapku.
Aku dan Nurfa menghampiri mereka semua.
__ADS_1
"Ada Putri Manja rupanya. Tumben datang kesini, biasanya lebih suka berdiam diri dikamar saat Pangeran Kedua kembali," Ejek Ratu Helena.
"Saya mau disini atau dikamar, itu terserah saya. Anda tidak punya hak mengatur saya, Helena," Ucapku.
"Kau!" Ucapnya terpotong.
"PANGERAN KEDUA MEMASUKI GERBANG," Teriak pengawal.
Kuda memasuki halaman depan, tampak seorang pria duduk dengan gagah berani di atas kuda.
'Dia Pangeran Arjuna yang ada di mimpu ku kan?' Batinku mengucek-ucek mata sembari mematikan penglihatanku.
Pangeran Arjuna turun dari kuda. Dia memberi salam ke Ayahnya dan memeluknya. Lalu dia menghampiriku.
'Apa Pangeran Arjuna nyata, bukan mimpi? Astaga, dia kesini, gimana nih?' Batinku menyubit kedua pipiku.
"Awh," Ringisku.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan raut wajah cemas.
"Iya, aku baik-baik saja. Kau baik-baik juga kan, Sayang," Ucapku tanpa sadar. Akibat teringat mimpi saat Arjuna memanggilku dengan sebutan sayang.
"HAA," Raja, Ratu, Putra Mahkota dan lainnya melongo mendengar ucapanku.
'Apa kau masih sayang padaku, Putri Khina? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kau memanggilku dengan penuh kasih sayang dan dengan tutur kata yang lembut. Dulu sebelum aku pergi ke perbatasan, Kau bahkan tidak ada. Kau juga selalu berbicara kasar padaku, sekarang kenapa berbeda?' Batin Pangeran Arjuna.
"Eh, maafkan saya Pangeran. Saya khilaf mengatakan itu. Tolong maafkanlah saya, Pangeran. Saya siap menerima hukuman apapun. Asal bisa terus bersamamu, aku rela," Ucapku mengencilkan suara di kalimat akhir. Dan Pangeran Arjuna masih mendengar lirihanku.
'Apa maksud di siap menerima hukaman asal bersamaku?' Batin Pangeran Arjuna.
Pangeran Arjuna langsung manarikku menjauh dari mereka.
"Pangeran! Lepaskan dia! Dia bukan istrimu!" Ucap Raja Dayat memperingati. Namun tidak di dengarkan oleh Pangeran Arjuna. Dia terus menarikku.
Setelah beberapa menit, kami sampai di lorong istana.
"Kau masih peduli padaku?" Tanya Pangeran Arjuna.
Aku spontan mengangguk, dia langsung memelukku.
"Eh, Pangeran salah paham. Aku peduli sama pangeran sebagai Adik Ipar, tidak lebih," Ucapku.
Di melepaskan pelukannya. "Tatap mataku, Kau masih cinta sama padaku?"
"Pangeran, aku mau pergi ke pasar buat beli gaun untuk pesta Ratu Helena. Aku mau pergi sekarang," Ucapku buru-buru melangkah, namun ditahan oleh Pangeran.
"Biar aku yang antar," Ucapnya menggenggam tanganku.
"Pangeran, ini salah. Aku sudah bersuami, tidak pantas pangeran menggenggam tanganku seperti ini. Raja bisa marah dan menghukum kita," Ucapku.
"Kau tidak perlu takut, ada aku disini," Ucapnya.
"Tolong lepaskan, Pangeran. Aku tidak mau kalau sampai pangeran di hukum gara-gara aku. Tolong mengertilah dengan status kita masing-masing," Ucapku.
"Terimah kasih, Kau masih peduli padaku. Itu sudah jauh lebih penting bagiku. Aku tidak peduli dengan semua orang. Biarpun dunia menolak hubungan kita, aku tidak akan menyerah," Ucapnya.
'Ini salah, ini tidak boleh terjadi,' Batinku.
"LEPAS!" Ucapku menggigit tangannya dan berlari kencang.
"Awh, Putri Kina...Tunggu," Ucapnya berniat mengejarku, namun di tahan oleh seseorang.
"Jangan mengejarnya!" Ucap Ratu Helena.
"Ibu?" Ucap Pangeran Arjuna.
"Ayo ikut Ibu sekarang!" Ucap Ratu Helena menarik tangan Putra kandungnya.
Sedangkan aku sendiri masih berlari kencang, hingga tanpa sadar menabrak seseorang.
"Heiii, Kalau jalan itu pakai mat...," Ucapanku terhenti saat melihat Putra Mahkota. Aku bangkit dan melihat tatapan penuh kebencian di mata Putra Mahkota Ilyas.
'Kenapa tatapannya gitu amat? Kayak penuh dendam kesumat padaku. Ih, serem nih orang. Aku harus menghindar, itu jauh lebih baik,' Batinku mulai berbalik melangkah hendak berlari, namun tertahan.
"Lepaskan aku!" Ucapku.
"Aku bilang lepaskan aku! Atau ku pukul kau pakai sandal!" Ancamku.
"LEPAS.....," Ucapanku terpotong saat menoleh kebelakang. Ku liat gaunku tersangkut di baju Putra Mahkota.
'Asataga....malunya aku. Kok aku bodoh sih, harusnya aku tengok kebelakang sebelum bicara,' Ucapku menggerutuk.
"Maaf, Ilyas," Ucapku spontan. Aku menarik paksa gaunku yang tersangkut di baju Putra Mahkota. Hingga baju Putra Mahkota sedikit sobek.
"KAU!" Ucapannya terhenti saat aku berlari menjauh. Namun aku masih sempat menoleh kebelakang.
"Apa Hah, aku tidak takut, welewele," Ucapku menjulurkan lidah mengejeknya.
Aku berlari cepat, takut terkena hukuman.
"Hos...Hos, lelah banget. Huh, untung selamat dari kedua Congang itu. Yang satu tukang maksa dan yang satunya Monster," Ucapku.
"Puk(suara tepukan tepat dibahuku)."
"Ampun Ilyas...eh maksudku Putra Mahkota Ilyas. Maafkan atas sikapku barusan," Ucapku.
"Woiii, ngapa Lo?" Ucap Putri Andini.
Aku berbalik dan melihat Putri Andini yang ternyata berada di belakangku.
"Kau ngagetin aja tau gak," Ucapku.
"Kenapa, Lo?" Tanya Putri Andini.
"Tadi aku habis nabrak Putra Mahkota tanpa sengaja, terus aku mengejeknya dan berlari kesini," Ucapku.
"Wow, sungguh kau mengejek Putra Mahkota kerajaan ini? Cari mati, Lo," Ucap Putri Andini.
"Hehe, khilaf. Gimana dong sekarang? Kamu mau tolongi aku dari monster itu kan?" Tanyaku.
"Monster? Siapa?" Tanya Putri Andini.
__ADS_1
"Ckckck, Kau ini lemot banget. Mending aku minta tolong sama Putri Irha saja," Ucapku berjalan meninggalkan Putri Andini.
...¤BERSAMBUNG¤...