
"Tuan, kami sudah membawanya," Ucap seorang pria.
Pria yang dipanggil tuan, perlahan maju dan melihay wajah wanita yang tertutup masker.
"BODOH! KENAPA KALIAN BAWAH DIA! HARUSNYA KALIAN BAWAH PUTRI KHINA KEMARI!" Marah Si Tuan.
"Ampun, Tuan. Kami tidak tau kalau dia bukan Putri Khina. Ampuni kami yang melakukan hal ceroboh. Ampuni kami, Tuan," Ucap Salah satu Pria.
"Bodoh! Sekarang kalian kembalikan pelayan ini dan culik Putri Khina!" Perintah Si Tuan meninggalkan mereka begitu saja.
"Ba..ik, Tuan," Ucap Mereka.
``````````
'Kaki ku jadi pegel semua. Sekarang aku malah kebelet pipis,' Batinku.
"Ilyas, aku mau ketoilet dulu. Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil," Bisikku.
"Pergilah, cepat kembali," Ucap Putra Mahkota Ilyas.
Aku segera turun dari pelaminan, namun terhenti saat Putri Andini menahanku.
"Kau buru-buru amat, sudah enggak tahan ya?" Goda Putri Andini.
"Mau kemana?" Tanya Putri Irha.
"Apaan sih. Aku mau balik itu karena mau buang air kecil. Aku sudah tidak tahan," Ucapku melepaskan tanganku yang di pegang Putri Andini, lalu aku berlari meninggalkan ruang Aula.
Setelah membuang air kecil, aku bergegas kembali ke Aula. Namun saat hendak keluar, tiba-tiba seseorang membekap mulutku dari belakang.
"EMMM...MMMM," Aku berusaha berontak. Namun tenaga si penyekap lebih kuat.
Mereka membawaku ke arah hutan yang ada di belakang Istana Kerajaan Majahpahit. Terdapat sebuah gubuk dalam hutan tersebut.
`````
"Kami sudah membawanya, Tuan," Ucap salah satu dari penculik.
"Mmmm," Aku berusaha memberontak.
'Siapa mereka? Dan siapa yang dia panggil Tuan? Apa pria itu? Tapi kenapa wajahnya kagak kelihatan?' Batinku.
"Akhirnya kau datang sayangku. Aku sudah sangat merindukanmu. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik siapa pun selain diriku. Kau hanya milikku," Ucapnya sembari berbalik.
"Mmmm."
"Ikat dia di kursi! Dan kalian pergi lah dari sini!" Pintanya.
"Baik, Tuan," Ucap mereka sembari meninggalkan tempat tersebut.
"Arjuna?" Ucapku kaget.
"Iya sayang, kenapa? Apa kau juga merindukanku?" Ucapnya yang tak lain ialah Pangeran Arjuna.
"Kenapa kau menculik-ku? Apa yang kau inginkan?" Tanyaku.
"Karena aku sangat-sangat mencintaimu, Sayang. Aku ingin kita hidup bahagia, membina rumah tangga, bersama calon anak-anak kita kelak. Kita akan meninggalkan kerajaan itu dan hidup bersama tanpa ada penghalang di antara kita lagi," Ucap Pangeran Arjuna tersenyum penuh obsesi.
"KAU GILA! AKU TAK MAU IKUT DENGANMU!" Teriakku.
"Shhttt, jangan marah, Sayangku," Ucap Pangeran Arjuna yang ingin memelukku.
"JANGAN SENTUH AKU! MENJAUH DARIKU!" Teriakku.
"Kau akan menjadi milikku hari ini juga," Ucap Pangeran Arjuna.
"LEPAS!" Teriakku.
"Tidak akan pernah. Aku akan membuatmu mengandung anakku," Ucap Pangeran Arjuna sembari mulai menci*m leherku.
"LEPASKAN AKU, BRENGSEK!" Teriakku memberontak.
Di dalam Aula, tampak Putra Mahkota merasa cemas.
__ADS_1
"Khina, kau dimana? Kenapa kau belum kembali," Gumam Putra Mahkota mulai khawatir.
"Ada apa, Putra Mahkota?" Tanya Putri Izza.
'Sial! Dia sama sekali tidak menganggapku. Liat saja nanti, akan ku buat kau bertekuk lutut dihadapanku,' Batin Putri Izza.
Tiba-tiba Zahra berlari masuk kedalam Aula.
"Ayahanda, Ayahanda," Ucap Zahra.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Putra Mahkota Ilyas sembari mensejajarkan dirinya dengan Zahra.
"Bunda, hiks. Bunda di culik sama orang jahat, hiks," Ucap Zahra sembari memeluk Sang Ayah.
"Jangan bercanda, sayang. Mana ada orang yang berani masuk di kerajaan ini," Ucap Putra Mahkota.
"Aku tidak bercanda, Ayah. Hiks, mereka membawa paksa Bunda. Aku tadi ingin menolong Bunda, tapi kaki ku kesandung bebatuan, hiks," Ucap Zahra.
"Cup, cup, sudah ya jangan nangis," Ucap Putra Mahkota.
"CARI KEBERADAAN ISTRIKU SEKARANG!" Perintah Putra Mahkota.
Para pengawal dan prajurit mulai berpencar untuk mencari keberadaan Putri Khina.
"Maaf, Putra Mahkota. Kami tidak bisa menemukan Putri Khina," Ucap Para pengawal.
"CARI ISTRIKU SAMPAI DAPAT! JIKA TIDAK KALIAN YANG AKAN MEMBAYAR AKIBATNYA!" Teriak marah Putra Mahkota.
Mereka kembali mencari keberadaan Putri Khina.
"Adik ipar, sebaiknya kita periksa dimana terakhir kali adikku berada. Siapa tau adikku itu meninggalkan jejak," Ucap Putri Irha.
"Tumben otakmu pintar," Ejek Putri Andini.
"Diam, ini lagi genting, kau malah bercanda melulu," Ucap Putri Irha.
Putra Mahkota Ilyas, Putri Andini dan Putri Irha serta yang lainnya mulai begegas menuju kearah kamar yang akan ditempati Putri Khina dan Putra Mahkota. Jarak antara kamar Putra Mahkota dan Ruang Aula tidak terlalu jauh.
Mereka mulai mencari jejak Putri Khina.
"Tunggu, ini perhiasan adikku," Ucap Putri Irha.
"Benar, ini perhiasannya," Ucap Putri Andini.
"Itu sana, ada lagi," Ucap Putri Irha berjalan kedepan dan mengambil perhisanan itu. Hingga mereka berada di belakang halaman istana.
"Tunggu, didalam sana hanya ada hutan. Disana sangant berbahaya, sebaiknya para wanita tetap disini, biar kami yang masuk dan mencarinya didalam hutan," Ucap Pangeran Bobby.
"Kami akan tetap ikut," Ucap Putri Andini.
"Kami bukan wanita lemah. Kami harus ikut, tituk tidak pakai koma," Ucap Putri Irha.
"Huf, baiklah," Ucap Pangeran Bobby Pasrah dengan keras kepala Istrinya.
Mereka terus berjalan hingga mereka berhenti tepat didepan gudang yang sudah lama tidak berpenghuni. Terdengar suara teriakan daru dalam gubuk
"LEPASKAN AKU! HIKS....TOLONG LEPASKAN AKU," Teriakku serak.
"Nikmati saja, Sayangku," Ucap Pangeran Arjuna.
"Tolong, jangan lakukan ini, hiks," Ucapku serak.
"Itu suara Putri Khina," Ucap Pangeran Nakula.
"Ayo cepat dobrak pintunya. Aku takut adikku dalam bahaya didalan sana," Ucap Putri Irha khawatir.
Putra Mahkota dan Pangeran Nakula mulai mendobrak pintu.
"Deg." Mereka semua kaget melihat apa yang terjadi. Baju yang dikenakan Putri Khina hampir terbuka semua. Sedangkan Pangeran Arjuna mulai menci*m bibir Putri Khina.
"LEPASKAN ISTRIKU!" Teriak Putra Mahkota Ilyas marah.
"BRENGSEK, LEPASKAN PUTRI KHINA!" teriak marah Pangeran Nakula.
__ADS_1
Keduanya berjalan dan menendang bokong Pangeran Nakuka.
"Hiks, hiks, lepaskan aku," Tangisku.
"Bugh."
"Bugh."
Putra Mahkota memukul Pangeran Arjuna hingga babak belur.
"Putra Mahkota, hentikan. Pangeran bisa tiada, hiks," Tangis Ratu Helena melihat keadaan putra kandungnya yang sudah babak belur.
"Hentikan! Dia bisa mati!" Ucap Raja Dayat memberi perintah.
"Bugh." Putra Mahkota terus memukul wajah Pangeran Arjuna, tanpa mendengarkan siapapun.
"HIKS," Tangisku. Mendengar suara tangisku, Putra Mahkota langsung menghentikan pukulannya. Dia berjalan ke arahku.
"Istriku," Ucap Putra Mahkota yang ingin memelukku.
"Lepas, hiks. Jangan sentuh aku," Tangisku.
"Ini aku, suami-mu," Ucap Putra Mahkota.
"Ilyas, hiks," Ucapku perlahan membuka mata dan melihat Ilyas. Aku memelukknya begitu erat.
"Kau tenang ya, dia tidak akan pernah menyentuhmu," Ucap Putra Mahkota.
"TAHAN DAN MASUKKAN PANGERAN ARJUNA KE DALAM PENJARA!" Perintah Raja Dayat.
"Yang Mulia, tolong jangan hukum anak kita, hiks," Ucap Ratu Helena.
"Dia telah lancang melakukan hal menjijikan. Dia tetap harus dihukum!" Ucap Raja Dayat.
Didalan kamar, Putri Khina tertidur setelah kejadian yang baru saja dialaminya.
'*Maafkan aku, Khina. Andai aku datang lebih awal*,' Batin Pangeran Nakula merasa bersalah melihat keadaan Putri Khina.
"Dia sudah tidur," Ucap Putri Andini.
"Kasihan adikku, pasti dia takut sekali tadi. Pria brengsek itu benar-benar keterlaluan. Untung kita datang tepat waktu," Ucap Putri Irha.
"Aku titip istriku sebentar," Ucap Putra Mahkota bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana, Adik Ipar?" Tanya Putri Irha.
"Aku harus memberi perhitungan pada si brengsek itu," Ucap Putra Mahkota Ilyas dengan penuh kilatan amarah.
"Aku ikut," Ucap Putri Irha.
"Aku juga," Ucap Putri Andini dan Putri Izza bersamaan.
__ADS_1
...☆**BERSAMBUNG**☆...